Pitutur Luhur: Bregegeg, Ugeg-Ugeg, Hmel-hmel, Sak Dulito, Langgeng
Oleh : Temu Sutrisno (Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah) Pernahkah Anda meresapi pementasan wayang kulit? Di balik hiruk-pikuk peperangan dan gemerlap istana, hadir sosok sederhana yang kerap memancing tawa namun bicaranya sarat akan hakikat kehidupan. Dialah Semar, atau Kyai Badranaya, yang diyakini sebagai pengejawantahan Betara Ismaya. Meski bukan raja maupun ksatria, Semar adalah pamomong sejati, penasihat spiritual bagi para ksatria. Dari kesederhanaan sosok inilah lahir pitutur luhur (nasihat mulia) yang melampaui zaman. Salah satu ajarannya yang paling ikonik adalah, “Bregegeg, Ugeg-Ugeg, Hmel-hmel, Sak Dulito, Langgeng.” Secara harfiah, pitutur ini bermakna: daripada diam termenung ( bregegeg ), lebih baik mulai bergerak atau berikhtiar ( ugeg-ugeg ). Hasil dari usaha itu, meski hanya sesuap nasi atau sedikit rezeki ( hmel-hmel, sak dulito ), jika dijalani dengan ketulusan dan syukur, akan menghadirkan keberkahan yang abadi ( langgeng...