Postingan

Napas Cinta Kamaratih-Kamajaya

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Asap dupa wangi membubung tinggi di Kahyangan Cakrakembang, namun suasananya tak lagi sama. Hening yang mencekam menyelimuti taman surgawi itu. Di tengah altar batu, hanya tersisa dua gundukan abu halus yang masih hangat. Beberapa saat lalu, api kemarahan dari mata ketiga Dewa Siwa telah menghanguskan wujud fisik Kamajaya. Sang dewa cinta gugur demi menjalankan tugas suci membangkitkan Siwa dari meditasi panjangnya, demi menyelamatkan alam semesta dari kekacauan. Namun, ia tidak pergi sendirian. Dewi Ratih atau Kamaratih, dengan senyum ketulusan yang tak pudar di bibirnya, telah melompat dengan sukarela ke dalam kobaran api yang sama. Baginya, surga seluas apa pun adalah neraka yang paling dingin jika harus dijalani tanpa keberadaan suami terkasih, Kamajaya. Para dewa tertunduk lesu di balairung agung. Penyesalan mendalam menggelayuti hati mereka. "Wahai Siwa yang Maha Agung," ratap Batara Indra, mewakili kesedihan seluruh penghuni kahyangan. "Cinta t...

Cinta Tanpa Takhta

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Malam itu, hutan Karangbolong diselimuti kabut tebal yang dingin menusuk tulang. Petruk berjalan terengah-engah, memeluk sebuah pusaka berbungkus kain sutra putih yang memancarkan cahaya keemasan menerobos kegelapan malam. Itu adalah Jamus Kalimasada, jimat paling sakti milik keluarga Pandawa yang tanpa sengaja jatuh ke tangannya di tengah kekacauan dunia. Begitu jemari Petruk menyentuh aksara gaib di permukaan pusaka, sebuah getaran hebat mengguncang tubuhnya. Dadanya bergemuruh bagai gempa bumi, dan energi tiada tanding menjalar ke seluruh pembuluh darahnya. Kulitnya yang legam berganti seputih pualam, tubuhnya yang bungkuk dan kurus seketika tegak kekar berotot, dan hidungnya yang panjang serta melengkung unik menyusut menjadi hidung ksatria yang sempurna mempesona. Petruk telah berubah menjadi seorang raja yang luar biasa tampan dan sakti mandraguna. Ia menamai dirinya Prabu Welgeduwelbeh alias Maharaja Kantong Bolong. Dengan kesaktian tiada tanding dari pancara...

Kabut Sutra di Lembah Saptarengga

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Kabut tipis menyelimuti lembah Gunung Saptarengga, tempat Prabu Pandu Dewanata memilih hidup dalam kesunyian. Mantan penguasa Hastinapura yang gagah perkasa itu kini telah melepas mahkota emas dan kemewahan istananya, menggantinya dengan jubah sederhana seorang pertapa. Di sampingnya, dua wanita setia mendampingi dengan ketulusan yang tak terbagi: Dewi Kunti dan Dewi Madri. Kehidupan mereka tampak tenang mengalir seperti air sungai pegunungan, namun di balik kedamaian hutan yang perawan, ada sebuah kutukan kelam yang terus membayangi setiap detak jantung Pandu. "Lihatlah, Kanda," ujar Dewi Kunti dengan senyum lembut sembari menyerahkan secangkir air pegunungan yang segar. Udara pagi terasa sejuk, membelai dedaunan yang masih basah oleh embun. "Udara pagi ini begitu bening. Bahkan hela napas kita seolah menyatu dengan embun di padepokan ini." Pandu menerima cangkir kayu itu, memandang permaisuri tertuanya dengan tatapan penuh kehangatan. "Ben...

