Postingan

Konspirasi Jalur Juara di Piala Dunia, Mungkinkah?

Gambar
Banyak celotehan di media sosial bahwa negara tertentu telah "dipersiapkan" oleh FIFA untuk menjadi juara Piala Dunia. Teori konspirasi, dengan segala bumbu dramatisnya, kerap dijadikan landasan berpikir untuk menguatkan tuduhan tersebut. Bagi sebagian fans, konspirasi adalah cara paling mudah untuk menjelaskan kegagalan atau merasionalkan dominasi sebuah tim besar. Namun, secara objektif, mungkinkah undian yang dilakukan di panggung megah itu sebenarnya berbau konspirasi? Berikut sekadar coretan saya sebagai penikmat seni bersepak bola. Wajah Baru di Amerika Utara Piala Dunia 2026 sudah di depan mata. Turnamen akbar yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini dipastikan bakal menyajikan atmosfer yang jauh berbeda. Pasalnya, untuk pertama kali dalam sejarah, kompetisi ini diikuti oleh 48 negara kontestan. Keseruan ajang ini sebenarnya sudah dimulai sejak babak pengundian pot grup yang digelar di Washington D.C. lalu. Acara tersebut dipandu langsung oleh legenda s...

Menikmati Piala Dunia Tanpa Meninggalkan Merah Putih

Gambar
Layar kaca di pertengahan tahun 1986 adalah sebuah gerbang keajaiban. Bagi saya, di situlah segalanya bermula. Meksiko menjadi panggung di mana sepak bola menjelma lebih dari sekadar 22 orang mengejar bola kulit. Di sana ada Diego Maradona yang menari melewati barisan pemain Inggris, dan ada Michel Platini yang memimpin orkestra lini tengah Prancis dengan keanggunan seorang maestro. Sejak musim panas penuh magis itu, hingga episode Piala Dunia 2026, kompetisi empat tahunan ini tak pernah gagal menyita perhatian saya. ​Berikutnya, panggung sepak bola terus bergerak dinamis dan melahirkan talenta dunia yang silih berganti memukau kita.  Kita menyaksikan era Romario, Bebeto, Roberto Baggio, Alessandro Del Piero, Ruud Gullit, Marco van Basten, Lothar Matthäus, hingga sang mesin gol Gabriel Batistuta. Lalu giliran generasi Ronaldo Luis Nazario, Rivaldo, Ronaldinho, Davor Suker, Hakan Sukur, Ariel Ortega, Klinsmann, Klose, hingga playmaker flamboyan Juan Roman Riquelme yang mengambil ali...

Filosofi Penguasaan Bola Spanyol vs Ketajaman Vertikal Belgia

Gambar
Laga klasik penuh gengsi bakal tersaji di babak perempat final Piala Dunia 2026 saat dua kekuatan tradisional Benua Biru, Spanyol dan Belgia, bentrok di Stadion Los Angeles, Amerika Serikat. Pertandingan yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (11/7/2026) pukul 03.00 WITA ini bukan sekadar perebutan tiket semifinal, melainkan ujian pembuktian bagi kedua tim: mungkinkah lini serang eksplosif The Red Devils meruntuhkan tembok kokoh La Roja yang belum pernah bobol sepanjang turnamen? Bagi pencinta sepak bola di Tanah Air, jalannya laga sengit ini dapat disaksikan melalui siaran langsung TVRI Nasional dan TVRI Sport. Secara historis, rivalitas kedua negara di panggung Piala Dunia berada dalam posisi seimbang. Pertemuan pertama terjadi pada perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko, saat Belgia mendepak Spanyol lewat adu penalti setelah bermain imbang 1-1. Empat tahun berselang, giliran La Furia Roja membalas dengan kemenangan 2-1 pada fase grup Piala Dunia 1990 di Italia. Namun, jika mena...

