Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Puisi- Tuhan dalam Corona (2)

Oleh: Temu Sutrisno Corona buat dunia mencekam Corona gaduh menakutkan Corona Pasar sepi pembeli Rumah ibadah tak lagi lantunkan kalam ilahi Sekolah tak lagi riuh Semarak anak mengembangkan diri Semua menepi Menyepi menyendiri Semua kembali ke rumah Mengurung diri Hanya ketakutan Hanya kesepian Hanya rasa mencekam Apakah Tuhan tak lagi sayang? Tidak Tuhan lagi membimbing hambanya Tuhan ingin manusia membaca ayatnya Tuhan mengajar manusia Mengembangkan pengetahuan Tuhan menguji manusia soal kepedulian Tuhan mengingatkan Dibalik musibah Dibalik corona yang mewabah Dibalik kesulitan ada kemudahan Ada segumpal pertanyaan Akankah manusia tergelincir Atau terangkat derajatnya Saat wabah menyerang Sampai kapan Sampai manusia sadar Sampai manusia berikhtiar Mengubah nasib yang menyandar Sungguh tidak akan berubah keadaan Hingga manusia mengubahnya Melawan wabah dengan ilmu pengetahuan Tuhan mendidik manusia Lan

Puisi-Tuhan dalam Corona (1)

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno     Semua terhenyak Corona membatasi semua gerak Semua cemas Semua ketakutan Kiranya Tuhan mengingatkan Setitik virus bisa mematikan Kekuasaan Jabatan Kekayaan Kekuatan Kerupawanan Tidak berarti saat kematian mengancam Apakah Tuhan tidak lagi sayang? Tuhan hanya memberi tahu Manusia terlalu sibuk tak mampu atur waktu Tuhan hanya ingin manusia bersatu Tuhan ingin keluarga nomor satu Tidakkah manusia tahu Tugas utama berkeluarga Bertanggungjawab menyelematkan dari api neraka? Bukankah selama ini manusia tertipu? Pendidikan anak hanya diserahkan pada guru Urusan rumah tanggungjawab para pembantu Saat corona menyerang Tuhan memberi tahu Agar manusia bersih Bersih hati Bersih pikiran Bersih tindakan Bersih lingkungan Saat corona menyerang Kiranya Tuhan mengingatkan Manusia diajarkan Riuh dunia untuk tugas kekhalifahan Mengisi sepi untuk zikir padanya Tuhan ingin manusia sadar

Koro, Korona, dan Lockdown

Oleh: Temu Sutrisno Hampir tidak ada yang tidak kenal Korona, di dunia ini. Dua bulan terakhir, virus Korona atau Covid-19, menjadi perhatian khalayak dunia, karena penyebarannya yang begitu cepat dan memakan ribuan korban jiwa dan ratusan ribu orang terjangkit. Torijono, yang bermukim di bawah kaki gunung di daerah Sulawesi Tengah, juga mengkuti perkembangan Korona. Sebagai rakyat kecil –dan bukan ahli pemerintahan apalagi ekonomi- Torijono kaget saat ada petinggi di daerah yang mengusulkan lockdown, sebagai upaya mengurangi sebaran virus Korona. “Apa itu lockdown?” batin Torijono. Buru-buru Torijono, menuju kantor kecamatan mencari wifi, jaringan internet gratis. Di pojok kantor kecamatan Torijono, buka-buka Hapenya, dan mencari pengertian lockdown. “Oh, lockdown rupanya penutupan wilayah dan pembatasan kegiatan publik di area terbuka. Semua harus beraktivitas di rumah,” guman Torijono, setelah membuka-buka Hapenya. Status lockdwon adalah tindakan yang dilakukan pemerin

Puisi-Dalam Cinta

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Dalam riuh Ku ingin selalu mengingatmu Dalam sepi Ku ingin selalu bersamamu Dalam setiap helaan nafas Selalu tersebut namamu Dalam setiap palingan wajahku Ku ingin ada tatapanmu Dalam kehampaan Kau selalu ada Dalam senyap Engkau tetap bercerita Dalam sunyi Engkau senandungkan cinta Aku yang tak pandai merangkai kata Berharap lembut angin menyapa Mengabarkan pada semesta Kita selalu bersama Dalam kemurnian cinta Engkau dan aku bertahta Dalam riuh Dalam sepi Dalam sunyi senyap Dalam hampa Aku dalam dirimu Terserap Menyatu dalam cinta. *** Tana Kaili, 16 Maret 2020

Puisi-Dosa tak Terkira

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Rintik hujan pagi hari Tak terhitung buliran air membasahi bumi Aku tertunduk menekur diri Tak mampu mengukur khilaf Sebanyak rintik hujan Dosa membaluri Terlalu banyak untuk ditimbang Terlalu kecil untuk dibandingkan Sungguh Kebaikanku belum seberapa Hanya setetes embun dalam cawan retak Hilang menguap  Saat terpapar mentari Rintik hujan pagi hari Ku ingin buliran berganti Dosa tertutup pahala Keruh hidup jernih bercahaya Mengalir membasahi bumi Menyelimuti dunia Mekar harum seperti bunga Rintik hujan pagi hari Ku rekatkan cawan kebaikan Agar aku bisa selalu bersamamu. *** Tana Kaili, Jumat 6 Maret 2020