Postingan

Tragedi Cinta Sukrasana

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Kabut tipis masih membungkus lereng Pertapan Jatipitur tatkala surya pagi menyingsing di ufuk timur. Angin dingin berhembus perlahan, menggoyangkan dedaunan jati yang gugur berserakan. Di halaman pertapan yang tenang itu, berdiri seorang pemuda berparas tampan luar biasa. Wajahnya bagaikan rembulan bersinar terang, dadanya bidang, dan tatapan matanya menembus celah-celah bukit dengan penuh tekad dan ambisi yang membara. Dialah Bambang Sumantri, putra Resi Suwandagni. Namun, di balik keindahan paras Sumantri, ada sosok lain yang merayap keluar dari balik rindangnya pohon beringin tua. Sosok itu kerdil, bertubuh bongkok dengan kulit gelap bersisik kasar, bernapas tersengal-sengal, dan memiliki wajah raksasa kecil yang menakutkan. Dialah Sukrasana, adik kandung Sumantri. Sungguh sebuah suratan takdir yang ganjil. Dari rahim dan darah yang sama, lahir dua insan yang bagaikan langit dan bumi. Yang satu bak dewa dari kahyangan, sementara yang lain bak makhluk dari kegelap...

Menyelamatkan Pers dari Jeratan Churnalisme

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Pers sering diagungkan sebagai pilar keempat demokrasi. Di atas pundaknya, masyarakat menggantungkan harapan akan lahirnya pengawasan yang objektif, independen, dan kritis terhadap pemegang kekuasaan, baik pemerintah maupun korporasi. Namun, jika kita mencermati lanskap media massa hari ini, ada pergeseran memprihatinkan yang pelan-pelan menggerogoti marwah tersebut. Pers yang idealnya bertindak sebagai watchdog (anjing pengawas) kini kian melunak, bahkan terkadang lebih nyaman melakoni peran sebagai lapdog (anjing pangkuan) kekuasaan dan pemilik modal. Tiga fenomena utama yang menjadi kompor pemantik merosotnya independensi ini adalah maraknya jurnalisme rilis, jurnalisme pujian, dan jurnalisme partisan. Ketiganya bukan sekadar pelanggaran etika ringan, melainkan penyakit struktural yang mengikis fungsi kontrol sosial media, membelah publik, dan meruntuhkan kepercayaan terhadap pers. Churnalisme dan Pendangkalan Berita Istilah churnalisme pertama kali...

Sindrom Keledai dan Ilusi Penegakan Hukum Karhutla

Gambar
Pepatah lama sering menyebut bahwa keledai tidak akan terperosok pada lubang yang sama untuk kedua kalinya. Namun, peribahasa tersebut tampaknya kehilangan relevansinya jika dihadapkan pada realitas tata kelola lingkungan di Indonesia. Setiap kali musim kemarau tiba—sebuah siklus alam yang terprediksi dengan presisi nyaris sempurna—negeri ini kembali berkalang kabut asap. Ritual tahunan ini bukan lagi sekadar bencana ekologis, melainkan monumen abadi atas kegagalan sistemik yang dipelihara oleh ketidakseriusan kolektif. Kita, dengan segala klaim kemajuan peradaban, kerap bertindak jauh lebih naif dibanding keledai: dengan sukarela melompat ke dalam lubang kerugian yang sama dari tahun ke tahun. Data resmi yang dipaparkan Kapolri Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto dalam Sidang Kabinet Paripurna pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mempertegas ironi ini. Sepanjang periode 2024 hingga 2026, akumulasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia telah merangsek hingga menyentuh angka fa...

Napas Cinta Kamaratih-Kamajaya

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Asap dupa wangi membubung tinggi di Kahyangan Cakrakembang, namun suasananya tak lagi sama. Hening yang mencekam menyelimuti taman surgawi itu. Di tengah altar batu, hanya tersisa dua gundukan abu halus yang masih hangat. Beberapa saat lalu, api kemarahan dari mata ketiga Dewa Siwa telah menghanguskan wujud fisik Kamajaya. Sang dewa cinta gugur demi menjalankan tugas suci membangkitkan Siwa dari meditasi panjangnya, demi menyelamatkan alam semesta dari kekacauan. Namun, ia tidak pergi sendirian. Dewi Ratih atau Kamaratih, dengan senyum ketulusan yang tak pudar di bibirnya, telah melompat dengan sukarela ke dalam kobaran api yang sama. Baginya, surga seluas apa pun adalah neraka yang paling dingin jika harus dijalani tanpa keberadaan suami terkasih, Kamajaya. Para dewa tertunduk lesu di balairung agung. Penyesalan mendalam menggelayuti hati mereka. "Wahai Siwa yang Maha Agung," ratap Batara Indra, mewakili kesedihan seluruh penghuni kahyangan. "Cinta t...

Cinta Tanpa Takhta

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Malam itu, hutan Karangbolong diselimuti kabut tebal yang dingin menusuk tulang. Petruk berjalan terengah-engah, memeluk sebuah pusaka berbungkus kain sutra putih yang memancarkan cahaya keemasan menerobos kegelapan malam. Itu adalah Jamus Kalimasada, jimat paling sakti milik keluarga Pandawa yang tanpa sengaja jatuh ke tangannya di tengah kekacauan dunia. Begitu jemari Petruk menyentuh aksara gaib di permukaan pusaka, sebuah getaran hebat mengguncang tubuhnya. Dadanya bergemuruh bagai gempa bumi, dan energi tiada tanding menjalar ke seluruh pembuluh darahnya. Kulitnya yang legam berganti seputih pualam, tubuhnya yang bungkuk dan kurus seketika tegak kekar berotot, dan hidungnya yang panjang serta melengkung unik menyusut menjadi hidung ksatria yang sempurna mempesona. Petruk telah berubah menjadi seorang raja yang luar biasa tampan dan sakti mandraguna. Ia menamai dirinya Prabu Welgeduwelbeh alias Maharaja Kantong Bolong. Dengan kesaktian tiada tanding dari pancara...

Kabut Sutra di Lembah Saptarengga

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Kabut tipis menyelimuti lembah Gunung Saptarengga, tempat Prabu Pandu Dewanata memilih hidup dalam kesunyian. Mantan penguasa Hastinapura yang gagah perkasa itu kini telah melepas mahkota emas dan kemewahan istananya, menggantinya dengan jubah sederhana seorang pertapa. Di sampingnya, dua wanita setia mendampingi dengan ketulusan yang tak terbagi: Dewi Kunti dan Dewi Madri. Kehidupan mereka tampak tenang mengalir seperti air sungai pegunungan, namun di balik kedamaian hutan yang perawan, ada sebuah kutukan kelam yang terus membayangi setiap detak jantung Pandu. "Lihatlah, Kanda," ujar Dewi Kunti dengan senyum lembut sembari menyerahkan secangkir air pegunungan yang segar. Udara pagi terasa sejuk, membelai dedaunan yang masih basah oleh embun. "Udara pagi ini begitu bening. Bahkan hela napas kita seolah menyatu dengan embun di padepokan ini." Pandu menerima cangkir kayu itu, memandang permaisuri tertuanya dengan tatapan penuh kehangatan. "Ben...

Meneguhkan Tradisi Pesantren dan Santri di Era Digital

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Bila kita menoleh ke belahan dunia Islam di Timur Tengah atau Afrika Utara, kita tidak akan pernah menemukan istilah santri dan pesantren. Di Arab Saudi atau Mesir, murid yang menimba ilmu agama disebut thalib, dan mereka belajar di kuttab atau madrasah formal di tengah kota. Pesantren beserta ekosistem di dalamnya ada kiai, pondok asrama, mengaji subuh, hingga kitab kuning, adalah murni mahakarya kebudayaan asli ( indigenous ) Nusantara yang tidak ada duanya di dunia. Akar sejarah institusi unik ini membawa kita kembali pada abad ke-15, era di mana Walisanga—terutama Sunan Ampel, melakukan strategi dakwah yang sangat jenius. Alih-alih meruntuhkan tatanan sosial yang sudah ada, para wali memilih jalan akulturasi. Sebelum Islam memeluk Nusantara, masyarakat agraris pada masa Hindu-Buddha telah mengenal sistem Dukuh atau Padepokan, tempat para cantrik (murid) bermukim untuk mempelajari kitab suci ( sastri ) bersama guru spiritual mereka. Oleh Walisanga, wadah tradisio...