Ikhlas dan Iklan
Oleh: Temu Sutrisno Ahad pagi itu, matahari belum sepenuhnya tinggi. Cahaya keemasan menimpa rerumputan yang masih menyimpan sisa embun. Di taman tengah kota, orang-orang bergerak dalam ritme yang sama. Berlari kecil, berjalan santai, atau sekadar duduk sambil memandangi layar ponsel mereka. Sesekali terdengar tawa ringan dari sekelompok anak muda yang sedang berswafoto, seolah pagi adalah panggung, dan mereka adalah pemeran utamanya. Tonakodi berjalan pelan, langkahnya terukur, seakan setiap pijakan adalah bagian dari doa yang tak terucap. Sudah dua kali ia mengitari lapangan bersama tiga sahabatnya, Om Uchen, Om Uly, dan Ami. Namun kini, napasnya mulai meminta jeda. Ia menoleh ke arah pohon ketapang kencana di sudut taman. Daunnya rindang, teduhnya seperti pelukan yang dirindukan. Ia pun duduk di bangku di bawahnya, menegak air mineral. Angin pagi menyapa lembut, membawa aroma tanah basah dan samar-samar… pisang dan ubi yang digoreng dari arah warung mobile di pinggir taman. “Ah, ini...