Postingan

Lebih Baik dari Kemarin

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno   Senin siang itu, lantai dua kantor asosiasi profesi rasanya tidak berbeda jauh dengan dalam oven yang sedang dipanaskan. Di luar jendela, terik matahari kota membara tanpa ampun, memanggang jalanan hingga aspal seolah meleleh. Kipas angin berputar dengan bunyi berderit memelas, sementara unit AC tua di sudut ruangan menjerit payah, menyemburkan angin hangat yang tak sanggup melawan gelombang hawa panas. Namun, lima orang yang duduk di sofa tua itu tampak menikmati momen. Cangkir-cangkir berisi kopi hitam pekat mengepulkan aroma khas yang menenangkan, menembus hawa yang kurang bersahabat dalam ruangan. "Kenapa ya, makin ke sini rasanya makin capek mengejar orang lain?" Ryan membuka perbincangan, memecah kesunyian. Pandangannya yang resah masih tertuju pada layar ponsel yang menampilkan linimasa media sosial kawan lamanya. "Lihat, teman angkatanku sudah buka cabang usaha ketiga. Yang satu lagi baru beli rumah di kawasan elite. Sedangkan saya...

Perdamaian adalah Jalan Luhur Penyelesaian Sengketa

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Dalam sebuah perkuliahan filsafat hukum, seorang dosen pernah mendefinisikan restorative justice dengan nada kelakar yang segar: "Restorative justice adalah penyelesaian sengketa hukum dengan damai di restoran." Pernyataan tersebut tentu saja disampaikan sebagai bentuk humor untuk mencairkan suasana kelas. Namun, jika dibedah secara filosofis, humor sederhana itu menyimpan sindiran sekaligus kebenaran substantif. Restoran adalah sebuah ruang yang identik dengan suasana hangat, hidangan bersama, dan dialog yang sejajar—merupakan simbol penanggalan sekat-sekat permusuhan. Di meja makan, manusia tidak berhadapan sebagai lawan yang saling bertarung, melainkan sebagai sesama individu yang duduk bersama untuk mencari jalan keluar atas persoalan mereka. Anatomi Restorative Justice Dalam peradaban hukum modern, restorative justice atau keadilan restoratif , lahir sebagai kritik mendasar terhadap positivisme hukum dan sistem peradilan pidana konvensiona...

Rakyat yang Taat

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno Kami rakyat Indonesia, warga yang selalu taat, membayar retribusi dan pajak tanpa cela, hanya untuk menafkahi para pejabat, menteri, dan anggota dewan yang menyebut dirinya mulia. Kami rakyat Indonesia, warga yang senantiasa patuh, menyetor kewajiban tanpa mengeluh, hanya untuk mengenyangkan kantong keruh para pemangku kuasa pemetik korupsi yang tertawa angkuh. Kami rakyat Indonesia, warga yang menjunjung tinggi negeri, rela menahan lapar dalam sepi, hidup terhimpit tanpa lapangan kerja, asalkan pejabat bergelimang harta. Kami rakyat Indonesia, rela berkorban jiwa dan raga, sudi mendudukkan mereka di singgasana, meski tanah leluhur digusur paksa, dirampas serakah para pengusaha. Kami rakyat Indonesia, berbaik hati menelan sengsara, membiarkan anak-anak kami kurang gizi, demi membiayai kemewahan keluarga politisi yang gemar pamer gaya hidup setiap hari. Kami rakyat Indonesia, pemilik suara yang sabar menanti, dibuai janji-janji manis saat pemilu, lalu dilupakan...

Dialog Musa dan Fir'aun: Cermin Etika Komunikasi Publik

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Di tengah iklim komunikasi publik kita hari ini, ruang-ruang diskusi sering kali berubah menjadi arena adu urat leher. Panggung politik, opini media massa, hingga kolom komentar media sosial dipenuhi retorika yang saling menjatuhkan. Perbedaan argumentasi tak lagi diselesaikan dengan adu gagasan yang jernih, melainkan sering kali disiram caci maki, dipengaruhi bias kekuasaan, hingga menanggalkan rasa hormat antar sesama. Padahal, jika kita mau menengok kembali khazanah kisah spiritual dalam Al-Qur'an, ada sebuah ruang perdebatan yang memancarkan pelajaran luar biasa tentang etika dan keindahan berbahasa. Dialog tersebut melibatkan dua kutub yang sangat bertolak belakang: Fir'aun, seorang raja penguasa despotik yang mengaku sebagai tuhan, dan Nabi Musa, utusan Allah yang membawa risalah tauhid. Meskipun berdiri pada posisi ideologis yang bertentangan secara ekstrem, perbincangan di antara keduanya berlangsung dalam koridor argumentasi yang rasional tanpa pe...

