Menanam Bunga Bangkai
Oleh: Temu Sutrisno Rabu sore, udara Palu pelan-pelan mendingin setelah sepanjang siang matahari membakar bumi. Angin tipis berembus santun, mengantarkan Tonakodi dan Om Uchen menyusuri teras rumah Om Uly. Langkah Om Uchen agak tertatih; lututnya belum pulih benar akibat kecelakaan tunggal tempo hari. Namun, senyum dan kelakar tak pernah absen dari wajahnya. "Sakit lutut ketemu sakit kaki, ini namanya reuni tulang rapuh, Kopi!" bisik Om Uchen sambil terkekeh pelan. Tonakodi hanya tersenyum tipis, menepuk bahu sahabatnya itu dengan kelembutan yang menenangkan. Di dalam, Om Uly duduk bersandar di kursi kayu dengan kaki kanan diganjal bantal, tampak bengkak dan memerah. Wajahnya yang biasanya teduh menyimpan sisa rasa nyeri, namun matanya tetap memancarkan keramahan dan kehangatan yang luar biasa saat menyambut kedatangan mereka. Di ruangan itu, ternyata sudah ada Ami, seorang pemuda santun nan kritis, serta Ryan, remaja Gen Z yang selalu ingin tahu. "Ehh, mari masuk, mari...