Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2022

Celoteh Ramadan #6

Gambar
MEREBUT KEADILAN Oleh: Temu Sutrisno   Hari keenam bulan Ramadan Terik menghantam Langit dipenuhi fatamorgana tanpa awan Panas menyengat Memicu derasnya keringat Duduk dua orang Di bawah truk diantara antrean yang mengular Untuk setetes bahan bakar Aku tak tahu apa yang diperbincangkan Sesekali mereka mengusap keringat di dahi Menyangga kepala dengan tangan kiri Menahan berat gejolak hati Seperti ingin berkata Betapa sulit meraup sesuap nasi *** Di tempat berbeda Ku melihat pemandangan serupa Beratus perempuan Menenteng jeriken Menggendong bayi yang masih menyusu Teriakan pemanggil nomor antrean berpelantang Berpacu riuh keluh kesah ibu Menutup tangis anak yang kehausan Untuk apa? Untuk setetes minyak goreng Di tengah berjuta hektar sawit Yang dikuasai segelintir orang Berjuta hektar sawit Mengelilingi hutan rakyat yang makin sempit Menciutkan hutan adat Mematikan tanaman pangan Membuat penguasa impor segala kebutuhan Apa la

Telinga Tikus

Gambar
“ Kadang kita perlu notasi berbeda untuk mendengar merdunya suara warga. Hanya dengan tangga nada, sebuah lagu dapat didengar indah dan harmonis. "   ADA pepatah seperti telinga tikus atau telinga gajah. Orang tua sering mengingatkan, jadilah orang bertelinga gajah jangan bertelinga tikus. Telinga tikus untuk mendifati otang-orang yang mudah tersinggung, sensitif terhadap kritik, dan tidak mudah menerima saran. Sebaliknya telinga gajah untuk orang-orang yang sabat dan kuat menerima kritik dan bahkan hinaan. Para arif di masa lalu, menyampaikan pepatah ini, bukan sekadar untuk menasihati orang di zamannya. Pepatah ini faktanya, masih relevan dengan kondisi kekinian. Pepatah ini mengajarkan, agar orang tidak mudah tersinggung saat kritik dan koreksi darang menghantam. Sebaliknya, semua pendapat orang baik yang pro dan kontra didengar baik-baik. Karena kadang orang di dekat meninabobokkan, dan orang di seberang mengingatkan agar tidak terjerumus ke jurang. Konon ada seorang Kep

Celoteh Ramadan #5

Gambar
 KAKEK TUA PENGHELA GEROBAK Oleh: Temu Sutrisno   Langkah kakinya mulai melemah Kakek tua terus mendorong gerobaknya Dua anak kecil berbaring Diantara tumpukan kertas Sesekali kakek tua berhenti Sekadar menghela napas di terik mentari Kakek tua terus berjalan menyusuri beratnya kehidupan Baginya tiada beda Ramadan atau bukan Ia harus bertahan Membesarkan cucu-cucunya penuh kesabaran Ia terus menghela gerobaknya Menyibak tumpukan sampah Tak peduli kotor Tak berpikir aroma menghujam sesak Baginya sampah adalah berkah Barang halal bukan hasil bramacorah Peluh hitam membasahi tangan keriput di makan usia Kakek tua terus bergerak Menyusuri jalan kota Ia tak peduli retribusi Dari sampah yang ia punguti Kakek tua terus bergerak Tak mengerti permainan harga Tak tahu perhitungan pajak Baginya hidup mulia Saat rezeki hadir dari buah tangannya Ia tak ingin merepotkan orang di sekitarnya Apalagi memainkan proyek Mengorupsi uang Negara.

Celoteh Ramadan #4

Gambar
TETU Oleh: Temu Sutrisno     Tetu Kue khas Ramadan Takjil yang dirindukan banyak orang Tetu Penganan Lembah Palu Sarat makna kehidupan Tepung mengajarkan Lembutnya hati menapaki kehidupan Garam dan gula berpadu Gambaran asin dan manis kehidupan Gurih santan wujud kedewasaan Wangi pandan Menuntun manusia menghirup kebaikan Meninggalkan nama harum Terpisah dari busuk pergaulan Tetu Wadah mewujud seperti perahu  Menyiratkan kesiapan anak manusia Mengarungi samudera kehidupan Menyelami berkah Ramadan Bercengkerama bersama Tuhan. ***     Tana Kaili 4 Ramadan 1443 H/6 April 2022 M

Celoteh Ramadan#3

Gambar
 MERAYU RAKYAT Oleh: Temu Sutrisno   Mereka tahu Mereka pintar Mereka lihai memainkan rasa Ibadah puasa Pintu uji coba Mereka gedor Kesabaran atas mahalnya harga Bahan bakar melonjak Minyak goreng entah ke mana Pajak naik menjerat anak bangsa Di tengah puasa Mereka rayu Sang Jelata Bantuan langsung tunai Menutupi kekalahan dari mafia Sekejap Pemuja oligarki tertawa Menikmati selingkuh dalam kuasa. ***   Tana Kaili, 3 Ramadan 1443 H/5 April 2022 M

