Postingan

Cermin Hudaibiyah; Damai di Atas Konfrontasi

Gambar
​Oleh: Temu Sutrisno ​Dalam hiruk-pikuk sejarah peradaban manusia, perang sering kali dianggap sebagai jalan pintas untuk menunjukkan dominasi. Namun, sejarah Islam mencatat sebuah paradoks yang indah, bahwa kekuatan sejati justru terletak pada kemampuan untuk menahan diri dan memilih jalan damai.  Sebuah adagium klasik mengatakan bahwa damai jauh lebih baik daripada perang. Apapun level perdamaian itu, tetap memiliki nilai intrinsik yang lebih tinggi daripada konflik yang menghancurkan. ​Secara teologis dan linguistik, Islam adalah agama yang mengakar pada kedamaian. Islam memanifestasikan dirinya sebagai penyerahan diri pada Tuhan yang membawa keselamatan, perdamaian, dan kesejahteraan sosial. Inti dari ajaran ini bukanlah penaklukan fisik, melainkan penaklukan hati melalui tatanan sosial yang harmonis. ​Salah satu fragmen paling krusial dalam sejarah Islam adalah Perjanjian Hudaibiyah (6 H/628 M). Peristiwa ini adalah contoh brilian dari visi strategis Rasulullah SAW yang mendah...

Menguji "Socrates" di Ruang Sidang; Antara Marwah Ahli dan Beban Pembuktian

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Gambar: The Writers ​Ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Surakarta baru-baru ini menyuguhkan drama intelektual yang unik. Dalam persidangan perkara Citizen Lawsuit (CLS), publik tidak hanya disuguhi adu argumen hukum, tetapi juga sebuah klaim eksistensial yang melampaui batas-batas akademis konvensional. ​Ketika kapasitasnya dipertanyakan oleh pihak Universitas Gadjah Mada (UGM) terkait absennya rekam jejak jurnal ilmiah, dr. Tifauzia Tyassuma, melontarkan pernyataan yang memantik diskusi panjang. Ia merasa tak butuh deretan jurnal secara administratif-akademis karena menganggap kapasitas intelektualnya setara dengan Socrates dan Plato. ​Di titik ini, kita perlu bertanya. Apakah ruang sidang adalah panggung diskursus filsafat tanpa batas, ataukah laboratorium hukum yang menuntut ketelitian dan pembuktian empiris? Tanpa mengurangi rasa hormat pada semua pihak dan/atau bermaksud menyerang pihak mana pun, izinkan saya turut berdiskusi melalui tulisan pendek ini.  S...

Momentum Detoksifikasi Nasional

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​Marhaban ya Ramadan 1447 Hijriah. Bulan suci yang penuh rahmat kembali menyapa umat Islam di seluruh penjuru Tanah Air. Di balik ritus tahunan yang penuh gempita ini, terselip harapan kolektif agar ibadah dapat dijalankan dengan kekhusyukan dan kedamaian. Namun, menatap realitas tahun 2026, gerbang Ramadan kali ini tidaklah sunyi dari tantangan. Masyarakat kita tengah berdiri di persimpangan, antara kerinduan spiritual yang mendalam dan beban ekonomi yang kian menghimpit. ​Secara filosofis, puasa adalah proses detoksifikasi, pembersihan racun dari dalam tubuh dan jiwa, atau penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Namun, dalam konteks bernegara, Ramadan seharusnya naik kelas menjadi momentum detoksifikasi nasional. Kita membutuhkan pembersihan besar-besaran, bukan hanya dari residu kolesterol, melainkan dari "racun-racun" kultural dan struktural yang selama ini menghambat kemajuan bangsa. ​ Penyakit Kronis Korupsi ​Salah satu penyakit kronis yang paling melukai ...

Kita Bukan Mahkluk Pra-sejarah: Ayo Menulis!

