Qalbun Syakir
Oleh: Temu Sutrisno Ahad pagi itu kebun Haji Agus seperti halaman surga kecil. Langit cerah meski diselimuti mendung tipis, angin membawa bau tanah basah sisa hujan semalam. Di bawah pondok bambu yang menghadap petak jagung, Tonakodi duduk bersila ditemani Om Uchen, Om Uly, Ustaz Ishaq, dan sang tuan kebun sendiri. Di tengah mereka mengepul kopi hitam, jagung rebus yang merekah kuning, serta ubi yang masih hangat. “Nikmat itu sederhana,” kata Haji Agus sambil menuang kopi ke cangkir. “Tak perlu mahal untuk merasa kaya.” Tonakodi mengangguk. Di tengah hiruk-pikuk tekanan gaya hidup modern, sering manusia lupa pada sumber kebahagiaan yang paling dekat, hati yang selalu bersyukur. Rahasia hidup bahagia ternyata terletak pada Qalbun Syakir , hati yang mampu melihat nikmat sekecil apa pun sebagai anugerah besar. Konsep itulah yang ia yakini sebagai fondasi utama meraih keseimbangan dunia akhirat yang kokoh dan menenangkan jiwa. Obrolan pagi itu mengalir pelan seperti air parit di tepi ...