Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Tonakodi-One Man Show

Oleh: Temu Sutrisno PAGI cerah. Tonakodi berbincang asyik dengan karibnya, Toma Yojo. Obrolan seputar isu yang berkembang di masyarakat. Di dego-dego di bawah pohon jeruk berteman secangkir kopi dan pisang goreng tipis, pembicaraan akhirnya bermuara pada manajemen kepemimpinan. “Banyak sekarang orang tidak lagi bisa membedakan kerja sama dan sama-sama kerja,” celoteh Toma Yojo. Maksudnya? sahut Tonakodi. Banyak orang yang merasa mampu bekerja sendiri, seperti tidak membutuhkan orang lain. Bekerja di bidang yang sama, di lembaga yang sama, tapi tidak ada kerja sama, ujar Toma Yojo. Oh, itu namanya manajemen one-man show, kata Tonakodi. Manajemen  one-man show atau bahkan absolute one-man show, sebenarnya hanya efektif diterapkan pada perusahaan  milik pribadi dengan struktur perusahaan yang tidak begitu kompleks, tukas Tonakodi. “Semakin kompleks urusan, tentu pola one-man direction tidak efektif. Tidak mungkin seseorang dapat menangani semua problematika yang ada. Pada sa

PRCPB Marinir dan Kostrad Kembali ke Kesatuan

Gambar
PALU, MERCUSUAR- Pasukan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (PRCPB) Korps Marinir dan Kostrad ditarik kembali ke basis setelah sebulan menangani bencana di Palu, Sigi dan Donggala. Berkekuatan 656 orang Pasukan Marinir dari satuan Pasmar 1 Jakarta dan Pasmar 2 Surabaya, kemarin telah kembali ke Surabaya dan Jakarta dengan KRI Teluk Ende 517, Sedangkan hari ini Pasukan Batalyon Komposit Kostrad terdiri dari personel Kesehatan, Zeni Tempur dan Perbekalan/Angkutan menyusul kembali ke induk pasukannya di Jakarta dengan KRI Teluk Manado.       Pasukan-pasukan ini didesain untuk memberikan bantuan kemanusiaan secara cepat, karena itu pasukan ini sudah dilengkapi personel kesehatan lapangan, personel berkemampuan Zeni dilengkapi alat berat dan pertukangan serta personel Perbekalan/Angkutan yang dapat menggelar dapur lapangan dan penyediaan angkutan secara cepat di daerah bencana. Pasukan ini bertugas di Palu setelah satu hari pasca gempa, yaitu tanggal 29 September sampai masa tanggap

Genggaman Cinta Saat Tsunami Menggulung

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Sore, 28 September 2018 menjadi pembuktian cinta Karlan Ladandu pada istrinya Ni Putu Darmawati. Sore itu, Karlan dan Wati mampir ke pantai seputaran anjungan Palu Nomoni atau lebih dikenal dengan sebutan Kampung Kaili. Keduanya mencari es kelapa muda di Soki-soki, usai pertemuan dengan teman-temannya dari pergerakan buruh. Kebetulan hari itu, Wati ulang tahun. Kesempatan ke Palu dimanfaatkan Karlan untuk jalan-jalan berdua. Kedua pasangan paruh baya itu, memilih lapak penjual kelapa muda di dekat musala yang baru dibangun Pemerintah Kota Palu. Belum usai minum, bumi bergetar hebat. Wati panik dan mengajak Karlan meninggalkan tempat. Air laut mulai naik hingga mata kaki. “Tsunami Pa. Cepat sudah, anak-anak di rumah. Aduh gimana mereka?” kata Wati. “Tenang, cuma air pasang naik itu,” ujar Karlan sambil terus menyerutup es kelapa muda. Istrinya terus-menerus meminta Karlan segera beranjak dari tempat duduknya. Melihat istrinya panik, Karlan seg

Tonakodi-Bencana dan Kasih Sayang-Nya

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno BENCANA gempa, tsunami dan likuifaksi yang menimpa Sulteng, khususnya Palu, Sigi, dan Donggala (Pasigala) 28 September 2018 lalu, telah membuka ruang pembelajaran bagi bagi pemerintah dan masyarakat, menanggulangi bencana. Bencana, sebagaimana rahmat dan keberuntungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, laiknya siang dan malam. Pandangan seperti ini, akan memberikan arah panduan pada manusia bagaimana mengelola alam, termasuk risiko bencana didalamnya. Dengan kondisi Sulteng yang rawan bencana, dibutuhkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam pengelolaan manajemen bencana. Sinergi, bukan saling menyalahkan. Pada dasarnya, pengurangan risiko bencana harus menjadi mainstream aktivitas manusia dan pembangunan. Mainstream ditujukan untuk meningkatkan kapasitas dan menurunkan kerentanan. Semua dituntut siaga, menghadapi bencana yang bisa datang sewaktu-waktu. Dalam Alquran Surah Ali ‘Imran ayat 200 dikatakan bahwasanya ora