Menyelamatkan Bahasa Jurnalistik di Bawah Perbudakan Algoritma
Oleh: Temu Sutrisno “ Dan tidak seorang Nabi diutus di muka bumi kecuali dengan bahasa kaumnya.” (QS. Ibrahim [14]: 4 ) Ayat suci di atas mematri sebuah pesan universal yang fundamental tentang esensi komunikasi, yakni penyampaian pesan senantiasa bertaut erat dengan bahasa penuturnya. Dalam cakrawala ilmu komunikasi, bahasa jurnalistik (language of mass communication) pada dasarnya tidak pernah berdiri di menara gading. Bahasa jurnalistik lahir membumi, menjadi jembatan wacana yang jernih, serta dipahami oleh khalayak luas dari pelbagai latar belakang sosial. Sebagaimana diwanti-wanti oleh Albert Hester, pakar komunikasi massa ternama, seorang jurnalis pantang menuliskan sesuatu yang bahkan tidak dipahaminya sendiri. Jika pembaca gagal menangkap makna di balik sebaris berita, maka komunikasi sesungguhnya telah runtuh. Bahasa jurnalistik dituntut untuk komunikatif dan spesifik, langsung merujuk pokok persoalan tanpa basa-basi yang berbunga-bunga. Namun, lanskap pers hari ini tengah men...