Mematikan Kamera Tuhan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Mentari Ahad pagi baru saja merambat di atas pucuk-pucuk pohon trembesi yang menaungi Taman Kota. Angin sisa subuh berhembus pelan, membawa kesegaran sisa embun yang belum sepenuhnya menguap. Suasana taman mulai diramaikan oleh warga yang selesai berolahraga. Ada yang berswafoto, meluruskan kaki di atas rumput, hingga berburu kuliner pagi. Di bawah rindangnya pohon mahoni terbesar di sudut taman, Tonakodi duduk bersila dengan tenang. Wajahnya yang teduh selalu memancarkan kedamaian, bak telaga jernih yang tak pernah terganggu oleh ripples angin. Di sampingnya, Om Uchen sedang sibuk menyapu keringat di lehernya menggunakan handuk kecil sambil sesekali memegangi perutnya yang agak buncit. Tak jauh dari mereka, Om Uly datang membawa empat gelas plastik kopi hitam yang baru dibelinya dari paman Kopling—kopi keliling dengan sepeda motor modifikasi. "Nah, ini dia! Suplemen terbaik setelah berpura-pura lari tiga putaran!" seru Om Uly dengan senyum hangatnya yang...

PWI, Jurnalisme Kebangsaan, dan Label Londo Ireng

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Dinamika hubungan antara kekuasaan, publik, dan media massa kembali memanas di panggung nasional. Belakangan, publik disuguhkan dua diskursus yang secara langsung menyinggung marwah insan pers Indonesia. Pertama, umpatan tajam dari advokat kondang Hotman Paris Hutapea yang melemparkan kalimat merendahkan seperti "Lu punya otak?" dan "Tanya ke Kapolri kalau kalian (wartawan) tidak pengecut." Kedua, pernyataan bertendensi stigmatik dari Presiden Prabowo Subianto yang melontarkan istilah historis "Londo Ireng" (Belanda Hitam) untuk menggambarkan oknum wartawan, pengamat, dan LSM. Dua peristiwa dalam sepekan ini, bukan sekadar riak kecil dalam komunikasi publik, melainkan alarm keras bagi keberlangsungan kebebasan pers dan demokrasi di Tanah Air. Stigma "Londo Ireng" dan Realitas Lapangan Istilah "Londo Ireng" memiliki jejak sejarah yang kelam. Sebuah julukan bagi pribumi yang menghamba pada penjajah Belanda demi keuntun...

Tarian Tikus Kotor

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Di atas kertas, angka-angka membusuk Anggaran sosial menguap jadi asap, bahkan jelaga juga disikat Beras rakyat diperas, terkuras hingga akar padi terakhir Sementara di istana, pesta tak pernah senyap. Katanya negeri ini kaya raya,  Tapi mengapa mangkuk tua di pinggir trotoar hanya terisi angin dan debu jalanan? Dana sekolah disunat, obat-obatan dipangkas, orang miskin dipaksa iuran dan bayar pajak Jalan desa retak, air bersih jadi barang mahal, sawah menjerit kering kerontang  Uang rakyat merayap ke kantong-kantong jas Milik mereka yang menyebut diri wakil rakyat dan pejabat berkelas. *** Korupsi seperti racun di sumur tua Membuat ekonomi berbiaya tinggi tak terkira Harga beras melambung, dapur warga menjerit papa. Entah apa yang harus dimasak untuk sekadar berdamai dengan lambung Sepiring nasi dibayar dengan keringat sehari, tanpa tahu apakah besok dapat makan apalagi Layanan publik lumpuh, gedung sekolah roboh, atap bocor menyiram cita-cita anak bangsa D...