Meneguhkan Tradisi Pesantren dan Santri di Era Digital
Oleh: Temu Sutrisno Bila kita menoleh ke belahan dunia Islam di Timur Tengah atau Afrika Utara, kita tidak akan pernah menemukan istilah santri dan pesantren. Di Arab Saudi atau Mesir, murid yang menimba ilmu agama disebut thalib, dan mereka belajar di kuttab atau madrasah formal di tengah kota. Pesantren beserta ekosistem di dalamnya ada kiai, pondok asrama, mengaji subuh, hingga kitab kuning, adalah murni mahakarya kebudayaan asli ( indigenous ) Nusantara yang tidak ada duanya di dunia. Akar sejarah institusi unik ini membawa kita kembali pada abad ke-15, era di mana Walisanga—terutama Sunan Ampel, melakukan strategi dakwah yang sangat jenius. Alih-alih meruntuhkan tatanan sosial yang sudah ada, para wali memilih jalan akulturasi. Sebelum Islam memeluk Nusantara, masyarakat agraris pada masa Hindu-Buddha telah mengenal sistem Dukuh atau Padepokan, tempat para cantrik (murid) bermukim untuk mempelajari kitab suci ( sastri ) bersama guru spiritual mereka. Oleh Walisanga, wadah tradisio...