Postingan

Menjaga Hati Fitri

Gambar
 Oleh : Temu Sutrisno ​Suara takbir bersahutan dari pengeras suara masjid di seantero kota, saling berkejaran, menciptakan simfoni kemenangan yang menggetarkan dada. Udara malam itu terasa sejuk, membawa aroma opor ayam, karo, goreng-goreng daging sapi, rendang, berpadu dengan ketupat dan burasa yang sedang dimasak dari dapur-dapur rumah warga.  Di halaman rumah Om Uly, kehangatan terasa begitu kental. Di dalam sou-sou (gazebo) kayu, empat pria beda generasi sedang berkumpul, mengelilingi teko berisi kopi jahe dan sepiring pisang goreng hangat, kalopa, dan Mandura ditemani beberapa toples kue kering. ​Om Uchen, yang terkenal jenaka, sibuk menata toples-toples kue kering. "Nah, ini dia protokol kesehatan versi lebaran 'Physical Distancing' dari toples, tapi 'Social Bonding' tetap erat," selorohnya sambil menepuk-nepuk setoples nastar.  Tawanya meledak, disusul senyum lebar dari Om Uly, pria paruh baya berkacamata minus dengan tatapan mata yang selalu meneduh...

Peneliti Bisa Salah, Tetapi Tak Boleh Bohong

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno Sepekan terakhir, masyarakat Indonesia terbelah sikap atas pernyataan Rismon Sianipar soal kesalahannya dalam penelitian ijazah Presiden ke-7 Joko Widodo. Pada penelitian awal, Rismon menyimpulkan ijazah Joko Widodo diduga palsu. Namun dalam penelitian lanjutan, ia menyimpulkan ijazah asli. Kesimpulan itu didapatkan setelah mendapatkan data-data baru dan perbaikan metodologi.  Kita tidak tahu, alasan sebenarnya di balik itu. Hanya Rismon yang tahu motif dan tujuannya.  Sebagai orang yang pernah satu atau dua kali terlibat dalam penelitian ilmiah, izinkan saya nimbrung diskusi soal kesalahan dan koreksi hasil penelitian, melalui tulisan pendek ini.  ​Dalam semesta ilmu pengetahuan, pencarian kebenaran bukanlah jalan tol yang lurus dan mulus. Pencarian kebenaran ilmiah seperti menyibak rimba belantara yang penuh dengan jebakan logika, keterbatasan alat ukur, dan kompleksitas fenomena yang sering kali melampaui daya tangkap manusia. Dalam proses y...

Takbir; Rindu yang Bersahutan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​Malam itu, aroma opor ayam dari dapur Om Uly sudah mulai menggoda iman siapa pun yang lewat. Di teras rumah, Tonakodi bersama Om Uchen dan Ami, menggulir gawainya di tengah semilir angin sisa petang. Salat Isya baru saja berlalu. Takmir masjid di lorong sebelah, sengaja menunda salat tarawih sembari menunggu sidang isbat Idulfitri. Jemaah masih setia di masjid. Tapi Tonakodi memilih meluruskan kaki di teras Om Uly.  Tonakodi duduk selonjoran dengan tenang, sementara Om Uchen sibuk mengutak-atik gawai, mencari informasi sidang isbat. ​"Nah, kan! Benar kata saya," seru Om Uchen sambil menepuk gawainya.  "Pemerintah bilang lusa, tapi jamaah sebelah sana sudah takbiran nanti malam. Kacau ini, masa Lebaran bisa antrean begini?" ​Om Uly datang membawa baki berisi kopi jahe dan pisang goreng.  "Namanya juga metode, Om Uchen. Ada yang pakai mata, ada yang pakai matematika. Jangan dibikin pusing, yang penting judulnya sama-sama makan ketupat dan bur...

