Bersih Hati dan Peduli

Oleh: Temu Sutrisno


Jumat pagi itu langit menggantung mendung seperti kain abu-abu yang belum sempat dijemur matahari. Di lantai dua kantor profesi yang menghadap jalan utama, angin berembus dari taman tanpa kembang, membawa asap knalpot bercampur wangi kopi hitam. Di atas meja, beberapa bungkus nasi kuning terbuka, uapnya menari perlahan seperti doa yang belum selesai dilangitkan.

Tonakodi duduk santai di kursi rotan. Wajahnya tenang, matanya teduh. Ia memegang cangkir kopi dengan dua tangan, seolah sedang memeluk sebuah pemikiran. Di kursi lainnya, Om Uchen, Om Uly, Ami, Haji Agus, dan Ustaz Ishaq berkumpul. Mereka menunggu waktu salat Jumat, membiarkan pagi berjalan tanpa tergesa.

“Langit mendung begini,” kata Om Uchen sambil menyuap nasi kuning, “cocok untuk orang yang banyak dosa. Suasananya meratap syahdu, seperti syair tobat a la Rumi.”

Om Uly tertawa pendek. “Kalau begitu, Komiu yang paling cocok, Om Uchen. Dari tadi mukamu paling khusyuk, seperti melantunkan doa hajat.”

Tawa kecil meletup. Ami yang duduk paling ujung ikut tersenyum lebar. Energinya seperti matahari yang menolak kalah dari mendung.

Tonakodi mengangkat wajahnya. “Mendung itu rahmat,” ujarnya lembut. “Mengajarkan kita bahwa terang tak harus selalu menyilaukan. Kadang yang redup justru membuat kita melihat lebih dalam.”

“Mulai, deh,” bisik Om Uly. “Kalau Tonakodi sudah bicara, kopi bisa jadi bahasan mendalam. Seperti Socrates mengajar filsafat.”

Hahahaha. Tonakodi menanggapi dengan tawa.

Ustaz Ishaq tersenyum tipis. “Filsafat yang baik biasanya tak jauh dari agama. Lebih sufistik.”

Haji Agus mengangguk perlahan. Wajahnya menyimpan gurat pengalaman, seperti peta yang pernah dilewati banyak musim. “Ramadan sebentar lagi,” katanya pelan. “Setiap tahun kita bicara soal puasa, tapi tak semua orang paham makna sosialnya.”

Ami mencondongkan badan. “Maksudnya, Haji?”

Tonakodi menaruh cangkirnya. “Ramadan,” katanya pelan, “adalah bulan ketika perut kita belajar lapar agar hati kita tak lagi keras dan penuh dendam.”

Suasana hening sejenak. Hanya suara sendok beradu dengan piring berlapis kertas bungkus nasi kuning.

“Bagi kaum dhuafa,” lanjut Tonakodi, “Ramadan itu seperti pintu yang lama tertutup, lalu tiba-tiba diketuk banyak tangan. Zakat, infak, sedekah semuanya mengalir lebih deras. Mereka bukan sekadar menerima bantuan. Mereka menerima pengakuan bahwa mereka ada, bahwa mereka bagian dari kita.”

Om Uchen mengangguk. “Tahun lalu saya antar zakat ke kampung seberang. Seorang ibu tua bilang, bukan berasnya yang bikin dia menangis, tapi karena merasa masih diingat.”

“Itulah makna sosialnya,” sahut Ustaz Ishaq pelan. “Islam tidak membiarkan kemiskinan menjadi kesunyian.”

Om Uly menyandarkan punggungnya. “Tapi kadang orang kaya itu, ya, sedekah cuma buat foto.”

Ami cepat menyela, “Tapi nggak semua begitu, Om.”

Tonakodi tersenyum tipis. “Ramadan adalah sekolah empati bagi yang berpunya. Lapar dan dahaga itu guru yang jujur. Ia mengingatkan bahwa harta bukan milik, hanya titipan.”

Haji Agus menghela napas panjang. “Memberi itu bukan soal jumlah, tapi soal melawan diri sendiri.”

