Jeritan Ibu Pertiwi

Oleh: Temu Sutrisno

Lihatlah ke bawah, wahai tuan puan yang bertakhta!

Dengarkan gemertak gigi rakyat yang menahan lapar dahaga!

Di balik bilik reot yang hampir gulita,

Anak-anak bangsa mengeja mimpi di tanah yang gersang.

Mereka mengais sisa nasib di ceceran sampah,

Menatap masa depan yang kabur disapu duka sejarah.


Di mana mata kalian, wahai penguasa?

Kalian sibuk bersulang di atas penderitaan jua!

Keluarga memamerkan kemewahan tanpa jeda,

Membungkus raga dengan sutra bertabur mutiara,

Menari-nari jumawa di bilik ruang maya,

Seolah negeri ini hanyalah milik kalian semata!


Darah rakyat kalian peras menjadi cincin permata,

Keringat kaum buruh kalian tukar dengan kendaraan mewah,

Air mata petani kalian jadikan istana megah!

Apakah nurani telah mati tertutup harta?

Hingga tak lagi mampu membedakan empati dan dosa!


Jabatan itu amanah, bukan karpet merah untuk berfoya-foya!

Bukan tiket emas untuk memanjakan sanak saudara!

Ketika kemiskinan mencekik leher rakyat yang setia,

Kalian justru tertawa terbahak menumpuk harta!


Bangunlah! Buka mata kalian sebelum terlambat!

Jangan uji kesabaran rakyat yang tertindas hebat!

Sebab bila murka telah membakar jiwa yang terikat,

Tak ada takhta yang mampu menahan gelombang berontak!


Sadarlah wahai pemangku kuasa yang lupa diri!

Kembalikan hak rakyat, pulihkan kehormatan negeri!

Ingatlah! tanah ini disiram darah para pahlawan sejati,

Bukan tempat bagi para penjarah yang tak tahu diri! ***



Tana Kaili, 20 Agustus 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam