Layar Kaca yang Retak
Oleh: Temu Sutrisno Dua ribu tahun lalu, di bawah terik matahari Roma, Kaisar melambaikan tangan dari tribun kehormatan Colosseum. Di bawah sana, para gladiator bertaruh nyawa menantang maut demi sebongkah roti dan tontonan. Ini adalah resep kuno kekuasaan untuk mengalihkan perhatian rakyat dari himpitan pajak, paceklik, dan intrik politik Senat yang membingungkan. Dua milenium berlalu, Colosseum itu kini bersulih rupa menjadi stadion megah berteknologi tinggi dengan lampu sorot jutaan watt. Para gladiator tidak lagi membawa pedang atau jala besi, melainkan mengenakan jersey warna-warni, berlari mengejar bola kulit di atas rumput hijau yang dipotong presisi. Gagasan kompetisi sepak bola internasional ini dicetuskan oleh Presiden FIFA, Jules Rimet. Uruguay terpilih sebagai tuan rumah sekaligus menjadi juara pertama Piala Dunia setelah mengalahkan Argentina di partai final pada tahun 1930. Teknologinya boleh melompat jauh. Tetapi cetak biru psikologi manusia tidak pernah beru...