Perbedaan yang Menyejukkan
Oleh: Temu Sutrisno Langit di ufuk timur masih menyisakan rona jingga tipis yang malu-malu. Sisa embun subuh menggelayut di pucuk-pucuk daun angsana di halaman masjid. Di teras samping yang beralaskan ubin sejuk, Tonakodi duduk bersila, menyandarkan punggungnya pada tiang beton yang kokoh. Di sampingnya, Om Uchen sedang sibuk membetulkan letak sarung samarnya, sementara Om Uly menyelonjorkan kaki sambil sesekali memijat betisnya sendiri. Suasana tenang. Hanya ada suara sapu lidi marbot yang menyapu halaman dan deru pelan kendaraan yang mulai melintas di kejauhan. "Tadi itu, kalau dipikir-pikir, hebat ya kita," buka Om Uly sambil tersenyum menampakkan deretan giginya yang masih utuh dan putih. "Ibadahnya sama, Tuhannya sama, tapi kalau sudah urusan hilal, kok ya bisa kayak nonton pertandingan bola yang wasitnya ada dua." Om Uchen terkekeh, suara tawa seraknya memecah kesunyian. "Ah, kau ini, Uly. Jangan disamakan dengan bola. Kalau bola kan ada VAR, nah ka...