Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2019

Mendorong Guru Kreatif dan Inovatif

Gambar
PERINGATAN Hari Guru Nasional (HGN) pada 25 November sebaiknya dijadikan momentum untuk mengembangkan profesi guru sesuai tantangan zaman. Peringatan HGN juga merupakan kesempatan untuk merancang postur guru nasional yang ideal untuk menggenjot daya saing bangsa. HGN   diwarnai isu strategis terkait aspek profesionalitas guru. Antara lain, penguatan pendidikan karakter di satuan pendidikan, optimalisasi pendidikan inklusi, revitalisasi SMK menghadapi daya saing ketenagakerjaan, hingga penilaian kinerja guru dan tenaga kependidikan, serta kesejahteraan guru, termasuk guru honor. HGN merupakan momentum yang tepat untuk mewujudkan guru ideal yang menjadi sosok inspiratif bagi siswa. Hingga saat ini, sosok guru yang inspiratif dan adaptif dengan kemajuan dunia jumlahnya belum menggembirakan. Sehingga lembaga pendidikan di negeri ini masih dibelit oleh rutinitas dan belum menjadi lumbung kreativitas dan inovasi. Padahal, era globalisasi sekarang ini memungkinkan sekolah menjad

Sindrom Raja Midas

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno “Saat kepercayaan rakyat luntur, kala otot melemah, gigi mulai tanggal tak lagi mampu mengunyah pinang, berhentilah mengejar kekuasaan”. Kutipan petuah kuno itu kini tidak lagi bermakna. Tidak ada lagi orang mengingat, apatah lagi   menjalankannya. Fakta sosio-politik hari ini, nyaris tidak ada orang siap meninggalkan kekuasaan. Peribahasa mengatakan, sekali merasakan kekuasaan semakin erat enggan melepaskan. Menengok ke peradaban Yunani masa lampau, betapa kita diingatkan pada mitologi Raja Midas, yang serakah dan haus kekuasaan. Raja Midas adalah seorang figur penguasa dalam legenda Yunani Kuno, sosok seorang raja yang rakus, sangat bangga dengan jabatan yang didudukinya. Raja Midas paling doyan menumpuk kekayaan bagi diri dan keluarganya, sekalipun harus mengorbankan kepentingan rakyatnya. Mayoritas rakyat benci kepada Raja Midas, tetapi tidak memiliki nyali dan keberanian untuk melawannya. Jangankan melawan, mengkritik secara terbuka pun tida

Kisah Raja Ling

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno “Beri aku sepuluh pemuda, dengan kesepuluh pemuda itu aku akan mengguncang dunia.” (Bung Karno) MERCUSUAR-Ungkapan Presiden Soekarno tersebut menggambarkan dengan bahasa kiasan, peran dan kehadiran pemuda sangat penting dalam sejarah panjang bangsa Indonesia. Lembaran sejarah perjuangan bangsa Indonesia, diwarnai gerakan kaum muda. Semangat muda adalah semangat perubahan, aktif, energik, penuh spirit, kreatif, visioner, pekerja keras, serta mempunyai nilai positif bagi kemajuan bangsa. Namun semangat itu rasa-rasanya masih kurang. Di tengah kondisi kekinian, rakyat membutuhkan tambahan satu karakter kepemimpinan, jujur. Ya, rakyat butuh pemimpin bukan hanya kreatif, inovatif, energik, tapi juga jujur. Dahulu kala, ada seorang raja yang sudah tua. Sang Raja tidak laiknya orang yang duduk di kekuasaan era kini. Ia tidak ingin mengangkangi kekuasaan, bertahan sebagai pemimpin hingga ajal menjemput. Ia menyadari bahwa sudah dekat saatnya i

Pengantar Analisis Media[1]

Oleh: Temu Sutrisno [2] “Nuun, demi pena (Kalam) dan apa yang mereka goreskan” (QS Al Qalam:1) “Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (QS Al Alaq: 1-2) Dengan segala isi dan peristiwa yang ada di dunia menjadi sumber informasi bagi media massa. Selain menjadi sarana dan prasarana komunikasi, media massa juga mempunyai tugas dan kewajiban untuk mengakomodasi segala jenis isi dan peristiwa di dunia ini melalui pemberitaan atau publikasinya dalam aneka wujud. Institusi media memproduksi dan menyebarkan informasi yang berupa produk budaya atau pesan yang mencerminkan budaya dalam masyarakat kepada publik secara luas agar produk atau pesan tersebut dapat digunakan dan dikonsumsi oleh publik. Dengan demikian keberadaan media massa sebagai sistem tersendiri tidak bisa dilepaskan dari sistem kemasyarakatan yang lebih luas. Media massa adalah sesuatu yang dapat digunakan oleh segala bentuk komunikasi, baik komunikasi personal

Bahasa Jurnalistik[1]

Oleh: Temu Sutrisno [2] “Dan tidak seorang Nabi diutus di muka bumi kecuali dengan bahasa kaumnya.” (Qs. 14:4) Pada prinsipnya tidak ada perbedaan bahasa jurnalistik dan bahasa lainnya dalam pengertian ilmu komunikasi. Bahasa yang disampaikan harus jelas dan mudah dipahami. Meminjam ungkapan Albert Hester, jangan menulis yang tidak dipahami sendiri dan orang lain. “Kalau pembaca tidak bisa mengerti apa yang Anda tulis, lalu buat apa menulis? Kalau pembaca tidak bisa memahami apa yang ada dalam berita Anda, maka tidak terjadi komunikasi.” Bahasa Jurnalistik diistilahkan sebagai language of mass communication (bahasa komunikasi massa), bukan language of journalistic . Tulisan jurnalistik adalah tulisan yang dipahami banyak orang. Bahasa jurnalistik tidak elitis atau eksklusif yang hanya dimengerti kalangan tertentu. Resep dokter jelas bukan bahasa jurnalistik karena ia hanya bisa dimengerti oleh dokter dan apoteker. Anda tidak perlu bergaya atau “so intelek” ketika mem

Masih Ada Orang Baik

Oleh: Temu Sutrisno "Di luar sana, tidak terkira orang terang-terangan mencuri, korupsi, tidak menepati janji, dan tidak peduli. Bahkan banyak orang berebut ‘kursi’ dengan cara yang tidak terpuji". MERCUSUAR-Beberapa hari lalu mobil pimpinan Sulteng Raya, Suyanto,   dibobol orang saat salat di sebuah masjid. Orang yang tak bertanggung jawab menggondol tas berisi handpone dan dompet berisi kartu identitas. MasYanto sempat menyampaikan ke beberapa teman melalui grup WhatsApp kalau HP hilang, dan teman-teman masih bisamenghubungi nomor yang sama. Kebetulan nomor WA menggunakan HP tua yang satunya. “Android saya hilang. Nomor   WA aman, di HP jadul”. Demikian info dari Mas Yanto. Kasus Mas Yanto cukup menarik bagi saya, karena keesokan harinya melalui WA disampaikan, bahwa ada tiga anak mudamengantarkan tas ke rumahnya. Tiga anak muda tersebut telah putar-putar ke alamat   berdasarkan kartu dan buku rekening yang ada dalam tas itu. Tengah malam, ketiga anak m

Dievakuasi Tentara, Monica Melahirkan Pascagempa

Oleh: Temu Sutrisno HAMPIR semua wanita menginginkan proses kelahiran normal di rumah sakit dan ditangani tim dokter dengan baik. Namun kondisi itu tidak bisa dinikmati Monica (20). Ibu muda dari Donggala itu harus melahirkan ditengah kondisi yang serba terbatas. Monica melahirkan sepuluh hari pasca bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi yang menerjang Palu, Sigi, dan Donggala melalui operasi caesar tanpa suami dan kerabat di sisinya. Senin (8/10/2018) penulis mendapat pesan WA dari Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 132 Tadulako, melalui Grup Media Gempa Palu-Donggala. Pesan WA seputar kegiatan Satgas Yon Armed-6/TMR yang melakukan evakuasi dan membantu persalinan pengungsi korban gempa di Banawa, Donggala atas nama Monica. Komandan Batalyon Armed-6/TMR Mayor Arm. Rohmadi menyampaikan bahwatimkesehatan satuan tugas membantu evakuasi seorang ibu muda yang melahirkan, dengan menggunakan ambulance satuannya Satgas Yon Armed-6/TMR merupakan satuan bantuan tempur (Satbanpur)

Kubur Bergeser, Mayat Begelimpangan

Oleh: Temu Sutrisno Hari keenam pascagempa, kami rombongan PWI Sulteng bersama Komunitas Bhinneka Tunggal Ika bergerak ke Desa Sibalaya Selatan Kecamatan Tanambulava Kabupaten Sigi untuk sekadar berbagi meringankan beban korban bencana. Dengan tiga mobil bermuatan paket sembako, rombongan dipimpin langsung Ketua PWI Sulteng, Mahmud Matangara. Seperti tidak menghiraukan lelah, dua hari sebelumnya Pak Mahmud, saya, dan Pak Aslam A Rasyid, bendahara PWI Sulteng baru tiba dari Surakarta mengikuti Kongres PWI. Tidak perlu waktu lama untuk istirahat. Dua hari sebelumnya, Sekretaris PWI Sulteng Indar Ismail bersama Komunitas Bhinneka Tunggal Ika telah menyiapkan paket sembako yang diatur di Kantor PWI. Saat itu Kantor PWI dijadikan base camp untuk penyaluran bantuan pada korban bencana yang digalam PWI bersama Komunitas Bhinneka Tunggal Ika. Sepanjang perjalanan menuju Sibalaya Selatan, kami melewati beberapa desa yang hampir semua warganya membuat tenda-tenda di pinggir jalan ata

Kabar Duka di Kongres PWI

Oleh: Temu Sutrisno Sejak Rabu (26/9/2018) rombongan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulteng telah berada di Surakarta untuk mengikuti Kongres PWI. Rombongan PWI Sulteng dipimpin langsung Pak Mahmud Matangara selaku Ketua PWI Sulteng, dengan anggota Aslam A Rasyid (bendahara) dan saya selaku Wakil Ketua Bidang Pendidikan. Dalam rombongan ikut juga Suyanto atau Mas Yanto pimpinan Sulteng Raya selaku peninjau, sekaligus mengikuti kegiatan SPS yang diadakan di Hotel Sunan Surakarta. Di tengah Kongres, saat Presiden Jokowi membuka kegiatan, saya mendapat informasi telah terjadi gempa bumi di Kabupaten Donggala. Bagi kami warga Palu dan Donggala Sulawesi Tengah, menerima informasi gempa adalah hal biasa. Kondisi daerah kami di patahan sesar Palu-Koro, nyaris setiap saat menerima goyangan dari sang bumi. Usai pembukaan kongres, saya telepon istri di Palu menanyakan informasi gempa, karena telah tersiar kabar ada dua warga Donggala meninggal. Jawaban istri di ujung telepon, menya