Pemberhentian yang Menenangkan

Gambar
Oleh : Temu Sutrisno  Di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering kali merasa seolah-olah sedang berlari tanpa henti. Teknologi mempercepat komunikasi, pekerjaan menuntut produktivitas tanpa jeda, dan pikiran terus dipenuhi berbagai persoalan. Namun, dalam ajaran Islam terdapat pelajaran penting tentang arti berhenti sejenak. Bukan berhenti karena menyerah, melainkan berhenti untuk menenangkan jiwa, mengingat kembali tujuan hidup, dan memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta. Menariknya, Islam menghadirkan tiga bentuk “pemberhentian” yang menenangkan dalam tiga ibadah puasa Ramadan, haji, dan salat. Dalam ketiga ibadah tersebut, ada pemberhentian yakni iktikaf, wukuf, dan tumakninah. Ketiganya mengajarkan bahwa di tengah perjalanan hidup, manusia memerlukan jeda spiritual untuk menemukan kembali keseimbangan batin. Iktikaf: Berhenti dari Hiruk Pikuk Dunia Secara bahasa, iktikaf berarti berdiam diri atau menahan diri. Dalam pengertian syariat, iktikaf ...

Menjinakkan Bom Waktu di Rahim Poboya

Gambar
Gambar: Ilustrasi ​MERCUSUAR-Kota Palu sedang mempertaruhkan masa depannya di atas tumpukan material emas yang berbalut racun. Kawasan Poboya hingga Vatutela, yang seharusnya menjadi benteng ekologis bagi ibu kota Sulawesi Tengah ini, kini telah berubah menjadi episentrum ancaman Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Jika tidak segera ditangani dengan keberanian politik dan ketegasan hukum, aktivitas pertambangan emas di sana, baik yang berizin apalagi yang ilegal (PETI), akan menjadi warisan maut bagi generasi mendatang. ​Kita tidak bisa lagi menutup mata terhadap kenyataan bahwa penggunaan merkuri (Hg) dan sianida (CN) dalam proses pengolahan emas telah melampaui ambang batas kewajaran. Penggunaan zat kimia ini dalam metode perendaman terbuka adalah praktik yang tidak hanya merusak alam, tetapi juga merupakan bentuk agresi terhadap kesehatan publik. ​Merkuri adalah racun yang licin dan persisten. Ia tidak hilang begitu saja; ia masuk ke dalam pori-pori tanah, menguap ke udara yang kita h...

Pitutur Luhur: Ngelmu Iku Kanthi Laku

Gambar
Oleh : Temu Sutrisno , W akil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah ​Di era modern yang serba instan ini, manusia sering kali terjebak dalam budaya "jalan pintas". Keinginan untuk meraih kesuksesan, kekayaan, hingga kecerdasan intelektual sering kali dilakukan tanpa memedulikan proses. Padahal, kearifan lokal masyarakat Jawa telah lama mengingatkan kita melalui sebuah bait Macapat Pucung yang monumental dalam serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV. ​Kalimat tersebut berbunyi: Ngelmu iku kalakone kanthi laku . Sebuah pesan singkat namun mendalam, yang menjadi pengingat bahwa ilmu sejati bukanlah sekadar tumpukan teori di kepala, melainkan buah dari tindakan dan olah batin yang konsisten. ​Secara harfiah, ngelmu berasal dari bahasa Arab ‘ilm , namun dalam filosofi Jawa, ia sering diartikan sebagai ngangel-angele ketemu (sulit mencarinya). Hal ini mengisyaratkan bahwa ilmu tidak datang seperti hujan jatuh dari langit, melainkan harus diusahakan de...

Pitutur Luhur: Ati-ati Lathi Isa Gawe Laraning Ati

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno, Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo ​Dalam khazanah kearifan masyarakat Jawa, kata-kata bukanlah sekadar bunyi yang keluar dari rongga mulut. Ia adalah representasi dari kedalaman jiwa, cerminan watak, sekaligus penentu martabat seseorang. Salah satu pusaka nilai yang tetap relevan melintasi zaman adalah pitutur luhur: Ati-ati lathi isa gawe laraning ati . ​Secara harfiah, pitutur ini mengingatkan kita untuk berhati-hati dengan lidah ( lathi ), karena lidah memiliki kekuatan luar biasa untuk melukai perasaan ( ati ) orang lain. Di balik kesederhanaan kalimatnya, tersimpan filosofi mendalam tentang etika berkomunikasi, pengendalian diri, dan tanggung jawab sosial yang kini mulai terkikis oleh riuhnya jagat digital. ​ Lathi: Pedang Tanpa Bilah ​Masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi konsep “ Ajining diri ana ing lathi ” (Harga diri seseorang terletak pada lidahnya atau ucapannya). Dalam perspektif ini, ucapan adalah tolok ukur utama kualitas kemanusiaan...