Momentum Detoksifikasi Nasional

Oleh: Temu Sutrisno


​Marhaban ya Ramadan 1447 Hijriah. Bulan suci yang penuh rahmat kembali menyapa umat Islam di seluruh penjuru Tanah Air. Di balik ritus tahunan yang penuh gempita ini, terselip harapan kolektif agar ibadah dapat dijalankan dengan kekhusyukan dan kedamaian. Namun, menatap realitas tahun 2026, gerbang Ramadan kali ini tidaklah sunyi dari tantangan. Masyarakat kita tengah berdiri di persimpangan, antara kerinduan spiritual yang mendalam dan beban ekonomi yang kian menghimpit.

​Secara filosofis, puasa adalah proses detoksifikasi, pembersihan racun dari dalam tubuh dan jiwa, atau penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Namun, dalam konteks bernegara, Ramadan seharusnya naik kelas menjadi momentum detoksifikasi nasional. Kita membutuhkan pembersihan besar-besaran, bukan hanya dari residu kolesterol, melainkan dari "racun-racun" kultural dan struktural yang selama ini menghambat kemajuan bangsa.

Penyakit Kronis Korupsi

​Salah satu penyakit kronis yang paling melukai nurani publik adalah korupsi. Korupsi bukan sekadar angka-angka dalam laporan audit atau pelanggaran hukum administratif. Korupsi merupakan bentuk pengkhianatan paling telanjang terhadap kesejahteraan rakyat. Ketika praktik lancung ini merajalela, kekayaan negara yang seharusnya menetes ke akar rumput dalam wujud infrastruktur yang layak, pendidikan bermutu, dan layanan kesehatan terjangkau, justru menguap ke kantong-kantong segelintir elite. Dampaknya sangat presisi. Kemiskinan sulit ditekan dan ketimpangan sosial semakin menganga.

Di saat rakyat harus mengencangkan ikat pinggang demi memenuhi meja sahur yang sederhana, berita tentang transaksi gelap dan bancakan anggaran menjadi ironi yang menyakitkan. Ramadan, dengan pesan kejujurannya yang absolut, menuntut para pemangku kebijakan untuk bercermin. Sudahkah amanah kekuasaan digunakan untuk melayani, atau justru untuk mencuri?

​Momentum suci ini harus dijadikan pijakan oleh pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menunjukkan taji. Integritas tidak boleh hanya menjadi jargon di baliho-baliho selamat berpuasa, sementara di balik layar, transaksi politik dan drama hukum terus dipentaskan. Detoksifikasi nasional menuntut pembersihan hingga ke akar-akarnya agar kepercayaan publik (public trust) tidak terus merosot.

Sinkronisasi Kesalehan

​Ramadan tahun ini juga dihadapkan pada ujian stabilitas harga. Seringkali, bulan yang seharusnya menjadi bulan menahan diri justru berubah menjadi bulan "ledakan konsumsi" yang memicu lonjakan harga kebutuhan pokok. Di sinilah letak ujian bagi negara. Kekhusyukan ibadah mustahil dicapai secara maksimal jika masyarakat dihantui kecemasan harga beras, minyak, telur, dan bahan pangan lainnya yang terus melangit.

​Ramadan adalah bulan pengendalian diri. Namun, pengendalian diri rakyat harus dibarengi dengan pengendalian harga oleh negara serta pengendalian syahwat kekuasaan,  kemewahan, dan perilaku korup oleh para pemimpin dan pejabat. 

​Ada ketidakadilan ketika rakyat dipaksa bersabar menghadapi inflasi, sementara para elite gagal mengendalikan diri dari kemewahan dan ambisi kekuasaan yang nir-empati. Kita merindukan suasana Ramadan yang damai secara komprehensif, damai di hati melalui ibadah, damai di kantong melalui stabilitas ekonomi, dan damai di panggung politik melalui narasi-narasi yang menyejukkan.

​Secara sosiologis, puasa mengajarkan kita empati. Dengan merasakan lapar, kita diingatkan pada nasib mereka yang kekurangan. Jika semangat empati ini mampu ditransformasikan dari kesalehan individu menjadi kesalehan sosial dan struktural, maka wajah Indonesia pasca-Ramadan akan jauh lebih sehat.

​Negara harus hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai pengatur lalu lintas keadilan. Aparat penegak hukum harus memastikan bahwa tidak ada sejumput pun berkah Ramadan yang "dikorupsi" oleh kepentingan kelompok tertentu. Di sisi lain, masyarakat juga perlu menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk membersihkan diri dari polarisasi politik yang kerap menyisakan residu kebencian.

​Menjemput berkah Ramadan 1447 H di tengah beban ekonomi memang bukan perkara mudah. Namun, melalui proses detoksifikasi nasional yang jujur, kita berpeluang melahirkan tatanan sosial yang lebih bersih. Semoga Ramadan kali ini tidak hanya sekadar ritual menahan lapar dan haus dari fajar hingga magrib, melainkan menjadi momentum bagi perbaikan nasib seluruh rakyat melalui kebijakan yang benar-benar berpihak pada keadilan.

​Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga keberkahan menyertai kita, dan semoga Indonesia keluar dari bulan suci ini sebagai bangsa yang lebih berintegritas dan sejahtera. ***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Kedudukan DPRD Menurut UU Nomor 23 Tahun 2014

Dewi Themis Menangis