Korban Perasaan
Oleh: Temu Sutrisno Sore habis salat ashar, langit di ujung jembatan memerah seperti bara yang ditaburi abu. Angin dari sungai berembus pelan, menggoyang spanduk kopi sachet yang tergantung miring di emperan warung bundaran. Di sana, seperti biasa, beberapa lelaki duduk melingkar di bangku kayu panjang sambil menikmati kopi hitam dan pisang goreng yang mulai mengkerut kedinginan. Om Uchen paling ribut sore itu. Tawanya pecah bahkan sebelum ceritanya selesai. “Sekarang ini,” katanya sambil menyeruput kopi, “orang belum tentu kurban sapi, tapi sudah duluan jadi korban perasaan.” Ryan terkekeh. Ia yang paling muda setelah Ami selalu senang memancing suasana. “Salah sedikit di media sosial, langsung ngamuk. Padahal sapi belum disembelih, hati sudah berdarah-darah.” Ami tersenyum tipis. Anak muda itu duduk paling pinggir sambil memainkan gawainya. “Biasanya yang ribut memang lawan politik,” katanya hati-hati. “Atau mereka yang tidak kebagian momentum.” Om Uly langsung menyambar. “Atau...