Postingan

Menjinakkan Bom Waktu di Rahim Poboya

Gambar
Gambar: Ilustrasi ​MERCUSUAR-Kota Palu sedang mempertaruhkan masa depannya di atas tumpukan material emas yang berbalut racun. Kawasan Poboya hingga Vatutela, yang seharusnya menjadi benteng ekologis bagi ibu kota Sulawesi Tengah ini, kini telah berubah menjadi episentrum ancaman Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Jika tidak segera ditangani dengan keberanian politik dan ketegasan hukum, aktivitas pertambangan emas di sana, baik yang berizin apalagi yang ilegal (PETI), akan menjadi warisan maut bagi generasi mendatang. ​Kita tidak bisa lagi menutup mata terhadap kenyataan bahwa penggunaan merkuri (Hg) dan sianida (CN) dalam proses pengolahan emas telah melampaui ambang batas kewajaran. Penggunaan zat kimia ini dalam metode perendaman terbuka adalah praktik yang tidak hanya merusak alam, tetapi juga merupakan bentuk agresi terhadap kesehatan publik. ​Merkuri adalah racun yang licin dan persisten. Ia tidak hilang begitu saja; ia masuk ke dalam pori-pori tanah, menguap ke udara yang kita h...

Pitutur Luhur: Ngelmu Iku Kanthi Laku

Gambar
Oleh : Temu Sutrisno , W akil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah ​Di era modern yang serba instan ini, manusia sering kali terjebak dalam budaya "jalan pintas". Keinginan untuk meraih kesuksesan, kekayaan, hingga kecerdasan intelektual sering kali dilakukan tanpa memedulikan proses. Padahal, kearifan lokal masyarakat Jawa telah lama mengingatkan kita melalui sebuah bait Macapat Pucung yang monumental dalam serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV. ​Kalimat tersebut berbunyi: Ngelmu iku kalakone kanthi laku . Sebuah pesan singkat namun mendalam, yang menjadi pengingat bahwa ilmu sejati bukanlah sekadar tumpukan teori di kepala, melainkan buah dari tindakan dan olah batin yang konsisten. ​Secara harfiah, ngelmu berasal dari bahasa Arab ‘ilm , namun dalam filosofi Jawa, ia sering diartikan sebagai ngangel-angele ketemu (sulit mencarinya). Hal ini mengisyaratkan bahwa ilmu tidak datang seperti hujan jatuh dari langit, melainkan harus diusahakan de...

Pitutur Luhur: Ati-ati Lathi Isa Gawe Laraning Ati

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno, Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo ​Dalam khazanah kearifan masyarakat Jawa, kata-kata bukanlah sekadar bunyi yang keluar dari rongga mulut. Ia adalah representasi dari kedalaman jiwa, cerminan watak, sekaligus penentu martabat seseorang. Salah satu pusaka nilai yang tetap relevan melintasi zaman adalah pitutur luhur: Ati-ati lathi isa gawe laraning ati . ​Secara harfiah, pitutur ini mengingatkan kita untuk berhati-hati dengan lidah ( lathi ), karena lidah memiliki kekuatan luar biasa untuk melukai perasaan ( ati ) orang lain. Di balik kesederhanaan kalimatnya, tersimpan filosofi mendalam tentang etika berkomunikasi, pengendalian diri, dan tanggung jawab sosial yang kini mulai terkikis oleh riuhnya jagat digital. ​ Lathi: Pedang Tanpa Bilah ​Masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi konsep “ Ajining diri ana ing lathi ” (Harga diri seseorang terletak pada lidahnya atau ucapannya). Dalam perspektif ini, ucapan adalah tolok ukur utama kualitas kemanusiaan...

