Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2021

Kurcaci Menuntut Janji

Oleh: Temu Sutrisno     Hari ini kau berjanji Kemarin kau berjanji Dahulu kala kau juga berjanji Besok Lusa Entah sampai kapan Janji kau ucapkan Janji Kau jawab dengan janji Kau yang duduk di kekuasaan Dengar jeritan kurcaci Rasakan gerak daun rumput teki Semut hitam terkurung lobang Tersumbat sepatu busuk yang kau sayangi Dalam doa mereka mengiba Kapan kekuasaan Menghapus tangis Kapan kekuasaan Merenda bahagia Hilang derita tertunaikan asa Bukan janji manis semata Lihat Hari ini Semut hitam berjajar rapi Tanpa takut menggelorakan nurani Hari ini Rumput teki membelai mesra Kurcaci mengangkat senjata Menuntut janji sang penguasa Dengarkan Kurcaci berteriak bak ksatria Hai Tuan, penuhi janji-janjimu Atau bendera duka ini Menancap di jantung singgasanamu Hancur hati Hilang harga diri!   Tana Kaili, 30 September 2021

“Mencurigai” Rakyat Sendiri

Gambar
  MERCUSUAR-Seorang nenek mengeluhkan harus bolak-balik dari kantor kelurahan ke Puskesmas, balik lagi ke kantor kelurahan. Nenek itu harus menunjukkan surat rapid antigen negatif untuk mendapatkan pelayanan di kantor kelurahan. Kebijakan itu dibuat Wali Kota Palu, menyusul status Palu PPKM Level 4. Bisa jadi, Wali Kota berniat baik untuk kemaslahatan orang banyak. Ia tidak ingin kantor-kantor pelayanan publik di Palu menjadi klaster baru penyebaran COVID-19. Namun Wali Kota tidak boleh mengabaikan keluhan rakyat, semisal nenek tadi. Apalagi jika rapid tidak diberlakukan secara setara diantara semua warga Kota Palu. Patut dipertanyakan, apakah rapid juga diberlakukan untuk seluruh pejabat atau aparat yang melakukan pelayanan? Jika asas kesetaraan diterapkan, seharusnya Wali Kota, Wakil Wali Kota, beserta seluruh jajarannya juga harus dirapid dan menunjukkan hasil negatif sebelum bertemu dan/atau melayani warga kota. Tidak boleh ada perbedaan perlakukan, karena potensi pengh

Gatal Kaki

Gambar
  MERCUSUAR- ‘Gatal Kaki’. Demikian orang Palu melabeli orang-orang yang suka jalan kemana-mana, padahal tanpa tujuan yang penting-penting amat. Saat pandemi, orang dibatasi pergerakannya. Kalau boleh, di rumah saja. Jangan kemana-mana. Semua dilakukan dari rumah saja. Namun itu hanya untuk orang kecil. Faktanya, para penggede yang duduk di kekuasaan, para pejabat, dan orang-orang berduit tetap bisa kesana kemari. Bukan hanya penggede dan pejabat saja, malah terkadang keluarga, anak atau istrinya juga ikut-ikutan ‘gatal kaki’. Dengan beragam alasan, bapontar berkunjung dari satu daerah ke daerah yang lain. Alasannya klasik, studi tiru atau istilah dulu studi banding. Intinya, urusan dinas jadi judul setiap perjalanan. Lucunya, di saat bersamaan anak-anak sekolah harus belajar dari rumah secara virtual. Banyak orang tua harus berhutang hanya sekadar untuk beli android agar anak-anaknya dapat belajar. Bisa jadi para penggede, para pejabat tidak memikirkan itu. Padahal fasilitas y

PPKM Berlanjut, Covid Tak Kunjung Surut

MERCUSUAR-Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 4 di Sulteng berlanjut hingga 23 Agustus. Perpanjangan masa PPKM tak lepas dari sebaran Covid-19, yang tak kunjung surut. Berbanding terbalik dengan Jawa-Bali, Covid-19 di Sulteng belum menunjukkan tanda-tanda melandai. Malah Sulteng berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, menjadi daerah dengan kasus tertinggi di luar wilayah Jawa-Bali. Pun demikian halnya dengan Palu. Ibu kota Sulteng, ditetapkan sebagai daerah dengan risiko tinggi bersama 44 kabupaten/kota lain di Indonesia. Satgas Penanganan Covid-19, melalui juru bicara Wiku Adisasmito pun menyampaikan, terdapat lima provinsi dengan angka kenaikan kasus tertinggi pada pekan ini. Kelima provinsi itu adalah Nusa Tenggara Timur yang mengalami kenaikan tertinggi sebesar 2.303 kasus, Sulawesi Tengah naik 1.733 kasus, Bangka Belitung naik 982 kasus, Kalimantan Selatan naik 624 kasus, dan Sumatera Barat naik 587 kasus. Sedangkan, pada kenaikan kasus akti