Postingan

Pitutur Luhur: Urip Kaya Wit Klapa

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Kemajuan zaman bergulir begitu cepat, membawa manusia pada puncak peradaban yang serba instan, digital, dan terhubung secara global. Namun, di tengah gemerlap efisiensi dan kecerdasan buatan, muncul sebuah pertanyaan mendasar tentang hakikat keberadaan kita: sudahkah kehadiran kita memberi dampak bernilai bagi sekitar? Rasulullah Muhammad SAW telah menancapkan fondasi etis yang tak lekang oleh waktu melalui sabdanya, bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak memberikan manfaat bagi sesamanya.  “Khairunnas anfa'uhum linnas.” Nilai luhur universal tersebut menemukan gaungnya yang sangat jernih dalam khazanah kearifan lokal Nusantara melalui pepatah Jawa: " Urip kaya wit klapa "—hiduplah seperti pohon kelapa. Sebuah ajakan filosofis yang tampak sederhana, namun menyimpan kedalaman makna tentang daya tahan, kebermanfaatan total, serta adaptabilitas di tengah arus modernisasi. Pohon kelapa adalah masterpiece alam. Ia mampu tumbuh me...

Pitutur Luhur: Aja Kedonyan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Lagi-lagi terungkap kasus korupsi. Beberapa pejabat, politisi, dan pengusaha tertangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tidak tanggung-tanggung, uang lebih dari Rp100 miliar turut diamankan. Fenomena korupsi, gaya hidup bermewah-mewahan, dan tontonan pamer kekayaan (flexing) yang marak belakangan ini seakan memperlihatkan betapa banyaknya manusia yang hidup tanpa mengingat kematian. Harta dikumpulkan tanpa memedulikan halal dan haram, diarak di panggung publik demi sejumput pengakuan, seolah-olah napas di dada takkan pernah terhenti. Padahal, bukankah setiap detak jantung dan setiap lembar rupiah yang digenggam selama hidup kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan? Di tengah riuk keramaian dunia yang makin bising oleh ambisi materialis, kearifan lokal Nusantara sejatinya telah menyediakan penawar syaraf ruhani yang membeku. Kanjeng Sunan Kalijaga, salah satu Wali Sanga yang menanamkan dakwah Islam berakar pada kebudayaan Jawa, pernah menitip pes...

Menolak Lelah Memutus Lingkaran Setan Narkoba

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Data tidak pernah berbohong, meski sering kali memotret tragedi yang diabaikan. Di Sulawesi Tengah, potret itu terdedah telanjang melalui angka-angka yang kian mencemaskan. Kepala Kantor Wilayah Dirjen Pemasyarakatan Sulawesi Tengah, Herman Mulawarman, mengungkapkan bahwa dari sekira 3.000 warga binaan pemasyarakatan di provinsi ini, sebanyak 2.500 di antaranya terjerat kasus tindak pidana narkotika. Sebuah persentase melampaui 80 persen yang secara telak menegaskan satu hal, lembaga pemasyarakatan kita bukan lagi sekadar tempat pembinaan, melainkan wadah penampungan darurat dari sebuah krisis sosial yang sistemik. Akibat puncaknya sangat tertebak, yakni kelebihan kapasitas yang ekstrem. Lapas Kelas III Kolonodale menjadi contoh paling menyolok dengan tingkat hunian mencapai 310 persen dari kapasitas idealnya. Strategi melakoni mutasi warga binaan ke lapas yang "agak kurang padat" atau sekadar menggelar razia rutin penggeledahan barang terlarang yang masi...

Mengintegrasikan Etika dan Hukum dalam Perlindungan Data Pribadi

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Beberapa waktu lalu, Mbah Darmi (63) asal Pekalongan, viral dan menjadi perhatian netizen se-Nusantara. Mbah Darmi serta lebih dari 10.000 warga lainnya di Indonesia yang bantuan sosialnya, mendadak dicabut karena status kesejahteraan mereka dinilai melompat naik ke desil atas. Kementerian Sosial Kemensos dan Dinas Sosial di berbagai wilayah mengonfirmasi bahwa fenomena keluarnya warga miskin dari kelompok Desil 1-4 (40% kelompok masyarakat dengan kesejahteraan terendah) umumnya dipicu oleh masalah KTP yang dipinjam pihak lain. Banyak lansia atau warga kurang mampu yang identitas KTP-nya dipinjam oleh tetangga, kerabat, atau oknum tertentu. Tanpa sepengetahuan pemiliknya, KTP tersebut digunakan untuk membuka rekening bank, mendaftar pinjaman online, membeli kendaraan bermotor atas nama korban, hingga terindikasi lingkaran aktivitas judi online. Di era digital seperti saat ini, s alah satu isu etika paling penting dalam masyarakat digital adalah persoalan priva...

