Postingan

Mengintegrasikan Etika dan Hukum dalam Perlindungan Data Pribadi

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Beberapa waktu lalu, Mbah Darmi (63) asal Pekalongan, viral dan menjadi perhatian netizen se-Nusantara. Mbah Darni serta lebih dari 10.000 warga lainnya di Indonesia yang bantuan sosialnya, mendadak dicabut karena status kesejahteraan mereka dinilai melompat naik ke desil atas. Kementerian Sosial Kemensos dan Dinas Sosial di berbagai wilayah mengonfirmasi bahwa fenomena keluarnya warga miskin dari kelompok Desil 1-4 (40% kelompok masyarakat dengan kesejahteraan terendah) umumnya dipicu oleh masalah KTP yang dipinjam pihak lain. Banyak lansia atau warga kurang mampu yang identitas KTP-nya dipinjam oleh tetangga, kerabat, atau oknum tertentu. Tanpa sepengetahuan pemiliknya, KTP tersebut digunakan untuk membuka rekening bank, mendaftar pinjaman online, membeli kendaraan bermotor atas nama korban, hingga terindikasi lingkaran aktivitas judi online. Di era digital seperti saat ini, s alah satu isu etika paling penting dalam masyarakat digital adalah persoalan priva...

Jam Psikologi Subuh: Warisan Tak Benda dari Dapur Ibu

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Selasa (15/9/2026), dua anggota senior PWI Sulteng, HM Basri (81) dan Jeis Montesori (59), bertandang ke Kantor PWI. Di tengah obrolan, Pak Basri bercerita tentang kebiasaannya yang tak pernah absen bangun subuh dan melangkah ke masjid.  Bu Jeis pun menimpali dengan kebiasaan serupa. Sekira jam 05.00 pagi sudah berburu buah-buahan ke pasar. Ia terbiasa mengonsumsi jus buah, untuk pola hidup sehat. Mendengar cerita dua mantan wartawan Merdeka dan Suara Pembaharuan itu, ingatan saya langsung melayang pada almarhum dan almarhumah orang tua. Ada memori unik tentang tradisi bangun pagi di keluarga kami. Sebuah jam yang tak berdetak di pergelangan tangan atau dinding, namun dentangnya jauh lebih presisi dibanding jam digital mana pun. Saya menyebutnya "jam psikologi", sebuah alarm bawah sadar yang tertanam kuat di benak. Jam berapa pun saya berbaring malamnya, mata ini selalu terbuka tepat saat azan subuh berkumandang. Tanpa drama tombol snooze, tanpa paksaan. T...

Seandainya Tritunggal Fiskal Bergerak Beriringan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Pergantian nakhoda di Lapangan Banteng kembali menyedot perhatian. Belum genap satu tahun menjabat setelah menggantikan Sri Mulyani Indrawati yang mengundurkan diri, Purbaya Yudhi Sadewa harus mengakhiri masa dinasnya. Kursi Menteri Keuangan kini beralih ke tangan Suahasil Nazara, sang wakil yang selama ini mengawal teknokrasi di balik layar. Saya tidak terlalu mengerti ekonomi negara. Hanya bisa merasakan dampak ekonomi baik atau buruk. Sebagai orang awam yang memandang ekonomi negara dari balik jendela sederhana, saya membayangkan betapa beratnya memikul beban di kursi itu. Di tengah impitan keterbatasan nasional dan gejolak global yang tak menentu, mengelola keuangan negara jelas bukan perkara mudah. Apalagi, ketiga figur tersebut membawa warna kepemimpinan dan mazhab ekonomi yang amat berbeda. Setiap kali rotasi terjadi, arah layar kebijakan fiskal pun bergeser. Sebagai rakyat biasa yang senantiasa bersyukur atas apa pun yang tersaji di meja makan, terbersit seb...

