Postingan

Menghindari Kesejahteraan Semu dari Tambang

Gambar
  Oleh : Temu Sutrisno   Pertambangan selama ini dipandang sebagai salah satu motor penggerak ekonomi Indonesia. Nilai ekspor nikel, batu bara, dan tembaga terus meningkat dari tahun ke tahun. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di sejumlah daerah tambang juga menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan. Di atas kertas, sektor ini tampak menjanjikan kemakmuran. Namun, kenyataan di lapangan sering kali berbeda. Di banyak desa sekitar kawasan tambang, kesejahteraan masyarakat tidak selalu bergerak seiring dengan besarnya investasi dan produksi yang dihasilkan. Warga masih menghadapi persoalan pendidikan, kesehatan, akses air bersih, hingga kerusakan lingkungan yang semakin berat. Fenomena ini menunjukkan adanya paradoks. Aktivitas pertambangan memiliki hubungan yang kuat dengan perubahan lingkungan, seperti deforestasi, pencemaran air, degradasi lahan, dan meningkatnya risiko banjir. Sebaliknya, peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar tambang sering kali tidak seband...

Diskon, Pasar Murah, dan MBG

Gambar
  Oleh : Temu Sutrisno Perdebatan mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tampaknya belum akan berhenti dalam waktu dekat. Sebagian pihak memuji program ini sebagai investasi sosial jangka panjang, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai kebijakan yang terlalu mahal dan sarat kepentingan politik. Yang menarik, banyak kritik terhadap MBG justru datang dari kelompok yang sebelumnya berada dalam kubu politik yang kalah dalam kontestasi pemilu. Saya sering heran dengan nalar politik para pengkritik MBG yang mengabaikan prinsip ekonomi . Mereka begitu fokus mencari kelemahan program ini, tetapi sering menutup mata terhadap fenomena ekonomi yang terjadi setiap hari di tengah masyarakat. Salah satu contohnya adalah antusiasme warga ketika pasar murah digelar di berbagai daerah dan diskon harga yang ditawarkan pasar modern atau marketplace media sosial . Setiap kali pemerintah, BUMN, atau organisasi tertentu mengadakan pasar murah, pemandangan yang muncul hampir selal...

Pencitraan Minus Audit Kinerja

Gambar
  Oleh : Temu Sutrisno   Dalam setiap pemilihan kepala daerah, kita sering menyaksikan fenomena yang berulang. Masyarakat memberikan penilaian terhadap seorang pemimpin lebih banyak berdasarkan kesan yang ditangkap sehari-hari dibandingkan hasil kerja yang terukur. Penilaian itu sering berangkat dari rasa suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, dekat atau tidak dekat secara emosional. Padahal, dalam sistem pemerintahan modern, keberhasilan seorang kepala daerah seharusnya diukur melalui capaian program dan target pembangunan yang dapat diverifikasi. Sayangnya, budaya audit kinerja belum menjadi kebiasaan dalam demokrasi lokal kita. Mayoritas masyarakat tidak pernah membaca dokumen perencanaan pembangunan daerah. Mereka tidak mengenal secara mendalam apa yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), maupun Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ). Padahal, dokumen-dokumen itulah yang sesungguhn...

Memahami Makna Rezim dalam Politik

Gambar
  Oleh : Temu Sutrisno Kita sering menemukan penggunaan kata rezim dalam berbagai tulisan, percakapan, hingga utasan di media sosial. Namun, tidak jarang istilah tersebut digunakan secara serampangan. Ada yang menyebut seorang pejabat sebagai rezim, ada pula yang melabeli kebijakan tertentu sebagai rezim, bahkan ada yang menggunakan istilah tersebut sebagai kata ejekan terhadap kelompok politik yang sedang berkuasa. Padahal, dalam ilmu politik, rezim memiliki makna yang lebih spesifik dan lebih kompleks daripada sekadar menunjuk pemerintah atau penguasa yang sedang memegang kekuasaan. Dalam bahasa Indonesia, rezim dimaknai sebagai tata pemerintahan negara atau sistem pemerintahan yang sedang berkuasa. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah ini merujuk pada administrasi atau pihak yang mengatur dan memimpin sebuah negara dalam periode tertentu. Pengertian tersebut cukup membantu untuk memahami penggunaan sehari-hari, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan makn...

Seri Jurnalistik: Adaptif Teknologi tanpa Meninggalkan Etika

Gambar
  Oleh : Temu Sutrisno Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah jurnalisme secara fundamental. Jika dahulu wartawan bekerja dengan mesin ketik, kamera analog, dan tenggat waktu harian, kini informasi bergerak dalam hitungan detik melalui telepon pintar dan media sosial. Setiap orang dapat menjadi penyebar informasi, sementara kecerdasan buatan (AI) mulai digunakan dalam berbagai proses produksi berita. Perubahan ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, teknologi memudahkan wartawan memperoleh data, menjangkau narasumber, dan menyebarkan informasi secara cepat. Di sisi lain, banjir informasi juga melahirkan hoaks, disinformasi, manipulasi visual, serta tekanan untuk menjadi yang tercepat. Dalam situasi seperti ini, wartawan dituntut untuk adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar profesi yang tertuang dalam Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Pada hakikatnya, teknologi hanyalah alat. Nilai utama jurnalistik tetap berad...

Seri Jurnalistik: Tips Mudah Membuat Tajuk Rencana

Gambar
  Oleh : Temu Sutrisno   Tajuk rencana atau editorial merupakan salah satu rubrik penting dalam media massa. Berbeda dengan berita yang harus menyajikan fakta secara objektif, tajuk rencana berisi sikap, pandangan, atau pendapat resmi redaksi terhadap suatu persoalan yang sedang menjadi perhatian publik. Melalui tajuk rencana, media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memberikan analisis, penilaian, dan arah pemikiran kepada pembaca. Bagi sebagian orang, menulis tajuk rencana dianggap sulit karena harus mampu memadukan fakta, analisis, dan argumentasi secara logis. Padahal, jika memahami langkah-langkah dasarnya, menulis tajuk rencana dapat dilakukan dengan lebih mudah dan sistematis. Memilih Isu yang Aktual dan Penting Langkah pertama adalah menentukan isu yang akan dibahas. Tajuk rencana idealnya mengangkat persoalan yang sedang hangat diperbincangkan masyarakat dan memiliki dampak luas bagi kepentingan publik. Isu tersebut bisa berupa kebijakan pemeri...

Nasionalisme Murad Husain: Mengangkat Rupiah, Melempar Dolar

Gambar
  Oleh : Temu Sutrisno Foto: Dok. Banggai Raya Ada orang yang dikenang karena kekayaannya. Ada pula yang diingat karena jabatan dan kekuasaannya. Namun, Murad Husain dikenang karena sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih langka: rasa malu kepada bangsanya. Nama DR (HC). H. Murad Husain mungkin tidak terlalu akrab di telinga sebagian masyarakat Indonesia. Ia bukan politikus, bukan pejabat negara, dan bukan pula tokoh yang gemar tampil di depan kamera. Ia adalah pengusaha dari Luwuk, Sulawesi Tengah, yang membangun usahanya dari kerja keras dan ketekunan. Namun, pada salah satu masa paling kelam dalam sejarah ekonomi Indonesia, Murad Husain menunjukkan makna nasionalisme yang sesungguhnya. Tahun 1998. Krisis moneter menghantam Indonesia tanpa ampun. Nilai rupiah jatuh bebas. Perusahaan-perusahaan berguguran. Harga kebutuhan pokok melambung. Kepercayaan terhadap masa depan bangsa berada di titik nadir. Di tengah kepanikan itu, banyak pemilik modal memilih menyelamatka...