Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

Belajar Kejujuran dari Penjual Kopi

Jika kejujuran menjadi hati dan jati diri bangsa, setan pun akan stres berat, karena kesulitan melahirkan koruptor-koruptor baru. Eh...Jangan-jangan setan tidak pernah stres dan tak perlu rumah sakit khusus? Entahlah. Toh setan memang jiwa yang rusak dari sananya. Oleh: Temu Sutrisno Senin sore penghujung bulan April 2014, saya bersama kawan Itho menemani Habib Farid Alhabsyi, kolega di organisasi dulu saat masih aktiv di gerakan mahasiswa. Habib Farid datang ke Palu dalam rangka tugas dari tempat kerjanya saat ini, di sebuah kementerian negara. Seperti biasa, teman-teman dari luar daerah kalau ke Palu ingin menikmati suasana pantai atau mencicipi makanan khas Palu. Setelah sehari sebelumnya mencicipi Kaledo, giliran sore jalan-jalan ke pantai Talise. Di ujung Jalan Komodo kami memilih salahsatu lapak yang menjual kopi, saraba, pisang goreng, kentang goreng, dan jagung bakar. Panorama Pantai Talise sore hari, dengan belaian angin sedikit keras, kami banyak berbincang te

Puisi-PEMULUNG TUA

Oleh: Temu Sutrisno Tertatih kaki rentanya melangkah karung berisi botol dan serpihan kertas bekas menggantung dipundaknya sesekali ia menyibak tumpukan sampah memilih, memungut sejumput rejeki untuk sesuap nasi Aku terhenyak, Parodi apa ini? Rakyat kecil miskin papa tak mengerti kemana semua kekayaan negeri Nun disana banyak pejabat tega korupsi mereka tak peduli Tana Kaili, 8 Mei 2011

Polemik Impor Beras, Pertanu Dukung Bulog

Gambar
KETUA Pertanu, Asgar Djuhaepa, saat panen raya  bersama petani di Karawang Jawa Barat, Agustus 2018 lalu.  FOTO: DOK. ASGAR AD PALU-Terkait polemik impor beras antara Menteri Perdagangan dengan Direktur Utama Badan Urusan Logistik (Bulog) Budi Waseso, Persatuan Tani Nusantara (Pertanu) mendukung kebijakan Bulog agar tidak dilakukan impor beras sampai 2019. Ketua DPP Pertanu, Asgar Ali Djuhaepa, di Palu (20/9/2018) menyatakan menyambut gembira pernyataan Budi Waseso. Impor beras saat ini kata Asgar, sangat merugikan petani. “Pertanu juga meminta Menteri Perdagangan untuk tidak mengimport beras. Petani sangat dirugikan adanya kebijakan impor, karena baru panen Agustus - September 2018,” kata Asgar. Dicontohkan Asgar, di Karawang Jawa Barat sebagai salah satu sentra produksi beras nasional, petani pada awal September menjual Beras dengan harga Rp 8.900.000,-/Ton kepada Pedagang beras Pasar Karawang. Namun pertengahan September harga turun menjadi Rp 8.500.000,-/Ton.