PWI, Jurnalisme Kebangsaan, dan Label Londo Ireng
Oleh: Temu Sutrisno Dinamika hubungan antara kekuasaan, publik, dan media massa kembali memanas di panggung nasional. Belakangan, publik disuguhkan dua diskursus yang secara langsung menyinggung marwah insan pers Indonesia. Pertama, umpatan tajam dari advokat kondang Hotman Paris Hutapea yang melemparkan kalimat merendahkan seperti "Lu punya otak?" dan "Tanya ke Kapolri kalau kalian (wartawan) tidak pengecut." Kedua, pernyataan bertendensi stigmatik dari Presiden Prabowo Subianto yang melontarkan istilah historis "Londo Ireng" (Belanda Hitam) untuk menggambarkan oknum wartawan, pengamat, dan LSM. Dua peristiwa dalam sepekan ini, bukan sekadar riak kecil dalam komunikasi publik, melainkan alarm keras bagi keberlangsungan kebebasan pers dan demokrasi di Tanah Air. Stigma "Londo Ireng" dan Realitas Lapangan Istilah "Londo Ireng" memiliki jejak sejarah yang kelam. Sebuah julukan bagi pribumi yang menghamba pada penjajah Belanda demi keuntun...