Postingan

Membasuh Jiwa dengan Istighfar

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Matahari sore menyisakan rona membara di ufuk barat, memantulkan hangat yang pekat di sou-sou milik Om Uly. Usai melangkahkan kaki dari masjid di lorong sebelah selepas Asar, Tonakodi duduk bersila di bale-bale bambu. Di sampingnya, Om Uchen sedang sibuk mengibas-ibaskan tangan mengusir hawa panas, sementara Ami duduk rapi mengamati pergerakan angin sembari membuka gawai. "Panasnya sore ini seperti rindu yang terlambat sampai," seloroh Om Uchen sambil terkekeh pelan. Om Uly keluar dari pintu belakang memboyong baki. Senyum hangatnya mekar. Nampan itu berisi cangkir-cangkir teh dan kopi panas, lengkap dengan sepiring pisang goreng yang masih mengepul, bersanding anggun bersama semangkuk dabu-dabu pedas minyak kampung. "Seruput dulu, Uchen. Supaya rindumu itu tidak bikin haus," balas Om Uly ramah, menyodorkan cangkir-cangkir tersebut. Baru saja Ami hendak meraih pisang goreng, langkah kaki tergesa terdengar dari arah gerbang. Tiga anak muda—Ryan, ...

Nikel Tak Bertuan? Hil yang Mustahal

Gambar
  Satu juta metrik ton nikel tentu bukan barang siluman, apalagi milik subjek hukum bernama hantu yang mustahil ditangkap dan dibuktikan secara materiil. Nikel semasif itu sanggup meratakan satu hingga dua bukit. Sungguh menggelitik logika jika material sebesar gunung itu mendadak hadir di ruang hampa tanpa diketahui siapa pemiliknya, bagaimana rantai pengolahannya, atau alat berat mana yang menggaruknya dari perut bumi. Mengutip celotehan almarhum Asmuni Srimulat, ini jelas "hil yang mustahal". Aneh bin Lucu bin Mustahil. Tiba-tiba jadi barang temuan. Jelas tidak masuk akal. Pengungkapan keberadaan satu juta metrik ton nikel tanpa pemilik di Sulawesi Tengah oleh Badan Pemulihan Aset (BPA) Kejaksaan Agung membenturkan kita pada dua realitas ekstrem. Di satu sisi, ada efektivitas yang patut diapresiasi dari aparat penegak hukum dalam menyelamatkan potensi kerugian negara. Namun di sisi lain, temuan fantastis ini memancarkan sinyal merah mengenai masih bolongnya tata kelola ser...

Tuntaskan! Jangan Berhenti pada Lelang

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Pengungkapan keberadaan satu juta metrik ton nikel tanpa pemilik di Sulawesi Tengah oleh Badan Pemulihan Aset (BPA) Kejaksaan Agung, membuka mata kita pada dua realitas sekaligus. Di satu sisi, ada efektivitas yang patut diapresiasi dari aparat penegak hukum dalam menyelamatkan potensi kerugian negara. Di sisi lain, temuan fantastis ini memancarkan sinyal mengkhawatirkan tentang masih longgarnya tata kelola serta pengawasan industri ekstraktif di tanah air. Dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR RI, Selasa (8/9/2026), Kepala BPA Patris Yusrian Jaya menyampaikan bahwa komoditas berharga tersebut tengah diproses melalui pengadilan, agar ditetapkan sebagai barang temuan sebelum akhirnya dilelang untuk kas negara. Langkah ini melengkapi rekam jejak BPA yang dalam tiga tahun terakhir mencatatkan penyetoran Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 26,04 triliun dari hasil pemulihan puluhan ribu aset. Secara keuangan negara, mekanisme lelang jelas memberikan ...

