Pilihan Terbaik
Oleh: Temu Sutrisno Sore itu matahari turun perlahan di balik deretan pohon kelapa, menyisakan cahaya keemasan yang menimpa hamparan kebun milik Haji Agus. Jagung-jagung tumbuh tegak, daun-daunnya berdesir halus disentuh angin. Di sisi lain, kambing-kambing bergerak santai dalam pagar kayu, sebagian mengunyah rumput, sebagian lagi meloncat kecil seolah ikut menikmati senja. Di bawah pohon mangga, empat orang duduk melingkar di atas tikar pandan. Di tengah mereka, nampan sederhana berisi jagung rebus mengepul, ditemani teko kopi hitam dan teh hangat. Tonakodi memegang cangkir teh, meniupnya pelan sebelum menyesap. Wajahnya tenang, seperti seseorang yang tidak sedang mengejar apa pun. Di sampingnya, Om Uchen sudah lebih dulu menyesap kopi hitam dengan wajah penuh kenikmatan. “Ah… kopi begini ini,” kata Om Uchen sambil mengangkat cangkirnya, “lebih setia daripada mantan. Pahitnya jelas, tidak pura-pura manis.” Om Uly tertawa pendek. “Komiu ini, Uchen… bicara mantan terus. Jangan-jang...