Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2022

Dalam Kesendirian

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno   Saat bintang tersenyum lebar Menari bahagia Menyambut datangnya rembulan Aku terkurung dalam keheningan ruang Cahaya petang yang makin memudar Berganti awan Berebut pelukan sang malam Duhai kawan Tidakkah ada secuil kerinduan Yang membuat hatimu bergetar Melecut keinginan datang Sekadar menengok ruang Bersorak sorai Memberikan kabar pada setiap orang Bahwa kebenaran harus disampaikan Aku hanya mampu berbicara Pada dinding bangunan tua Pada tiang Pada lantai Pada sang waktu Mereka yang setia menemaniku Saat jemariku menari Memburu berkah dalam kerja Yang tak kunjung usai.***   Palu, 24 Agustus 2022

Burung Kebingungan, Katak Kegirangan

Gambar
  BURUNG-burung di seputaran Kelurahan Besusu Tengah bingung. Pagi hari terbang menjelajah mencari rejeki, sore tempat mereka beristirahat dari penat raib digaruk alat berat. Burung-burung pun bingung, kenapa pembangunan selalu mengabaikan aspek lingkungan. Kini mereka berupaya mencari rumah baru. Burung-burung itu beterbangan, berburu dengan waktu untuk istirahat malam. Mereka tidak ingin membebani Pemerintah Kota Palu, yang hingga kini belum mampu menyediakan rumah untuk seluruh penyintas bencana 28 September 2018. Burung-burung juga mengerti, masih banyak janji belum terealisasi. Lima puluh delapan program prioritas saat kampanye, bisa jadi hanya klise. Butuh kerja keras untuk mewujudkan semuanya. Bukan sekadar mengejar Adipura. Lagi-lagi penebangan pohon terjadi di tengah kota Palu yang akrab dengan cuaca terik. Proyek drainase di Jalan Suprapto, telah menghilangkan puluhan pohon peneduh dan penyejuk kota. Ada rasa adem, saat pepohonan rimbun hijau. Betapa besar manfaat poh

Kasus Brigadir J dan Briptu D

Gambar
  DI JAKARTA, kasus penembakan Brigadir J belum usai. Di Palu, Briptu D tertangkap tangan membawa uang Rp4,4 miliar diduga hasil suap dari calon siswa (Casis) Bintara Polri. Kedua kasus mirip. Jika kasus Brigadir J diungkap ke publik tiga hari setelah peristiwa, kasus Briptu D mencuat ke masyarakat setelah dua pekan berjalan. Briptu D ditangkap 28 Juli 2022, berita baru beredar tanggal 15 Agustus 2022. Menurut wartawan yang yang meliput di Polda, berita muncul karena wartawan mencium dugaan suap tersebut. Bukan inisiasi kepolisian untuk menggelar keterangan pers. Suap, bukan hanya pelanggaran etik. Suap juga masuk kategori tindak pidana korupsi. Anehnya, uang suap Rp4,4 miliar tersebut yang seharusnya menjadi barang bukti malah dikembalikan ke orang tua Casis. Lagi-lagi kasusnya sama. Jika pada kasus Brigadir J (sebagian) barang bukti dihilangkan, di kasus dugaan suap Casis uang barang bukti juga hilang (karena dikembalikan). Mestinya uang tersebut menjadi bukti, yang diamankan p

Dulu Kompeni, Kini Investasi?

Gambar
  DAHULU kala, awal mula penjajahan di bumi Nusantara dimulai dari pelayaran bertahun-tahun. Vasco da Gama dari Portugal, Afonso d’Albuquerque dari Spanyol, dan Cornelis de Houtman bersama Jan Huyghen van Linschoten dari Belanda berpetualang mengarungi lautan bertahun-tahun untuk datang ke negeri yang kini bernama Indonesia. Armada ini tidak diundang, mereka datang dengan misi awal perdagangan. Lambat laun, misi dagang berubah menjadi penjajahan. Sikap serakah telah melahirkan imperialisme dan kolonialisme beratus tahun di bumi Nusantara. Belanda yang paling lama menguasai perdagangan di Nusantara, menancapkan penjajahannya melalui kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Dalam lidah bangsa-bangsa Nusantara disebut kompeni atau kumpeni. Kongsi dagang ini bertahan cukup lama, sejak berdiri pada 2 Maret 1602 hingga 31 Desember 1799, sebelum akhirnya diambil alih Kerajaan Belanda. Kini, setelah Nusantara lepas dari penjajahan dan menjadi sebuah Negara bernama Indonesia,

