Ali Syariati dan Penghormatan pada Sahabat Nabi

Oleh: Temu Sutrisno

​Frasa Khulafaur Rasyidin bukan sekadar deretan nama dalam buku sejarah. Bagi masyarakat Muslim di Indonesia, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), nama-nama itu adalah kunci pembangun imunitas akidah. Saya beruntung tumbuh di kampung yang "NU tulen", di mana nama Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali berkelindan dalam wirid harian, salawat nabi dalam khotbah jumat, tahlilan, puji-pujian menjelang salat, hingga bacaan di sela rakaat tarawih.

Meskipun tidak dapat dikategorikan santri, puluhan pesantren dan yayasan pendidikan Islam di kecamatan tempat saya lahir, sedikit banyak memengaruhi cara berislam saya. 

​Tradisi lisan dan budaya pesantren secara tidak sadar membangun tameng spiritual yang kokoh. Maka, ketika di masa kuliah saya mulai melahap pemikiran tokoh Islam dari berbagai aliran, termasuk Syi'ah seperti Sayyid Hussein Nasr, Murtadha Muthahari, hingga Ali Syariati, tidak ada kekhawatiran fondasi "iman NU" goyah. Justru, cakrawala berpikir kian kaya saat bertemu dengan narasi Syariati yang tajam membedah distorsi sejarah Islam.

Antara Alawi dan Syafawi

​Dalam panggung intelektual Iran, Ali Syariati adalah anomali. Ia pernah dikritik tajam oleh kalangan Syiah tradisionalis karena dianggap menyimpang. "Sebagai orang alim, Anda seharusnya memelihara jenggot dan menyelesaikan ceramah dengan mengutuk musuh-musuh Ahlul Bait," demikian kritik Muhammad Ali Anshari al-Qumi kepadanya.

​Bagi Syariati, kritik tersebut justru mengonfirmasi tesis utama bahwa Islam, khususnya Syiah, telah mengalami distorsi akut. Melalui karyanya yang monumental, Syiah Alawi vs Syiah Syafawi, ia melakukan otopsi sosiologis. Syariati tidak sedang ingin menjadi Sunni, ia sedang berupaya mengembalikan Syiah Alawi yang mengikuti jejak kemanusiaan Ali bin Abi Thalib dari cengkeraman Syiah Syafawi, yang dijadikan alat legitimasi kekuasaan monarki. 

​Syariati sebenarnya menghidupkan kembali kegelisahan intelektual Ahmad Kasravi. Kasravi secara berani menyatakan bahwa tradisi mencaci Abu Bakar dan Umar bukanlah inti ajaran Islam, melainkan produk politik penguasa Syafawi (abad ke-16) untuk membedakan diri secara total dari Kekaisaran Utsmaniyah yang Sunni. Kejujuran intelektual ini harus dibayar mahal; Kasravi tewas di tangan kelompok radikal pada 1946.

Anatomi Distorsi

​Syariati membedah bahwa di bawah pengaruh Dinasti Syafawi, esensi perlawanan Islam yang egaliter sengaja "dijinakkan" menjadi ideologi negara yang beku. Ada empat titik distorsi yang ia soroti.

​Pertama, pergeseran legitimasi dari sistem Syura (musyawarah) menjadi monarki "darah biru". Syariati menghormati realitas sejarah Abu Bakar dan Umar karena mereka dipilih melalui mekanisme sosial yang menghargai suara umat pada zamannya. Kedua, fungsi ulama. Dalam Syiah Alawi- seperti juga pemikiran Gramsci-ulama adalah intelektual organik yang berdiri bersama rakyat. Ulama sebagaimana buku Syariati Tugas Cendekiawan Muslim, bertugas mencerdaskan, mencerahkan, menyadarkan masyarakat dari kejumudan berpikir menjadi raushan fikr-orang yang kritis dan tercerahkan. Namun dalam Syiah Syafawi, mereka menjadi ulama yang melegitimasi status quo melalui ritual formalitas.

​Ketiga, makna ritual Asyura. Syariati menggugat perubahan makna dari seruan jihad melawan ketidakadilan di setiap zaman, menjadi sekadar ritual meratap, menangis, dan bahkan menyakiti diri sendiri. Baginya, penguasa ingin rakyat menangisi tragedi masa lalu, agar lupa melawan kezaliman di depan mata.

​Keempat, dan yang paling krusial, adalah sikap terhadap sahabat Nabi. Syiah Alawi mengutamakan ukhuwah. Sejarah mencatat Ali bin Abi Thalib menjadi penasihat utama bagi Abu Bakar dan Umar demi kemaslahatan umat. Sebaliknya, Syiah Syafawi mewajibkan praktik sabb (mencaci) sebagai instrumen politik untuk memelihara kebencian massa demi kontrol kekuasaan.

Titik Temu Persatuan

​Secara mengejutkan bagi banyak pihak, Syariati membela keabsahan kekhalifahan Abu Bakar dan memuji keberanian Umar bin Khattab. Ia melihat penolakan ekstrem terhadap para khalifah ini bukan lahir dari ajaran agama, melainkan dari feodalisme monarki yang membentuk citra Islam yang eksklusif bahkan rasis.

​Dalam buku Islam Agama Protes, Syariati menekankan bahwa esensi Islam adalah perlawanan terhadap ketidakadilan, bukan pemeliharaan dendam sejarah yang sektarian. Pandangan ini memberi kita perspektif baru, bahwa penghormatan terhadap sahabat Nabi memiliki akar intelektual yang kuat dalam tradisi kritis sekalipun.

​Maka, ketika kita melihat pemimpin tertinggi Iran, (alm) Sayyid Ali Khamenei, mengeluarkan fatwa pelarangan penghinaan terhadap simbol-simbol yang dihormati Ahlus Sunnah, hal itu tidak berangkat dari ruang kosong atau sekadar strategi taqiyah. Ada jejak pemikiran sosiologis dari Syariati yang memandang persatuan Islam sebagai kebutuhan eksistensial.

​Bagi kita di Indonesia, pemikiran Syariati justru memperkuat apa yang sudah diajarkan para kiai di kampung-kampung, bahwa mencintai keluarga Nabi sama sekali tidak mengharuskan kita merendahkan para sahabatnya. Keduanya adalah pilar yang menjaga rumah besar Islam tetap tegak.***



Penulis adalah Wartawan Utama Mercusuar-Trimedia Grup, Alumni HMI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Dewi Themis Menangis

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam