Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

64 Tahun Mercusuar Memandu Arah Sulawesi Tengah

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Tidak banyak media lokal mampu bertahan di tengah disrupsi digital. Apalagi jika mengusung platform cetak. Tapi tidak dengan Mercusuar. Di belantara media online, Mercusuar mampu bertahan dan tampil mencerdaskan, memandu arah, dan mewarnai sejarah Sulawesi Tengah. Hukum sejarah seperti ingin menegaskan, bahwa Mercusuar bukan saja mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Namun Mercusuar juga seperti mutiara, semakin dalam samudera semakin mahal nilainya. Semakin berumur, semakin dicari para kolektor. Dan tentu saja, membuat penasaran generasi terkini. Jejak Sejarah dan Ruang Diplomasi Mercusuar tidak bisa dilepaskan dari perjuangan pembentukan Sulawesi Tengah sebagai provinsi, yang merupakan bagian penting dari dinamika politik Indonesia pascakemerdekaan. Pada masa itu, wilayah Sulawesi Tengah masih berada dalam struktur administratif yang bergabung dengan Sulawesi Utara. Kondisi ini melahirkan ketimpangan pembangunan serta keterbatasan representasi po...

Menambang Sejahtera Beroleh Bencana

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno   Sulawesi Tengah kini berada di persimpangan jalan yang genting. Di satu sisi, wilayah ini dielu-elukan sebagai episentrum baru pertumbuhan ekonomi nasional berkat cadangan nikel dan emas yang melimpah. Investasi raksasa mengalir deras, memacu pembangunan kawasan industri smelter masif yang menjanjikan kesejahteraan instan. Namun, di balik angka statistik pertumbuhan yang fantastis, terdapat realitas kelam yang harus dibayar mahal oleh masyarakat lokal. Jargon "sejahtera" yang digaungkan terbukti kontradiktif dengan kerusakan bentang alam yang masif. Eksploitasi hutan secara brutal untuk konsesi nikel serta maraknya Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) telah merobek daya dukung lingkungan. Sulawesi Tengah kini rutin memanen rentetan bencana hidrometeorologi kedaruratan tinggi, mulai dari banjir bandang merusak hingga tanah longsor yang berulang kali merenggut nyawa. Karpet Merah Pemicu Bencana Hilirisasi industri nikel memerlukan ruang daratan yang luas ...

Hamba Allah di Konferensi HMI

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Pada Konferensi HMI Cabang Palu tahun 2000, ada yang unik dari forum laporan pertanggungjawaban pengurus periode 1999-2000. Setelah Ketua Umum Sudirman Zuhdi membacakan pengantar pertanggungjawaban, giliran saya selaku Sekretaris Umum meneruskan laporan secara detail program dan kegiatan. Sampai di sini, konferensi yang dilaksanakan di Aula Ali Bungasawa Kampus Lama Untad Jl. Setiabudi masih adem. Tiba-tiba saat laporan keuangan dibacakan Bendahara Umum Bun Yamin, situasi berubah. Iqbal dari Komisariat Pertanian Untad protes. Dalam laporan, terlalu banyak tertulis sumber dana organisasi dari "Hamba Allah". Protes Iqbal diperkuat Taufik Bidullah dari Komisariat Ekonomi dan Arman Salimin dari FKIP.  Menurut saya, protes dan pertanyaan itu wajar dalam konteks berorganisasi. Tidak ada yang keliru. Selain alasan transparansi, sikap kritis itu bagian dari kecintaan pada HMI. Sudirman Zuhdi menatap Bun Yamin sambil tersenyum. Bun Yamin yang pendiam namun teliti d...

Tambang, Bencana Ekologis, dan Kesejahteraan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Di atas kertas, Sulawesi Tengah adalah salah satu contoh sukses ruang sidang ekonomi modern. Ketika perekonomian global merambat pelan, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah melonjak fantastis. Bahkan pernah menyentuh 15,17 persen pada 2022 dan konsisten bertahan jauh di atas rata-rata nasional. Angka kemiskinan perlahan berhasil ditekan hingga menyentuh 10,52 persen pada akhir 2025, sementara Indeks Gini bergerak turun melandai ke angka 0,277. Secara matematis, kue pertumbuhan dari deru mesin hilirisasi nikel di Morowali hingga kawasan ekstraksi lainnya tampak perlahan terdistribusi. Namun, realitas yang dihirup warga di lingkar tambang kerap menghadirkan narasi yang bertolak belakang. Di balik capaian makroekonomi yang berkilau, terhampar jejak luka ekologis yang kian menganga. Eksploitasi sumber daya alam skala raksasa menghadirkan paradoks klasik pembangunan ekstraktif: pertumbuhan ekonomi yang tinggi berkejaran dengan kerentanan lingkungan yang makin mempriha...

Jurnalisme Profetik dan Tantangan Era Digital

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Dalam lanskap sejarah peradaban, fungsi warta selalu memegang posisi sentral. Jika ditarik benang merah secara mendalam, peran seorang wartawan sesungguhnya memiliki garis artikulasi yang beririsan dengan tugas kenabian. Keduanya adalah pembawa berita ( bearer of news ), penyambung lidah atas fakta, dan pengabarkan kebenaran kepada khalayak luas. Perbedaannya terletak pada basis ontologis sumber informasi. Risalah kenabian bersumber mutlak dari wahyu Ilahi, sedangkan karya jurnalistik bersumber dari penelusuran fakta melalui kerja-kerja liputan empiris di lapangan. Namun, esensi moral yang mengikat keduanya berada dalam frekuensi yang sama. Dalam tradisi keislaman, idealisme kepemimpinan dan penyampaian pesan kenabian ditopang oleh empat pilar utama, yakni Siddiq (jujur/benar), Amanah (dapat dipercaya/bertanggung jawab), Tabligh (menyampaikan tanpa mengurangi atau menambah), dan Fathanah (cerdas/bijaksana). Jika ditransformasikan ke dalam ruang redaksi, empat si...

Kejar DBH, Lupa Bencana

Gambar
Dalam kalkulasi anggaran daerah, Dana Bagi Hasil (DBH) sektor pertambangan acapkali dirayakan bagaikan "angin segar" yang menyelamatkan postur Pendapatan Asli Daerah. Pemerintah Provinsi dan DPRD Sulawesi Tengah tampak begitu bergairah mengetuk pintu-pintu kementerian di Jakarta, melobi angka-angka porsi bagi hasil demi mempertebal kas fiskal. Namun, di balik angka rupiah yang riuh diperjuangkan di meja perundingan, terdapat sunyi yang mencemaskan: abainya para pemangku kebijakan terhadap daya dukung lingkungan dan keselamatan masa depan ruang hidup warga. Politik anggaran kita sedang dijangkiti miopia, rabun jauh yang hanya sanggup melihat keuntungan finansial jangka pendek, tetapi buta terhadap kehancuran ekologis jangka panjang.  DBH memang bisa ditagih dengan kelihaian diplomasi dan argumentasi kewenangan pusat. Akan tetapi, bentang alam yang hancur, mata air yang tercemar, serta benteng ekologis yang goyah tidak akan pernah bisa direstorasi sekadar dengan selembar cek tr...

Syair Kerinduan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Di tengah gelapnya alam semesta, Engkau terbit bagai surya sempurna, Membawa cahaya penyegar jiwa, Menuntun ummat menuju ridha-Nya. Akhlakmu luhur bagai samudera, Penuh kasih pada segenap jiwa, Senyummu lembut penawar duka, Penuh pesona nan tiada tara. Duhai kekasih Allah Ya Habiballah, Nama indah harum mempesona, Dirindukan ummat sepanjang masa, Menembus batas zaman dan benua. Kerinduan ini kian membara, Memenuhi kalbu sesak terasa, Ingin menatap senyum nan mulia, Meski hanya hadir di dalam mimpi jua. Duhai Nabi, langkah kakimu penuh berkah, Membawa syariat yang sangat indah, Mendidik ummat agar tak lelah, Meniti jalan menuju jannah. Hati ini rindu menatap Madinah, Menghirup udara di tanahmu yang penuh berkah, Bersimpuh mesra di dekat kuburmu menghilangkan segala gundah, Menumpahkan air mata kebahagiaan dengan pasrah. Ya Sayyidi, engkau pemberi syafaat nan utama, Di hari ketika manusia berduka, Engkau ayomi ummat tanpa tersisa, Menyelamatkan jiwa dari bahaya. ...

Demarkasi Hukum dan Peradilan Media Sosial

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Layar media sosial kerap kali memproduksi kebenaran visual yang tampak meyakinkan, namun sejatinya sangat rentan dan rapuh ketika dibenturkan dengan dinding pembuktian formil di hadapan meja hijau. Dinamika opini publik dan mekanisme peradilan pidana kerap kali tumpang tindih dalam persepsi masyarakat, seolah kebenaran ditentukan oleh riuhnya linimasa dan banyaknya unggahan yang tersebar. Fenomena ini kembali mengemuka saat Hakim Tunggal Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Sulistyo Muhammad Dwi Putro, memutus permohonan praperadilan yang diajukan oleh Tifauzia Tyassuma atau dr. Tifa. Permohonan praperadilan atas penetapan tersangka dalam perkara dugaan penyebaran berita bohong terkait isu ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, tersebut dinyatakan tidak dapat diterima ( Niet Ontvankelijke Verklaard / NO). Langkah hukum yang diambil pemohon pada dasarnya merupakan bagian dari hak konstitusional seorang warga negara untuk menguji keabsahan tindakan aparat penegak hukum. ...

