Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2020

Puisi-Lelaki di Ujung Malam

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Lelaki di ujung malam Menyusur jalan Menyambut fajar menjemput pagi Saat yang lain terlelap Memeluk hangat pembaringan Saat yang lain terbuai Riuh pesta hiburan malam Lelaki bangun di tengah malam Bermunajat untuk kebaikan Dua rukuk dua salam Menjadi penanda sapaan Pada Yang Tersayang Lelaki di ujung malam Melanjutkan perjalanan Berbekal sapu tungkai panjang Menyusur jalan Membersihkan segala aral Tidak ada pesta Tidak ada kehangatan Hanya berteman dinginnya malam Setitik harapan Membuncah menerangi kegalauan Sebait doa terlantun Semoga anak-anak tergapai cita Bahagia dalam kehidupan Lelaki di ujung malam Terus bergerak menjemput fajar Membersihkan jalan Membersihkan hati Membersihkan pikiran. *** Tana Kaili, 21 Feb 2020

Puisi-Pelacur pun Malu

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Entah apa yang ada di benak mereka Tertawa saat jadi tersangka Entah kegilaan macam apa Melambai tangan bak sang juara Saat terbongkar kedoknya Entah setan mana yang membuai mereka Bermain petak umpet hukum Sebelum terjerat tangannya Tidak ada lagi batas moral Tidak ada lagi nilai kehormatan Tidak ada kemanusiaan Hidup hanya demi pundi uang Hidup hanya untuk kekuasaan Tidak ada malu dalam dada Bahkan Pelacur pun masih menutup muka Ketika digelandang ke pintu penjara Tidak ada tawa Terpasung pertanyaan Kapan terlepas jerat hitam dunia Kenapa ada penggerebekan penuh sandiwara Pelacur pun masih menutup muka Malu menyelimuti Takut terbuka aib keluarga Tapi Tidak dengan bandit Pengemplang uang negara Mereka yang mengangkangi norma Mereka yang mengatur proyek karena kuasa Mereka yang menyogok        Untuk kursi yang membuat terlena Mereka yang menggelembungkan suara Mereka M

Puisi-Panggilan Kekasih

Oleh: Temu Sutrisno Pagi Hawa dingin menyapa Menyapu rasa Menusuk tulang Sayup terdengar Suara adzan memanggil Membangunkan Kaki menekuk Menarik menutup selimut Memanjakan badan Suara itu masih terdengar Menggelitik kesadaran Memberikan pilihan Bangkit memenuhi panggilan Atau meneruskan mimpi Sejuta angan malam Dingin fajar terus menghujam Aku terhenyak Sejenak tersadar Melepaskan tangan Bersedekap memeluk hati Suara itu Menggetarkan sukma Memukul menghentak Merubuhkan keangkuhan jiwa Suara itu Mendayu Merayu Mengulurkan tangan Memeluk Mengajak bercumbu Merasakan hangatnya kasih Meraih cinta Yang Maha Perkasa. *** Tana Kaili, 10 Feb 2020

Tri Putra Toana Terima PCNO di HPN

Gambar
PIMPINAN Tri Media Group Tri Putra Toana menerima  penghargaan Press Card Number One (PCNO)  dari Ketua Umum PWI Pusat Atal S Depari,  di puncak acara Hari Pers Nasional (HPN) di Banjarmasin,  9 Februari 2020. FOTO: DOK. MERCUSUAR-HO. SETIYO UTOMO • Satu-satunya dari Kawasan Timur Indonesia • Pertama dari Sulawesi Tengah BANJARMASIN, MERCUSUAR-Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat kembali memberikan Penghargaan Press Card Number One (PCNO) kepada belasan wartawan senior yang dinilai layak menerimanya. Anugerah Kartu Pers Nomor Satu ini diberikan bertepatan dengan perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2020 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di antara penerima PCNO tersebut Pimpinan Tri Media Group yang menaungi Mercusuar, Sulteng Raya, Kaili Post, Banggai Raya, dan Poso Raya, Tri Putra Toana. Tri Putra dinilai sebagai sosok yang turut membesarkan pers dengan profesional penuh integritas, kompetensi dan dedikasi tinggi. Sertifikat dan Kart

Mendahulukan Kerja Kemanusiaan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno CAFE Trakadera di Kelurahan Tipo yang tersapu tsunami. FOTO: TEMU SUTRISNO Namanya Frangky Pesik. Wartawan berdarah campuran Manado-Poso berkulit putih ini, akrab di tengah sahabatnya dengan panggilan Angky. Angky menjadi salah satu saksi dahsyatnya bencana 28 September 2018, yang menejang Palu, Donggala, dan Sigi. Sore itu Angky, berada di ruang redaksi Harian Mercusuar Palu. Saat gempa menggucang, seakan bangunan tua kantor Mercusuar akan runtuh. Guncangan hebat disertai suara gemuruh dari bawah tanah, membuat penghuni redaksi berhamburan keluar. Sampai di halaman belakang Mercusuar, saat semua wartawan panik dan berusaha mengambil kendaraan untuk pulang bertemu keluarga, Angky berjalan kearah depan bangunan. Suara gemuruh kembali terdengar. Kali ini gemuruh tidak datang dari bawah tanah, melainkan pantai yang hanya berjarak sekira dua ratusan meter dari kantor redaksi Mercusuar. Angky melihat kearah utara kantor, orang lari tunggang langgang