Postingan

Jurnalisme Profetik dan Tantangan Era Digital

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Dalam lanskap sejarah peradaban, fungsi warta selalu memegang posisi sentral. Jika ditarik benang merah secara mendalam, peran seorang wartawan sesungguhnya memiliki garis artikulasi yang beririsan dengan tugas kenabian. Keduanya adalah pembawa berita ( bearer of news ), penyambung lidah atas fakta, dan pengabarkan kebenaran kepada khalayak luas. Perbedaannya terletak pada basis ontologis sumber informasi. Risalah kenabian bersumber mutlak dari wahyu Ilahi, sedangkan karya jurnalistik bersumber dari penelusuran fakta melalui kerja-kerja liputan empiris di lapangan. Namun, esensi moral yang mengikat keduanya berada dalam frekuensi yang sama. Dalam tradisi keislaman, idealisme kepemimpinan dan penyampaian pesan kenabian ditopang oleh empat pilar utama, yakni Siddiq (jujur/benar), Amanah (dapat dipercaya/bertanggung jawab), Tabligh (menyampaikan tanpa mengurangi atau menambah), dan Fathanah (cerdas/bijaksana). Jika ditransformasikan ke dalam ruang redaksi, empat si...

Kejar DBH, Lupa Bencana

Gambar
Dalam kalkulasi anggaran daerah, Dana Bagi Hasil (DBH) sektor pertambangan acapkali dirayakan bagaikan "angin segar" yang menyelamatkan postur Pendapatan Asli Daerah. Pemerintah Provinsi dan DPRD Sulawesi Tengah tampak begitu bergairah mengetuk pintu-pintu kementerian di Jakarta, melobi angka-angka porsi bagi hasil demi mempertebal kas fiskal. Namun, di balik angka rupiah yang riuh diperjuangkan di meja perundingan, terdapat sunyi yang mencemaskan: abainya para pemangku kebijakan terhadap daya dukung lingkungan dan keselamatan masa depan ruang hidup warga. Politik anggaran kita sedang dijangkiti miopia, rabun jauh yang hanya sanggup melihat keuntungan finansial jangka pendek, tetapi buta terhadap kehancuran ekologis jangka panjang.  DBH memang bisa ditagih dengan kelihaian diplomasi dan argumentasi kewenangan pusat. Akan tetapi, bentang alam yang hancur, mata air yang tercemar, serta benteng ekologis yang goyah tidak akan pernah bisa direstorasi sekadar dengan selembar cek tr...

Syair Kerinduan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Di tengah gelapnya alam semesta, Engkau terbit bagai surya sempurna, Membawa cahaya penyegar jiwa, Menuntun ummat menuju ridha-Nya. Akhlakmu luhur bagai samudera, Penuh kasih pada segenap jiwa, Senyummu lembut penawar duka, Penuh pesona nan tiada tara. Duhai kekasih Allah Ya Habiballah, Nama indah harum mempesona, Dirindukan ummat sepanjang masa, Menembus batas zaman dan benua. Kerinduan ini kian membara, Memenuhi kalbu sesak terasa, Ingin menatap senyum nan mulia, Meski hanya hadir di dalam mimpi jua. Duhai Nabi, langkah kakimu penuh berkah, Membawa syariat yang sangat indah, Mendidik ummat agar tak lelah, Meniti jalan menuju jannah. Hati ini rindu menatap Madinah, Menghirup udara di tanahmu yang penuh berkah, Bersimpuh mesra di dekat kuburmu menghilangkan segala gundah, Menumpahkan air mata kebahagiaan dengan pasrah. Ya Sayyidi, engkau pemberi syafaat nan utama, Di hari ketika manusia berduka, Engkau ayomi ummat tanpa tersisa, Menyelamatkan jiwa dari bahaya. ...

Demarkasi Hukum dan Peradilan Media Sosial

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Layar media sosial kerap kali memproduksi kebenaran visual yang tampak meyakinkan, namun sejatinya sangat rentan dan rapuh ketika dibenturkan dengan dinding pembuktian formil di hadapan meja hijau. Dinamika opini publik dan mekanisme peradilan pidana kerap kali tumpang tindih dalam persepsi masyarakat, seolah kebenaran ditentukan oleh riuhnya linimasa dan banyaknya unggahan yang tersebar. Fenomena ini kembali mengemuka saat Hakim Tunggal Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Sulistyo Muhammad Dwi Putro, memutus permohonan praperadilan yang diajukan oleh Tifauzia Tyassuma atau dr. Tifa. Permohonan praperadilan atas penetapan tersangka dalam perkara dugaan penyebaran berita bohong terkait isu ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, tersebut dinyatakan tidak dapat diterima ( Niet Ontvankelijke Verklaard / NO). Langkah hukum yang diambil pemohon pada dasarnya merupakan bagian dari hak konstitusional seorang warga negara untuk menguji keabsahan tindakan aparat penegak hukum. ...

Gagal Total, Janji Politik, dan Realitas Kekuasaan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Setiap kali masa jabatan seorang pemimpin publik berakhir atau mendekati momen politik tertentu, riak penilaian masyarakat selalu membuncah ke permukaan. Narasi yang berkembang kerap kali terjebak dalam dikotomi yang sangat ekstrem: disanjung sebagai sosok yang berhasil mutlak, atau dihujat sebagai pimpinan yang “gagal total”. Bineritas penilaian ini tidak hanya menyederhanakan kompleksitas tata kelola pemerintahan, tetapi juga mereduksi dinamika kepemimpinan politik itu sendiri. Hakikatnya, hampir tidak ada pemimpin yang gagal secara menyeluruh atau gagal total. Namun pemimpin yang belum atau tidak berhasil menjalankan keseluruhan program dan janji politiknya secara paripurna. Secara teoretis, ruang kepemimpinan publik selalu bertautan dengan apa yang disebut oleh Niccolò Machiavelli sebagai interaksi antara fortuna (keberuntungan atau dinamika eksternal) dan virtu (kemampuan individual seorang pemimpin). Seorang kepala daerah atau kepala negara mungkin datang deng...

Jeritan Ibu Pertiwi

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Lihatlah ke bawah, wahai tuan puan yang bertakhta! Dengarkan gemertak gigi rakyat yang menahan lapar dahaga! Di balik bilik reot yang hampir gulita, Anak-anak bangsa mengeja mimpi di tanah yang gersang. Mereka mengais sisa nasib di ceceran sampah, Menatap masa depan yang kabur disapu duka sejarah. Di mana mata kalian, wahai penguasa? Kalian sibuk bersulang di atas penderitaan jua! Keluarga memamerkan kemewahan tanpa jeda, Membungkus raga dengan sutra bertabur mutiara, Menari-nari jumawa di bilik ruang maya, Seolah negeri ini hanyalah milik kalian semata! Darah rakyat kalian peras menjadi cincin permata, Keringat kaum buruh kalian tukar dengan kendaraan mewah, Air mata petani kalian jadikan istana megah! Apakah nurani telah mati tertutup harta? Hingga tak lagi mampu membedakan empati dan dosa! Jabatan itu amanah, bukan karpet merah untuk berfoya-foya! Bukan tiket emas untuk memanjakan sanak saudara! Ketika kemiskinan mencekik leher rakyat yang setia, Kalian justru te...

Makna Merdeka

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Rindang daun ketapang kencana di sudut lapangan upacara memayungi lima orang yang merayakan kemerdekaan dengan caranya sendiri. Terik matahari Agustus mulai menyengat, tetapi angin sepoi-sepoi membawa ketenangan. Di sana, Tonakodi duduk, mengamati barisan anak-anak sekolah yang rapi berbalut seragam merah-putih dan biru-putih. Di sebelah kirinya, Om Uchen mengelus lututnya yang dibalut perban, sisa oleh-oleh kecelakaan tunggal dua minggu lalu. Di sampingnya, Om Uly menyandarkan kaki kanannya yang membengkak akibat infeksi ringan ke sebatang kayu kecil, wajahnya tetap memancarkan senyum hangat. Meski langkah mereka pincang, semangat menyambut detik-detik proklamasi tak melumpuhkan niat mereka untuk hadir. "Wah, kalau begini caranya, lututku ini ikut merdeka dari rasa sakit kalau melihat dagangan Mas Ragil laris," celoteh Om Uchen terkekeh, memecah kekakuan. Tangannya menunjuk gerobak sepeda motor milik Ragil, penjual sempol keliling yang sibuk menata tusuka...