Postingan

Assalamu’alaika yaa Rasulallah

Gambar
 Oleh: Temu Sutrisno Assalamu’alaika yaa Rasulallah  A ssalamu’alaika yaa Nabiyallah   Assalamu’alaika yaa Aminallah   Assalâmu’alaika yaa Habiballah   Assalamu’alaika yaa Shafwatallah  Assalamu’alaika yaa khaira khalqillah  Yaa Rasulallah terima kasih atas kasih sayangmu Kami yang sering alpa Kami yang naik turun iman di dada Kami yang tak kunjung bertobat saat berdosa Engkau rangkul kami dalam doa Engkau janjikan syafaat saat perhitungan di akhirat tib a   Yaa Nabiyallah bagaimana kami menjawab kasih sayangmu Salawat salam kami seperti setitik debu di samudera pasir  yang tak terkira Sementara rahmatmu meliputi seluruh alam  semesta Bahkan melampaui waktu dan ruang yang pasti berakhi r Yaa Habiballah jika bukan karena senyum dan pelukanmu Jika bukan karena cintamu Sungguh, saat Yaumul Akhir tiba K ami merasa malu dan tidak pantas berdiri di barisanmu. ***

Gerimis kala Sahur Tiba

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​Lantunan wahyu merdu mendarat dari menara Gerimis tipis membasuh dini hari, isyarat berkah tak terhingga Di pengujung Ramadan yang kian sunyi Saat roda ekonomi kian mencekik hari Saat dunia dibayang-bayangi bara perang abadi Di antara puing-puing keadilan yang terkoyak sepi Rintik sahur ini hadir menyeka hati ​Ya, Apalagi yang luput dari syukur kami? Sahur sederhana ini adalah kemewahan yang tak lagi terperi Di bawah temaram bintang, di luasnya pelukan galaksi Kedamaian Ketenteraman Ketenangan Hanyalah mimpi bagi mereka yang dipaksa iri Mereka yang merindukan fajar tanpa dentum meriam Mereka yang dibutakan takhta dan ambisi kelam Mereka yang rakus merobek rahim alam Mereka yang menyangka kemewahan adalah puncak kesenangan Hingga lupa pada senyum tulus lepas dari tekanan ​Gerimis sahur, saat Ramadan mulai berkemas pamitan Membawa sejuk yang sarat dengan pengharapan Agar dunia kembali dalam dekap kedamaian Kusut benang keserakahan segera teruraikan Alam tetap lestari...

Tindak Tegas Perusak Artefak Budaya

Gambar
Foto: Antara Kabar duka datang dari jantung Sulawesi Tengah. Artefak megalit yang diperkirakan berusia lebih 1.000 tahun di Desa Dongi-Dongi, Kabupaten Poso, ditemukan dalam kondisi rusak parah. Ironisnya, kerusakan ini terjadi hanya berselang satu hari setelah tim melakukan survei lapangan.  Di balik debu dan reruntuhan batu bersejarah itu, bayang-bayang alat berat dan aktivitas tambang ilegal berdiri sebagai tertuduh utama. ​Peristiwa ini bukan sekadar perusakan properti fisik, melainkan sebuah serangan terhadap memori kolektif bangsa. Megalit pahatan nenek moyang di masa lalu adalah saksi bisu perjalanan peradaban manusia sejak zaman Neolitikum. Menghancurkannya demi butiran emas atau kepentingan ekonomi sesaat adalah bentuk vandalisme peradaban yang tidak bisa ditoleransi. ​Situs megalitikum di Sulawesi Tengah, khususnya yang berada di kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), bukan sekadar tumpukan batu mati. Secara akademis dan budaya, situs-situs ini memiliki nilai luar bias...

