Puasa Digital: Bebas dari Budak Notifikasi
Oleh: Temu Sutrisno Bulan Ramadan sering kali kita maknai sebagai madrasah spiritual. Di dalamnya, kita dilatih untuk menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, di era transformasi digital yang begitu masif, tantangan ibadah puasa tidak lagi sekadar urusan perut dan tenggorokan. Ada medan tempur baru yang jauh lebih sulit dikendalikan karena berada dalam genggaman tangan kita setiap saat: layar ponsel. Puasa pada hakikatnya adalah imsak, yang berarti menahan diri. Jika dulu musuh utama dalam menahan diri adalah aroma makanan yang menggoda atau emosi yang meledak di dunia nyata, kini musuh itu bertransformasi menjadi barisan kalimat provokatif di kolom komentar dan banjir informasi negatif yang tak berkesudahan. Menata hati di bulan Ramadan kini berarti juga menata jari dalam memanfaatkan teknologi digital. Perisai di Balik Layar Di tengah riuhnya interaksi digital, kita sering menjumpai fenomena yang dikenal sebagai keyboard warriors atau pendekar pa...