Postingan

Reposisi Wayang dalam Kebudayaan di Tengah Industrialisasi Hiburan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Hari Wayang Nasional yang diperingati setiap tanggal 7 November, bukan sekadar perayaan seremonial terhadap warisan budaya masa lalu, melainkan momentum refleksi yang krusial. Di tengah gempuran industrialisasi hiburan global yang serba cepat, masif, dan berbasis teknologi digital, eksistensi wayang menghadapi tantangan eksistensial yang tidak ringan. Pertunjukan wayang tradisional yang kerap menuntut durasi semalam suntuk kini semakin terpinggirkan oleh algoritma media sosial, gim daring beresolusi tinggi, dan berbagai bentuk pop culture transnasional yang lebih instan merengkuh perhatian generasi muda. Namun, menganggap wayang sebagai kesenian yang "kedaluwarsa" adalah sebuah kekeliruan diagnosis. Masalah utamanya bukan hilangnya substansi nilai luhur wayang, melainkan ketidakselarasan antara format penyajian masa lalu dengan cara pandang serta ritme hidup masyarakat modern. Oleh karena itu, mengembalikan wayang sebagai pesan positif kebudayaan di tengah...

Tragedi Cinta Drupadi

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Desau angin pagi di Amarta membawa aroma wangi bunga cendana yang berpadu dengan harumnya minyak kenanga dari bilik-bilik istana. Di sebuah beranda marmar putih yang menghadap langsung ke taman bunga seroja, Dewi Drupadi duduk termenung. Suara gemerincing gelang emas di pergelangan tangan dan kakinya seolah menjadi penanda detik-detik waktu yang mengalir tenang, bagaikan air Sungai Gangga di musim semi. Di hadapannya, Prabu Puntadewa—suami tercinta yang bergelar Dharmawangsa, tengah merapikan lembaran daun lontar berisi kitab-kitab filsafat kuno. Tatapan mata Puntadewa teduh, memancarkan kejujuran dan ketenangan jiwa yang kerap membuat siapa pun merasa dilindungi. "Kaukah itu, Kekasihku?" bisik Puntadewa lembut tanpa mengalihkan pandangan sepenuhnya, seolah kehadiran Drupadi telah menyatu dengan udara yang ia hirup. Drupadi tersenyum, melangkah mendekat lalu melabuhkan duduk di samping sang suami. Jemarinya yang lentik meraih bahu suaminya, memijatnya perl...

Cermin Jiwa Cinta Nala Gareng

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Cinta kasih adalah peraturan jiwa dua anak manusia. Pasangan adalah cermin jiwa dari pasangannya. Hari itu, Dusun Karangtumaritis tidak seperti biasanya. Gamelan bertalu-talu membawakan gending Kebo Giro yang rancak. Suasana sangat ramai. Janur kuning melengkung di depan rumah Kyai Semar Badranaya. Hari ini adalah hari bersejarah bagi anak tertua Semar: Nala Gareng resmi meminang Dewi Sariwati, putri cantik jelita dari Kerajaan Salarengka. Di dalam kamar pengantin, Gareng sedang mematut diri di depan cermin. Ia memandangi bayangannya dengan gugup. Kakinya yang pincang gemetar, tangannya yang cèko (bengkok) sibuk merapikan kain jarik, dan matanya yang juling mencoba fokus melihat rangkaian bunga melati yang mengalung di lehernya. "Duh, Gusti... apa aku sudah pantas bersanding dengan putri raja?" bisik Gareng cemas. Wajahnya yang biasanya penuh canda, kini tegang dan berkeringat dingin. Pintu tiba-tiba terbuka. Petruk masuk sambil membawa nampan berisi wedan...

