Di Toilet Tanpa Nama

Oleh: Temu Sutrisno 

Indonesia memang negara yang sulit dijelaskan hanya dengan angka. Jumlah pulaunya ribuan, sukunya ratusan, bahasanya lebih banyak lagi. Kalau ada wisatawan asing bertanya, "Apa yang paling unik dari Indonesia?" saya kira jawabannya bukan hanya candi, pantai, atau gunung. Tetapi yang paling unik justru kebiasaan kita memberi nama.

Di negeri ini, hampir semua hal punya nama sendiri. Bahkan benda yang hakikatnya sama bisa berganti identitas hanya karena berpindah tempat atau berubah sedikit proses.

Ambil contoh beras.

Saat masih bergoyang di sawah, ia dipanggil padi. Dipanen, berubah menjadi gabah. Kulitnya dikupas, menjadi beras. Beras yang hancur kecil namanya menir. Masuk panci, berubah lagi menjadi nasi. Terlalu lembek dan kebanyakan air disebut bubur. Dijemur, ditumbuk, dibumbui, digoreng, lalu mengeras, bisa berubah menjadi karak. Padahal "barangnya" tetap sama.

Coba bandingkan dengan bahasa Inggris. Mau masih di sawah, di karung, atau sudah di piring, pokoknya rice. Praktis memang. Tetapi rasanya ada sesuatu yang hilang: kehalusan cara memandang perubahan.

Nenek moyang kita rupanya tidak sekadar memberi nama. Mereka sedang mengajarkan bahwa setiap fase kehidupan memiliki identitasnya sendiri.

Begitu juga dengan manusia.

Seseorang yang sedang kuliah disebut mahasiswa. Lulus menjadi alumni. Melamar kerja menjadi pelamar. Diterima menjadi karyawan. Naik jabatan menjadi manajer. Pensiun menjadi purnakarya.

Orangnya tetap itu-itu juga.

Yang berubah hanya perannya.

Lucunya, kita sering terlalu serius pada nama, sampai lupa pada manusianya.

Masuk bank, seseorang berubah menjadi nasabah. Masuk rumah sakit menjadi pasien. Masuk hotel menjadi tamu. Masuk pengadilan bisa menjadi terdakwa, saksi, atau bahkan hakim. Masuk stadion menjadi penonton. Duduk di depan kamera televisi beberapa menit saja langsung naik kelas menjadi narasumber. Kalau bicaranya terlalu panjang, bisa berubah lagi menjadi komentator.

Bahkan ketika masuk penjara, namanya bukan lagi warga biasa, melainkan narapidana. Begitu bebas dan membuka rekening bank, status administrasinya kembali berubah menjadi nasabah.

Padahal wajahnya tidak ikut berganti.

Di sinilah kadang letak humornya. Kita lebih cepat mengenali label daripada orangnya. Gelar, jabatan, seragam, kartu identitas, semuanya menjadi penanda baru. Seolah-olah nama itulah yang menentukan nilai seseorang.

Padahal hidup ini hanyalah perjalanan melewati berbagai nama.

Hari ini seseorang dipanggil "Bos". Besok, setelah pensiun, tukang parkir di depan minimarket mungkin sudah tidak mengenalnya lagi.

Hari ini dipanggil "Yang Mulia". Besok cukup dipanggil "Pak", "Bu", "Kang", atau "Mangge".

Hari ini dipanggil "Pejabat". Lima tahun lagi bisa kembali menjadi "warga biasa". 

Semua nama ternyata punya masa berlaku.

Mungkin karena itulah bahasa Indonesia sangat kaya. Kita diajak memahami bahwa perubahan adalah bagian alami kehidupan. Nama berubah mengikuti keadaan, bukan untuk meninggikan atau merendahkan seseorang.

Namun, ada satu hal yang sampai hari ini masih membuat saya penasaran.

Apa sebenarnya nama resmi orang yang sedang berada di dalam toilet?

Kalau di bank menjadi nasabah, di rumah sakit menjadi pasien, di perpustakaan menjadi pemustaka, lalu di toilet menjadi apa?

Apakah "pengguna fasilitas sanitasi"? Terlalu panjang.

"Petoilet"? Terlalu aneh.

"Peserta buang hajat"? Lebih aneh lagi.

Barangkali memang tidak perlu diberi nama. Sebab di ruangan kecil itulah semua manusia kembali setara. Tidak ada direktur, profesor, menteri, artis, atau tukang becak. Semua meninggalkan jabatan di depan pintu. Mereka yang masuk hanyalah manusia dengan kebutuhan biologis yang sama.

Toilet mungkin satu-satunya ruang demokrasi yang paling jujur.

Dari situ kita belajar bahwa nama hanyalah penanda peran. Hal yang lebih penting adalah karakter orang yang menyandangnya.

Sebab seindah apa pun nama seseorang, kalau perilakunya buruk, orang akan mengingat keburukannya, bukan gelarnya. Sebaliknya, orang yang sederhana tetapi membawa manfaat akan tetap dikenang, meski tanpa embel-embel panjang di belakang namanya.

Kita patut bersyukur lahir di Indonesia, negeri yang kaya bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga kekayaan bahasa dan cara berpikir. Di balik beragam nama itu tersimpan filosofi bahwa hidup selalu bergerak. Peran boleh berganti, status boleh berubah, jabatan boleh datang dan pergi.

Tetapi menjadi manusia yang baik, tampaknya tidak pernah membutuhkan nama baru.***


Tana Kaili, 27 Juni 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam