Mendekatkan Diri pada Nabi
Oleh: Temu Sutrisno Sabtu (3/10/2026) pagi, Pasar Inpres Manonda Palu menyapa dengan riuh yang biasa, namun membawa beban harga yang tak biasa. Cabai rawit menembus angka seratus dua puluh ribu rupiah per kilogram, sebuah momok kecil yang cukup membuat dahi ibu-ibu berkerut. Namun, pagi itu di sudut barat pasar, perhatian saya teralih oleh sesuatu yang melampaui riuh transaksi dan keluhan ekonomi. Di tempat parkir langganan, sebuah sudut hangat tempat saya biasa duduk melepas lelah bersama juru parkir kenalan, lantunan salawat bergaung. Suaranya datang dari empat orang pengamen, tiga lelaki berusia tiga puluhan dan seorang perempuan yang menyusuri lorong-lorong pasar. Berbekal gitar akustik, timpa (sejenis ketipung), kecrek, serta pengeras suara portabel, mereka melantunkan syair-syair pujian. Sang perempuan mengedarkan wadah berbungkus plastik hitam, menampung kepingan rupiah dari para pedagang dan pembeli yang menyumbang seikhlasnya. Sebuah pemandangan sederhana, sebuah fenomena ...