Postingan

Layar Kaca yang Retak

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Dua ribu tahun lalu, di bawah terik matahari Roma, Kaisar melambaikan tangan dari tribun kehormatan Colosseum. Di bawah sana, para gladiator bertaruh nyawa menantang maut demi sebongkah roti dan tontonan. Ini adalah resep kuno kekuasaan untuk mengalihkan perhatian rakyat dari himpitan pajak, paceklik, dan intrik politik Senat yang membingungkan.  Dua milenium berlalu, Colosseum itu kini bersulih rupa menjadi stadion megah berteknologi tinggi dengan lampu sorot jutaan watt. Para gladiator tidak lagi membawa pedang atau jala besi, melainkan mengenakan jersey warna-warni, berlari mengejar bola kulit di atas rumput hijau yang dipotong presisi. Gagasan kompetisi sepak bola internasional ini dicetuskan oleh Presiden FIFA, Jules Rimet. Uruguay terpilih sebagai tuan rumah sekaligus menjadi juara pertama Piala Dunia setelah mengalahkan Argentina di partai final pada tahun 1930. Teknologinya boleh melompat jauh. Tetapi cetak biru psikologi manusia tidak pernah beru...

Diam pada Kejahatan

Gambar
 Oleh: Temu Sutrisno Ahad pagi, langit di atas Kota Palu membentang bersih, menyisakan warna biru yang jernih setelah semilir angin teluk menyapu sisa-sisa embun. Di sebuah sou-sou, pondok kecil di samping rumah Om Uly, tiga sahabat karib sedang menikmati awal pekan dengan ketenangan yang langka. Asap tipis mengepul dari cangkir-cangkir mereka. Om Uchen dan Om Uly memilih kopi hitam pekat khas Kaili yang harumnya menggoda selera, sementara Tonakodi setenang biasanya, menggenggam secangkir teh hangat dengan senyuman tipis yang tak pernah lepas dari wajahnya. Baru saja mereka kembali dari masjid di lorong sebelah untuk menunaikan salat Subuh berjemaah. Riuh rendah kicau burung di pohon mangga seolah menjadi musik pengiring obrolan mereka. "Uly, kopimu ini betul-betul membangkitkan semangat," kata Om Uchen memecah keheningan sembari menyeruput kopinya hingga berbunyi nyaring. "Tapi, kalau minum kopi begini terus tiap pagi tanpa pisang goreng, jiwaku rasanya terancam. Bisa s...

Kecerdikan Messi Hancurkan Taktik Super Defense Tuchel

Gambar
Thomas Tuchel tampaknya harus membayar mahal sebuah arogansi taktik yang pendek ingatan. Pelatih tim nasional Inggris tersebut rupanya sama sekali tidak belajar dari bagaimana cara Mesir dan Swiss bertekuk lutut di hadapan Argentina. Ketika sebuah tim mencoba mempersempit ruang tembak di depan gawang, Lionel Messi tidak akan kehabisan akal. Sang Magician akan mundur ke lini kedua, bertransformasi menjadi gelandang pengatur serangan, atau bergerak melebar menjadi pemain sayap. Dari posisi tak terduga itulah, Messi membuka ruang bagi kompatriotnya dan mengirimkan umpan manja yang mematikan. Tragedi taktis itu kembali terulang. Hanya delapan menit sebelum laga usai, Messi secara cerdas bergeser menjadi pemain sayap tanpa perlu 'diminta' oleh sang pelatih, Lionel Scaloni. Hasilnya luar biasa. Mega bintang dunia tersebut mengkreasi dua gol balasan yang dicetak oleh Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez. Dua gol kilat di menit-menit akhir ini sekaligus mengandaskan mimpi 60 tahun publi...

Memutus Kekerasan dari Hulu

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Komitmen perlindungan perempuan dan anak tidak boleh berhenti sebagai pemanis dokumen birokrasi atau sekadar retorika pemangku kebijakan. Di tengah grafik kekerasan yang terus menanjak tajam, publik menunggu implementasi yang tak sekadar reaktif, melainkan taktis, cepat, dan berdampak sistemik. Angka-angka yang dirilis dari Sulawesi Tengah semestinya tidak lagi dibaca sebagai deretan statistik mati, melainkan sebagai alarm tanda bahaya yang kian nyaring. Sepanjang tahun 2025, Aplikasi Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) mencatat 696 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah ini. Ironisnya, baru memasuki pertengahan tahun 2026, jumlah laporan sudah menyentuh kisaran 600 kasus. Lonjakan dramatis ini memicu kecemasan mendalam sekaligus tamparan keras bagi nurani publik. Kita dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa ruang aman bagi kelompok rentan di Sulawesi Tengah sedang mengalami penyusutan yang akut. Namun, di sisi lain, f...

