Lebih Baik dari Kemarin
Oleh: Temu Sutrisno Senin siang itu, lantai dua kantor asosiasi profesi rasanya tidak berbeda jauh dengan dalam oven yang sedang dipanaskan. Di luar jendela, terik matahari kota membara tanpa ampun, memanggang jalanan hingga aspal seolah meleleh. Kipas angin berputar dengan bunyi berderit memelas, sementara unit AC tua di sudut ruangan menjerit payah, menyemburkan angin hangat yang tak sanggup melawan gelombang hawa panas. Namun, lima orang yang duduk di sofa tua itu tampak menikmati momen. Cangkir-cangkir berisi kopi hitam pekat mengepulkan aroma khas yang menenangkan, menembus hawa yang kurang bersahabat dalam ruangan. "Kenapa ya, makin ke sini rasanya makin capek mengejar orang lain?" Ryan membuka perbincangan, memecah kesunyian. Pandangannya yang resah masih tertuju pada layar ponsel yang menampilkan linimasa media sosial kawan lamanya. "Lihat, teman angkatanku sudah buka cabang usaha ketiga. Yang satu lagi baru beli rumah di kawasan elite. Sedangkan saya...