Hipermetropia Hukum

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Dalam ilmu kedokteran optik, hipermetropia atau rabun dekat menandai sebuah kondisi di mana mata mampu menatap objek di kejauhan dengan amat jernih, namun mendadak gagap dan kabur ketika berhadapan dengan benda yang berada tepat di depan mata. Anomali penglihatan ini tampaknya tak lagi sekadar catatan klinis. Di ranah sosiologi hukum Indonesia, patologi serupa kini berjangkit dan merayap ke dalam bilik-bilik peradilan kita. Sebuah fenomena yang patut kita namai sebagai "Hipermetropia Hukum." Pemeo klasik yang berulang kali mengetuk kesadaran kita menyatakan bahwa hukum di negeri ini "tumpul ke atas, tajam ke bawah." Ungkapan tersebut melukiskan betapa digdayanya pasal-pasal pidana sewaktu menjerat rakyat kecil, dan betapa tak berdayanya  di hadapan benteng kekuasaan. Namun, metafora hipermetropia hukum melangkah lebih jauh dan menyentuh ranah yang lebih intim sekaligus mengkhawatirkan. Hipermetropia hukum menggambarkan situasi ketika mata hukum k...

Membasuh Jiwa dengan Istighfar

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Matahari sore menyisakan rona membara di ufuk barat, memantulkan hangat yang pekat di sou-sou milik Om Uly. Usai melangkahkan kaki dari masjid di lorong sebelah selepas Asar, Tonakodi duduk bersila di bale-bale bambu. Di sampingnya, Om Uchen sedang sibuk mengibas-ibaskan tangan mengusir hawa panas, sementara Ami duduk rapi mengamati pergerakan angin sembari membuka gawai. "Panasnya sore ini seperti rindu yang terlambat sampai," seloroh Om Uchen sambil terkekeh pelan. Om Uly keluar dari pintu belakang memboyong baki. Senyum hangatnya mekar. Nampan itu berisi cangkir-cangkir teh dan kopi panas, lengkap dengan sepiring pisang goreng yang masih mengepul, bersanding anggun bersama semangkuk dabu-dabu pedas minyak kampung. "Seruput dulu, Uchen. Supaya rindumu itu tidak bikin haus," balas Om Uly ramah, menyodorkan cangkir-cangkir tersebut. Baru saja Ami hendak meraih pisang goreng, langkah kaki tergesa terdengar dari arah gerbang. Tiga anak muda—Ryan, ...

Nikel Tak Bertuan? Hil yang Mustahal

Gambar
  Satu juta metrik ton nikel tentu bukan barang siluman, apalagi milik subjek hukum bernama hantu yang mustahil ditangkap dan dibuktikan secara materiil. Nikel semasif itu sanggup meratakan satu hingga dua bukit. Sungguh menggelitik logika jika material sebesar gunung itu mendadak hadir di ruang hampa tanpa diketahui siapa pemiliknya, bagaimana rantai pengolahannya, atau alat berat mana yang menggaruknya dari perut bumi. Mengutip celotehan almarhum Asmuni Srimulat, ini jelas "hil yang mustahal". Aneh bin Lucu bin Mustahil. Tiba-tiba jadi barang temuan. Jelas tidak masuk akal. Pengungkapan keberadaan satu juta metrik ton nikel tanpa pemilik di Sulawesi Tengah oleh Badan Pemulihan Aset (BPA) Kejaksaan Agung membenturkan kita pada dua realitas ekstrem. Di satu sisi, ada efektivitas yang patut diapresiasi dari aparat penegak hukum dalam menyelamatkan potensi kerugian negara. Namun di sisi lain, temuan fantastis ini memancarkan sinyal merah mengenai masih bolongnya tata kelola ser...

Tuntaskan! Jangan Berhenti pada Lelang

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Pengungkapan keberadaan satu juta metrik ton nikel tanpa pemilik di Sulawesi Tengah oleh Badan Pemulihan Aset (BPA) Kejaksaan Agung, membuka mata kita pada dua realitas sekaligus. Di satu sisi, ada efektivitas yang patut diapresiasi dari aparat penegak hukum dalam menyelamatkan potensi kerugian negara. Di sisi lain, temuan fantastis ini memancarkan sinyal mengkhawatirkan tentang masih longgarnya tata kelola serta pengawasan industri ekstraktif di tanah air. Dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR RI, Selasa (8/9/2026), Kepala BPA Patris Yusrian Jaya menyampaikan bahwa komoditas berharga tersebut tengah diproses melalui pengadilan, agar ditetapkan sebagai barang temuan sebelum akhirnya dilelang untuk kas negara. Langkah ini melengkapi rekam jejak BPA yang dalam tiga tahun terakhir mencatatkan penyetoran Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 26,04 triliun dari hasil pemulihan puluhan ribu aset. Secara keuangan negara, mekanisme lelang jelas memberikan ...