Mahasiswa dan Budaya Dialog Multiperspektif
Oleh : Temu Sutrisno Anggap saja ini nostalgia. Sebelum tahun 2000-an mahasiswa sangat akrab dengan tradisi diskusi, seminar, bedah buku, dan berbagai forum intelektual lainnya. Aktivitas semacam itu bukan sekadar pelengkap kehidupan kampus, melainkan bagian dari keseharian mahasiswa. Saya bersama teman-teman saat itu selalu mencari ruang diskusi. Jika tidak ada kegiatan yang tersedia, kami mengadakannya sendiri. Hari Sabtu bisa dihabiskan berjam-jam di perpustakaan daerah untuk membaca referensi, menyusun bahan, lalu mendiskusikan gagasan dengan penuh semangat. Dalam forum-forum tersebut hampir tidak ada istilah “pokoknya”. Setiap pendapat harus memiliki dasar argumentasi. Perbedaan pandangan dianggap sebagai kekayaan intelektual, bukan ancaman. Tidak ada menang atau kalah, tidak ada yang merasa paling pintar atau bodoh. Semua saling belajar dan memperkaya wawasan. Ironisnya, ketika informasi justru melimpah di era digital, tradisi intelektual semacam itu tampak semakin berkurang. Dis...