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​Dalam berbagai kesempatan mengisi pelatihan jurnalistik maupun saat menjadi dosen tamu, satu pesan yang tak pernah absen saya sampaikan kepada para peserta adalah, beranilah menulis! Tulislah ide, gagasan, atau sekadar serpihan fakta dan bacaan yang Anda ketahui. Pesan ini terdengar sederhana, namun di baliknya tersimpan urgensi eksistensial bagi kita sebagai manusia modern. ​Alasan pertama mengapa saya selalu mendorong setiap orang untuk menulis adalah demi menjaga status kita sebagai makhluk sejarah. Dalam literatur antropologi, pembeda utama antara era sejarah dan pra-sejarah adalah tulisan. Sebelum manusia mengenal tulisan, jejak pemikiran mereka hilang ditelan zaman, hanya menyisakan artefak fisik yang bisu. ​Saya meyakini bahwa setiap peserta pelatihan atau mahasiswa adalah makhluk sejarah. Kita bukan lagi manusia gua yang hanya meninggalkan cap tangan di dinding batu. Kita adalah manusia yang memiliki pikiran kompleks, visi, dan argumentasi. Jika kita tidak ...

Semangat RJ dalam Kode Etik Advokat Indonesia

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​Dalam diskursus hukum modern di Indonesia, Restorative Justice (RJ) atau keadilan restoratif bukan lagi sekadar alternatif, melainkan telah menjadi paradigma utama dalam transformasi sistem peradilan pidana maupun perdata. Paradigma ini bergeser dari pendekatan retributif (pembalasan) menuju pemulihan keadaan semula. RJ sejalan dengan hukum yang progresif, di mana penegakan hukum harus mempertimbangkan kemanfaatan dan kebahagiaan sosial, bukan sekadar penerapan kaku peraturan perundang-undangan. RJ sejatinya berakar pada nilai-nilai musyawarah, empati, dan pendekatan kemanusiaan (humanistik). Namun demikian, keberhasilan RJ bergantung pada partisipasi sukarela dari para pihak (korban dan pelaku) untuk berdialog.  Menariknya, jauh sebelum istilah RJ populer di berbagai peraturan teknis lembaga penegak hukum, semangat ini sebenarnya telah berakar kuat dalam Kode Etik Advokat Indonesia (KEAI) dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat. ​Profesi advoka...

Perbedaan yang Menyejukkan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Langit di ufuk timur masih menyisakan rona jingga tipis yang malu-malu. Sisa embun subuh menggelayut di pucuk-pucuk daun angsana di halaman masjid. Di teras samping yang beralaskan ubin sejuk, Tonakodi duduk bersila, menyandarkan punggungnya pada tiang beton yang kokoh. Di sampingnya, Om Uchen sedang sibuk membetulkan letak sarung samarnya, sementara Om Uly menyelonjorkan kaki sambil sesekali memijat betisnya sendiri. ​Suasana tenang. Hanya ada suara sapu lidi marbot yang menyapu halaman dan deru pelan kendaraan yang mulai melintas di kejauhan. ​"Tadi itu, kalau dipikir-pikir, hebat ya kita," buka Om Uly sambil tersenyum menampakkan deretan giginya yang masih utuh dan putih. "Ibadahnya sama, Tuhannya sama, tapi kalau sudah urusan hilal, kok ya bisa kayak nonton pertandingan bola yang wasitnya ada dua." ​Om Uchen terkekeh, suara tawa seraknya memecah kesunyian. "Ah, kau ini, Uly. Jangan disamakan dengan bola. Kalau bola kan ada VAR, nah ka...

Ramadan: Menipiskan Hijab, Menemukan Melodi Ilahi

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​Ramadan bukan sekadar perpindahan jam makan atau menahan dahaga di bawah terik matahari. Bagi jiwa yang rindu, Ramadan adalah sebuah perjalanan pulang. Ramadan adalah undangan khusus dari Sang Khalik agar makhluk-Nya menanggalkan sejenak "pakaian dunia" yang berat dan kumal, untuk kemudian masuk ke dalam ruang sunyi di mana hanya ada hamba dan Tuhannya. ​Di dalam tradisi sufistik, Ramadan dipandang sebagai proses menipiskan hijab (penghalang). Selama ini, hijab yang menghalangi kita melihat "Wajah" Allah bukanlah jarak yang jauh, melainkan tebalnya ego, tumpukan nafsu, dan keterikatan kita pada selain-Nya. Ramadan hadir untuk mengikis itu semua. ​Maulana Rumi sering menggambarkan manusia sebagai sebuah seruling bambu. Agar seruling dapat mengeluarkan nada yang indah dan menyentuh sukma, bagian dalamnya harus kosong. Jika seruling itu penuh dengan tanah atau sumbatan, ia hanya akan menjadi sepotong kayu yang bisu. ​Begitu pula dengan diri kita. P...