Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2018

Tonakodi-Roderic; Raja Pemukul Rakyat

Oleh: Temu Sutrisno RAJA Roderic, penguasa Andalusia awal abad ke-8 M dikenal sebagai pemimpin otoriter, mengabaikan toleransi, dan paling senang menghukum rakyatnya. Pada masa kepemimpinan Raja Roderic kondisi Kerajaan menjadi tidak kondusif karena ia dikenal sebagai penguasa yang tidak toleran terhadap kebhinekaan, keanekaragaman agama dan kepercayaan masyarakat Andalusia. Raja Roderic kerapkali mempertontonkan kekuasaannya dengan menghukum rakyat di depan umum. Perintahnya adalah kebenaran dan hukum kerajaan. Keadaan demikian memicu munculnya konflik, penderitaan, kemiskinan dan ketimpangan ekonomi akibat ketidakadilan, serta tertindasnya masyarakat kelas bawah dan masyarakat yang tidak sefaham dengan kerajaan. Keadaan menjadi lebih tidak kondusif dengan dibuatnya kebijakan ekonomi kerajaan yang membiarkan tanah-tanah tidak digarap, pabrik-pabrik ditutup secara sepihak dan sarana transportasi tidak mendapatkan perhatian. Hal ini memicu lumpuhnya ekonomi masyarakat. Pemerint

Puisi-UNTUKMU KAUM IBU

Oleh: Temu Sutrisno Tiada kekhalifahan manusia tanpa wanita Tiada keberlanjutan manusia tanpa mereka Surga sepi senyap tanpa Hawa Hormati wanita Mereka melewati lembah kematian  untuk kehidupan selanjutnya Mereka bertaruh nyawa untuk generasi berikutnya Hormati ibu dan istrimu! Mengandung Sembilan bulan bukan lelucon semata Muliakan ibu dan istrimu Pengorbanannya melahirkan manusia Membuka surga menutup pintu neraka Lelah kantuknya tertutup kasih sayangnya Air susunya tak terbayar seluruh isi dunia Keringatnya setimbang darah syuhada Ridhanya jadi berkah untuk anaknya Tangisnya duka alam semesta Tawanya rahmat bagi anak-anaknya Jangan sakiti mereka Sertakan dalam setiap doa Muliakan ibu dan seluruh wanita di dunia. Tana Kaili 22 Des 2018 . SELAMAT HARI IBU

Tonakodi-Utang Piutang

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno SEBULAN terakhir di negeri Tonakodi, orang sibuk membincang utang piutang. Mulai dari kelonggaran, pemutihan hingga istilah penghapusan utang mencuat dalam setiap perbincangan masyarakat.  Force major  karena bencana, menjadi pemicu perbincangan utang piutang. Dalam ajaran Islam, utang-piutang adalah muamalah yang dibolehkan, tapi diharuskan hati-hati dalam menerapkannya. Karena utang bisa mengantarkan seseorang ke surga, dan sebaliknya juga menjerumuskan seseorang ke neraka. Islam memuji orang yang menjual barang kepada orang yang tidak mampu membayar tunai, lalu memberi kelonggaran dengan berutang. Rasulullah SAW bersabda, “Bahwasanya ada seseorang yang meninggal dunia lalu dia masuk surga, dan ditanyakanlah kepadanya, ‘amal apakah yang dahulu kamu kerjakan?’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya dahulu saya berjualan. Saya memberi tempo (berutang) kepada orang yang dalam kesulitan, dan saya memaafkan.” (HR. Muslim) Suatu hari sahabat Rasulullah SAW, Thalhah

Tonakodi-HAM Itu Fastabikul Khairat

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Sore Itu Tonakodi sowan ke salah satu gurunya. Setelah saling sapa dan tanya kabar, keduanya terlibat dalam perbincangan laiknya guru dan murid. Tonakodi lebih banyak mendengar dan sesekali menimpali atau bertanya. Sang Guru menyatakan keprihatinannya, atas perkembangan masyarakat akhir-akhir ini. Atas nama demokrasi, kebebasan berpendapat, dan bersembunyi di balik nama besar hak asasi manusia (HAM), orang per orang ataupun antar kelompok masyarakat, kelompok kepentingan sangat mudah menghakimi orang dan kelompok lain, menghujat, mencerca, dan bahkan menyatakan ujaran kebencian secara terang-terangan. “Iya Guru. Itu kondisi masyarakat kita saat ini. Masyarakat mudah terbelah dan menyerang, menghujat kelompok lain. Tidakkah ini ekspresi kebebasan berpendapat yang keliru?” tanya Tonakodi. Kebebasan berpendapat bukan untuk menistakan orang dan kelompok lain. Kebebasan berpendapat harus dalam kerangka menghormati hak orang lain, perasaan orang lain. Dalam p