Duka Asmara di Bukit Kiskenda

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Di bawah naungan pohon-pohon besar yang memeluk tebing Gua Kiskenda, Dewi Tara duduk terpaku. Angin hutan bertiup membawa aroma tanah basah, namun tidak mampu menyejukkan hatinya yang terbakar api kerinduan sekaligus ketakutan. Di hadapannya, sebongkah batu raksasa menutup rapat mulut gua. Di balik batu itulah, separuh jiwanya terperangkap. Bukan oleh batu, melainkan oleh takdir yang kejam. Tara mencintai Sugriwa. Cinta mereka bukanlah cinta yang lahir dari mandat kerajaan atau perjodohan para dewa. Cinta itu tumbuh dari ketulusan. Sugriwa adalah kelembutan di tengah kerasnya dunia wanara. Tatapan matanya selalu menenangkan Tara, dan pelukannya adalah satu-satunya tempat di mana Tara merasa aman. Namun, kedamaian itu hancur ketika raksasa Lembusura datang membawa petaka. Subali, sang kakak yang memiliki kesaktian tiada tanding, mengejar raksasa itu masuk ke dalam gua. Sugriwa setia menjaga di luar, memegang janji sehidup semati. Tara ingat betul bagaimana malam itu ...

Puspa Kurusetra

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Angin malam di perkemahan Pasukan Pandawa berhembus perlahan, membawa aroma wangi bunga kenanga yang menyelinap di antara kemah-kemah prajurit. Namun, di sudut taman keputren yang sunyi, keheningan itu terasa berat dan menyesakkan. Di bawah temaram cahaya bulan purnama, dua insan duduk berdampingan di atas sebuah batu pipih beralaskan rumput lembut. Raden Bambang Irawan, pemuda berwajah tampan dengan sorot mata setajam elang dan senyuman yang selalu mampu menenangkan badai di hati, menggenggam jemari seorang wanita. Wanita itu adalah Dewi Titisari, putri tercinta dari Sang Prabu Kresna dari Dwarawati. Wajah Titisari tertunduk lesu, air mata hangatnya menetes perlahan membasahi punggung tangan Irawan yang ia genggam erat-erat. "Apakah harus selarut ini perbincangan kita, Kangmas?" suara Titisari bergetar, sarat akan ketakutan yang telah berhari-hari menggelayuti benaknya. "Hatiku terasa gundah. Setiap kali angin berhembus dari arah tegal Kurusetra, a...

Lagi-lagi MK Menjadi Positive Legislator

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Publik hukum baru saja menyaksikan ketukan palu Mahkamah Konstitusi (MK) melalui Putusan Nomor 280/PUU-XXIV/2026 yang dibacakan pada 29 Oktober 2026. Dalam amar putusannya, MK secara radikal memangkas tenggat waktu pencabutan Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) oleh pejabat pemerintah—dari yang semula 60 hari kerja sebagaimana diatur dalam Pasal 116 Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara (UU PTUN), menjadi hanya 14 hari kerja. Bagi pencari keadilan yang kerap menjadi korban pembangkangan negara (state disobedience) akibat birokrat mengulur-ulur eksekusi putusan PTUN, putusan ini tentu menjadi angin segar. Namun dari kacamata hukum tata negara, langkah ini kembali mempertegas tren yang kian mengkhawatirkan, yakni bergesernya peran MK secara agresif dari lembaga negative legislator (penghapus norma) menjadi positive legislator (pembentuk norma baru). Fenomena ini memicu pertanyaan krusial: apakah MK sedang menegakkan keadilan, atau justru perlahan merampas k...

Olahraga, Nasionalisme, dan Kuasa Simbolik: Mengurai Badai Geopolitik Kylian Mbappe di Tiongkok

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Di bumi Nusantara, kita mengenal dua peribahasa yang memiliki makna serupa. Pertama, "Mulutmu Harimaumu". Peribahasa ini bermakna, bahwa perkataan yang keluar dari mulut diibaratkan seperti harimau yang siap menerkam atau berbalik membahayakan diri sendiri jika tidak dijaga. Kedua, "Karena Mulut Badan Binasa". Para leluhur bangsa ini menitip pesan budaya, kita menjadi celaka, hancur, atau mendapat masalah besar akibat tidak pandai menjaga perkataan. Kedua peribahasa ini semakin menemukan relevansinya, di tengah kehidupan digital yang tidak tersekat batas-batas teritorial-kebangsaan. Ketika sebuah gestur atau ucapan kasual dari panggung hiburan global melintasi batas-batas teritorial dan kebudayaan, retakan geopolitik sering kali terbuka secara tak terduga. Sebuah candaan ringan dari bintang sepak bola Real Madrid dan tim nasional Prancis, Kylian Mbappe, berubah menjadi badai diplomatik, boikot ekonomi, dan ketegangan politik kebudayaan yang masif...