Membasuh Jiwa dengan Istighfar
Oleh: Temu Sutrisno Matahari sore menyisakan rona membara di ufuk barat, memantulkan hangat yang pekat di sou-sou milik Om Uly. Usai melangkahkan kaki dari masjid di lorong sebelah selepas Asar, Tonakodi duduk bersila di bale-bale bambu. Di sampingnya, Om Uchen sedang sibuk mengibas-ibaskan tangan mengusir hawa panas, sementara Ami duduk rapi mengamati pergerakan angin sembari membuka gawai. "Panasnya sore ini seperti rindu yang terlambat sampai," seloroh Om Uchen sambil terkekeh pelan. Om Uly keluar dari pintu belakang memboyong baki. Senyum hangatnya mekar. Nampan itu berisi cangkir-cangkir teh dan kopi panas, lengkap dengan sepiring pisang goreng yang masih mengepul, bersanding anggun bersama semangkuk dabu-dabu pedas minyak kampung. "Seruput dulu, Uchen. Supaya rindumu itu tidak bikin haus," balas Om Uly ramah, menyodorkan cangkir-cangkir tersebut. Baru saja Ami hendak meraih pisang goreng, langkah kaki tergesa terdengar dari arah gerbang. Tiga anak muda—Ryan, ...