Jam Psikologi Subuh: Warisan Tak Benda dari Dapur Ibu

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Selasa (15/9/2026), dua anggota senior PWI Sulteng, HM Basri (81) dan Jeis Montesori (59), bertandang ke Kantor PWI. Di tengah obrolan, Pak Basri bercerita tentang kebiasaannya yang tak pernah absen bangun subuh dan melangkah ke masjid.  Bu Jeis pun menimpali dengan kebiasaan serupa. Sekira jam 05.00 pagi sudah berburu buah-buahan ke pasar. Ia terbiasa mengonsumsi jus buah, untuk pola hidup sehat. Mendengar cerita dua mantan wartawan Merdeka dan Suara Pembaharuan itu, ingatan saya langsung melayang pada almarhum dan almarhumah orang tua. Ada memori unik tentang tradisi bangun pagi di keluarga kami. Sebuah jam yang tak berdetak di pergelangan tangan atau dinding, namun dentangnya jauh lebih presisi dibanding jam digital mana pun. Saya menyebutnya "jam psikologi", sebuah alarm bawah sadar yang tertanam kuat di benak. Jam berapa pun saya berbaring malamnya, mata ini selalu terbuka tepat saat azan subuh berkumandang. Tanpa drama tombol snooze, tanpa paksaan. T...

Seandainya Tritunggal Fiskal Bergerak Beriringan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Pergantian nakhoda di Lapangan Banteng kembali menyedot perhatian. Belum genap satu tahun menjabat setelah menggantikan Sri Mulyani Indrawati yang mengundurkan diri, Purbaya Yudhi Sadewa harus mengakhiri masa dinasnya. Kursi Menteri Keuangan kini beralih ke tangan Suahasil Nazara, sang wakil yang selama ini mengawal teknokrasi di balik layar. Saya tidak terlalu mengerti ekonomi negara. Hanya bisa merasakan dampak ekonomi baik atau buruk. Sebagai orang awam yang memandang ekonomi negara dari balik jendela sederhana, saya membayangkan betapa beratnya memikul beban di kursi itu. Di tengah impitan keterbatasan nasional dan gejolak global yang tak menentu, mengelola keuangan negara jelas bukan perkara mudah. Apalagi, ketiga figur tersebut membawa warna kepemimpinan dan mazhab ekonomi yang amat berbeda. Setiap kali rotasi terjadi, arah layar kebijakan fiskal pun bergeser. Sebagai rakyat biasa yang senantiasa bersyukur atas apa pun yang tersaji di meja makan, terbersit seb...

Hipermetropia Hukum

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Dalam ilmu kedokteran optik, hipermetropia atau rabun dekat menandai sebuah kondisi di mana mata mampu menatap objek di kejauhan dengan amat jernih, namun mendadak gagap dan kabur ketika berhadapan dengan benda yang berada tepat di depan mata. Anomali penglihatan ini tampaknya tak lagi sekadar catatan klinis. Di ranah sosiologi hukum Indonesia, patologi serupa kini berjangkit dan merayap ke dalam bilik-bilik peradilan kita. Sebuah fenomena yang patut kita namai sebagai "Hipermetropia Hukum." Pemeo klasik yang berulang kali mengetuk kesadaran kita menyatakan bahwa hukum di negeri ini "tumpul ke atas, tajam ke bawah." Ungkapan tersebut melukiskan betapa digdayanya pasal-pasal pidana sewaktu menjerat rakyat kecil, dan betapa tak berdayanya  di hadapan benteng kekuasaan. Namun, metafora hipermetropia hukum melangkah lebih jauh dan menyentuh ranah yang lebih intim sekaligus mengkhawatirkan. Hipermetropia hukum menggambarkan situasi ketika mata hukum k...