Renungan Jumat: Ketika Semua Menolak Menjadi Telinga
Oleh: Temu Sutrisno Membangun negara membutuhkan banyak orang pintar. Tetapi pembangunan sering macet bukan karena kekurangan orang pintar, melainkan karena kebanyakan orang sok pintar. Di negeri ini, gelar “pakar” tampaknya tidak lagi diperoleh lewat riset panjang, pengabdian akademik, atau pengalaman lapangan yang bertahun-tahun. Gelar itu kini cukup didapat dengan kuota internet, akun media sosial, dan keberanian berbicara tanpa jeda. Semua orang mendadak ahli. Ahli hukum meski belum pernah membaca putusan lengkap pengadilan atau berjilid-jilid buku teori hukum. Ahli ekonomi karena pernah mengeluh harga cabai. Ahli kesehatan setelah menonton video berdurasi tiga menit. Bahkan ahli agama hanya bermodal potongan ceramah yang dipelintir menjadi senjata saling menghantam. Lebih lucu lagi, kini lahir spesialisasi baru, pakar komentar yang kerjanya mengomentari komentar dari pakar komentar lain. Sungguh sebuah kemajuan peradaban yang membanggakan. Hehehe. Fenomena ini terasa makin n...