Postingan

Doa Orang Tua

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​Sabtu pagi di Palu selalu punya cara sendiri untuk merayu penghuninya agar melambat. Matahari naik dengan malu-malu, menyebarkan kehangatan yang pas di kulit, sementara angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah yang kering. Di sou-sou, gazebo kayu sederhana milik Om Uly, asap kopi hitam mengepul tipis, menari-nari di antara tawa yang pecah sesekali. ​Suasana Idulfitri memang belum sepenuhnya berlalu. Stoples berisi kue  dan kacang bawang masih bertengger manis di meja kayu. ​Tonakodi, yang sejak tadi lebih banyak menyimak, menyesap kopinya pelan. Wajahnya yang tenang memancarkan wibawa yang lembut. Ia meletakkan cangkirnya, lalu menatap satu per satu sahabatnya. ​"Tadi malam, aku bermimpi," ucap Tonakodi pelan. Suaranya yang rendah seketika membuat riuh di gazebo itu mereda.  "Aku bertemu almarhum Bapak. Di mimpi itu, aku merasa kembali jadi remaja, masih pakai celana pendek, duduk di bawah pohon mangga depan rumah." ​Ami, anak muda yang biasanya kr...

Ali Syariati dan Penghormatan pada Sahabat Nabi

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​Frasa Khulafaur Rasyidin bukan sekadar deretan nama dalam buku sejarah. Bagi masyarakat Muslim di Indonesia, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), nama-nama itu adalah kunci pembangun imunitas akidah. Saya beruntung tumbuh di kampung yang "NU tulen", di mana nama Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali berkelindan dalam wirid harian, salawat nabi dalam khotbah jumat, tahlilan, puji-pujian menjelang salat, hingga bacaan di sela rakaat tarawih. Meskipun tidak dapat dikategorikan santri, puluhan pesantren dan yayasan pendidikan Islam di kecamatan tempat saya lahir, sedikit banyak memengaruhi cara berislam saya.  ​Tradisi lisan dan budaya pesantren secara tidak sadar membangun tameng spiritual yang kokoh. Maka, ketika di masa kuliah saya mulai melahap pemikiran tokoh Islam dari berbagai aliran, termasuk Syi'ah seperti Sayyid Hussein Nasr, Murtadha Muthahari, hingga Ali Syariati, tidak ada kekhawatiran fondasi "iman NU" goyah. Justru, cakrawala ...

Peradilan Koneksitas: Menguji Transparansi Kasus Andrie Yunus

Gambar
 Oleh : Temu Sutrisno ​Penahanan dan penetapan status tersangka terhadap empat prajurit TNI dalam kasus penyiraman air keras kepada aktivis KontraS, Andrie Yunus, menjadi ujian serius bagi penegakan hukum di Indonesia. Di satu sisi, langkah cepat TNI mengamankan oknumnya patut diapresiasi. Namun di sisi lain, keputusan untuk menyelesaikan kasus ini sepenuhnya di jalur peradilan militer memicu gelombang kritik dari Koalisi Masyarakat Sipil. Polemik ini bukan sekadar masalah teknis hukum, melainkan perdebatan mendasar mengenai mandat konstitusi tentang persamaan di hadapan hukum ( equality before the law ). ​Koalisi Masyarakat Sipil, yang di dalamnya bergabung Imparsial, KontraS, Amnesty International Indonesia, hingga ICJR, menyuarakan kekhawatiran yang beralasan. Mereka mendesak agar para tersangka diproses melalui sistem peradilan umum. Kekhawatiran utama mereka adalah potensi tertutupnya tabir aktor intelektual atau pertanggungjawaban komando jika kasus ini hanya bergulir di ra...

Menjahit Tenun Kebangsaan di Hari Fitri

Gambar
Gema takbir yang membahana di seluruh pelosok negeri bukan sekadar penanda berakhirnya ibadah puasa selama sebulan penuh. Bagi bangsa Indonesia, Idulfitri adalah sebuah ritual kolosal yang melampaui sekat-sekat privat keagamaan. Idulfitri adalah momen "gencatan senjata" psikologis dan sosial, sebuah titik balik untuk kembali ke fitrah, yang dalam konteks bernegara berarti kembali ke titik nol persatuan. ​Secara teologis, Idulfitri dimaknai sebagai kemenangan spiritual. Namun, kemenangan ini akan terasa hambar jika hanya dirayakan dalam kesunyian batin tanpa manifestasi sosial. Di sinilah letak urgensi rekonsiliasi nasional. Fitrah manusia adalah suci dan cenderung pada kebaikan. Dendam, prasangka, dan polarisasi politik yang kerap menghiasi dinamika bangsa kita belakangan ini adalah residu kotoran yang harus dibasuh melalui momentum saling memaafkan. ​Menghapus dendam bukanlah pekerjaan mudah. Namun Idulfitri menyediakan payung moral untuk melakukannya tanpa merasa kehilangan...

Pencurian Nama Israel: Sejarah Kelam Zionisme di Palestina

Gambar
Oleh : Temu Sutrisno Dalam panggung sejarah peradaban manusia, narasi sering kali jauh lebih mematikan daripada senjata. Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena mengerikan, sebuah entitas politik modern yang lahir dari rahim kolonialisme Eropa, namun berhasil membungkus dirinya dengan jubah sakralitas kitab suci. Itulah proyek Israel modern, sebuah karya pembajakan nama yang paling sukses dalam sejarah, yang mampu menyulap ambisi teritorial menjadi dogma agama yang tak boleh digugat. ​Banyak orang di luar sana, terutama dari kelompok religius tertentu, masih terjebak dalam ilusi sejarah yang akut. Mereka memuja sebuah negara di Timur Tengah secara membabi buta karena mengira negara yang baru lahir pada tahun 1948 itu adalah kelanjutan langsung dari Bani Israel tiga ribu tahun lalu. Padahal, jika kita mengupas lapisan demi lapisan sejarahnya, yang kita temukan bukanlah petunjuk langit, melainkan strategi aneksasi dan  branding politik tingkat tinggi yang licin dan manipulatif. ​F...

Memahami Perbedaan Beragama di Tengah Riuh Linimasa

Gambar
 Oleh : Temu Sutrisno ​Hingga sepekan setelah Idulfitri berlalu, jagat media sosial Indonesia masih saja riuh. Topik yang digoreng tetap sama, perbedaan penentuan hari raya. Fenomena ini menarik sekaligus memprihatinkan. Tiba-tiba saja, linimasa kita dibanjiri oleh "ahli-ahli" dadakan yang muncul tanpa latar belakang keahlian yang jelas. Dengan nada penuh selidik, dan terkadang jauh dari semangat husnuzan , mereka menghakimi perbedaan sebagai bentuk "kebodohan" atau kegagalan otoritas. Seolah-olah, mereka adalah pemegang kunci kebenaran ilmu falak, astronomi, sekaligus otoritas fikih yang paling sahih. ​Padahal, dalam bentang sejarah keagamaan Islam di Indonesia, perbedaan penentuan awal Ramadan maupun Idulfitri bukanlah barang baru. Fenomena ini adalah hal wajar yang telah berjalan selama ratusan tahun. Lantas, muncul pertanyaan retoris, kenapa sekarang menjadi begitu ribut? Apakah ada agenda setting sistematis yang sengaja disusupkan untuk merusak kerukunan ban...

Memaknai Minal Aidin Walfaizin

Gambar
Oleh : Temu Sutrisno ​Di Indonesia, gema Idulfitri identik dengan satu kalimat yang nyaris menjadi "lagu wajib" saat bersalaman,  Minal Aidin Walfaizin . Kalimat ini tertulis di kartu ucapan, terpampang di spanduk, baliho, hingga menjadi pembuka pesan singkat di media sosial.  Namun, ada sebuah fenomena linguistik yang unik di tanah air kita. Banyak orang mengira bahwa arti dari kalimat tersebut adalah "Mohon maaf lahir dan batin". Secara harfiah, pemahaman itu kurang tepat, meski secara sosiologis, penempatan doa tersebut dalam momentum saling memaafkan adalah hal yang sangat indah. ​Secara etimologi, Minal Aidin Walfaizin merupakan potongan dari doa yang lebih panjang, yakni Ja'alanallahu minal aidin wal faizin yang a rtinya "Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali (kepada fitrah) dan orang-orang yang meraih kemenangan." Memahami makna ini sangat penting agar ucapan yang kita lontarkan tidak sekadar menjadi formalitas lisan...