Pitutur Luhur: Ati-ati Lathi Isa Gawe Laraning Ati
Oleh: Temu Sutrisno, Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Dalam khazanah kearifan masyarakat Jawa, kata-kata bukanlah sekadar bunyi yang keluar dari rongga mulut. Ia adalah representasi dari kedalaman jiwa, cerminan watak, sekaligus penentu martabat seseorang. Salah satu pusaka nilai yang tetap relevan melintasi zaman adalah pitutur luhur: Ati-ati lathi isa gawe laraning ati . Secara harfiah, pitutur ini mengingatkan kita untuk berhati-hati dengan lidah ( lathi ), karena lidah memiliki kekuatan luar biasa untuk melukai perasaan ( ati ) orang lain. Di balik kesederhanaan kalimatnya, tersimpan filosofi mendalam tentang etika berkomunikasi, pengendalian diri, dan tanggung jawab sosial yang kini mulai terkikis oleh riuhnya jagat digital. Lathi: Pedang Tanpa Bilah Masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi konsep “ Ajining diri ana ing lathi ” (Harga diri seseorang terletak pada lidahnya atau ucapannya). Dalam perspektif ini, ucapan adalah tolok ukur utama kualitas kemanusiaan...