Pelajaran Antikorupsi dari Hayat

Gambar
  SIANG kemarin, seperti biasa saya menjemput Si Bungsu dari sekolahnya di salah satu SD di Kota Palu. Sampai di sekolah, Si Bungsu belum keluar. Jam di HP menunjukkan pukul 11.50 Wita. Masih ada sepuluh menit menunggu. Saat saya duduk-duduk menunggu, terlihat seorang bocah mondar-mandir seperti mencari sesuatu. Saya melihat ada pensil di dekat pot bunga. Saya pikir, mungkin dia mencari pensil itu. Penasaran, bocah itu saya panggil. “Kenapa Nak?” “Uangku hilang om, ta jatuh. Mau beli es krim,” katanya. “Oh. Saya kira cari pensil. Tolong ambilkan pensil itu”. Setelah dia ambilkan pensil, saya coba tawarkan uang sekadar pembeli es krim. Saya kaget. Dia spontan menolak. “Tidak om. Masih ada uangku tiga ribu. Ta jatuh yang lima ribu”. Bocah itupun ngeloyor pergi ke penjual es krim keliling yang kebetulan mangkal di sekolah. Setelah membeli es krim, ia pun balik ke tempat saya duduk. Pensil yang saya pegang, kembali saya tawarkan untuk diambil. “Bukan saya punya om,

Bencana Datang Lagi

Gambar
  HAMPIR setiap tahun terulang. Banjir dan tanah longsor, menjadi bencana yang akrab di telinga warga Sulawesi Tengah, selain gempa. Tidak ada sudut wilayah Sulawesi Tengah yang tidak disinggahi bencana banjir dan longsor. Seluruh kabupaten dan kota merasakannya, meski dengan kadar yang berbeda-beda. Hari ini banjir besar, malah banjir bandang menerjang. Mungkin esok lebih kecil. Atau sebaliknya, hari ini banjir kecil, esok banjir besar. Saat bencana datang, semua tangan bergandengan saling menguatkan, membantu korban. Sebuah sikap positif dan budaya yang patut dikembangkan. Di balik itu, harus ada evaluasi kenapa banjir dan longsor datang berulang? Bisa jadi, ini bentuk protes alam pada perilaku manusia dan pembangunan yang tidak memerhatikan lingkungan. Pertumbuhan manusia dan pembangunan telah melahirkan penebangan, penambangan, eksploitasi alam berlebihan, atau kelemahan membaca tanda-tanda alam menjadi biang bencana menerjang. Salah satu masalah penting yang dihadapi dal

Saat Alam Menggugat

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno     Ilustrasi-Dampak banjir. Foto: The Sun Hari ini Alam kembali menggugat Seakan ingin mengambil haknya Agar tak tersentuh tangan-tangan jahil manusia Hari ini Alam mengingatkan Penebangan tak terkendali Penambangan mengeruk perut bumi Kisah serakah anak manusia Berbuntut bencana Banjir menghantam Longsor terus berguguran Wabah bermunculan Bukan alam tak ramah pada kehidupan Alam hanya menyampaikan pesan Tiada lagi keseimbangan Eksploitasi tanpa henti Berarti bunuh diri Alur alam menjadi permukiman Hutan penguat bantaran dibabat Gundul berantakan Perbukitan digaruk hilang keindahan Isi bumi dihabiskan Perut anak manusia mengembang Bergelimang pundi-pundi uang Saat alam menggugat Ketika korban berjatuhan Manusia saling menyalahkan Berhias topeng kebaikan Merasa paling benar Hilang malu Menyembunyikan keserakahan.***   Tana Kaili, 2 Agustus 2022

Matinya Kemanusiaan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   ILUSTRASI-Pengunsi Ukraina. FOTO: LIPUTAN6   Gedung hancur Terbakar Terserak Api menjulang Menghanguskan nafas kemanusiaan Balita menjerit Tak mengerti kenapa ada perang Anak-anak terlepas dari dekapan kasih sayang Orang tua melangkah gontai Pundak ringkih dipaksa memikul senapan  Bertahan atau menjadi korban Di saat yang sama Gambar diperjualbelikan Video dijejalkan Kekerasan dipertontonkan Tak ada yang peduli Tak ada penolakan Semua mencari keuntungan Hati membeku Pikiran kelu Semua menganggap biasa Kematian Perang berkepanjangan Jutaan kepala tenggelam dalam samudera darah Bersama matinya kemanusiaan Banyak yang abai Jiwa-jiwa meregang Hidup tanpa    kemanusiaan Seperti kematian sebelum menjemput ajal. ***       Tana Kaili 1 Juni 2022

Celoteh Subuh

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno     Celoteh gelatik di subuh hari Merdu terdengar memuja Ilahi Dingin angin fajar  Menusuk relung hati Merasuk membakar kesadaran diri Aku bangkit dari pembaringan Diselimuti rasa malu Betapa rendah ingatanku pada Mu Hanya sekelumit tahmid memuji diri Mu Hanya seuntai kata mengagumi keagungan Mu Kau yang maha bijaksana Ampunkan diriku  Tasbihku pada Mu tak seberapa Tak seperti rindu gelatik pada Mu Membumbung tinggi mengangkasa Kau yang maha perkasa Pandanglah diriku Dengan kasih sayang Mu Dalam ketertundukan wajahku Dalam setiap detak nadiku Ku ingin selalu bersama Mu.***   Tana Kaili, 30 Juli 2022