Meneguhkan Tradisi Pesantren dan Santri di Era Digital

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Bila kita menoleh ke belahan dunia Islam di Timur Tengah atau Afrika Utara, kita tidak akan pernah menemukan istilah santri dan pesantren. Di Arab Saudi atau Mesir, murid yang menimba ilmu agama disebut thalib, dan mereka belajar di kuttab atau madrasah formal di tengah kota. Pesantren beserta ekosistem di dalamnya ada kiai, pondok asrama, mengaji subuh, hingga kitab kuning, adalah murni mahakarya kebudayaan asli ( indigenous ) Nusantara yang tidak ada duanya di dunia. Akar sejarah institusi unik ini membawa kita kembali pada abad ke-15, era di mana Walisanga—terutama Sunan Ampel, melakukan strategi dakwah yang sangat jenius. Alih-alih meruntuhkan tatanan sosial yang sudah ada, para wali memilih jalan akulturasi. Sebelum Islam memeluk Nusantara, masyarakat agraris pada masa Hindu-Buddha telah mengenal sistem Dukuh atau Padepokan, tempat para cantrik (murid) bermukim untuk mempelajari kitab suci ( sastri ) bersama guru spiritual mereka. Oleh Walisanga, wadah tradisio...

Menyelamatkan Bahasa Jurnalistik di Bawah Perbudakan Algoritma

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno “ Dan tidak seorang Nabi diutus di muka bumi kecuali dengan bahasa kaumnya.” (QS. Ibrahim [14]: 4 ) Ayat suci di atas mematri sebuah pesan universal yang fundamental tentang esensi komunikasi, yakni penyampaian pesan senantiasa bertaut erat dengan bahasa penuturnya. Dalam cakrawala ilmu komunikasi, bahasa jurnalistik (language of mass communication) pada dasarnya tidak pernah berdiri di menara gading. Bahasa jurnalistik lahir membumi, menjadi jembatan wacana yang jernih, serta dipahami oleh khalayak luas dari pelbagai latar belakang sosial. Sebagaimana diwanti-wanti oleh Albert Hester, pakar komunikasi massa ternama, seorang jurnalis pantang menuliskan sesuatu yang bahkan tidak dipahaminya sendiri. Jika pembaca gagal menangkap makna di balik sebaris berita, maka komunikasi sesungguhnya telah runtuh. Bahasa jurnalistik dituntut untuk komunikatif dan spesifik, langsung merujuk pokok persoalan tanpa basa-basi yang berbunga-bunga. Namun, lanskap pers hari ini tengah men...

Menolak Konser, Membela Kemanusiaan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Dunia seni sering kali dipandang sebagai suaka yang murni, sebuah ruang netral tempat nada dan melodi menyatukan manusia tanpa memandang perbedaan politik, ras, maupun batas negara. Musik dianggap sebagai bahasa universal yang mampu melintasi sekat-sekat ideologi. Namun, apa yang terjadi ketika panggung megah yang menyajikan lantunan lagu nan indah itu berdiri di atas penderitaan, darah, dan air mata orang lain? Rencana gelaran konser penyanyi tenor kawakan asal Italia, Andrea Bocelli, serta musisi rohani asal Amerika Serikat, Israel Houghton, di Indonesia belakangan ini memicu gelombang penolakan keras dari berbagai elemen masyarakat, termasuk institusi keagamaan besar seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Muhammadiyah. Penolakan ini bukan didasari oleh sikap anti-seni, kebencian terhadap agama tertentu, atau sekadar preferensi musik semata. Langkah ini diambil secara sadar karena rekam jejak kedua figur tersebut yang dinilai terang-terangan memberikan du...

Perkembangan Buol di Usia 27 Tahun

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Akhir tahun 1992 masih terekam jelas dalam ingatan saya. Saat pertama kali menginjakkan kaki di bumi Buol melalui Program Transmigrasi di UPT Diat Momunu IV/Air Terang, infrastruktur daerah ini masih sangat memprihatinkan. Untuk mengakses transportasi keluar wilayah, kami harus berjalan kaki lebih dari enam kilometer menembus jalan berlumpur menuju Desa Boilan—itu pun dengan armada yang hadirnya tak pasti, bak menunggu undian nasib. Ketika liburan sekolah tiba, berjalan kaki sejauh 25 kilometer dari Buol menuju Air Terang menjadi rutinitas fisik yang menguji daya tahan sekaligus mendidik kesabaran. Kini, 27 tahun telah berlalu sejak kabupaten ini secara berani mengambil ikhtiar politik memisahkan diri dari kabupaten induk Tolitoli pada tahun 1999. Ingatan saya melayang pada figur-figur pemekaran yang pernah berbincang dengan saya, di antaranya almarhum Bapak Is Baculu, Bapak Syamsuddin Salakea, Bapak Ibrahim Timumun, almarhum Bapak Yahya Pusadan, Kanda Moh. Nasir Dj...