Ustaz Ishaq mengangguk mantap. “Itulah yang dalam Islam disebut tazkiyatun nafs, menyucikan jiwa.”

Semua menoleh kepadanya.

“Tazkiyatun nafs,” lanjutnya, “adalah proses membersihkan hati dari kesombongan, iri, riya, dan cinta dunia yang berlebihan. Puasa melatih kita menahan diri, zakat melatih kita melepas kepemilikan, dan sedekah melatih kita peduli. Itu semua bukan sekadar ibadah ritual, tapi terapi jiwa.”

Om Uchen tersenyum. “Jadi Ramadan itu bengkel hati, ya Ustaz?”

“Benar,” jawab Ustaz Ishaq hangat. “Bengkel itu terbuka untuk semua, dhuafa, aghniya, maupun zuama. Secara sosial, tazkiyatun nafs membuat orang kaya tidak memandang rendah yang miskin. Membuat yang miskin tidak membenci yang kaya. Membuat pemimpin tidak merasa lebih tinggi dari rakyatnya.”

Ami mengangguk-angguk. “Kalau jiwa bersih, keputusan juga bersih, ya?”

“Persis,” kata Haji Agus. “Masalah bangsa ini sering bukan kurang aturan, tapi kurang hati yang bersih.”

Tonakodi memandang ke luar jendela. Mendung tampak makin tebal, namun angin terasa sejuk.

“Jika semua orang berusaha menyucikan jiwa,” katanya perlahan, “bangsa ini akan tenteram tanpa huru-hara. Tanpa berita yang saling memojokkan. Tanpa kata-kata yang lebih tajam dari pedang.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara tenang namun tegas, “Kekuasaan tak lagi menjadi panggung keserakahan, melainkan jalan menyejahterakan. Jabatan bukan alat meninggikan diri, tetapi amal untuk memanusiakan manusia.”

Om Uly terdiam, tak seperti biasanya. “Berat juga, ya,” gumamnya.

“Berat kalau hanya jadi wacana Om,” jawab Tonakodi lembut. “Ringan kalau dimulai dari diri sendiri.”

Ustaz Ishaq menambahkan, “Tazkiyatun nafs bukan pekerjaan sehari dua hari. Ini perjuangan seumur hidup. Tapi Ramadan memberi kita momentum. Puasa mengajak kita evaluasi, sudahkah hati ini lebih bersih dari tahun lalu?”

Ami menatap tangannya sendiri. “Kadang banyak orang mudah marah di media sosial. Padahal belum tentu benar.”

Om Uchen terkekeh. “Nah, itu. Jempol juga perlu puasa.”

Tawa ringan pecah kembali.

Haji Agus berdiri. “Yang penting kita sadar. Insyaallah dari kesadaran akan lahir perubahan.”

Adzan mulai terdengar dari masjid dekat kantor, mengalun menembus mendung. Suaranya jernih, memanggil dengan tenang.

Mereka semua terdiam. Nasi kuning sudah lama ludes, kopi hampir habis.

Om Uly berdiri lebih dulu. “Baiklah, para calon penghuni surga,” katanya berseloroh, “kita lanjutkan diskusi ini dalam saf yang rapi.”

Mereka berjalan menuju tangga. Mendung masih menggantung, tetapi hati mereka terasa lebih terang.

Di anak tangga terakhir, Tonakodi berbisik pelan, “Membersihkan jiwa adalah awal dari membersihkan dunia. Dunia hanyalah cermin dari hati manusia.”

Pada Jumat pagi yang mendung itu, di antara aroma kopi dan nasi kuning, mereka belajar bahwa bersih hati dan peduli bukan sekadar tema ceramah dan khotbah, melainkan jalan sunyi yang harus ditempuh bersama, selangkah demi selangkah, menuju jiwa yang lebih jernih dan masyarakat yang lebih manusiawi.***



Palu, 13 Februari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Dewi Themis Menangis

Kedudukan DPRD Menurut UU Nomor 23 Tahun 2014