Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2019

Tonakodi-Rekonsiliasi Pascapemilu

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno PEMILU sudah usai. Rakyat telah memberikan suaranya. Saatnya perbedaan pilihan dilupakan, dan kembali pada suasana damai penuh kekeluargaan dan kerukunan antar warga, antar anak bangsa. Apalagi dalam beberapa hari kedepan, bulan Ramadan menjelang. Dibutuhkan rekonsiliasi nasional pascapemilu. Rekonsiliasi dalam Islam secara literal, berarti as-shulh atau perdamaian. Menurut istilah, shulh adalah kesepakatan yang bisa membawa kebaikan di antara kedua belah pihak yang  berselisih. Dilihat dari konteks di atas, rekonsialisi tersebut merupakan salah satu perkara yang diperintahkan oleh Islam, sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Quran, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat kemakrufan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, kelak Kami akan memberinya pahala yang besar”. (QS an

Tonakodi-Pemenang Sejati Mengakui Kekalahan

Oleh: Temu Sutrisno MERCUSUAR- Pemenang sejati adalah mereka yang berani mengakui kekalahan. Bukan mereka yang mencari seribu alasan untuk menghindar. Apalagi jika selalu terobsesi dengan menang, meski hanya dalam angan.Dalam setiap kontestasi dan kompetesi, apapaun itu kalah menang adalah hal biasa. Pemenang sejati, adalah mereka yang mampu mengapresiasi kekalahan dirinya dan mengulurkan tangan pada sang juara. Mengakui kelebihan lawan adalah wujud jiwa besar. Belajar dari kisah Mahabarata, Duryudana beserta adik-adiknya,Kurawa, hancur kehilangan semua yang dimiliki karena tidak mengakui hak dan kedudukan Pandawa. Kurawa tidak pernah mau mengakui kelebihan Pandawa, dalam setiap kompetisi sejak mereka masih belia. Karakter itu sangat kuat melekat pada Duryudana bersaudara. Pada akhirnya mereka memilih hancur, daripada mengakui kemenangan Pandawa sejak perang Baratayuda dimulakan di Kurusetra. Pun, mereka yang menang tidak seyogyanya terjebak pada euphoria berlebihan. Pemenang

Tonakodi-Golongan Penunggu Uang Tunai

Oleh: Temu Sutrisno MERCUSUAR-Golongan putih (Golput) dilekatkan pada orang yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu. Biasanya Golput, dilandasi kekecewaan terhadap sistem atau pilihan rasional, tidak ada kandidat yang layak dipilih karena tidak bersesuaian visi,misi, dan program yang ditawarkan. P rogram yang ditawarkan peserta Pemilu tidak berangkat dari apa yang diinginkan pemilih , tetapi idealisme politik peserta Pemilu . Golput model ini merupakan anak kandung demokrasi, dan selalu muncul dalam setiap Pemilu. Dalam konteks demokrasi, mereka adalah kelompok yang menggunakan hak pilihnya untuk tidak memilih. Fenomena Golput sejatinya bentuk kegagalan pendidikan politik peserta dan penyelenggara Pemilu. Idealnya, kampanye sebagai salah satu pendidikan politik, dapat memantapkan pemilih untuk melakukan kontrak sosial melalui pemberian suara di TPS. A rtinya Pemilu sebagai sarana kontrak sosial dapat menjadi solusi atas perilaku Golput dan ketidakhadiran pemilih di

Wisuda Untad Ke-95

Gambar

Wisuda Magister Hukum

Gambar
Lulus dcngan predikat IPK tertinggi

Tonakodi-Dorang Samua

Gambar
oleh: Temu Sutrisno Amirul Mukminin Umar bin Khattab, beberapa saat sebelum wafat menitip pesan agar tidak mengangkat anaknya, Abdullah bin Umar sebagai khalifah menggantikannya. Umar berkeras, meski sebagian ummat mendesak untuk menetapkan Abdullah sebagai pucuk pimpinan ummat Islam. Diakhir hayatnya, Umar menolak politik dinasti, dan lebih memilih sistem permusyawaratan untuk menentukan penggantinya. Umar semasa hidupnya juga dikenal tegas terhadap pejabat yang melakukan penyimpangan, meski dia kawan seiring sejalan, sejawat dalam perjuangan. Langkah Umar sepertinya berbanding terbalik dengan kondisi politik tanah air. Di negeri ini, prinsip berkuasa untuk diri sendiri dan keluarga dipraktikkan banyak orang. “J angan ada orang lain di kekuasaan !” Kira-kira begitu alam pikiran para pejabat yang duduk di kursi kekuasaan. Kenapa? Karena kekuasaan dengan segala fasilitasnya dirasakan ‘menyenangkan’. Lihat, banyak suami, istri, atau anak pejabat ramai-ramai maju dalam aja