Napas Cinta Kamaratih-Kamajaya
Oleh: Temu Sutrisno Asap dupa wangi membubung tinggi di Kahyangan Cakrakembang, namun suasananya tak lagi sama. Hening yang mencekam menyelimuti taman surgawi itu. Di tengah altar batu, hanya tersisa dua gundukan abu halus yang masih hangat. Beberapa saat lalu, api kemarahan dari mata ketiga Dewa Siwa telah menghanguskan wujud fisik Kamajaya. Sang dewa cinta gugur demi menjalankan tugas suci membangkitkan Siwa dari meditasi panjangnya, demi menyelamatkan alam semesta dari kekacauan. Namun, ia tidak pergi sendirian. Dewi Ratih atau Kamaratih, dengan senyum ketulusan yang tak pudar di bibirnya, telah melompat dengan sukarela ke dalam kobaran api yang sama. Baginya, surga seluas apa pun adalah neraka yang paling dingin jika harus dijalani tanpa keberadaan suami terkasih, Kamajaya. Para dewa tertunduk lesu di balairung agung. Penyesalan mendalam menggelayuti hati mereka. "Wahai Siwa yang Maha Agung," ratap Batara Indra, mewakili kesedihan seluruh penghuni kahyangan. "Cinta t...