Gagal Total, Janji Politik, dan Realitas Kekuasaan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Setiap kali masa jabatan seorang pemimpin publik berakhir atau mendekati momen politik tertentu, riak penilaian masyarakat selalu membuncah ke permukaan. Narasi yang berkembang kerap kali terjebak dalam dikotomi yang sangat ekstrem: disanjung sebagai sosok yang berhasil mutlak, atau dihujat sebagai pimpinan yang “gagal total”. Bineritas penilaian ini tidak hanya menyederhanakan kompleksitas tata kelola pemerintahan, tetapi juga mereduksi dinamika kepemimpinan politik itu sendiri. Hakikatnya, hampir tidak ada pemimpin yang gagal secara menyeluruh atau gagal total. Namun pemimpin yang belum atau tidak berhasil menjalankan keseluruhan program dan janji politiknya secara paripurna. Secara teoretis, ruang kepemimpinan publik selalu bertautan dengan apa yang disebut oleh Niccolò Machiavelli sebagai interaksi antara fortuna (keberuntungan atau dinamika eksternal) dan virtu (kemampuan individual seorang pemimpin). Seorang kepala daerah atau kepala negara mungkin datang deng...

Jeritan Ibu Pertiwi

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Lihatlah ke bawah, wahai tuan puan yang bertakhta! Dengarkan gemertak gigi rakyat yang menahan lapar dahaga! Di balik bilik reot yang hampir gulita, Anak-anak bangsa mengeja mimpi di tanah yang gersang. Mereka mengais sisa nasib di ceceran sampah, Menatap masa depan yang kabur disapu duka sejarah. Di mana mata kalian, wahai penguasa? Kalian sibuk bersulang di atas penderitaan jua! Keluarga memamerkan kemewahan tanpa jeda, Membungkus raga dengan sutra bertabur mutiara, Menari-nari jumawa di bilik ruang maya, Seolah negeri ini hanyalah milik kalian semata! Darah rakyat kalian peras menjadi cincin permata, Keringat kaum buruh kalian tukar dengan kendaraan mewah, Air mata petani kalian jadikan istana megah! Apakah nurani telah mati tertutup harta? Hingga tak lagi mampu membedakan empati dan dosa! Jabatan itu amanah, bukan karpet merah untuk berfoya-foya! Bukan tiket emas untuk memanjakan sanak saudara! Ketika kemiskinan mencekik leher rakyat yang setia, Kalian justru te...

Makna Merdeka

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Rindang daun ketapang kencana di sudut lapangan upacara memayungi lima orang yang merayakan kemerdekaan dengan caranya sendiri. Terik matahari Agustus mulai menyengat, tetapi angin sepoi-sepoi membawa ketenangan. Di sana, Tonakodi duduk, mengamati barisan anak-anak sekolah yang rapi berbalut seragam merah-putih dan biru-putih. Di sebelah kirinya, Om Uchen mengelus lututnya yang dibalut perban, sisa oleh-oleh kecelakaan tunggal dua minggu lalu. Di sampingnya, Om Uly menyandarkan kaki kanannya yang membengkak akibat infeksi ringan ke sebatang kayu kecil, wajahnya tetap memancarkan senyum hangat. Meski langkah mereka pincang, semangat menyambut detik-detik proklamasi tak melumpuhkan niat mereka untuk hadir. "Wah, kalau begini caranya, lututku ini ikut merdeka dari rasa sakit kalau melihat dagangan Mas Ragil laris," celoteh Om Uchen terkekeh, memecah kekakuan. Tangannya menunjuk gerobak sepeda motor milik Ragil, penjual sempol keliling yang sibuk menata tusuka...