Menguji DNA Juara di Panggung Semifinal Piala Dunia

Gambar
  Karpet merah babak semifinal Piala Dunia 2026 telah digelar dengan megah. Empat kekuatan utama sepak bola bumi dipastikan saling sikut demi sepasang tiket menuju partai puncak.  Menariknya, babak empat besar kali ini menjadi panggung eksklusif bagi para aristokrat sepak bola yang telah mencicipi takhta tertinggi di dunia: Prancis (1998, 2018), Spanyol (2010), Inggris (1966), dan Argentina (1978,1986, 2022). Tidak ada lagi ruang bagi tim kejutan yang mengandalkan keajaiban sesaat. Di fase krusial ini, silsilah sejarah, keunggulan mentalitas juara, dan kematangan taktis akan menjadi pembeda utama yang menentukan nasib mereka di atas lapangan hijau. Prancis vs Spanyol:  Pragmatisme dan Estetika Pertandingan pertama semifinal menyajikan duel klasik Eropa Barat yang mempertemukan Prancis dan Spanyol. Prancis, sang juara dunia dua kali pada edisi 1998 dan 2018, datang dengan cetak biru permainan yang sudah sangat matang di bawah asuhan Didier Deschamps. Tim berjuluk Les Bleus...

Berakhirnya Era Komparasi

Gambar
Sepak bola tidak pernah sekadar tentang sebelas orang melawan sebelas orang di atas lapangan hijau. Ia adalah panggung teatrikal tempat umat manusia mencari, mengagumi, dan mendewakan pahlawan mereka. Selama hampir setengah abad, narasi besar olahraga ini digerakkan oleh satu bahan bakar utama: komparasi. Kita selalu terjebak—atau lebih tepatnya, sengaja menenggelamkan diri—dalam perdebatan abadi untuk menentukan siapa yang berhak menyandang takhta tertinggi. Namun, melihat lanskap sepak bola hari ini, kita mungkin sedang berdiri di ambang pintu gerbang sebuah zaman baru: era tanpa komparasi. Memori kolektif kita tentu belum lupa bagaimana dekade 1980-an hingga awal 2000-an dikuasai oleh dikotomi Pele versus Maradona. Dua nama ini menjadi episentrum ruang kultural sepak bola dunia. Sentimen tersebut begitu kuat hingga menciptakan polarisasi global antara keindahan yang metodis khas Brasil dengan kejeniusan yang rebel dan teatrikal ala Argentina. Saking magisnya rivalitas imajiner ini, ...

La Albiceleste Menjaga Asa di Tengah Kepungan Eropa

Gambar
ARROWHEAD Stadium di Kansas City bakal menjadi saksi pertempuran taktikal yang tidak sekadar memperebutkan tiket semifinal Piala Dunia 2026. Laga perempat final antara Argentina dan Swiss yang dijadwalkan bertanding pada Minggu (12/7/2026) pukul 09.00 WITA ini membawa narasi yang lebih besar: upaya La Albiceleste menjaga martabat sepak bola luar Eropa dari kepungan kekuatan Benua Biru. Setelah tumbangnya Maroko di tangan Prancis, Argentina kini berdiri tegak sebagai satu-satunya benteng pertahanan non-Eropa yang tersisa di turnamen ini. Menyandang status sebagai juara bertahan, tim asuhan Lionel Scaloni memikul ekspektasi masif dari publik global yang merindukan keberagaman di fase puncak. Namun, menembus dominasi Eropa jelas bukan perkara mudah bagi Argentina yang penampilannya belakangan ini kerap diuji hingga batas maksimal. Perjalanan Argentina menuju babak delapan besar jauh dari kata mulus. Mereka harus melewati rute penuh drama yang menguras emosi dan stamina fisik. Di babak 16 ...