Ketika Kebencian Mengalahkan Keahlian
Oleh: Temu Sutrisno D i era ketika setiap orang dapat menjadi penyiar, penulis, analis, bahkan pakar dalam sekejap. Kita menyaksikan gejala yang mengkhawatirkan, kebencian yang dibungkus dengan keahlian. Kebencian tidak lagi hadir dalam bentuk teriakan kasar atau makian vulgar. Namun tampil rapi, sistematis, dengan bahasa yang terukur dan diksi yang terdengar ilmiah. Di permukaan, tampak seperti kritik yang sah atau analisis yang tajam. Namun di dalamnya, bersemayam dendam, amarah, dan prasangka. Fenomena ini terasa mengemuka dalam dua tahun terakhir. Jika sebelumnya kepakaran perlahan tergerus oleh disrupsi informasi digital—ketika opini pribadi kerap diperlakukan setara dengan riset akademik—kini wajah kepakaran bahkan melantai di dasar intelektualitas karena kebencian. Gelar akademik, pengalaman profesional, atau reputasi publik dijadikan tameng untuk menyampaikan narasi yang sesungguhnya didorong oleh kekecewaan, ambisi yang gagal, atau keberpihakan politik yang tak lagi tersalurka...