Celoteh Ramadan#2

Gambar
  HUNTARA Oleh: Temu Sutrisno Empat Ramadan Bukan waktu yang sebentar Untuk mereka bertahan   Hunian sementara Menjadi saksi Terkatungnya korban bencana   Janji-janji Kapan ditepati Korban bencana terus menanti   Empat Ramadan Bukan sekadar kesabaran Ini soal kemanusiaan   Empat Ramadan Hunian sementara jadi saksi Tsunami akal budi   Empat Ramadan Hunian sementara jadi bukti Gempa menggoyang hati   Empat Ramadan Hunian sementara menguatkan jiwa Likuefaksi memisahkan sanak saudara   Empat Ramadan Hunian sementara menyadarkan Ini bukan sekadar politik pemerintahan   Empat Ramadan Habis air mata terkikis kesedihan Mungkin para penggawa lupa Ini soal kemanusiaan. ***     Tana Kaili, 2 Ramadan 1443 H/4 April 2022 M

Celoteh Ramadan #1

Gambar
MENGOTORI MASJID Oleh: Temu Sutrisno     Ramadan tiba Meluap hati Gembira menyambutnya Ada cara berbeda Beragam ekspresi Mengisi bulan mulia Tawa kanak-kanak Salawat dan tadarus tetua Berbaur dalam irama takwa Di luar masjid Di ujung beranda Bertebaran gambar berharap puja Di luar masjid Berjejer wajah entah siapa Tak ikut berjemaah hanya pamer senyum semata Aku tak tahu Mungkin itu rasa bahagia Menyambut Ramadan tiba Aku tak mengerti Apa arti senyum mereka Aku hanya tahu gambar itu jadi polusi mata Satu yang aku tahu Mereka tak pernah membersihkan masjid ini Mereka hanya menumpuk gambar saat jemaah memenuhi Ah...sudahlah Biarkan saja Tuhan yang menilainya Aku Hanya buliran jemaah Aku bukan siapa-siapa Aku Hanya ingin Ramadan jadi madrasah Mencuci kalbu menyucikan jiwaku. ***   Tana Kaili, 1 Ramadan 1443 H/3 April 2022 M

Sssttt…Diamkan Saja

Gambar
  SUATU hari Abu Nawas mendapatkan curhat dari warga, bahwa perilaku pengawai kerajaan banyak yang buruk. Banyak dari pejabat kerajaan menjadi tukang peras dan melakukan pungutan yang memberatkan rakyat. Jika ada rakyat yang datang ke istana untuk mendapatkan hadiah, pengawal itu tanpa malu meminta sebagian dari hadiah itu. Begitu saat ada yang bermasalah secara hukum atau mengurus administrasi, diminta menyetor sejumlah uang atau barang. Karena begitu banyak warga yang resah, akhirnya Abu Nawas pun bertindak. Suatu hari ia sengaja datang ke istana untuk menemui Raja. Namun, di gerbang istana, ia dicegah seorang pengawal raja. “Hai Abu Nawas, aku tahu kamu akan diberi hadiah, tapi jika aku tak membolehkan kamu masuk istana ini, maka kamu akan kehilangan hadiah itu,” kata pengawal itu. “Lalu, apa maksudmu ?” tanya Abu Nawas. “Begini, kita atur kesepakatan, jika engkau menerima hadiah, maka beri aku separuh dari hadiah itu, maka kamu akan kuperbolehkan masuk dan menemui raja,”

Berharap Tepuk Tangan

Gambar
  “Jika hanya butuh tepuk tangan, turunlah dari kekuasaan. Pergilah ke panggung hiburan, di sana tidak pernah sepi dari tepuk tangan.”   ALKISAH pada suatu zaman, ada seorang raja yang gila pujian. Tak peduli apa yang dilakukannya, para penggawanya senantiasa memuji dan bertepuk tangan. Kapan tidak ada pujian dan tepuk tangan, kerlingan mata Sang Raja yang tajam dengan beragam makna akan mengarah ke wajah penggawa. Tak butuh waktu lama, penggawa tersebut bakal menanggalkan jabatannya. Hingga pada suatu hari, Sang Raja berjalan di tengah kampung meninjau kebersihan lorong dan rumah warga. Sepanjang jalan, warga sibuk dengan urusannya masing-masing. Tak ada sambutan, pujian, dan tepuk tangan. Terlihat tumpukan sampah di pekarangan dan pinggir jalan. Sang Raja murka. Ia menitahkan penggawa di kampung itu untuk mengumpulkan semua rakyat. Laki, perempuan, tua, muda, dan anak-anak tak terkecuali. Semua dikumpulkan di tanah lapang. Sang Raja ngomel tak tentu arah. “Kenapa tidak ad