Perang AS-Iran, Media Sosial, dan Etika Digital

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​Layar ponsel kini telah menjadi jendela sekaligus medan tempur baru. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) bersama sekutunya, Israel, melawan Iran tidak lagi hanya terjadi di pangkalan militer atau selat-selat strategis, melainkan tumpah ruah di beranda informasi platform media sosial. Mulai dari X (dahulu Twitter), Instagram, FB, hingga TikTok, narasi perang berseliweran tanpa henti, menciptakan kebisingan digital yang sering kali menumpulkan nalar dan rasa kemanusiaan. ​Fenomena ini membawa kita pada satu pertanyaan krusial: Di manakah letak etika digital kita ketika konflik bersenjata pecah? Antara Realitas dan Fabrikasi AI Ruang informasi tidak lagi hadir secara objektif. Apa yang muncul di lini masa kita sangat bergantung pada preferensi pribadi, riwayat pencarian, dan interaksi sebelumnya. Mereka yang bersimpati pada perjuangan Iran akan disuguhi narasi perlawanan terhadap imperialisme AS serta kekejaman dan kesewenang-wenangan Zionisme Israel. Se...

Mempercepat Ketahanan Energi

Gambar
Eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama ketegangan yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Israel, dan Iran, bukan lagi sekadar berita mancanegara dan urusan masing-masing negara. Perang yang berkecamuk, berdampak pada kondisi global.  Bagi Indonesia, gejolak di Selat Hormuz adalah ancaman langsung terhadap denyut nadi industri nasional dan ekonomi masyarakat. Dalam konteks urgensi inilah, kita harus melihat instruksi Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk mempercepat pembangunan tangki penyimpanan minyak (oil storage) sebagai langkah survival yang krusial. ​Rencana pembangunan fasilitas penyimpanan di 18 wilayah, dari Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung (Bali), Bima, Ende, Makassar, Donggala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara, Fakfak, dengan nilai investasi mencapai Rp72 triliun merupakan pengakuan jujur atas kerentanan kita selama ini. Indonesia, sebagai negara dengan konsums...

Antisipasi Kelangkaan BBM

Gambar
Mendung geopolitik di kawasan Teluk bukan lagi sekadar berita mancanegara yang jauh dari pelupuk mata. Ketegangan antara blok Israel-Amerika Serikat melawan Iran telah membawa dunia ke ambang ketidakpastian fatal. Iran bukan hanya membalas serangan Israel-Amerika dengan rudal, tapi juga perang ekonomi dengan menutup Selat Hormuz.  Bagi Indonesia, riak di Selat Hormuz adalah alarm keras bagi ketahanan energi nasional. Pasalnya, urusan bahan bakar minyak (BBM) bukan sekadar angka di SPBU, melainkan urat nadi yang menentukan hidup-matinya stabilitas ekonomi, sosial, dan politik kita. ​Data menunjukkan potret yang cukup mencemaskan. Pada tahun 2026 ini, konsumsi BBM nasional telah menyentuh angka kurang lebih 1,6 juta barel per hari (bph). Ironisnya, kemampuan produksi minyak mentah (lifting) dalam negeri hanya mampu menyumbang sekitar 605.000 bph. Artinya, ada lubang menganga sebesar satu juta barel yang harus ditutup melalui impor. Dengan ketergantungan impor yang melonjak hingga ham...

Was-was Ekonomi Global

Gambar
Infografis: Antara Dunia kembali menahan napas. Eskalasi konflik bersenjata antara Israel dan Iran yang pecah pada Sabtu (28/2/2026) bukan sekadar riak geopolitik biasa. Ini adalah alarm keras bagi stabilitas global yang kini berada di titik nadir. Ketika mesin perang mulai menderu di Timur Tengah, dampaknya tidak berhenti pada dentuman rudal di medan tempur, melainkan merambat cepat ke dapur-dapur warga di seluruh belahan bumi melalui ancaman kelumpuhan ekonomi. ​Fokus perhatian kini tertuju pada satu titik sempit namun mematikan: Selat Hormuz. Jalur yang secara geografis menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia ini adalah "nadi leher" bagi perdagangan energi dunia. Data mencatat bahwa sepanjang 2025, sekitar 14 juta barel minyak per hari—sepertiga dari total ekspor minyak mentah dunia, bergantung pada kelancaran arus di selat ini. Belum lagi 20 persen pasokan gas alam cair (LNG) global yang mayoritas berasal dari Qatar. ​Bayangkan jika "keran" ini ditutup....