Menyemai Asa Anak Indonesia
Oleh: Temu Sutrisno Di sudut ruang temaram, jemari kecil itu menari di atas kaca bersemut. Bukan mengeja alfabet atau menggambar pelangi, melainkan mempertaruhkan masa depan yang belum dimengerti. Ada seratus ribu pasang mata polos, bahkan yang usianya belum genap sepuluh tahun, terjebak dalam labirin judi digital yang dingin. Di mana rumah yang dulu teduh? Mengapa sekolah yang seharunya merawat asa, justru menyimpan bayang-bayang luka? Ketika selaksa jeritan menembus dinding sunyi, kita sadar, benteng teraman itu telah retak di dalam. Di antara layar yang menyilaukan dan ruang yang bungkam, anak-anak kita menatap masa depan dengan mata yang letih. *** Di luar sana, jutaan langkah kecil terhenti di tepi jalan. Mereka tak pernah menggenggam kapur tulis, tak pernah merasakan wangi buku di pagi hari. Hampir empat juta anak berdiri di luar gerbang, memandang kelas yang terkunci rapat dari segala angan. Di sudut lain negeri ini, seorang ibu menatap tubuh mungil buah hatinya. Satu dari...