Postingan

Korban Perasaan

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno Sore habis salat ashar, langit di ujung jembatan memerah seperti bara yang ditaburi abu. Angin dari sungai berembus pelan, menggoyang spanduk kopi sachet yang tergantung miring di emperan warung bundaran. Di sana, seperti biasa, beberapa lelaki duduk melingkar di bangku kayu panjang sambil menikmati kopi hitam dan pisang goreng yang mulai mengkerut kedinginan. Om Uchen paling ribut sore itu. Tawanya pecah bahkan sebelum ceritanya selesai. “Sekarang ini,” katanya sambil menyeruput kopi, “orang belum tentu kurban sapi, tapi sudah duluan jadi korban perasaan.” Ryan terkekeh. Ia yang paling muda setelah Ami selalu senang memancing suasana. “Salah sedikit di media sosial, langsung ngamuk. Padahal sapi belum disembelih, hati sudah berdarah-darah.” Ami tersenyum tipis. Anak muda itu duduk paling pinggir sambil memainkan gawainya. “Biasanya yang ribut memang lawan politik,” katanya hati-hati. “Atau mereka yang tidak kebagian momentum.” Om Uly langsung menyambar. “Atau...

Doa untuk Negeri

Gambar
Oleh : Temu Sutrisno Tuhan… malam ini kami menyalakan sunyi, di antara napas bumi yang letih menanggung bunyi. Kami datang dengan hati gemetar,dengan mata basah,membawa nama-nama yang patah di jalan sejarah. Duhai Ilahi, Jauhkan negeri ini dari hati yang kehilangan nurani, dari tangan yang menadah janji lalu menumpahkan dusta setiap hari. Embunkan kasih pada tanah yang retak nan pedih, pada laut yang menangis lirih, pada hutan yang ditebang tanpa rasa sedih. Tuhan… kami mendengar tangis ibu di dapur yang kehilangan asap, kami mendengar langkah buruh yang pulang dengan punggung gelap. Kami saksikan cangkul petani yang tak lagi terpakai, sampan nelayan tersangkut jaring sendiri,  ilalang tercerabut dari padang gembala sepi. Tuhan, kami mengetuk langit-Mu dengan doa yang berulang-ulang, seperti gamelan angin di pegunungan, seperti kidung tua dalam bayang-bayang. Jadikan pemimpin negeri selembut hujan di sejuk pagi, bukan badai yang mencabik janji, bukan petir yang membakar budi. Kami ...

Berkurban Bukan Mengorbankan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Ibrahim menerima perintah Tuhan dengan ketaatan  Ismail menjawab dengan keteguhan Hajar mencontohkan kesabaran Tiga nama, satu pelajaran Kini zaman berubah haluan Makna kurban dipenuhi kekeliruan Banyak orang fasih mengucap ketakwaan Tetapi gemar menukar nurani dengan kepentingan Mimbar dipenuhi nasihat kebajikan Ruang rapat dipenuhi persekongkolan Pidato menjanjikan kemakmuran Tetapi anggaran menjadi bancakan Atas nama pembangunan Sawah berubah jadi timbunan Hutan kehilangan pepohonan Sungai menelan pencemaran Atas nama investasi dan pertumbuhan Rakyat diminta memahami keadaan Mereka diminta rela berkorban Meski tidak menikmati keuntungan Yang kaya mendapat kemudahan Yang kecil menerima beban Yang kuat memperoleh perlindungan Yang lemah menjadi tumbal kebijakan Pejabat mengorbankan rakyat demi mempertahankan kedudukan Pemimpin mengeksploitasi yang miskin untuk memperpanjang kekuasaan  Pemburu rente menyingkirkan yang papa untuk mempertebal kekayaan  A...

