Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

Jalur Kucing di Likuefaksi Petobo

Oleh: Temu Sutrisno Tak terbayang di pikiran Reni (29), dirinya beserta anaknya Naya (10) selamat dari gulungan tanah likuefaksi Petobo. Bagaimana tidak, ia bersama anaknya berjibaku dan kejar-mengejar waktu menghindari amukan tanah dari arah timur rumahnya. Reni mengenang hidupnya sepanjang 28 September 2018, kala gempa menggoncang Palu dan sekitarnya. Sore itu, ia bersama anaknya menghadiri ulang tahun teman anaknya di Pemandian Milinium Jl. Emy Saelan. Lantaran acara itu, ia harus minta izin dari tempat kerjanya, Mall Tatura. Saat gempa pertama menggoncang Pantai Barat kabupaten Donggala, ia memutuskan pulang ke rumah dan meninggalkan acara ulang tahun. Sampai di rumah, di komplek perumahan Petobo, Reni langsung memasukkan motor ke rumah dan istrirahat sejenak. Anaknya duduk menonton di depan televisi. Sore makin beranjak. Suara tahrim di masjid terdengar. Reni bangkit membersihkan diri dan mengambil air wudhu untuk salat maghrib. Tiba-tiba tanah berderak, bumi ber

Tonakodi-Cerdas Memilih

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno PEMILIHAN Presiden, anggota DPR, DPD, dan DPRD tinggal menghitung hari. Masyarakat diperhadapkan pada pilihan-pilihan, siapa yang bakal dicoblos di bilik suara 17 April 2019 nanti. Para kandidat makin gencar kampaye dalam berbagai cara, bentuk, dan saluran. Ilustrasi Kampanye Konon dalam suatu kampanye, ada seorang kandidat berorasi di depan rakyat pemilih. “Saudara-saudara, jika terpilih, saya akan bangun jembatan terpanjang, terindah, atau yang terbesar di daerah ini,” kata kandidat. Tiba-tiba peserta kampanye mengacungkan jari, protes pada kandidat. “Di sini, daerah kami tidak ada sungai”. “Oke. Kalau begitu bukan hanya jembatan. Kami akan bangun sekalian dengan sungainya!” kata kandidat ngotot. Sebagian rakyat geleng-geleng kepala, yang lain bersorak ria, dan yang lainnya bingung dengan janji politik kandidat. Di tempat yang lain, seorang kandidat menjanjikan lapangan kerja dengan membangun perusahaan. “Kita akan berjuang bersama rakyat m

Puisi-Suara Tanpa Arah

Oleh: Temu Sutrisno Semua bersuara Tidak perlu benar Tidak harus lurus Abaikan baik buruk Semua sama Entahlah Semua bersuara Riuh rendah Bising pusing Abaikan fakta Ujar ujarkan saja Semua bersuara Tak ada lagi batas Benar dalam kebaikan Baik dalam keindahan Semua bersuara Serak dalam keserakahan Kicau tanpa kebijaksanaan Tanpa arah Asal yang lain kalah Menyerah Semua bersuara. Tawaeli, Palu 19 Feb 2019

Puisi-Kabar Gembira

Oleh: Temu Sutrisno Lelah Letih tanpa lelap Barang sekejap Mulut terkatup rapat Hati bergelora penuh harap Yakin kasih dan mukjiat Orang terkasih penuh nikmat Saat raga terus melemah Tanpa daya Tuhan menunjukkan rahmat Suara anak di ujung sana Memberi kabar selamat Segala puji untuk-Mu ya Shamad Maafkan hamba-Mu Jika belum sepenuhnya berkhidmat.*** Surakarta, 29 September 2018

Puisi-Palu Bergoncang

Oleh: Temu Sutrisno Bumi bergoncang Gemuruh Retak tanah membelah Air teluk menggunung Menggulung Menerjang Bukit berderak Tanah bergerak Menarik Menelan semua Luluh lantak Rubuh tanpa sisa Mayat berserak Bergeletak dalam gulita Anak menjerit Menangis terpisah ibu bapa Orangtua berlari entah kemana Hilang anak permata jiwa Aku terhenyak Mendapat kabar duka Sepanjang malam merajut asa Lelah mata dalam lantunan doa Tangan tengadah Berharap kasih-Nya Untuk keselamatan belahan jiwa Mereka semua Sampesuvu sararaku Ri Palu ngata ntovea.*** Suarakarta, 28 September 2018

Puisi-Bohong

Oleh: Temu Sutrisno Ke utara Bohong Ke timur Bohong Ke selatan Bohong Ke barat Bohong Kemanapun Bohong Dimanapun Bohong Bohong Bohong Terus berbohong Berhentilah Jangan biarkan Dirimu dikuasai dibohongi kebohongan Bohong Bohong Bohong Enyahlah Hilang sirna Bohong Bohong Bohong Bukan keadaban manusia.*** Tawaeli, Palu 19 Feb 2019

Tonakodi-Anomali Kaum Elit

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno PADA suatu malam, Khalifah Umar bin Abdul Aziz (62 101 H) sedang bekerja di ruangannya. Tiba-tiba suara pintu diketuk seseorang. ”Siapa?” tanya khalifah.  ”Saya, putramu!”   "Silakan masuk!” jawab khalifah sambil memadamkan lampu di dekatnya.  Melihat ruangan jadi gelap gulita, maka terkejutlah si anak itu. Ia mempertanyakannya. Dengan tersenyum Khalifah Umar bin Abdul-Aziz menjawab, ”Sebab, lampu itu, minyaknya dibeli dengan uang negara! Sedang urusan yang dibicarakan, adalah urusan pribadi!”   Cerita Umar bin Abdul Azis ini sangat populer. Bahkan Tonakodi telah mendengar sejak usia dini saat menempuh pendidikan di Madrasah Dinniyah. Kini, perilaku yang dipraktikkan Umar bin Abdul Azis, rasa-rasanya jauh panggang dari api jika dibandingkan perilaku pejabat dan kaum elit negeri ini. Kaum elit dalam terminologi sosiologi politik, maupun ‘elit’ dalam arti guyon kaum ‘ekonomi sulit’. Dalam teori sosiologi politik , elit adalah sekelompok kec

Tonakodi-Memupuk Dosa Tahun Politik

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Berhentilah berjanji jika tidak bisa menepati. Setop berbohong, menghujat,  dan menebar kebencian karena akan menggerus iman. TAK terhitung janji-janji politik diumbar. Tak terkira hujatan kebencian, cemoohan, dan kabar bohong ditebar. Konon, hal serupa selalu terulang saat hajatan politik digelar. Tahun politik yang seharusnya menggembirakan, dipenuhi dosa sosial dan membelakangi amar Tuhan. Disadari ataupun tidak, dosa-dosa itu terus menumpuk dan menggerus keimanan. Pemilu 2019 tinggal menghitung hari pencoblosan. Partai politik (Parpol), calon anggota legislatif dan calon Presiden/Wakil Presiden terus sosialisasi dengan menebar janji dan programnya. Di sisi lain, lawan kontestasi melakukan counter , dengan negative campaign dan bahkan black campaign .  Ujaran kebencian, cemooh, hujatan, dan kabar bohong menjadi strategi pemenangan disamping janji-janji yang meninabobokkan. Sekadar koreksi, sering orang setelah terpilih sebagai anggota leg

PPRA DAN PENGUATAN KODE ETIK JURNALISTIK

Oleh: Temu Sutrisno [1] PENDAHULUAN Negara demokrasi adalah Negara yang mengikutsertakan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan, serta menjamin terpenuhinya hak dasar rakyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu hak dasar rakyat yang harus dijamin Negara adalah kemerdekaan menyampaikan pikiran baik lisan maupun tulisan, serta hak atas informasi. Oleh karena hak atas informasi telah mendapat pengakuan secara universal sebagai salah satu hak yang paling mendasar yang melekat pada setiap individu manusia. Namun demikian pelaksanaan dan pemenuhannya di setiap negara diserahkan kepada negara yang bersangkutan dan disesuaikan dengan kondisi di masing-masing negara.  [2] Universal Declaration of Human Rights 1948   (UDHR 1948) telah merumuskan jaminan perlindungan terhadap hak atas informasi. Pasal 19 UDHR 1948 menyebutkan: “ Everyone has the right to freedom of opinion and expression; this right includes freedom to hold opinions without interference an