Postingan

Melempar Pohon Berbuah

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Semburat jingga di ufuk timur perlahan berganti menjadi kuning keemasan yang hangat. Di kebun jagung milik Haji Agus, Ahad pagi itu terasa seperti potongan surga yang tertinggal di bumi. Bulir-bulir embun masih bergelantungan di ujung daun jagung yang meruncing, memantulkan cahaya matahari layaknya permata kecil. Di bawah gubuk bambu yang terletak di tengah kebun, empat pria paruh baya duduk melingkar. Suara gemericik air mengalir tenang di samping gubuk berpadu dengan cericit burung-burung pipit yang beterbangan. Bagi siapa pun yang mendengarnya dengan hati, suara-suara alam itu terdengar seperti simfoni zikir yang mendamaikan jiwa. "Kalau begini caranya, saya bisa lupa jalan pulang ," ujar Om Uly sambil menyandarkan punggungnya pada tiang bambu. Wajahnya yang tegas tampak melunak karena suasana yang hangat.  "Haji, jagungmu ini bukan cuma bikin kenyang perut, tapi bikin mata segar dan hati nyaman!" Haji Agus tertawa kecil sambil menuangkan kop...

Catatan Hari Pendidikan: Menanam Benih Etika di Belantara Digital

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Setiap 2 Mei, bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional. Peringatan ini bukan sekadar seremoni untuk mengenang jasa Ki Hajar Dewantara, melainkan saat yang tepat untuk merenungkan arah pendidikan kita . S ejauh mana pendidikan telah membentuk karakter generasi penerus bangsa ? Di era digital, tantangan pendidikan telah bergeser. Jika dahulu ruang belajar identik dengan papan tulis, buku, dan bangku sekolah, kini “kelas” anak-anak kita juga berada di layar gawai. Mereka belajar, bergaul, mencari hiburan, bahkan membangun identitas diri melalui dunia maya yang nyaris tanpa batas. Namun di tengah derasnya kemajuan teknologi, muncul pertanyaan mendasar , sudahkah kecakapan digital kita diimbangi dengan penguatan etika? Fenomena perundungan siber, penyebaran hoaks, ujaran kebencian, hingga pelanggaran privasi menjadi potret buram kehidupan digital masa kini. Teknologi yang seharusnya menjadi tangga menuju kecerdasan justru dapat berubah menjadi jur...

Warisan Rp 27 Miliar dan Tantangan Nir-Kompromi

Gambar
  Angka Rp 27 miliar bukanlah jumlah yang kecil. Dalam kurun waktu sembilan bulan pengabdiannya di Sulawesi Tengah (Sulteng), Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Nuzul Rahmat SH MH, telah membuktikan bahwa negara tidak boleh kalah oleh para penjarah aset rakyat. Melalui langkah-langkah strategis dan penindakan tegas, pemulihan kerugian negara baik dalam bentuk uang tunai maupun aset barang tersebut patut diberikan apresiasi setinggi-tingginya. Laporan yang disampaikan dalam konferensi pers di Gedung Kejati Sulteng, Senin kemarin, menunjukkan tren positif dalam efektivitas penuntutan perkara. Dari 11 kasus yang masuk ke tahap penyidikan, sembilan di antaranya telah melaju ke proses penuntutan. Ini adalah rasio yang menggembirakan, menandakan bahwa proses hukum tidak sekadar berhenti pada seremoni penyitaan, melainkan bergerak menuju kepastian hukum di meja hijau. Namun, kita tidak boleh terbuai hanya oleh deretan angka. Sebagaimana yang disadari oleh Nuzul Rahmat sendiri, perjuangan me...

THINK: Panduan Dasar Etika Digital

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Perkembangan teknologi informasi meninggalkan lubang menganga: Etika. Pengguna media sosial merasa dapat menuangkan apapun yang dipikirkan, tanpa batas. Seolah kehidupan di dunia maya, boleh berbeda dengan dunia nyata. Akibatnya, hoaks menyebar, konflik muncul, dan ruang digital dipenuhi kegaduhan. Guna menghindari problem tersebut, dibutuhkan etika dasar dalam pemanfaatan plarform media digital. Salah satu yang dapat dilakukan adalah mengedepankan prinsip THINK. Prinsip THINK merupakan pedoman sederhana namun sangat relevan dalam kehidupan digital saat ini. Di tengah arus informasi yang bergerak cepat, media sosial sering membuat orang bereaksi spontan tanpa sempat berpikir panjang. Karena itu, THINK hadir sebagai “rem kesadaran” sebelum seseorang menulis, mengunggah, atau membagikan sesuatu. THINK adalah singkatan dari True, Helpful, Inspiring, Necessary, dan Kind . Lima unsur ini dapat menjadi panduan agar setiap aktivitas digital dilakukan denga...

Suara Hati yang Fana

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Di negeri yang riuh oleh kata-kata, aku yang fana kehilangan makna doa. Mata ini kenyang menyaksikan dunia, namun lapar melihat kebenaran tegak menjadi raja. Lidah ini mudah memuji manusia, namun kelu saat menyebut nama-Mu dalam segala suasana. Ya Rabbi, aku hidup di zaman ketika dosa tak lagi disembunyikan, tetapi dipertontonkan dan dirayakan. Ya Ilahi, dari kegaduhan hiruk pikuk tanpa arti, aku berjalan di lorong bayang-bayang diri terus mencari-Mu, Namun sering tersesat pada “aku” itu sendiri. Aku malu, mengaku beriman, namun sering terjebak dalam kompromi yang tak Engkau ridhai. Di zaman ketika benar dan salah diperdagangkan, sungguh aku takut menjadi bagian dari kebisuan ini. Di tengah dunia yang bising ini, aku takut kehilangan suara hati. Di tengah kekuasaan gemerlap, aku takut kehilangan keberpihakan pada kebajikan yang nyata. Di tengah ilmu yang melimpah, aku takut kehilangan hikmah. Maka jika aku tak mampu menjadi besar, jadikan aku jujur dan terus mengabd...

Hati yang Jujur

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Jumat pagi itu turun dengan lembut. Hujan rintik menyentuh seng-seng tua di sebuah warung kopi kecil di pinggir masjid. Aroma tanah basah bercampur dengan harum kopi yang baru diseduh. Di sudut warkop sederhana itu, empat orang duduk mengitari meja kayu yang sudah sedikit mengelupas catnya. Tonakodi menggenggam cangkir teh hangat. Uapnya naik perlahan, seolah mengikuti ritme napasnya yang tenang. Wajahnya teduh, matanya dalam, seperti menyimpan banyak perjalanan batin. Di sebelahnya, Om Uchen sudah menyeruput kopi hitamnya dengan gaya santai, sementara Om Uly dan Ustaz Ishaq menikmati kopi susu ditemani sepiring nasi kuning yang masih hangat. “Ah, beginilah hidup yang nikmat,” kata Om Uchen sambil tersenyum lebar. “Hujan rintik, kopi hitam, utang belum jatuh tempo.” Om Uly terkekeh kecil. “Kalau utangnya sudah jatuh tempo, hujan pun terasa seperti tagihan.” Semua tertawa pelan.  Tonakodi tersenyum tipis, seolah mendengarkan sesuatu yang lebih dalam dar...

Pilihan Terbaik

Gambar
 Oleh: Temu Sutrisno Sore itu matahari turun perlahan di balik deretan pohon kelapa, menyisakan cahaya keemasan yang menimpa hamparan kebun milik Haji Agus. Jagung-jagung tumbuh tegak, daun-daunnya berdesir halus disentuh angin. Di sisi lain, kambing-kambing bergerak santai dalam pagar kayu, sebagian mengunyah rumput, sebagian lagi meloncat kecil seolah ikut menikmati senja. Di bawah pohon mangga, empat orang duduk melingkar di atas tikar pandan. Di tengah mereka, nampan sederhana berisi jagung rebus mengepul, ditemani teko kopi hitam dan teh hangat. Tonakodi memegang cangkir teh, meniupnya pelan sebelum menyesap. Wajahnya tenang, seperti seseorang yang tidak sedang mengejar apa pun. Di sampingnya, Om Uchen sudah lebih dulu menyesap kopi hitam dengan wajah penuh kenikmatan. “Ah… kopi begini ini,” kata Om Uchen sambil mengangkat cangkirnya, “lebih setia daripada mantan. Pahitnya jelas, tidak pura-pura manis.” Om Uly tertawa pendek. “Komiu ini, Uchen… bicara mantan terus. Jangan-jang...