Berhaji Setiap Hari

Gambar
  Oleh : Temu Sutrisno  Haji bukan usai di tanah suci, bukan selesai setelah kembali pulang, koper ditutup, zamzam dibagi, gelar disandang lalu dikenang, haji adalah jalan mengabdi, sepanjang hayat terus terbentang. Di miqat menata hati, melepas bangga yang sering menjulang, ihram mengajar arti sejati, bahwa manusia setara dipandang, tak ada kaya tak ada tinggi, semua hamba di hadapan Tuhan. Ka'bah berdiri di tengah bumi, menjadi arah seluruh pandangan, tawaf mengajar hidup berbunyi, mengelilingi pusat ketuhanan, jangan harta menjadi kendali, jangan kuasa jadi tujuan. Safa dan Marwah saksi abadi, jejak Hajar penuh keteguhan, sa'i mengajar mencari rezeki, dengan ikhtiar dan pengharapan, bila rezeki belum berpundi, jangan berpangku dalam keluhan. Arafah luas membentang sunyi, tempat manusia menimbang zaman, wukuf mengajak mengenal diri, menghitung salah dan kebaikan, berapa banyak memberi arti, berapa sering lupa amanah Tuhan. Di Mina batu mulai terpilih, menuju jumrah untuk dil...

Memaknai Iduladha di Era Digital

Gambar
Oleh : Temu Sutrisno Iduladha merupakan salah satu momentum spiritual terbesar dalam Islam. Hari raya ini tidak hanya identik dengan penyembelihan hewan kurban, tetapi juga menjadi pengingat tentang nilai keikhlasan, pengorbanan, ketaatan, dan kasih sayang dalam kehidupan manusia. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus diwujudkan melalui pengorbanan yang tulus, sementara hubungan antara orang tua dan anak dibangun di atas fondasi kasih sayang dan kepercayaan. Perluasan Makna Kurban Di era digital saat ini, makna Iduladha mengalami perluasan konteks. Jika dahulu pengorbanan lebih banyak dimaknai dalam bentuk fisik dan material, kini masyarakat dihadapkan pada tantangan baru yang lahir dari perkembangan teknologi informasi. Media sosial, platform digital, dan kemudahan akses komunikasi telah mengubah cara manusia berinteraksi, berbagi, bahkan mengekspresikan ibadah. Dalam ruang digital yang serba terbuka, salah satu bentuk pengorbanan yang rel...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Di pelupuk senja yang memerah saga, aku melihat wajah kakek dan  para patriot bangsa. Mata mereka menyala, seterang cakrawala, menembus zaman, menembus luka, menembus sejarah yang perkasa. Tangan mereka mengepal menggenggam semangat membara, menghunus senjata menggelorakan api ksatria. Mereka tegak berdiri di garis bahaya, menghadang penjajah yang merampas martabat dan harga diri bangsa. Mereka gugur tanpa meminta nama, rebah tanpa menagih jasa, bahkan tidak sempat menikmati hasil perjuangannya. Darah mereka mengalir menjadi sungai doa, menyuburkan tanah air yang kini kita sebut Indonesia. Namun hari ini, di bawah langit yang sama, aku menyaksikan wajah negeri yang kadang kehilangan arah dan makna. Demokrasi sering berhenti pada angka, lupa bahwa rakyat bukan sekadar suara. Kapitalisme menjalar dari hulu hingga muara, mengangkut kekayaan bumi, meninggalkan nestapa. Di ruang kuasa yang penuh agenda, oligarki menenun jejaringnya. Sebagian cendekia berdiri di menar...

Saat Mulut Tak Lagi Punya Kuasa

Gambar
  Oleh : Temu Sutrisno Di platform media sosial dan (sebagian) elektronik, kita dipertontonkan orang-orang yang terlalu banyak bicara. Alih-alih bicara kebenaran, banyak dari mereka mengobral kata atas nama kritik, untuk menutupi kebencian. Banyak pula yang berisi kebohongan dan fitnah, atas nama kebebasan berpendapat di balik slogan demokrasi. Memuja yang disuka, mencaci yang dibenci. Sikap judgemental menggerogoti nurani, lontaran kata menghakimi tanpa memahami substansi. Orang lupa, ada satu pengadilan yang tidak mengenal rekayasa keterangan, tidak mengenal saksi bayaran, tidak mengenal pengacara dan jaksa yang pandai merangkai jata, dan tidak mengenal ruang gelap tempat bukti disembunyikan. Itulah pengadilan akhirat. Dalam kehidupan dunia, manusia sering mengandalkan mulut. Dengan mulut, seseorang dapat membela diri. Dengan mulut, seseorang dapat menyangkal kesalahan. Dengan mulut pula, kebohongan bisa disusun sedemikian rapi hingga tampak seperti kebenaran. Betapa banyak orang...