Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

 Oleh: Temu Sutrisno/Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah


Kecermatan, kehati-hatian, dan bijaksana merupakan prinsip kehidupan universal yang berlaku setiap zaman. Leluhur masyarakat Jawa, ratusan bahkan ribuan tahun lalu telah menjadikan prinsip tersebut sebagai laku hidup.

Dalam masyarakat Jawa ada pitutur luhur yang menjadi petuah bijak hingga kini, sebuah ukara pendek namun penuh arti: Gemi, Nastiti, Ngati-ati.

Secara etimologis, gemi berarti hemat, tidak boros, dan sederhana atau bersahaja.

Nastiti bermakna cermat, teliti, tepat, pasti, tidak terburu-buru, bijaksana, dan ngati-ati adalah sikap berhati-hati dalam setiap keadaan dan perbuatan.

Pitutur luhur Jawa Gemi, Nastiti, Ngati-ati menjadi seni hidup bersahaja tapi pasti di tengah dunia yang dinamis dan serba cepat.

Di tengah dunia yang serba tergesa-gesa seperti sekarang, pitutur luhur Jawa “Gemi, Nastiti, Ngati-ati” terdengar seperti napas tenang di antara hiruk pikuk kehidupan digital. Ajaran ini sederhana, tapi dalam: gemi berarti tidak glamour, nastiti berarti cermat bijaksana, dan ngati-ati berarti berhati-hati. Tiga kata yang tampak kuno, namun justru menjadi pegangan yang amat relevan di zaman yang serba cepat ini.

Orang Jawa zaman dulu percaya bahwa tergesa-gesa sering kali membawa salah langkah. Maka mereka menanamkan sikap setiti lan ngati-ati — berpikir pelan, tapi dalam dan cermat. Secara filosofis, pitutur ini mengajarkan kecerdasan spritual, emosional, dan kesadaran diri bahwa setiap tindakan sebaiknya lahir dari pikiran yang matang dan hati yang jernih, bukan dari dorongan emosi sesaat.

Hidup yang gemi artinya berani berhenti sejenak sebelum melangkah, menimbang baik-buruk, manfaat dan mudarat. Gemi adalah kesederhanaan, tidak jor-joran, mampu menimbang rasa antara kebutuhan dan keinginan, antara kemampuan dan nafsu pencitraan. Hidup gemi bukan berarti kikir, namun menimbang sesuatu secara proporsional sesuai kebutuhan dan kepentingan. Bukan sebaliknya, mewah sekadar memenuhi keinginan dan pamer karena tuntutan penampilan.

Sementara nastiti mengajarkan kecermatan dan kebijaksanaan. Tidak semua yang tampak baik harus segera diambil, tidak semua peluang harus dikejar. Kadang, kebijaksanaan justru ada dalam kemampuan menahan diri.

Dalam kehidupan sosial, ajaran ini menjadi panduan agar kita tidak asal bicara atau bertindak. Masyarakat Jawa memegang prinsip “tata krama lan tepa slira” — sopan santun dan tenggang rasa. Untuk menjaga keduanya, dibutuhkan sikap nastiti dan ngati-ati: cermat dan bijak memahami perasaan orang lain, serta hati-hati agar tidak menyinggung.

Dalam konteks modern, sikap ini bisa kita lihat sebagai bentuk kecerdasan sosial. Di tempat kerja, misalnya, seseorang yang nastiti akan berhati-hati dalam mengambil keputusan dan bijak dalam menanggapi perbedaan pendapat. Dalam pergaulan, sikap ngati-ati membantu kita menjaga hubungan agar tetap harmonis meski hidup di tengah keberagaman pandangan.

Secara spiritual, pitutur ini menuntun kita untuk eling lan waspada, selalu ingat pada Tuhan dan sadar terhadap langkah hidup. Berhati-hati bukan karena takut salah, tetapi karena menyadari bahwa setiap tindakan adalah bagian dari tanggung jawab di hadapan Yang Maha Kuasa.

Orang yang “nastiti” tidak hanya berhitung dengan logika, tapi juga mendengarkan suara batin. Ia tidak sombong dengan keberhasilan, dan tidak gegabah dalam menghadapi cobaan. Dalam sunyi, ia menimbang setiap langkah, karena sadar bahwa hidup ini bukan sekadar tentang cepat, tapi tentang tepat. Hidup bukan karena riuhnya suara menggelar, tapi tentang langkah yang benar.

Kini, ketika hidup kita banyak berlangsung di layar gawai, pitutur ini terasa makin penting.

Sebelum membagikan berita di media sosial, kita perlu setiti — periksa dulu kebenarannya. Saring sebelum sharing.

Sebelum menulis komentar, kita perlu nastiti — pikirkan dulu dampaknya, apakah akan membangun atau justru menyakiti. Tentu juga selalu ngati-ati, jangan mudah tergoda hoaks, tipu-tipu online, atau jebakan digital yang mengikis nilai kemanusiaan.

Sikap gemi, nastiti, lan ngati-ati adalah bentuk literasi moral di dunia maya. Pitutur ini menjaga kita agar tetap bijak di tengah derasnya arus informasi, tidak mengumbar privasi, menyalakan api provokasi, dan tetap manusiawi di dunia yang makin canggih tapi sering kali kehilangan empati.

Pada akhirnya, pitutur ini menjadi jalan hidup penuh keheningan.

Hidup yang dijalani dengan gemi, nastiti, lan ngati-ati ibarat berjalan di jalan sempit tapi penuh bunga. Kita mungkin melangkah pelan, tapi pasti; tidak mencolok, tapi menenangkan.

Pitutur ini mengingatkan bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang dari kecepatan, tetapi dari ketenangan hati dan kejernihan pikir. Kemewahan hidup tidak berpijak pada glamournya penampilan, tapi sikap hati-hati dan kemampuan mengendalikan nafsu secara sadar.

Di era digital yang serba cepat ini, ajaran Jawa kuno itu seolah berbisik lembut: Pelan bukan berarti tertinggal, asal langkahmu sadar, cermat, dan benar, akan berujung pada ketepatan dan kemenangan. Wallahu alam bishawab. ***



Tana Kaili, 14 Oktober 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam

Di Kampungku, Drag Race jadi Ukuran Kemajuan