Pitutur Luhur: Anak Polah Bapa Kepradhah

Gambar
 Oleh : Temu Sutrisno,  Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah ​Kasih sayang orang tua adalah manifestasi cinta yang paling murni di dunia. Dalam falsafah Jawa, kasih tersebut sering digambarkan bagaikan samudera yang tak bertepi atau sinar mentari yang tak pernah lelah menembus pekatnya awan. Ia ada tanpa diminta, dan bertahan tanpa syarat. Namun, dalam perjalanan hidup manusia, dinamika antara orang tua dan anak seringkali menjadi ujian moral yang berat. ​Leluhur masyarakat Jawa telah merangkum kebijaksanaan hidup ini ke dalam rangkaian pitutur luhur. Sebuah   nasihat bijak yang tetap relevan melintasi zaman, ruang, dan status sosial. Melalui pitutur luhur, kita diajak merenung tentang tanggung jawab, kehormatan, dan hutang budi yang tak akan pernah lunas. ​Nasihat pertama yang sering kita dengar adalah Abot telak karo anak . Secara harfiah, "telak" merujuk pada kerongkongan atau urusan perut (kebutuhan dasar). Maknanya sangat dalam: seorang ...

Pitutur Luhur: Aja Seneng Gawe Wirang

Gambar
​Oleh: Temu Sutrisno , Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah ​ Di era jari seringkali bergerak lebih cepat daripada nurani, wajah kebudayaan kita tengah mengalami pergeseran yang cukup mencemaskan. Layar gawai yang semula diciptakan untuk mendekatkan yang jauh, kini tak jarang menjadi panggung terbuka untuk menghakimi, memfitnah, hingga menelanjangi privasi sesama. Fenomena perundungan siber ( cyberbullying)  , penghakiman massal ( cancel culture ), hingga aksi membongkar data pribadi ( doxing( seolah menjadi menu harian dalam jagat digital kita. Dalam riuhnya keriuhan virtual tersebut, kita seakan lupa pada sebuah rem pakem dari kearifan bangsa yang telah diwariskan turun-temurun, aja seneng gawe wirang. ​Secara harfiah, aja seneng gawe wirang berarti "jangan gemar membuat malu" atau "jangan senang mempermalukan orang lain". Dalam kosmos budaya Jawa, ajaran ini bukan sekadar etika pergaulan receh, melainkan pilar utama dalam menjaga ha...

Assalamu’alaika yaa Rasulallah

Gambar
 Oleh: Temu Sutrisno Assalamu’alaika yaa Rasulallah  A ssalamu’alaika yaa Nabiyallah   Assalamu’alaika yaa Aminallah   Assalâmu’alaika yaa Habiballah   Assalamu’alaika yaa Shafwatallah  Assalamu’alaika yaa khaira khalqillah  Yaa Rasulallah terima kasih atas kasih sayangmu Kami yang sering alpa Kami yang naik turun iman di dada Kami yang tak kunjung bertobat saat berdosa Engkau rangkul kami dalam doa Engkau janjikan syafaat saat perhitungan di akhirat tib a   Yaa Nabiyallah bagaimana kami menjawab kasih sayangmu Salawat salam kami seperti setitik debu di samudera pasir  yang tak terkira Sementara rahmatmu meliputi seluruh alam  semesta Bahkan melampaui waktu dan ruang yang pasti berakhi r Yaa Habiballah jika bukan karena senyum dan pelukanmu Jika bukan karena cintamu Sungguh, saat Yaumul Akhir tiba K ami merasa malu dan tidak pantas berdiri di barisanmu. ***

Gerimis kala Sahur Tiba

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​Lantunan wahyu merdu mendarat dari menara Mengetuk jiwa menghaluskan rasa Gerimis tipis membasuh dini hari, isyarat berkah tak terhingga Di pengujung Ramadan yang kian sunyi Saat roda ekonomi kian mencekik hari Saat dunia dibayang-bayangi bara perang abadi Di antara puing-puing keadilan yang terkoyak sepi Rintik sahur hadir menyeka hati ​Yaa Ilahi Apalagi yang luput dari syukur kami? Sahur sederhana ini adalah kemewahan yang tak lagi terperi Di bawah temaram bintang, di luasnya pelukan galaksi Kedamaian Ketenteraman Ketenangan Hanyalah mimpi bagi mereka yang dipaksa iri Mereka yang merindukan fajar tanpa dentum meriam Mereka yang dibutakan takhta dan ambisi kelam Mereka yang rakus merobek rahim alam Mereka yang menyangka kemewahan adalah puncak kesenangan Hingga lupa pada senyum tulus lepas dari tekanan ​Gerimis sahur, saat Ramadan mulai berkemas pamitan Membawa sejuk sarat dengan pengharapan Agar dunia kembali dalam dekap kedamaian Kusut benang keserakahan segera ...