Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Momi Ri Bivi, Janji Bayangi

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno MERCUSUAR-Konon dalam sebuah kontestasi pemilihan di daerah antah berantah, seorang tim pemenangan menjanjikan kemenangan untuk kandidatnya. Ia berujar manis untuk menyenangkan sang kandidat. “Jika rumput dan batu boleh memilih, semua akan memilih tuan.” Demikian kira-kira kata manis yang terucap, sembari meyakinkan jika tim sudah bekerja ekstra memengaruhi pemilih. Ada juga tim pemenangan lain , menyuguhkan pernyataan serupa. “Kita sudah mencium aroma kemenangan, lebih tujuh puluh persen suara.” Bisa jadi   penciuman   itu didasari beragam data atau mungkin juga bumbu-bumbu untuk meyakinkan diri sendiri dan kandidat. Kata manis, kadang tidak seper t i rasanya. Kandidat harus hati-hati terhadap ucap kata manis, yang bisa jadi membuai di awal, membawa penyesalan di akhir. Kandidat yang baik, selalu memperhitungkan kondisi terburuk. Tidak mudah percaya cuap manis tim. Tidak boleh jumawa menang, sebelum benar-benar dinyatakan menang. Belajar dari Marina U

Demokrasi tanpa Kerumunan

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno   KOMISI Pemilihan Umum (KPU) menerbitkan peraturan (PKPU) Nomor 13 Tahun 2020 tentang Pilkada Serentak Lanjutan dalam Kondisi Bencana Non-alam Covid-19. PKPU ini merupakan perubahan kedua atas PKPU Nomor 6 Tahun 2020, yang resmi diundangkan pada 23 September 2020. PKPU mengatur, setidaknya terdapat enam jenis kegiatan kampanye yang dilarang di Pilkada 2020.Kegiatan tersebut mulai dari yang berhubungan dengan kebudayaan seperti konser musik, berkaitan dengan kegiatan olahraga seperti jalan santai, hingga yang kegiatan sosial seperti bazar dan donor darah. Tak hanya itu, PKPU tersebut juga melarang kampanye rapat umum atau kampanye akbar. PKPU hanya membolehkan kegiatan terbatas seperti pertemuan tatap muka dan dialog,  debat publik atau debat terbuka antar-pasangan calon, penyebaran bahan kampanye kepada umum, pemasangan alat peraga kampanye, penayangan iklan kampanye di media massa cetak, media massa elektronik, media sosial, dan/atau media daring d

Dewi Themis Menangis

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno   DEWI Themis duduk bersimpuh di hadapan Ratu Shima. Dewi keadilan Yunani itu menumpahkan isi hatinya pada ratu adil tanah Nusantara yang bertahta di Kalingga. “Duh Sang Ratu, aku tak sanggup lagi mengemban tugas sebagai simbol keadilan universal. Di Negara lain mungkin aku bisa jadi dewi keadilan, tapi tidak dengan negeri Nusantara,” keluh Dewi Themis bercucuran air mata. Bagaimana tidak, lanjut Dewi Themis, aku yang lahir dari peradaban Yunani tidak mampu menembus kepribadian para penegak hukum di negeri ini. “Kepadamu wahai Ratu Shima yang adil dan bijaksana, aku serahkan tutup mataku, pedang, dan timbangan keadilan ini,” kata Dewi Themis. “Mengapa engkau lakukan itu, wahai dewi. Bukankah engkau perlambang ketulusan, kelemahlembutan, dan nurani luhur?” sahut Ratu Shima. “Di negeriku Yunani dan banyak negara mungkin karakterku bisa dipahami. Tapi di sini aku rasakan tidak seperti itu. Mungkin lebih tepat engkau yang menjadi simbol keadilan di Nusantara ini

Naik Tensi karena Ubi

Gambar
    Oleh: Temu Sutrisno MERCUSUAR-Tiga bulan jelang Pilkada, tensi kampanye antar pendukung pasangan calon kepala daerah mulai meningkat. Pencitraan kandidat, diskusi, dan kritik antarpendukung, lebih banyak dilakukan di jejaring media sosial. Selain karena efektifitas dan kecepatan informasi, saat ini memang KPU belum menetapkan bakal calon yang lolos ke pemilihan. Apalagi jadwal kampanye. Bagi pendukung, tak perlu menunggu proses itu. Dukungan dan pilihan telah dijatuhkan, utamanya bagi tim di sekitar kandidat. Kampanye lewat beragam platform media, sah-sah saja. Satu yang harus dihindari antarpendukung, gesekan di dunia maya ke alam nyata. Pencitraan, diskusi, dan kritik terhadap calon tidak boleh mengedepankan sisi emosional, namun lebi pada hal yang sifatnya rasional seperti kebijakan, program, dan kegiatan yang ditawarkan kandidat jika terpilih. Membangun demokrasi berkualitas, harus dimulai dari gagasan, dari pertarungan ide. Toh semua kandidat berniat baik membangun daerah.

Dalam Dekap Malam

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno     Dalam dekapan beku malam Aku terbakar kesombongan jiwa Desir dingin angin Tak mampu usir congkak dosa dunia Pikir yang tak lagi jernih Hati yang tak kunjung bersih Saat mantra tak lagi bermakna Saat doa melambung entah kemana Aku seperti akar Lepas dari karang Terhempas samudera kehidupan Dalam dekap malam Aku berharap tetes embun Tenggelamkan aku dalam puspa Menyatu Menyerap Sumber wewangian Bukan manisnya madu Namun hanya bayangan Dalam dekap malam Ku ingin lewati lorong waktu Kutanam kembali akar Kurakit karang di pucak kearifan. ***   Tana Kaili, 5 September 2020

Nangoa Berujung Naonga

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno MERCUSUAR-Konon di sebuah daerah, jauh hari sebelum genderang pemilihan ditabuh, salah seorang politisi memasang baliho berukuran besar dimana-mana. Hampir di setiap perempatan dan tempat strategis terpampang wajahnya,dibumbui senyum dan tentu saja tulisan bakal calon kepala daerah. Malah sebagian telah lengkap dengan pasangannya dan partai yang bakal mengusung. Di media, juga santer diberitakan akan maju dalam kontestasi politik dan yakin bakal diusung partai tertentu. Bisik-bisik di warung kopi, di emperan kaki lima, dan pos ronda, yang bersangkutan bertekad maju sebagai kepala daerah, bukan wakil. Tawaran kandidat lain untuk menjadi wakil, berkali-kali ditolak. Maunya langsung pada posisi kunci. Mungkin ini yang dimaksud nangoa , terlalu mau. Ada juga kandidat lainnya. Sebenarnya yang bersangkutan partai pengusungnya sudah cukup sesuai jumlah kursi atau suara yang disyaratkan peraturan perundang-undangan. Maunya sebanyak mungkin partai yang ada dirangkul untu