Penilaian Tidak Adil untuk Messi dan Argentina

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno "Jangan karena kebencian pribadi atau fanatisme buta terhadap rivalitas tertentu, lantas kita berbuat tidak adil dan menutup mata terhadap keindahan sejarah sepak bola." Dunia sepak bola selalu melahirkan perdebatan, namun beberapa perdebatan terasa lahir dari rasa sinisme yang dipaksakan. Salah satunya adalah narasi miring yang terus diembuskan kepada megabintang Argentina, Lionel Messi. Ketika ia akhirnya berhasil menggapai puncak tertinggi dunia, alih-alih apresiasi mutlak, yang muncul justru riak-riak tuduhan miring. Legenda sepak bola Belanda, Marco van Basten, pernah dengan tegas mengungkapkan bahwa hanya orang yang tidak mengerti sepak bola yang bersikap negatif pada Messi. Bagi Van Basten, Messi adalah sebuah anugerah—tipe pemain genius yang tidak akan muncul dalam setiap lima puluh atau seratus tahun sekali dalam jagat sepak bola.  Nada pembelaan yang sama, meski dibalut dengan gaya yang berbeda, juga dikemukakan oleh Zlatan Ibrahimovic. Mantan bo...

Menata Hati di Ahad Pagi

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno  Ahad pagi bergulir dalam dekap cuaca yang agak mendung. Langit di atas kampung seperti kanvas abu-abu yang menahan rindu pada matahari. Udara dingin sisa hujan semalam masih menggelayut, memaksa orang-orang untuk meringkuk lebih lama di balik selimut. Namun tidak bagi Tonakodi dan Om Uly. Dengan langkah yang tenang dan cenderung santai, keduanya menyusuri lorong sepi menuju ke rumah Om Uchen. Kabar burung yang berembus kemarin sore membawa berita kurang mengenakkan: Om Uchen mengalami kecelakaan tunggal. Sepeda motor matik kesayangannya tergelincir saat ia hendak menghindari seekor kucing yang melintas mendadak. Akibatnya, kaki kanannya harus dibalut perban tebal karena terkilir dan luka parut. Sesampainya di teras rumah Om Uchen, Om Uly mengetuk pintu dengan ritme yang hangat. Tak lama, pintu terbuka, memperlihatkan sosok Om Uchen yang tengah meringis sambil memegang sebilah tongkat kayu di tangan kanannya. "Eh, Tonakodi, Uly... Masuk, masuk! Maaf ya, p...

Diplomasi Budaya ala Viking Row

Gambar
Diplomasi budaya di Piala Dunia tidak hanya terlihat melalui pertandingan, tetapi juga lewat selebrasi para pemain yang mencerminkan identitas nasional. Momen ikonik terjadi pada Piala Dunia Italia 1990 ketika Roger Milla dari Kamerun menampilkan tarian Makossa di sudut lapangan usai mencetak gol, memperkenalkan budaya Afrika kepada dunia.  Pada Piala Dunia Afrika Selatan 2010, Siphiwe Tshabalala bersama rekan setimnya merayakan gol pembuka dengan tarian khas lokal yang menegaskan kebanggaan sebagai tuan rumah. Sementara itu, Brasil menghadirkan selebrasi menggendong bayi ala Bebeto yang menjadi simbol kebahagiaan keluarga yang dijunjung tinggi dalam budaya Brasil. Selebrasi tersebut menunjukkan sepak bola sebagai sarana diplomasi budaya yang efektif. Keberhasilan tim nasional sepak bola Norwegia melangkah ke babak perempat final Piala Dunia 2026 bukan sekadar catatan statistik baru di atas kertas. Kemenangan dramatis 2-1 atas raksasa sepak bola Brasil di Stadion New York New Jerse...

Menguji Integritas Proyek APBD

Gambar
MERCUSUAR-Pernyataan Gubernur Sulawesi Tengah bahwa sekira 80 persen proyek yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dikerjakan rekanan atau pengusaha lokal, patut diapresiasi dan diacungi jempol. Secara makro ekonomi, kebijakan ini merupakan instrumen penting untuk menstimulus sirkulasi uang di daerah, memperluas lapangan kerja, dan menumbuhkan kelas pengusaha domestik yang tangguh. Keberpihakan seperti ini memang sudah selayaknya diacungi jempol. Namun, di balik angka 80 persen yang tampak impresif itu, ada sebuah ruang kosong yang menuntut kewaspadaan tingkat tinggi. Kita tidak boleh terlena oleh romantisme pemberdayaan daerah hingga melupakan fungsi kontrol sosial. Pertanyaan mendasar yang harus kita ajukan bersama adalah: benarkah seluruh paket proyek tersebut telah berjalan secara clear and clean? Ataukah, kedok pengusaha lokal ini justru menjadi celah baru bagi suburnya praktik jatah-menjatah anggaran? Sekadar mengingatkan, pengalaman empiris yang berulang kal...