Menanam Bunga Bangkai

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Rabu sore, udara Palu pelan-pelan mendingin setelah sepanjang siang matahari membakar bumi. Angin tipis berembus santun, mengantarkan Tonakodi dan Om Uchen menyusuri teras rumah Om Uly. Langkah Om Uchen agak tertatih; lututnya belum pulih benar akibat kecelakaan tunggal tempo hari. Namun, senyum dan kelakar tak pernah absen dari wajahnya. "Sakit lutut ketemu sakit kaki, ini namanya reuni tulang rapuh, Kopi!" bisik Om Uchen sambil terkekeh pelan. Tonakodi hanya tersenyum tipis, menepuk bahu sahabatnya itu dengan kelembutan yang menenangkan. Di dalam, Om Uly duduk bersandar di kursi kayu dengan kaki kanan diganjal bantal, tampak bengkak dan memerah. Wajahnya yang biasanya teduh menyimpan sisa rasa nyeri, namun matanya tetap memancarkan keramahan dan kehangatan yang luar biasa saat menyambut kedatangan mereka.  Di ruangan itu, ternyata sudah ada Ami, seorang pemuda santun nan kritis, serta Ryan, remaja Gen Z yang selalu ingin tahu. "Ehh, mari masuk, mari...

Nikel Morowali dan Bayang-Bayang Nauru

Gambar
Di balik deru mesin pengolah nikel yang beroperasi tanpa henti dan jutaan ton produk hilirisasi yang dikapalkan dari pesisir Sulawesi Tengah, sebuah kejanggalan birokrasi mendadak memantik kegaduhan nasional. Melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 157.K/KU.01/MEM.S/2026, pemerintah menetapkan daftar daerah penghasil dan daerah pengolah sumber daya alam mineral dan batubara (minerba).  Anehnya, Kabupaten Morowali dan Morowali Utara, dua jantung kawasan hilirisasi dan pemilik smelter nikel terbesar di Indonesia, justru absen dari daftar resmi daerah pengolah nasional. Absennya Morowali dalam cetak biru fiskal terbaru ini bukan sekadar kekeliruan administratif sepele. Ini adalah paradoks mendasar yang berpotensi merampas hak alokasi Dana Bagi Hasil (DBH) minerba senilai triliunan rupiah dari daerah yang setiap hari menanggung beban ekologis, kerusakan infrastruktur, dan tekanan sosial akibat industrialisasi pertambangan. Akar persoalannya bertumpu pada ego sektoral dan dualisme data: ke...

Derita dalam Merdeka

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Merah-putih berkibar anggun di puncak retorika, Ditiup angin podium yang riuh oleh pekatnya selebrasi merdeka. Tepat di bawah bayang-bayang tiang yang menjulang tinggi, Perut-perut lapar merangkak di atas tanah yang dirampas dalam sepi. Merdeka, sebuah kata yang terlampau mahal harganya, Jika kedaulatan hanya dikuasai oleh mereka yang memegang takhta. *** Ijazah kusam terlipat rapi di balik dada yang gemetar, Antrean pemuda mengetuk gerbang baja yang tak kunjung terhampar. Pabrik-pabrik berdiri bagai benteng asing di atas negeri, Memeras keringat murahan, menukar masa depan dengan ilusi. Di sini, kemiskinan bukan suratan nasib abadi, Melainkan dampak kekuasaan membiarkan rakyat kecil terkulai.  *** Gubuk-gubuk sederhana menatap menara kaca di jantung kota, Keadilan sosial terperangkap dalam bingkai emas berdebu jelaga. Sekolah menjelma komoditas, rumah sakit menjadi penjagal harapan; Si miskin dilarang sakit, anak-anak diceraikan dari panggung impian. Panc...

Siapalah Saya

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Matahari siang membakar aspal kota tanpa ampun. Di tengah deru mesin kendaraan dan hawa panas yang menyengat, Tonakodi mengendarai sepeda motor bututnya dengan tenang. Helmnya yang kusam dan jaket kain yang mulai memudar warnanya menjadi saksi bisu perjalanan panjang yang sabar. Ia tidak terburu-buru, seolah waktu tak pernah sanggup mengejarnya. Motor tua itu akhirnya berhenti di halaman sebuah kantor. Tonakodi melangkah masuk ke ruangan kantor yang sejuk, dikepung hembusan angin AC yang dingin bertolak belakang dengan sengatan udara di luar. Di dalam ruangan bersuhu dingin itu, Ami dan Rahmat tengah bergelut dengan layar komputer masing-masing. "Assalamu’alaikum," tegur Tonakodi lembut. Ami dan Rahmat serentak menoleh. Ami, pemuda yang dikenal santun dan kritis, langsung berdiri mengulas senyum hangat. Di sebelahnya, Rahmat, anak muda khas Gen-Z yang selalu menyimpan segudang pertanyaan, ikut beranjak. "Wa’alaikumussalam!" sambut Ami dan Rahmat...