Bersih Hati dan Peduli
Oleh: Temu Sutrisno Jumat pagi itu langit menggantung mendung seperti kain abu-abu yang belum sempat dijemur matahari. Di lantai dua kantor profesi yang menghadap jalan utama, angin berembus dari taman tanpa kembang, membawa asap knalpot bercampur wangi kopi hitam. Di atas meja, beberapa bungkus nasi kuning terbuka, uapnya menari perlahan seperti doa yang belum selesai dilangitkan. Tonakodi duduk santai di kursi rotan. Wajahnya tenang, matanya teduh. Ia memegang cangkir kopi dengan dua tangan, seolah sedang memeluk sebuah pemikiran. Di kursi lainnya, Om Uchen, Om Uly, Ami, Haji Agus, dan Ustaz Ishaq berkumpul. Mereka menunggu waktu salat Jumat, membiarkan pagi berjalan tanpa tergesa. “Langit mendung begini,” kata Om Uchen sambil menyuap nasi kuning, “cocok untuk orang yang banyak dosa. Suasananya meratap syahdu, seperti syair tobat a la Rumi.” Om Uly tertawa pendek. “Kalau begitu, Komiu yang paling cocok, Om Uchen. Dari tadi mukamu paling khusyuk, seperti melantunkan doa hajat.” Tawa k...