Dialog Musa dan Fir'aun: Cermin Etika Komunikasi Publik
Oleh: Temu Sutrisno Di tengah iklim komunikasi publik kita hari ini, ruang-ruang diskusi sering kali berubah menjadi arena adu urat leher. Panggung politik, opini media massa, hingga kolom komentar media sosial dipenuhi retorika yang saling menjatuhkan. Perbedaan argumentasi tak lagi diselesaikan dengan adu gagasan yang jernih, melainkan sering kali disiram caci maki, dipengaruhi bias kekuasaan, hingga menanggalkan rasa hormat antar sesama. Padahal, jika kita mau menengok kembali khazanah kisah spiritual dalam Al-Qur'an, ada sebuah ruang perdebatan yang memancarkan pelajaran luar biasa tentang etika dan keindahan berbahasa. Dialog tersebut melibatkan dua kutub yang sangat bertolak belakang: Fir'aun, seorang raja penguasa despotik yang mengaku sebagai tuhan, dan Nabi Musa, utusan Allah yang membawa risalah tauhid. Meskipun berdiri pada posisi ideologis yang bertentangan secara ekstrem, perbincangan di antara keduanya berlangsung dalam koridor argumentasi yang rasional tanpa pe...