Pitutur Luhur: Emprit Abuntut Bedhug
Oleh: Temu Sutrisno/Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah
Ada pitutur luhur atau nasihat bijak masyarakat Jawa yang terdengar unik tapi penuh makna. Salah satunya adalah “Emprit abuntut bedhug” artinya kira-kira seekor burung kecil tapi berekor bedhug. Lucu ya, karena jelas tidak masuk akal. Tapi justru di situlah letak kebijaksanaannya. Kalimat ini menggambarkan hal kecil dapat menimbulkan akibat besar.
Emprit berarti burung kecil, burung pipit. Abuntut
bedhug berarti berekor bedhug. Bedhug merupakan
alat yang biasa digunakan di masjid
atau musala untuk penanda waktu salat.
Secara harfiah, kalimat ini
menggambarkan sesuatu yang tampak kecil tapi memiliki ekor atau akibat yang
besar. Bayangkan seekor emprit mungil tapi berekor bedug, tidak seimbang dan janggal.
Filosofi pitutur ini mengajarkan
tentang proporsionalitas dan kehati-hatian dalam menghadapi masalah kecil.
Dalam kehidupan, banyak persoalan besar berawal dari hal kecil yang diabaikan.
Pitutur ini mengingatkan kita
untuk tidak menyepelekan hal kecil. Kadang orang berpikir, “Ah, cuma
masalah sepele, nanti juga selesai sendiri.”
Orang Jawa percaya bahwa sadurunge geni dadi kobong, becik dipateni lidahe dhisik— sebelum api membesar, matikan dulu percikan kecilnya. Pitutur ini menanamkan kesadaran untuk tidak meremehkan masalah sepele, mengendalikan emosi, tutur kata, dan tindakan sejak awal, serta melihat konsekuensi jangka panjang dari hal-hal kecil.
Dalam kehidupan sosial, pitutur
ini menjadi pengingat agar masyarakat menjaga kerukunan dan komunikasi yang
sehat. Masalah kecil seperti salah paham, gosip,
atau sindiran ringan bisa membesar bila tidak segera diluruskan. Dalam budaya
Jawa, harmoni atau guyub rukun merupakan nilai
utama.
Oleh karena itu, menjaga hubungan
baik, saling memahami, dan menyelesaikan konflik kecil secara bijak menjadi
kunci untuk mencegah “emprit” menjadi “bedhug”.
Secara spiritual, pitutur ini
mengingatkan manusia agar introspektif dan waspada terhadap dosa kecil. Dalam pandangan religius dan laku spritual Jawa, setiap tindakan kecil memiliki getaran batin yang dapat membesar.
Kesalahan ringan seperti berbohong, menunda kewajiban, atau
membiarkan iri hati tumbuh, bila tidak disadari, bisa berbuah
dosa besar.
Pitutur ini sejalan dengan ajaran
spiritual universal “sapa nandur bakal ngundhuh”, siapa yang menanam akan menuai. Menanam hal kecil yang buruk akan menumbuhkan
akibat besar di kemudian hari. Lebih baik sabar, menahan diri,
dan mencari jalan damai sebelum semuanya telanjur jadi bedhug, keras dan menggema ke mana-mana.
Di era digital dan modern, emprit abuntut bedhug sangat relevan. Kini, satu komentar kecil di media sosial
bisa berkembang menjadi viral dan menimbulkan dampak besar seperti reputasi rusak, konflik sosial, bahkan hukum.
Pitutur emprit abuntut bedhug, bukan
sekadar sindiran jenaka, tetapi sebuah peringatan kebijaksanaan Jawa tentang tanggung
jawab dan kehati-hatian. Pitutur ini
mengajarkan agar manusia bijak menyikapi hal kecil sebelum berubah menjadi
persoalan besar — dalam ucapan, tindakan, maupun niat. Kang cilik
aja diendhak-endhakake, kang gedhe aja disombongake, sesuatu yang kecil jangan diremehkan, yang besar
jangan disombongkan.
Maka, pitutur ini menjadi
peringatan moral di era cepat dan sensasional agar kita tetap berhati-hati,
menimbang akibat sebelum bertindak, dan tidak menyepelekan hal kecil. Petuah
ini menekankan pentingnya ngudari masalah sithik-sithik —
menyelesaikan masalah kecil selagi bisa, jangan ditumpuk menjadi gunung. Jangan biarkan ekor
emprit menggema ke mana-mana. Masalah kecil jangan dibiarkan berlarut dan jadi
masalah besar yang sulit diselesaikan. Wallahu
alam bishawab. ***
Tana Kaili, 15 Oktober 2025

Komentar
Posting Komentar