Takbir; Rindu yang Bersahutan

Oleh: Temu Sutrisno

​Malam itu, aroma opor ayam dari dapur Om Uly sudah mulai menggoda iman siapa pun yang lewat. Di teras rumah, Tonakodi bersama Om Uchen dan Ami, menggulir gawainya di tengah semilir angin sisa petang. Salat Isya baru saja berlalu. Takmir masjid di lorong sebelah, sengaja menunda salat tarawih sembari menunggu sidang isbat Idulfitri. Jemaah masih setia di masjid. Tapi Tonakodi memilih meluruskan kaki di teras Om Uly. 

Tonakodi duduk selonjoran dengan tenang, sementara Om Uchen sibuk mengutak-atik gawai, mencari informasi sidang isbat.

​"Nah, kan! Benar kata saya," seru Om Uchen sambil menepuk gawainya. 

"Pemerintah bilang lusa, tapi jamaah sebelah sana sudah takbiran nanti malam. Kacau ini, masa Lebaran bisa antrean begini?"

​Om Uly datang membawa baki berisi kopi jahe dan pisang goreng.

 "Namanya juga metode, Om Uchen. Ada yang pakai mata, ada yang pakai matematika. Jangan dibikin pusing, yang penting judulnya sama-sama makan ketupat dan burasa."

​Ami, pemuda yang dikenal kritis namun tetap menjaga adab, membetulkan letak kacamata antiradiasi yang nangkring di wajahnya. 

"Tapi Om, secara logika, bulan itu kan cuma satu. Kalau ada tiga hari berbeda untuk satu peristiwa astronomi, bukankah salah satunya pasti ada yang kurang tepat? Ini menyangkut kepastian ibadah kita."

​Tonakodi tersenyum lembut. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menyesap kopi jahe buatan istri Om Uly dengan penuh khidmat.

​"Ami," suara Tonakodi mengalir tenang, "Kalau kamu melihat pelangi, apakah warnanya hanya satu?"

​"Tentu tidak, Tonakodi. Ada merah, jingga, kuning..."

​"Apakah perbedaan warna itu merusak keindahan pelangi?" tanya Tonakodi lagi. 

Ami menggeleng.

​"Begini," lanjut Tonakodi sambil menatap langit malam yang bersih. "Bagi orang yang hanya melihat angka, perbedaan itu adalah selisih. Tapi bagi hamba yang mencari Tuhan, perbedaan ini adalah bonus kasih sayang."

​Om Uchen menghentikan kegiatannya. "Bonus bagaimana, Tonakodi? Kita jadi bingung mau nitip zakat ke siapa."

​Tonakodi terkekeh kecil. "Coba bayangkan, Om Uchen. Seharusnya, takbir itu hanya menggema semalam suntuk jika kita semua serentak. Langit hanya bergetar dalam beberapa jam. Tapi dengan perbedaan ini, bumi kita melantunkan takbir, tahlil, dan tahmid selama tiga hari berturut-turut tanpa putus."

"Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Laa ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar wa lillahil hamdu."

​Ia berhenti sejenak, membiarkan suaranya meresap ke dalam hati para sahabatnya.

​"Pintu langit yang biasanya 'terbuka lebar' untuk Idulfitri selama satu malam lebaran, kini dipaksa terbuka lebih lama oleh doa-doa hamba yang ber-Idulfitri di hari yang berbeda-beda. Tuhan sedang memberi kesempatan bagi mereka yang lambat untuk menyusul, dan bagi mereka yang cepat untuk lebih lama bersyukur."

​Ami tertegun. "Jadi Tonakodi, komiu melihat ini bukan sebagai ketidakpastian?"

​"Bukan, Ami. Takbir ini adalah kerinduan yang bergiliran. Ini adalah pesta cinta hamba pada Tuhannya. Alam semesta sedang berpesta lebih panjang. Takbir yang bersahutan dari bukit ke lembah dalam hari yang berbeda itu seperti orkestra yang sengaja dibuat tidak serempak agar melodinya terdengar lebih lama dalam pendengaran Tuhan."

​Om Uchen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Oalah... jadi kalau saya ikut yang lusa, saya bisa dibilang 'menjaga pintu langit' tetap terbuka lebih lama ya? Atau setidaknya memperpanjang napas cinta yang pasti membuat malaikat sibuk mencatatnya?"

​"Bisa jadi," jawab Tonakodi dengan kedipan mata jenaka. "Asal Om Uchen tidak menghabiskan rendang dan burasa Om Uly sebelum Idulfitri yang ketiga tiba."

​Tawa pecah di teras itu. Om Uly menepuk bahu Ami yang mulai tersenyum. Malam itu, di bawah langit yang menyimpan rahasia posisi bulan, mereka tidak lagi meributkan kalender. Mereka sibuk menikmati harmoni takbir yang mulai terdengar sayup-sayup dari kejauhan, sebuah undangan untuk mencintai Sang Khalik dengan cara masing-masing, namun dengan tujuan yang satu.

Keempat sahabat kembali ke masjid lorong sebelah. ***



Tana Kaili, 19 Maret 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Dewi Themis Menangis

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam