Postingan

Hantu itu Bernama Desil

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Bagi sebagian besar masyarakat miskin di negeri ini, ancaman terbesar terhadap kelangsungan hidup mereka hari ini tidak lagi semata berwujud lonjakan harga bahan pokok atau bayang-bayang inflasi. Tetapi sebuah instrumen statistik abstrak yang bernama desil. Sebuah skema pemeringkatan kesejahteraan yang mulanya dirancang untuk memastikan keadilan distribusi bantuan, dalam praktiknya justru menjelma menjadi jurang birokrasi yang menakutkan. Di tingkat akar rumput, pergeseran angka desil dari kelompok terbawah ke strata yang lebih tinggi kerap berlaku seperti ketukan palu hakim, yang mencabut hak-hak dasar warga negara tanpa proses pengujian yang adil. Desil menjadi "hantu" yang membayangi dan menakutkan bagi masyarakat pra-sejahtera. Kasus yang menimpa pasangan lansia Mbah Dayat (77) dan Mbah Darmi (63), warga Dukuh Kayunan Barat, Desa Kayugeritan, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menjadi cermin paling telanjang dari paradoks tersebut. Pasangan ini h...

Sindrom Raja Midas

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   I Di atas tanah yang memar oleh jejak sepatu, sebuah adagium lama kembali mengeja diri: Salus populi suprema lex esto. Dua ribu tahun lalu, Cicero telah membisikkan hukum itu dari podium Roma, menautkan keselamatan rakyat sebagai tampuk tertinggi kemuliaan. Namun di sini, di bawah terik matahari Republik, suara rakyat kerap menjelma riak yang hendak diredam. Investasi datang mengetuk pintu-pintu desa, membawa janji kesejahteraan yang dikemas angka-angka. Tapi tak ada investasi senilai nyawa, tak boleh ada derap pembangunan yang didirikan di atas makam air mata. Ketika perbedaan pendapat dijawab desing peluru dan kepulan asap, demokrasi tertunduk, meratapi musyawarah yang terlipat rapi dalam sejarah.   II Pemerintah dan para saudagar berdiri di atas podium yang sama, menakar kemakmuran hanya dari kilau tambang dan tumpukan rupiah. Mereka lupa, kesejahteraan bukan sekadar penguasaan atas tanah dan sungai, bukan sekada...

64 Tahun Mercusuar Memandu Arah Sulawesi Tengah

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Tidak banyak media lokal mampu bertahan di tengah disrupsi digital. Apalagi jika mengusung platform cetak. Tapi tidak dengan Mercusuar. Di belantara media online, Mercusuar mampu bertahan dan tampil mencerdaskan, memandu arah, dan mewarnai sejarah Sulawesi Tengah. Hukum sejarah seperti ingin menegaskan, bahwa Mercusuar bukan saja mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Namun Mercusuar juga seperti mutiara, semakin dalam samudera semakin mahal nilainya. Semakin berumur, semakin dicari para kolektor. Dan tentu saja, membuat penasaran generasi terkini. Jejak Sejarah dan Ruang Diplomasi Mercusuar tidak bisa dilepaskan dari perjuangan pembentukan Sulawesi Tengah sebagai provinsi, yang merupakan bagian penting dari dinamika politik Indonesia pascakemerdekaan. Pada masa itu, wilayah Sulawesi Tengah masih berada dalam struktur administratif yang bergabung dengan Sulawesi Utara. Kondisi ini melahirkan ketimpangan pembangunan serta keterbatasan representasi po...

Menambang Sejahtera Beroleh Bencana

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno   Sulawesi Tengah kini berada di persimpangan jalan yang genting. Di satu sisi, wilayah ini dielu-elukan sebagai episentrum baru pertumbuhan ekonomi nasional berkat cadangan nikel dan emas yang melimpah. Investasi raksasa mengalir deras, memacu pembangunan kawasan industri smelter masif yang menjanjikan kesejahteraan instan. Namun, di balik angka statistik pertumbuhan yang fantastis, terdapat realitas kelam yang harus dibayar mahal oleh masyarakat lokal. Jargon "sejahtera" yang digaungkan terbukti kontradiktif dengan kerusakan bentang alam yang masif. Eksploitasi hutan secara brutal untuk konsesi nikel serta maraknya Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) telah merobek daya dukung lingkungan. Sulawesi Tengah kini rutin memanen rentetan bencana hidrometeorologi kedaruratan tinggi, mulai dari banjir bandang merusak hingga tanah longsor yang berulang kali merenggut nyawa. Karpet Merah Pemicu Bencana Hilirisasi industri nikel memerlukan ruang daratan yang luas ...

Hamba Allah di Konferensi HMI

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Pada Konferensi HMI Cabang Palu tahun 2000, ada yang unik dari forum laporan pertanggungjawaban pengurus periode 1999-2000. Setelah Ketua Umum Sudirman Zuhdi membacakan pengantar pertanggungjawaban, giliran saya selaku Sekretaris Umum meneruskan laporan secara detail program dan kegiatan. Sampai di sini, konferensi yang dilaksanakan di Aula Ali Bungasawa Kampus Lama Untad Jl. Setiabudi masih adem. Tiba-tiba saat laporan keuangan dibacakan Bendahara Umum Bun Yamin, situasi berubah. Iqbal dari Komisariat Pertanian Untad protes. Dalam laporan, terlalu banyak tertulis sumber dana organisasi dari "Hamba Allah". Protes Iqbal diperkuat Taufik Bidullah dari Komisariat Ekonomi dan Arman Salimin dari FKIP.  Menurut saya, protes dan pertanyaan itu wajar dalam konteks berorganisasi. Tidak ada yang keliru. Selain alasan transparansi, sikap kritis itu bagian dari kecintaan pada HMI. Sudirman Zuhdi menatap Bun Yamin sambil tersenyum. Bun Yamin yang pendiam namun teliti d...

Tambang, Bencana Ekologis, dan Kesejahteraan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Di atas kertas, Sulawesi Tengah adalah salah satu contoh sukses ruang sidang ekonomi modern. Ketika perekonomian global merambat pelan, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah melonjak fantastis. Bahkan pernah menyentuh 15,17 persen pada 2022 dan konsisten bertahan jauh di atas rata-rata nasional. Angka kemiskinan perlahan berhasil ditekan hingga menyentuh 10,52 persen pada akhir 2025, sementara Indeks Gini bergerak turun melandai ke angka 0,277. Secara matematis, kue pertumbuhan dari deru mesin hilirisasi nikel di Morowali hingga kawasan ekstraksi lainnya tampak perlahan terdistribusi. Namun, realitas yang dihirup warga di lingkar tambang kerap menghadirkan narasi yang bertolak belakang. Di balik capaian makroekonomi yang berkilau, terhampar jejak luka ekologis yang kian menganga. Eksploitasi sumber daya alam skala raksasa menghadirkan paradoks klasik pembangunan ekstraktif: pertumbuhan ekonomi yang tinggi berkejaran dengan kerentanan lingkungan yang makin mempriha...

Jurnalisme Profetik dan Tantangan Era Digital

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Dalam lanskap sejarah peradaban, fungsi warta selalu memegang posisi sentral. Jika ditarik benang merah secara mendalam, peran seorang wartawan sesungguhnya memiliki garis artikulasi yang beririsan dengan tugas kenabian. Keduanya adalah pembawa berita ( bearer of news ), penyambung lidah atas fakta, dan pengabarkan kebenaran kepada khalayak luas. Perbedaannya terletak pada basis ontologis sumber informasi. Risalah kenabian bersumber mutlak dari wahyu Ilahi, sedangkan karya jurnalistik bersumber dari penelusuran fakta melalui kerja-kerja liputan empiris di lapangan. Namun, esensi moral yang mengikat keduanya berada dalam frekuensi yang sama. Dalam tradisi keislaman, idealisme kepemimpinan dan penyampaian pesan kenabian ditopang oleh empat pilar utama, yakni Siddiq (jujur/benar), Amanah (dapat dipercaya/bertanggung jawab), Tabligh (menyampaikan tanpa mengurangi atau menambah), dan Fathanah (cerdas/bijaksana). Jika ditransformasikan ke dalam ruang redaksi, empat si...