Postingan

Menata Hati di Ahad Pagi

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno  Ahad pagi bergulir dalam dekap cuaca yang agak mendung. Langit di atas kampung seperti kanvas abu-abu yang menahan rindu pada matahari. Udara dingin sisa hujan semalam masih menggelayut, memaksa orang-orang untuk meringkuk lebih lama di balik selimut. Namun tidak bagi Tonakodi dan Om Uly. Dengan langkah yang tenang dan cenderung santai, keduanya menyusuri lorong sepi menuju ke rumah Om Uchen. Kabar burung yang berembus kemarin sore membawa berita kurang mengenakkan: Om Uchen mengalami kecelakaan tunggal. Sepeda motor matik kesayangannya tergelincir saat ia hendak menghindari seekor kucing yang melintas mendadak. Akibatnya, kaki kanannya harus dibalut perban tebal karena terkilir dan luka parut. Sesampainya di teras rumah Om Uchen, Om Uly mengetuk pintu dengan ritme yang hangat. Tak lama, pintu terbuka, memperlihatkan sosok Om Uchen yang tengah meringis sambil memegang sebilah tongkat kayu di tangan kanannya. "Eh, Tonakodi, Uly... Masuk, masuk! Maaf ya, p...

Diplomasi Budaya ala Viking Row

Gambar
Diplomasi budaya di Piala Dunia tidak hanya terlihat melalui pertandingan, tetapi juga lewat selebrasi para pemain yang mencerminkan identitas nasional. Momen ikonik terjadi pada Piala Dunia Italia 1990 ketika Roger Milla dari Kamerun menampilkan tarian Makossa di sudut lapangan usai mencetak gol, memperkenalkan budaya Afrika kepada dunia.  Pada Piala Dunia Afrika Selatan 2010, Siphiwe Tshabalala bersama rekan setimnya merayakan gol pembuka dengan tarian khas lokal yang menegaskan kebanggaan sebagai tuan rumah. Sementara itu, Brasil menghadirkan selebrasi menggendong bayi ala Bebeto yang menjadi simbol kebahagiaan keluarga yang dijunjung tinggi dalam budaya Brasil. Selebrasi tersebut menunjukkan sepak bola sebagai sarana diplomasi budaya yang efektif. Keberhasilan tim nasional sepak bola Norwegia melangkah ke babak perempat final Piala Dunia 2026 bukan sekadar catatan statistik baru di atas kertas. Kemenangan dramatis 2-1 atas raksasa sepak bola Brasil di Stadion New York New Jerse...

Menguji Integritas Proyek APBD

Gambar
MERCUSUAR-Pernyataan Gubernur Sulawesi Tengah bahwa sekira 80 persen proyek yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dikerjakan rekanan atau pengusaha lokal, patut diapresiasi dan diacungi jempol. Secara makro ekonomi, kebijakan ini merupakan instrumen penting untuk menstimulus sirkulasi uang di daerah, memperluas lapangan kerja, dan menumbuhkan kelas pengusaha domestik yang tangguh. Keberpihakan seperti ini memang sudah selayaknya diacungi jempol. Namun, di balik angka 80 persen yang tampak impresif itu, ada sebuah ruang kosong yang menuntut kewaspadaan tingkat tinggi. Kita tidak boleh terlena oleh romantisme pemberdayaan daerah hingga melupakan fungsi kontrol sosial. Pertanyaan mendasar yang harus kita ajukan bersama adalah: benarkah seluruh paket proyek tersebut telah berjalan secara clear and clean? Ataukah, kedok pengusaha lokal ini justru menjadi celah baru bagi suburnya praktik jatah-menjatah anggaran? Sekadar mengingatkan, pengalaman empiris yang berulang kal...

Derby Iberia: Adu Ketajaman Oyarzabal vs Magis Ronaldo

Gambar
Babak 16 besar Piala Dunia 2026 siap menyajikan salah satu derby paling panas di jagat sepak bola yang mempertemukan dua kekuatan besar Semenanjung Iberia, Spanyol dan Portugal. Pertandingan sarat gengsi ini akan digelar di Dallas Stadium pada Selasa, 7 Juli 2026 pukul 03.00 WITA. Laga ini bukan sekadar perebutan tiket menuju perempat final, melainkan sebuah panggung pembuktian taktik dan pembasuhan luka masa lalu bagi kedua tim. Memori final UEFA Nations League 2025 memang masih membekas di ingatan, di mana Portugal sukses membungkam Spanyol lewat drama adu penalti setelah bermain imbang 2-2 hingga babak perpanjangan waktu. Namun, atmosfer di tanah Amerika Serikat kali ini terasa sangat berbeda. Spanyol sedikit lebih diunggulkan berkat performa impresif mereka di babak sebelumnya, saat armada asuhan Luis de la Fuente tampil luar biasa dominan menyingkirkan Austria dengan skor telak 3-0. Kematangan permainan penguasaan bola La Roja yang digawangi oleh kombinasi Rodri, Pedri, dan Dani O...

Dongeng Indah Cape Verde: Menangkan Jutaan Hati Penduduk Bumi

Gambar
  Piala Dunia selalu punya cara tersendiri untuk melahirkan cerita magis. Namun, apa yang terjadi di Piala Dunia 2026 kali ini benar-benar di luar nalar pengamat sepak bola mana pun. Di tengah dominasi negara-negara mapan, muncul sebuah nama dari lepas pantai barat Afrika yang sukses mencuri panggung utama: Cape Verde. Negara kepulauan kecil dengan populasi tak sampai satu juta jiwa ini datang tanpa tradisi sepak bola yang mengakar kuat. Mereka tidak punya liga domestik yang gemerlap, apalagi sejarah trofi yang mentereng. Namun, di akhir turnamen, dunia sepakat menyematkan satu julukan untuk mereka: The Amazing Team. Langkah Cape Verde di fase grup awalnya dipandang sebelah mata. Terjebak bersama raksasa-raksasa dunia, mereka diprediksi hanya akan menjadi lumbung gol. Namun, sepak bola bukan matematika di atas kertas. Pada laga pembuka, Cape Verde langsung dihadapkan dengan Spanyol, tim yang dikenal dengan penguasaan bola superior dan taktik tiki-taka modern. Alih-alih inferior, Ca...

Dakwah Kultural NU dan Muhammadiyah Menjaga Indonesia

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno   Tidak banyak tokoh agama yang mampu menjelaskan hubungan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dengan cara sederhana, jenaka, tetapi mengandung kedalaman makna sebagaimana KH. A. Mustofa Bisri atau Gus Mus. Dalam sebuah forum kebudayaan, ia pernah melontarkan kalimat yang kini menjadi semacam "pepatah" di kalangan warga kedua organisasi. "Orang Muhammadiyah yang tinggi ilmunya akan semakin mirip NU. Orang NU yang tinggi ilmunya akan semakin mirip Muhammadiyah." Sekilas kalimat itu terdengar seperti gurauan. Namun, semakin direnungkan, semakin tampak bahwa Gus Mus sedang menggambarkan kedewasaan beragama. Semakin luas ilmu seseorang, semakin kecil fanatismenya terhadap identitas organisasi. Yang menguat justru penghargaan terhadap substansi ajaran Islam. Pandangan itu pernah dijelaskan kembali oleh Ulil Abshar Abdalla. Menurutnya, pada tingkat kematangan intelektual, seorang Muhammadiyah akan memahami mengapa NU mempertahankan tradi...

Kode Etik: Garis Api antara Algoritma Medsos dan Kebenaran Pers

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno     Di era media sosial, tidak sedikit orang menganggap sesuatu yang viral otomatis layak menjadi berita. Ukuran kebenaran sering kali bergeser menjadi ukuran popularitas. Semakin banyak ditonton, dibagikan, atau dikomentari, semakin dianggap penting. Padahal, viral dan bernilai berita adalah dua hal yang berbeda. Di sinilah terdapat "garis api" yang memisahkan media sosial dengan pers. Garis itu bernama kode etik jurnalistik. Media sosial bekerja berdasarkan algoritma. Tujuannya sederhana, yakni mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Algoritma akan mengangkat konten yang memancing emosi, baik kemarahan, ketakutan, kebencian, maupun kekaguman. Semakin tinggi interaksi ( engagement ), semakin luas pula jangkauan sebuah konten. Sebaliknya, pers tidak bekerja untuk menyenangkan algoritma. Pers bekerja untuk memenuhi hak publik memperoleh informasi yang benar. Perbedaan paling mendasar terletak pada tujuan. Media sosial mengejar pe...