Postingan

Fenomena Jokowi: Semakin Dibenci, Semakin Melenting Tinggi

Gambar
  Oleh : Temu Sutrisno Beragam cara, berbagai upaya dari bisik-bisik halus, fitnah, hingga perang besar telah dilakukan Duryudana bersaudara bersama koalisinya untuk menghancurkan Puntadewa yang kalem seperti tak bertenaga. Namun hasil akhirnya justru berbalik arah. Pandawa memenangkan perang sekaligus merebut hati rakyat Hastinapura. Ilustrasi dunia pewayangan itu tidak jauh berbeda dengan praktik politik modern. Dalam banyak kasus, serangan politik yang bertubi-tubi justru memperkuat figur yang diserang. Semakin besar tekanan yang diterima, semakin besar pula simpati yang tumbuh dari para pendukungnya. Fenomena ini bukan sekadar cerita politik lokal, melainkan pola yang berulang dalam berbagai negara. Di Indonesia, gejala tersebut dapat dibaca melalui sosok Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi. Setelah lebih dari satu dekade menjadi sasaran kritik, serangan politik, hoaks, hingga berbagai upaya delegitimasi, Jokowi justru tetap tampil sebagai salah satu tokoh paling berpenga...

Menghidupkan Kembali Pancasila

Gambar
Pancasila adalah fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang telah menyatukan Indonesia sejak awal kemerdekaan. Namun, di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi informasi, serta perubahan sosial yang begitu cepat, nilai-nilai Pancasila sering kali hanya hadir sebagai slogan, hafalan, atau seremoni formal. Pancasila dibacakan saat upacara bendera, diteriakkan dalam berbagai kegiatan resmi, bahkan dijadikan salam kebangsaan oleh para pejabat. Ironisnya, tidak sedikit perilaku yang justru bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Karena itu, revitalisasi pengamalan menjadi kebutuhan mendesak, di hari lahir Pancasila 1 Juni. Revitalisasi bukan sekadar mengingat kembali lima sila yang menjadi dasar negara, melainkan menghidupkan dan memberdayakan nilai-nilai luhur tersebut agar benar-benar menjadi pedoman dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Pancasila harus hadir dalam kehidupan nyata, bukan hanya dalam pidato dan dokumen resmi. Langkah pertama ya...

Alam Mulai Menggugat

Gambar
Alam tidak pernah menggelar demonstrasi, tidak membawa spanduk, tidak berpidato di depan kantor pemerintahan, dan tidak mengajukan gugatan ke pengadilan. Namun ketika air meluap ke jalan, rumah warga terendam, dan pusat pemerintahan lumpuh oleh banjir, sesungguhnya alam sedang menyampaikan protes yang paling keras dan butuh perhatian semua kalangan. Banjir Morowali adalah surat gugatan itu. Pada Mei 2026, hujan deras selama sekitar tiga jam menyebabkan banjir dadakan di dua desa di Bungku Tengah. Menarik sekaligus mengkhawatirkan. Genangan tidak hanya terjadi di titik-titik yang selama ini dikenal rawan, tetapi juga menjangkau wilayah yang sebelumnya relatif aman. Bahkan diperlukan pembongkaran drainase dan saluran air yang tersumbat sampah, untuk mempercepat aliran air. Namun peristiwa itu bukan kejadian tunggal. Bukan sekadar sampah dan tingginya curah hujan. Morowali memiliki catatan panjang tentang banjir. Tahun 2008, sedikitnya 14 desa terdampak banjir besar. Pada 2013, banjir mel...

Islam Kontekstual dan Kurban Presiden

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Sebagai orang awam dalam beragama, saya cenderung mengikuti pandangan para kiai, ulama, dan cendekiawan yang memiliki otoritas keilmuan, tanpa meninggalkan rasionalitas. Dalam memahami Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad SAW, saya menyadari keterbatasan ilmu yang saya miliki. Karena itu, saya merasa lebih aman berhujah dengan pendapat para ulama yang memiliki sanad keilmuan yang jelas, sekaligus mampu menjelaskan relevansi ajaran Islam terhadap persoalan zaman. Sikap tersebut saya gunakan ketika memandang polemik kurban Presiden yang dibiayai melalui anggaran negara. Sebagian pihak mempertanyakan keabsahannya karena kurban dipahami sebagai ibadah individual yang harus bersumber dari harta pribadi. Namun, jika ditelaah melalui perspektif fikih siyasah dan kemaslahatan publik, persoalan ini memiliki dimensi yang lebih luas. Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah disebutkan bahwa Rasulullah SAW menyembelih dua ekor domba kibasy bertanduk pada Hari Raya Idul Adh...

Korban Perasaan

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno Sore habis salat ashar, langit di ujung jembatan memerah seperti bara yang ditaburi abu. Angin dari sungai berembus pelan, menggoyang spanduk kopi sachet yang tergantung miring di emperan warung bundaran. Di sana, seperti biasa, beberapa lelaki duduk melingkar di bangku kayu panjang sambil menikmati kopi hitam dan pisang goreng yang mulai mengkerut kedinginan. Om Uchen paling ribut sore itu. Tawanya pecah bahkan sebelum ceritanya selesai. “Sekarang ini,” katanya sambil menyeruput kopi, “orang belum tentu kurban sapi, tapi sudah duluan jadi korban perasaan.” Ryan terkekeh. Ia yang paling muda setelah Ami selalu senang memancing suasana. “Salah sedikit di media sosial, langsung ngamuk. Padahal sapi belum disembelih, hati sudah berdarah-darah.” Ami tersenyum tipis. Anak muda itu duduk paling pinggir sambil memainkan gawainya. “Biasanya yang ribut memang lawan politik,” katanya hati-hati. “Atau mereka yang tidak kebagian momentum.” Om Uly langsung menyambar. “Atau...

Doa untuk Negeri

Gambar
Oleh : Temu Sutrisno Tuhan… malam ini kami menyalakan sunyi, di antara napas bumi yang letih menanggung bunyi. Kami datang dengan hati gemetar,dengan mata basah,membawa nama-nama yang patah di jalan sejarah. Duhai Ilahi, Jauhkan negeri ini dari hati yang kehilangan nurani, dari tangan yang menadah janji lalu menumpahkan dusta setiap hari. Embunkan kasih pada tanah yang retak nan pedih, pada laut yang menangis lirih, pada hutan yang ditebang tanpa rasa sedih. Tuhan… kami mendengar tangis ibu di dapur yang kehilangan asap, kami mendengar langkah buruh yang pulang dengan punggung gelap. Kami saksikan cangkul petani yang tak lagi terpakai, sampan nelayan tersangkut jaring sendiri,  ilalang tercerabut dari padang gembala sepi. Tuhan, kami mengetuk langit-Mu dengan doa yang berulang-ulang, seperti gamelan angin di pegunungan, seperti kidung tua dalam bayang-bayang. Jadikan pemimpin negeri selembut hujan di sejuk pagi, bukan badai yang mencabik janji, bukan petir yang membakar budi. Kami ...

Berkurban Bukan Mengorbankan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Ibrahim menerima perintah Tuhan dengan ketaatan  Ismail menjawab dengan keteguhan Hajar mencontohkan kesabaran Tiga nama, satu pelajaran Kini zaman berubah haluan Makna kurban dipenuhi kekeliruan Banyak orang fasih mengucap ketakwaan Tetapi gemar menukar nurani dengan kepentingan Mimbar dipenuhi nasihat kebajikan Ruang rapat dipenuhi persekongkolan Pidato menjanjikan kemakmuran Tetapi anggaran menjadi bancakan Atas nama pembangunan Sawah berubah jadi timbunan Hutan kehilangan pepohonan Sungai menelan pencemaran Atas nama investasi dan pertumbuhan Rakyat diminta memahami keadaan Mereka diminta rela berkorban Meski tidak menikmati keuntungan Yang kaya mendapat kemudahan Yang kecil menerima beban Yang kuat memperoleh perlindungan Yang lemah menjadi tumbal kebijakan Pejabat mengorbankan rakyat demi mempertahankan kedudukan Pemimpin mengeksploitasi yang miskin untuk memperpanjang kekuasaan  Pemburu rente menyingkirkan yang papa untuk mempertebal kekayaan  A...