Postingan

Liputan Konflik: Mendahulukan Keselamatan dan Kemanusiaan

Oleh: Temu Sutrisno Konflik bersenjata selalu menghadirkan dua wajah yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, peristiwa itu menjadi fakta penting yang harus diketahui publik; di sisi lain menyimpan ancaman nyata bagi siapa pun yang berada di lapangan, termasuk jurnalis. Dalam situasi seperti itu, tugas pers bukan sekadar menyampaikan kabar dari garis depan, tetapi memastikan bahwa peliputan dilakukan dengan menjunjung keselamatan jiwa, profesionalisme, dan nilai kemanusiaan. Dalam hukum humaniter internasional, wartawan yang meliput perang dipandang sebagai warga sipil. Status ini memberi perlindungan sepanjang mereka tidak terlibat langsung dalam pertempuran. Artinya, jurnalis berhak menjalankan tugas peliputan tanpa menjadi sasaran serangan. Namun, perlindungan tersebut bisa gugur bila wartawan ikut mengangkat senjata atau terlibat aktif dalam operasi militer. Karena itu, batas antara peliput dan kombatan harus dijaga secara tegas. Keselamatan adalah Kewajiban Keselamatan menjadi...

Etika dan Teknis Peliputan Bencana

Gambar
Oleh : Temu Sutrisno  Peliputan bencana merupakan salah satu tugas paling menantang dalam dunia jurnalistik. Di tengah situasi kacau, penuh duka, dan ancaman keselamatan, wartawan dituntut mampu menyampaikan informasi secara cepat, akurat, sekaligus manusiawi. Karena itu, etika dan teknis peliputan bencana menjadi pedoman penting agar pemberitaan tidak sekadar mengejar kecepatan, tetapi juga menghormati martabat korban serta keselamatan wartawan sendiri. Pada dasarnya, liputan bencana bukan sekadar menghadirkan peristiwa tragis ke ruang publik. Tugas utama wartawan adalah membantu masyarakat memahami situasi, memberi informasi yang berguna, serta mendorong solidaritas kemanusiaan. Dalam konteks inilah, etika menjadi fondasi utama. Mengedepankan Etika Prinsip pertama adalah mengutamakan empati. Dalam meliput bencana, fokus pemberitaan seharusnya diarahkan pada upaya penyelamatan, kondisi darurat, kebutuhan korban, dan cara publik dapat membantu. Sayangnya, masih ada praktik yang men...

Liputan Isu Terorisme: Menghindari Glorifikasi, Mengutamakan Keselamatan

Gambar
Oleh : Temu Sutrisno Dalam era informasi yang bergerak serba cepat, peristiwa terorisme hampir selalu menjadi perhatian utama media massa. Ledakan, ancaman, penangkapan terduga, atau operasi penindakan aparat kerap menjadi berita yang menyita ruang publik. Namun, di balik pentingnya pemberitaan itu, terdapat tanggung jawab besar bagi pers: bagaimana melaporkan fakta tanpa menjadi corong ketakutan atau bahkan alat propaganda bagi pelaku teror. Di sinilah pentingnya memahami pedoman peliputan isu terorisme secara benar. Di Indonesia, pedoman khusus tentang peliputan terorisme diatur melalui Dewan Pers dalam Peraturan Dewan Pers Nomor 01/Peraturan-DP/IV/2015 . Aturan ini hadir sebagai panduan agar wartawan dan perusahaan pers tetap menjalankan fungsi informatif, tetapi tidak terjebak dalam pemberitaan yang justru memperbesar dampak psikologis aksi teror. Prinsip utamanya sederhana: pers wajib mengedepankan keselamatan, akurasi, keberimbangan, serta tidak memberi ruang glorifikasi terhada...