Menjaga Hati Fitri
Oleh : Temu Sutrisno Suara takbir bersahutan dari pengeras suara masjid di seantero kota, saling berkejaran, menciptakan simfoni kemenangan yang menggetarkan dada. Udara malam itu terasa sejuk, membawa aroma opor ayam, karo, goreng-goreng daging sapi, rendang, berpadu dengan ketupat dan burasa yang sedang dimasak dari dapur-dapur rumah warga. Di halaman rumah Om Uly, kehangatan terasa begitu kental. Di dalam sou-sou (gazebo) kayu, empat pria beda generasi sedang berkumpul, mengelilingi teko berisi kopi jahe dan sepiring pisang goreng hangat, kalopa, dan Mandura ditemani beberapa toples kue kering. Om Uchen, yang terkenal jenaka, sibuk menata toples-toples kue kering. "Nah, ini dia protokol kesehatan versi lebaran 'Physical Distancing' dari toples, tapi 'Social Bonding' tetap erat," selorohnya sambil menepuk-nepuk setoples nastar. Tawanya meledak, disusul senyum lebar dari Om Uly, pria paruh baya berkacamata minus dengan tatapan mata yang selalu meneduh...