Mempercepat Ketahanan Energi

Eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama ketegangan yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Israel, dan Iran, bukan lagi sekadar berita mancanegara dan urusan masing-masing negara. Perang yang berkecamuk, berdampak pada kondisi global. 

Bagi Indonesia, gejolak di Selat Hormuz adalah ancaman langsung terhadap denyut nadi industri nasional dan ekonomi masyarakat. Dalam konteks urgensi inilah, kita harus melihat instruksi Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk mempercepat pembangunan tangki penyimpanan minyak (oil storage) sebagai langkah survival yang krusial.

​Rencana pembangunan fasilitas penyimpanan di 18 wilayah, dari Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung (Bali), Bima, Ende, Makassar, Donggala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara, Fakfak, dengan nilai investasi mencapai Rp72 triliun merupakan pengakuan jujur atas kerentanan kita selama ini. Indonesia, sebagai negara dengan konsumsi energi yang masif, sudah terlalu lama hidup "pas-pasan" dalam urusan cadangan penyangga energi. Ketergantungan pada impor minyak mentah tanpa kapasitas simpan yang memadai ibarat rumah tangga yang hanya mengandalkan belanja harian tanpa memiliki lumbung. Begitu pasar tutup karena kerusuhan, kelaparan mengintai.

​Pembangunan fisik tangki dan kilang (hilirisasi) memang langkah strategis jangka menengah yang patut diapresiasi. Proyeksi serapan puluhan ribu tenaga kerja dan pemerataan infrastruktur energi ke wilayah Timur adalah visi besar yang harus dikawal. Namun, kita tidak boleh menutup mata pada realitas bahwa pembangunan infrastruktur membutuhkan waktu tahunan. Sementara itu, ancaman krisis energi akibat blokade jalur maritim dunia bisa terjadi dalam hitungan hari.

​Oleh karena itu, pemerintah perlu menyeimbangkan visi jangka menengah ini dengan strategi taktis jangka pendek. Pertama, optimalisasi tangki-tangki kilang Pertamina yang sudah ada harus dilakukan secara agresif. Kedua, diplomasi energi untuk mengamankan pasokan alternatif di luar jalur konflik menjadi keharusan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan fisik yang baru akan rampung beberapa tahun lagi untuk menjawab krisis yang mungkin meledak bulan depan.

​Di sisi lain, ketahanan energi sejati tidak akan tercapai hanya dengan membangun tangki penyimpanan fosil. Dalam jangka panjang, Indonesia harus memutus rantai ketergantungan pada energi impor dengan mempercepat transisi ke energi terbarukan yang bersumber dari dalam negeri, seperti bioenergi, geothermal, maupun tenaga surya.

​Kita mendukung penuh langkah berani Presiden untuk membangun "benteng" cadangan energi ini. Namun, efisiensi birokrasi dan transparansi investasi Rp232 triliun tersebut harus dijaga ketat agar proyek ini tidak menjadi monumen mangkrak, melainkan menjadi jaminan keamanan bagi kedaulatan bangsa. Ketahanan energi bukan sekadar soal angka di pasar saham atau kapasitas liter di dalam tangki, melainkan soal kemampuan bangsa ini untuk tetap berdiri tegak saat badai global menerjang.TMU

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Dewi Themis Menangis

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam