Postingan

Dakwah Kultural NU dan Muhammadiyah Menjaga Indonesia

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno   Tidak banyak tokoh agama yang mampu menjelaskan hubungan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dengan cara sederhana, jenaka, tetapi mengandung kedalaman makna sebagaimana KH. A. Mustofa Bisri atau Gus Mus. Dalam sebuah forum kebudayaan, ia pernah melontarkan kalimat yang kini menjadi semacam "pepatah" di kalangan warga kedua organisasi. "Orang Muhammadiyah yang tinggi ilmunya akan semakin mirip NU. Orang NU yang tinggi ilmunya akan semakin mirip Muhammadiyah." Sekilas kalimat itu terdengar seperti gurauan. Namun, semakin direnungkan, semakin tampak bahwa Gus Mus sedang menggambarkan kedewasaan beragama. Semakin luas ilmu seseorang, semakin kecil fanatismenya terhadap identitas organisasi. Yang menguat justru penghargaan terhadap substansi ajaran Islam. Pandangan itu pernah dijelaskan kembali oleh Ulil Abshar Abdalla. Menurutnya, pada tingkat kematangan intelektual, seorang Muhammadiyah akan memahami mengapa NU mempertahankan tradi...

Kode Etik: Garis Api antara Algoritma Medsos dan Kebenaran Pers

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno     Di era media sosial, tidak sedikit orang menganggap sesuatu yang viral otomatis layak menjadi berita. Ukuran kebenaran sering kali bergeser menjadi ukuran popularitas. Semakin banyak ditonton, dibagikan, atau dikomentari, semakin dianggap penting. Padahal, viral dan bernilai berita adalah dua hal yang berbeda. Di sinilah terdapat "garis api" yang memisahkan media sosial dengan pers. Garis itu bernama kode etik jurnalistik. Media sosial bekerja berdasarkan algoritma. Tujuannya sederhana, yakni mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Algoritma akan mengangkat konten yang memancing emosi, baik kemarahan, ketakutan, kebencian, maupun kekaguman. Semakin tinggi interaksi ( engagement ), semakin luas pula jangkauan sebuah konten. Sebaliknya, pers tidak bekerja untuk menyenangkan algoritma. Pers bekerja untuk memenuhi hak publik memperoleh informasi yang benar. Perbedaan paling mendasar terletak pada tujuan. Media sosial mengejar pe...

Bola yang Menyatukan dan Standar Ganda FIFA

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Saat Tanjung Verde, Iran, Kongo, dan Jepang bermain di Piala Dunia 2026, bersaing dengan raksasa bola Brasil, Jerman, Argentina, Prancis, hingga Inggris dan Spanyol ada sebuah keharuan. Dunia sejenak melupakan masalahnya. Semua bersorak. Semua bersatu tanpa beda, merayakan kegembiraan yang sama. Tidak banyak hal di dunia yang mampu menyatukan miliaran manusia dalam satu waktu selain sepak bola. Ketika peluit pertandingan dibunyikan, perbedaan bahasa, ras, agama, budaya, bahkan ideologi politik seakan menghilang. Anak-anak di desa terpencil hingga masyarakat di kota-kota metropolitan memahami aturan permainan yang sama. Sorak-sorai kemenangan maupun air mata kekalahan menjadi bahasa universal yang dipahami seluruh umat manusia. Sepak bola telah membuktikan dirinya sebagai olahraga paling inklusif di dunia. Kesederhanaan aturannya memungkinkan siapa pun memainkannya tanpa memerlukan fasilitas yang rumit. Sebuah bola dan lapangan sederhana sudah cukup untuk menghadirka...

Kritik Filosofis terhadap MDH Marx

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno Setelah hampir tiga dekade tidak membincang pemikiran Karl Marx, hari ini saya harus menulis kembali untuk bahan diskusi. Bayangan tiga puluh tahun silam, mendiskusikan banyak pemikiran tokoh membuat saya tersenyum girang. Akhirnya di tengah bidaya instan generasi kekinian, masih ada sekelompok  mahasiswa, mengundang diskusi yang menurut saya, temanya agak berat. Soal Materialisme Historis-Dialektis (MDH) merupakan fondasi utama pemikiran Karl Marx dalam menjelaskan perkembangan sejarah manusia. Saya memulai tulisan langsung dari kritik filosofis. Mengapa? Karena kelompok mahasiswa tadi telah banyak belajar tentang pemikiran Marx dan dasar-dasar filsafat yang dikembangkan pemikir atau filsuf lainnya. Menurut Marx, perubahan sosial pada dasarnya ditentukan oleh kondisi material, terutama cara produksi dan hubungan ekonomi yang berkembang dalam masyarakat. Sejarah dipandang sebagai arena pertentangan kelas yang bergerak secara dialektis menuju perubah...

Safari Jokowi dan Politik Kehadiran

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Presiden ketujuh Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), kembali menunjukkan kreativitas politiknya. Di saat sebagian besar elite partai politik lebih banyak berkomunikasi melalui mimbar, konferensi pers, atau media sosial, Jokowi justru memilih memulai safari politik dengan mendatangi berbagai tokoh, daerah, dan kelompok masyarakat. Pilihan ini bukan sekadar agenda silaturahmi, melainkan memperlihatkan satu pola politik yang selama lebih dari satu dekade menjadi ciri khas kepemimpinannya: politik kehadiran. Jokowi seolah ingin menegaskan bahwa politik tidak cukup dijalankan melalui retorika. Politik juga membutuhkan perjumpaan, sentuhan kemanusiaan, dan hubungan yang dibangun secara langsung dengan masyarakat. Kehadiran fisik menjadi bahasa politik yang sering kali lebih mudah dipahami dibandingkan pidato yang panjang atau narasi yang beredar di media. Fenomena tersebut menarik dibaca dari perspektif sosiologi politik. Politik kehadiran merupakan strategi ya...

Di Toilet Tanpa Nama

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Indonesia memang negara yang sulit dijelaskan hanya dengan angka. Jumlah pulaunya ribuan, sukunya ratusan, bahasanya lebih banyak lagi. Kalau ada wisatawan asing bertanya, "Apa yang paling unik dari Indonesia?" saya kira jawabannya bukan hanya candi, pantai, atau gunung. Tetapi yang paling unik justru kebiasaan kita memberi nama. Di negeri ini, hampir semua hal punya nama sendiri. Bahkan benda yang hakikatnya sama bisa berganti identitas hanya karena berpindah tempat atau berubah sedikit proses. Ambil contoh beras. Saat masih bergoyang di sawah, ia dipanggil padi. Dipanen, berubah menjadi gabah. Kulitnya dikupas, menjadi beras. Beras yang hancur kecil namanya menir. Masuk panci, berubah lagi menjadi nasi. Terlalu lembek dan kebanyakan air disebut bubur. Dijemur, ditumbuk, dibumbui, digoreng, lalu mengeras, bisa berubah menjadi karak. Padahal "barangnya" tetap sama. Coba bandingkan dengan bahasa Inggris. Mau masih di sawah, di karung, atau sudah ...

Kedudukan Peraturan Dewan Pers dalam Sistem Hukum Indonesia

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Perdebatan mengenai kedudukan hukum Peraturan Dewan Pers bukanlah hal baru. Sebagian kalangan mempertanyakan bagaimana sebuah lembaga yang bukan pembentuk peraturan perundang-undangan dapat mengeluarkan aturan yang memiliki daya ikat. Pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh aspek mendasar mengenai kemerdekaan pers, hak asasi manusia, dan konsep negara hukum demokratis yang dianut Indonesia. Dalam praktiknya, berbagai peraturan Dewan Pers, termasuk yang mengatur Kode Etik Jurnalistik, Standar Kompetensi Wartawan, dan pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW), pernah menjadi objek sengketa hukum. Namun berbagai putusan pengadilan pada prinsipnya mengakui keberadaan dan legitimasi aturan-aturan tersebut. Pengakuan ini tidak lahir tanpa dasar, melainkan bertumpu pada sistem pers Indonesia yang menganut prinsip self-regulation atau swa-regulasi. Swa-regulasi merupakan sistem pengaturan yang memberikan kewenangan kepada komunitas profesi untuk...