Menata Hati di Ahad Pagi
Oleh: Temu Sutrisno Ahad pagi bergulir dalam dekap cuaca yang agak mendung. Langit di atas kampung seperti kanvas abu-abu yang menahan rindu pada matahari. Udara dingin sisa hujan semalam masih menggelayut, memaksa orang-orang untuk meringkuk lebih lama di balik selimut. Namun tidak bagi Tonakodi dan Om Uly. Dengan langkah yang tenang dan cenderung santai, keduanya menyusuri lorong sepi menuju ke rumah Om Uchen. Kabar burung yang berembus kemarin sore membawa berita kurang mengenakkan: Om Uchen mengalami kecelakaan tunggal. Sepeda motor matik kesayangannya tergelincir saat ia hendak menghindari seekor kucing yang melintas mendadak. Akibatnya, kaki kanannya harus dibalut perban tebal karena terkilir dan luka parut. Sesampainya di teras rumah Om Uchen, Om Uly mengetuk pintu dengan ritme yang hangat. Tak lama, pintu terbuka, memperlihatkan sosok Om Uchen yang tengah meringis sambil memegang sebilah tongkat kayu di tangan kanannya. "Eh, Tonakodi, Uly... Masuk, masuk! Maaf ya, p...