Pitutur Luhur: Ngelmu Iku Kanthi Laku

Oleh: Temu Sutrisno,Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah


​Di era modern yang serba instan ini, manusia sering kali terjebak dalam budaya "jalan pintas". Keinginan untuk meraih kesuksesan, kekayaan, hingga kecerdasan intelektual sering kali dilakukan tanpa memedulikan proses. Padahal, kearifan lokal masyarakat Jawa telah lama mengingatkan kita melalui sebuah bait Macapat Pucung yang monumental dalam serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV.

​Kalimat tersebut berbunyi: Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Sebuah pesan singkat namun mendalam, yang menjadi pengingat bahwa ilmu sejati bukanlah sekadar tumpukan teori di kepala, melainkan buah dari tindakan dan olah batin yang konsisten.

​Secara harfiah, ngelmu berasal dari bahasa Arab ‘ilm, namun dalam filosofi Jawa, ia sering diartikan sebagai ngangel-angele ketemu (sulit mencarinya). Hal ini mengisyaratkan bahwa ilmu tidak datang seperti hujan jatuh dari langit, melainkan harus diusahakan dengan kerja keras.

​Bait lengkap dari Pucung tersebut memberikan peta jalan yang jelas bagi siapa saja yang ingin mencari kebenaran:

Ngelmu iku kalakone kanthi laku: Ilmu hanya akan menjadi milik kita jika dipraktikkan (laku). Tanpa implementasi, ilmu hanyalah informasi yang mati.​

Lekase lawan kas: Dimulai dengan niat dan kemauan yang kuat (kas). Tanpa tekad, seseorang akan mudah menyerah di tengah jalan.

Tegese kas nyantosani: Niat yang kuat itu akan memberikan kekuatan lahir dan batin (santosa).​

Setya budya pangekese dur angkara: Keteguhan budi inilah yang menjadi senjata utama untuk menaklukkan hawa nafsu dan kejahatan (dur angkara).

​Belajar dari Proses, Bukan Hasil

​Pesan "kanthi laku" menekankan pentingnya proses. Dalam tradisi Jawa, laku sering dikaitkan dengan tirakat, prihatin, atau usaha yang sungguh-sungguh. Ini adalah antitesis dari budaya "copy-paste" atau mentalitas pragmatis yang menghalalkan segala cara.

​Ketika seseorang mengabaikan proses, ia mungkin mendapatkan gelar, jabatan, atau kekayaan, tetapi ia kehilangan "ruh" dari ilmu tersebut. Tanpa proses, ilmu tidak akan mampu membentuk karakter. Akibatnya, banyak orang pintar secara intelektual, namun justru menggunakan kepintarannya untuk menipu, memanipulasi, dan merusak tatanan sosial. Inilah yang digambarkan sebagsi Yen den umbar ambabar dadi rubeda—jika keangkaraan dalam diri dibiarkan tanpa kendali ilmu yang berproses, ia akan meledak menjadi bencana bagi dunia.

Angkara gung, neng angga anggung gumulung: Angkara besar di dalam diri terus menggelora

Gegolonganira: Menyatu dengan diri sendiri

Triloka lekeri kongsi: Menjangkau hingga tiga zaman/dunia

Yen den umbar ambabar dadi rubeda: Jika dibiarkan berkembang akan menjadi bahaya. 

​Relevansi dalam Berbangsa dan Bernegara

​Jika kita tarik ke ranah yang lebih luas, pitutur luhur ini adalah kritik tajam terhadap kerusakan sistem bermasyarakat kita saat ini. Korupsi, kolusi, dan nepotisme sering kali lahir dari mereka yang ingin meraih "ngelmu" (kekuasaan atau kekayaan) tanpa mau menempuh "laku" (integritas dan kerja keras).

Ilmu tanpa amal adalah omong kosong, amal tanpa ilmu adalah kesesatan. Namun, ilmu dan amal tanpa proses batin yang jujur adalah bibit dari keangkaraan.

​Nilai-nilai dalam Macapat Pucung ini mengajak kita untuk kembali ke jati diri. Bahwa untuk membangun bangsa yang besar, diperlukan manusia-manusia yang selesai dengan dirinya sendiri—manusia yang mampu menaklukkan dur angkara di dalam dadanya melalui setya budya atau kesetiaan pada budi pekerti luhur.

​Menaklukkan "Angkara" di Dalam Diri

​Bait tersebut mengingatkan bahwa musuh terbesar bukanlah orang lain, melainkan angkara gung neng angga (kejahatan besar di dalam tubuh sendiri). Sifat serakah, ingin menang sendiri, dan sombong selalu menggulung di dalam diri manusia.

​Hanya dengan "ngelmu" yang diraih lewat "laku" yang benar, kita bisa memadamkan api tersebut. Pendidikan karakter yang berbasis pada kearifan lokal seperti ini seharusnya menjadi fondasi utama dalam sistem pendidikan kita. Kita tidak hanya butuh generasi yang mahir matematika atau teknologi, tapi generasi yang paham bahwa setiap ilmu memiliki tanggung jawab moral.

Ngelmu iku kalakone kanthi laku bukan sekadar baris puisi kuno, namun adalah kompas moral. Ia mengajarkan kita untuk menghargai setiap tetes keringat dalam belajar, menghormati waktu, dan menjaga kesucian hati.

​Mari kita renungkan kembali: apakah ilmu yang kita miliki sudah kita "lakukan" untuk kebaikan? Ataukah kita masih terjebak mencari jalan pintas yang justru menjauhkan kita dari kemanusiaan? Sejatinya, menjadi pintar itu mudah, tetapi menjadi manusia yang bermanfaat dan berbudi pekerti memerlukan proses yang tak kunjung usai. Wallahu'alam bishawab. ***


Tana Kaili, 13 Maret 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Dewi Themis Menangis

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam