Postingan

Pengkhianatan atau Rasionalitas Politik?

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno   “Tidak ada pengkhianat dalam politik, yang ada hanya kesempatan dan kepentingan.”  Kalimat ini sering terdengar sinis, tetapi memiliki dasar yang kuat dalam realitas politik praktis. Dalam arena politik, loyalitas sering kali tidak bersifat permanen. Namun bergerak mengikuti perubahan kekuatan, kepentingan, peluang, dan arah kekuasaan. Jika akhir-akhir ini atau waktu mendekati hajatan Pemilu, banyak partai yang Baper menyebut si A, si B dan seterusnya, merupakan pengkhianat politik karena meninggalkan partai atau punya pilihan berbeda, merupakan bentuk frustasi politik.  Fenomena perpindahan dukungan politik, perubahan koalisi, hingga mantan lawan yang kemudian menjadi kawan merupakan pemandangan yang lazim terjadi di berbagai negara demokrasi. Apa yang oleh sebagian orang disebut sebagai pengkhianatan, dalam perspektif ilmu politik sering dipahami sebagai bentuk rasionalitas politik. Tokoh teori pilihan rasional ( Rational Choice The...

Bersatulah..!!!

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno   Di antara yang tercerai, oleh prasangka penuh ambisi Di antara yang berserak, karena ego yang lebih tinggi Di antara yang berbeda, beragam suku, bahasa, keyakinan, dan religi D i antara gaduh perebutan kekuasaan , suara yang saling menenggelamkan dan meninggi Di antara banyak kepentingan, yang berebut ruang di dada Ibu Pertiwi Bersatulah, seperti sungai-sungai yang pulang ke samudra Bersatulah, seperti akar-akar yang saling menguatkan bumi persada Bersatulah, seperti angin yang mengumpulkan awan menjadi hujan kehidupan penuh daya Bersatulah , untuk Indonesia yang lebih adil untuk Indonesia yang lebih kuat untuk kejayaan Indonesia..!!!     Tana Kaili, 3 Juni 2026

Pancasila

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno   Di negeri yang lahir dari doa-doa panjang, dari air mata dan darah para pejuang , terpancang lima cahaya gemilang, yang tak pernah selesai dibaca zaman. Lima menjadi satu, perekat yang bercerai berai, pengikat perbedaan dari hilir hingga hulu, petunjuk j alan pulang bagi tumpah darah negeri . Itulah Pancasila. ooo Satu:  Ketuhanan Yang Maha Esa Di langit Nusantara, azan bersahutan dengan lonceng gereja, mantra berbaur dengan kidung, sutra dan doa-doa melayang dari rumah-rumah ibadah berbeda nama. Tuhan tidak pernah meminta manusia membangun tembok kebencian. Tetapi manusia sering lupa, mengangkat keyakinan menjadi senjata, menjadikan surga sebagai alasan untuk saling melukai mengagungkan perbedaan warna . Tuhan hadir dalam tangan yang menolong, dalam hati yang lapang, dalam kesediaan menghormati jalan ibadah yang ber agam . Tuhan Yang Maha Esa bukan milik satu golongan,  Tuhan  cahaya yang menerang...