Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2019

Kode Etik Jurnalistik di Era Teknologi Informasi[1]

Oleh: Temu Sutrisno [2]     Negara demokrasi adalah Negara yang mengikutsertakan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan, serta menjamin terpenuhinya hak dasar rakyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu hak dasar rakyat yang harus dijamin Negara adalah kemerdekaan menyampaikan pikiran baik lisan maupun tulisan, serta hak atas informasi.         Dalam konteks kebebasan mendapatkan informasi, pers merupakan salahsatu wahana bagi setiap warga Negara atau masyarakat mengetahui  dan  mendapatkan  informasi.  Pada dasarnya pers meruapakan lembaga atau wahana komunikasi massa yang melaksanakan tugas jurnalistik untuk pemenuhan hak masyarakat atas informasi, sebagaimana dsebutkan dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers (selanjutnya disebut UU Pers). Kegiatan  jurnalistik  yang  dimaksud  pasal tersebut adalah proses mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan (6M) informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gamb

Tonakodi-(kita belum) Merdeka

Oleh: Temu Sutrisno MERCUSUAR-Bung Karno pernah berkata bahwa perjuangan merebut kemerdekaan amat berat. Namun memepertahankan dan mengisi kemerdekan jauh lebih berat. Perjuangan merebut kemerdekaan jelas musuhnya penjajah, sedangkan mengisi kemerdekaan menghadapi bangsa sendiri. Pertanyaan mendasar bagi seluruh putra-putri republik ini, apakah bangsa Indonesia benar-benar telah merdeka? Merdeka dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dimaknai sebagai bebas dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya. Medeka juga diartikan berdiri sendiri, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Mengacu pada pengertian kemerdekaan pertama di atas, mudah setiap orang memahami bahwa secara fisik Indonesia sudah terlepas dari penjajahan bangsa asing. Tidak ada lagi militer luar menduduki Indonesia. Tidak ada lagi yang menyiksa, dalam berbagai bentuk seperti yang dilakukan Belanda dan Jepang pada penduduk nusantara era 1590-an hingga 1945. Jika merujuk pada pengertian

Puisi-Toleransi Setengah Hati

Oleh: Temu Sutrisno Indonesia Indonesia Indonesia Gegap gempita Menggema membahana Mendukung putra bangsa berlaga Indonesia Indonesia Indonesia Tempik sorak keras bersuara Tepuk tangan ungkap gembira Indonesia Indonesia Indonesia Bersatu asa Tanpa beda Menyambut medali sang juara Kini Semangat kebhinnekaan itu Tampil menyeruak tanpa tunggal ika Rasa persatuan menguap dari jiwa Perbedaan politik Persaingan ekonomi Membuat anak bangsa Memandang beda warna kulit Menghitung lebar ceruk mata Lurus lekuk rambut Putra putri Hawa Tidak ada lagi gema Indonesia Indonesia Indonesia Kini Pondasi toleransi negeri Retak Digali Dilubangi Dibongkar paksa Karena ambisi politik ekonomi Duh putra putri negeri Tidakkah ingat ajaran suci Iblis dilaknat Ilahi Bangga asal usul Merasa diri paling berarti Berhenti Jangan teruskan caci maki Berhenti Jangan mengumbar curiga Saudara sendiri Berhenti Menyuburkan permusuhan abadi Kembali Kembali pada budi pekerti Saling rangkul Saling menghormati Kembali Kem

Puisi-Ina Penjual Rica

Oleh: Temu Sutrisno Pagi ... Kala subuh berlalu Sinar mentari lembut menyapa Sedikit malu Pagi Di pojok pasar itu Seorang perempuan paruh baya Ina tua penjual rica Menggelar karung bekas Di pojok trotoar Terhimpit sesak parkiran Menata Setapis rica diniagakan Beberapa ikat daun kelor Setumpuk kecil ubi Di samping kanan dan kiri Ina penjual rica Aku tak tahu Berapa nilai dagangannya Aku tak dapat mengira Berapa Ina penjual rica dapat laba Saat sinar mentari mulai hangat Menyapa kulit yang beranjak merenta Lalu lalang kaki melewati Belum satu orang singgah Menawar pun membeli Ina tua penjual rica Aku tak bisa mengira berapa laba Hanya aku yakin ada keuntungan di sana Ina tua penjual rica Beruntung karena tetap berusaha Tidak jadi peminta-minta Tidak memeras Tidak mengacam sesama Tidak berharap limpahan harta orang tua Uluran tangan keluarga Ina tua penjual rica Tegar berusaha Ina tua penjual rica Beruntung tidak korupsi uang negara Tidak meni

Tonakodi-Air Nuts dan Nepotisme

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno MERCUSUAR-Tanggal 5 Desember2014, dunia penerbangan dikejutkan dengan insiden yang dikenal dengan istilah ‘Air Nuts’. Saat itu Heather Cho memerintahkan pilot Korean Airlines kembali parkir pesawat di Bandara   JF Kennedy, New York, Amerika Serikat setelah pesawat berjalan sekira tigapuluhan meter. Heather Cho, kepala layanan kabin di Korea Airlines,marah pada pramugara karena menyajikan kacang mede dalam kemasan. Heather Cho menginginkan penyajian dalam wadah piring. Pilot tidak bias menolak perintah sang kepala layanan kabin. Musababnya sederhana, Heather Cho adalah putri Bos maskapai Korean Airlines Cho Yang-ho. Feather Cho mengeluarkan pramugara dari pesawat, meski yang bersangkutan telah berkali-kali meminta maaf. Melihat itu, masyarakat marah. Tindakan Heather Cho membahayakan keselamatan penerbangan. Tekanan terhadap posisi putri kesayangan Cho Yang-ho menguat. Akhirnya Cho meminta maaf pada publik dan memecat putrinya dari jabatan strategis di Ko