KLS Merajut Kasih: Jejak Kemanusiaan di Balik Ekonomi Hijau

Gambar
  Pagi itu di pedalaman Toili, matahari baru saja mengintip di balik pucuk-pucuk pohon kelapa sawit yang basah oleh embun. Suara truk pengangkut buah sesekali memecah keheningan, menandakan roda ekonomi sebuah daerah sedang berputar. Di tanah Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, hamparan hijau kebun sawit bukan sekadar pemandangan alam, melainkan urat nadi kehidupan bagi ribuan kepala keluarga.  Di pusat pusaran ekonomi agroindustri inilah, PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS) berdiri kokoh.Namun, korporasi ini tidak ingin dikenal hanya lewat angka-angka produksi Crude Palm Oil (CPO) atau tonase Tandan Buah Segar (TBS) yang melimpah. Lebih dari sekadar mengejar profitabilitas bisnis, perusahaan yang dirintis oleh tokoh legendaris pengusaha nasional asal Banggai, (Alm.) H. Murad Husain, telah menanamkan sebuah filosofi mendalam, bahwa keberadaan sebuah perusahaan harus menjadi berkah bagi tanah tempatnya berpijak.Melalui estafet kepemimpinan yang kini dilanjutkan oleh putrinya, Hj. Suli...

PHPU Denny Indrayana: Terobosan Hukum atau Ketidakpastian Hukum?

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih sejatinya merupakan titik kulminasi dari seluruh rangkaian pesta demokrasi. Secara teoritis, momen seremonial tersebut menandai berakhirnya kompetisi politik dan dimulainya masa kerja pemerintahan yang baru. Namun, dinamika ketatanegaraan Indonesia pasca-Pilpres terus melahirkan anomali yang menguji batas-batas konstitusi kita. Langkah hukum yang diambil oleh Denny Indrayana dan koleganya baru-baru ini , dengan mendaftarkan gugatan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) ke Mahkamah Konstitusi (MK) jauh setelah pelantikan usai , kembali memantik perdebatan sengit. Apakah langkah ini sebuah ikhtiar mengejar keadilan substantif melalui terobosan hukum ( constitutional breakthrough ), atau sekadar manifestasi dari gerakan politik kepentingan? Untuk membedah fenomena ini, kita harus melihat kembali lanskap hukum formil yang berlaku. Dalam bangunan hukum Pemilu kita, pembatasan waktu adalah harga mati demi kepastian ...

Hantu itu Bernama Desil

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Bagi sebagian besar masyarakat miskin di negeri ini, ancaman terbesar terhadap kelangsungan hidup mereka hari ini tidak lagi semata berwujud lonjakan harga bahan pokok atau bayang-bayang inflasi. Tetapi sebuah instrumen statistik abstrak yang bernama desil. Sebuah skema pemeringkatan kesejahteraan yang mulanya dirancang untuk memastikan keadilan distribusi bantuan, dalam praktiknya justru menjelma menjadi jurang birokrasi yang menakutkan. Di tingkat akar rumput, pergeseran angka desil dari kelompok terbawah ke strata yang lebih tinggi kerap berlaku seperti ketukan palu hakim, yang mencabut hak-hak dasar warga negara tanpa proses pengujian yang adil. Desil menjadi "hantu" yang membayangi dan menakutkan bagi masyarakat pra-sejahtera. Kasus yang menimpa pasangan lansia Mbah Dayat (77) dan Mbah Darmi (63), warga Dukuh Kayunan Barat, Desa Kayugeritan, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menjadi cermin paling telanjang dari paradoks tersebut. Pasangan ini h...

Sindrom Raja Midas

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   I Di atas tanah yang memar oleh jejak sepatu, sebuah adagium lama kembali mengeja diri: Salus populi suprema lex esto. Dua ribu tahun lalu, Cicero telah membisikkan hukum itu dari podium Roma, menautkan keselamatan rakyat sebagai tampuk tertinggi kemuliaan. Namun di sini, di bawah terik matahari Republik, suara rakyat kerap menjelma riak yang hendak diredam. Investasi datang mengetuk pintu-pintu desa, membawa janji kesejahteraan yang dikemas angka-angka. Tapi tak ada investasi senilai nyawa, tak boleh ada derap pembangunan yang didirikan di atas makam air mata. Ketika perbedaan pendapat dijawab desing peluru dan kepulan asap, demokrasi tertunduk, meratapi musyawarah yang terlipat rapi dalam sejarah.   II Pemerintah dan para saudagar berdiri di atas podium yang sama, menakar kemakmuran hanya dari kilau tambang dan tumpukan rupiah. Mereka lupa, kesejahteraan bukan sekadar penguasaan atas tanah dan sungai, bukan sekada...