Makna Merdeka
Oleh: Temu Sutrisno Rindang daun ketapang kencana di sudut lapangan upacara memayungi lima orang yang merayakan kemerdekaan dengan caranya sendiri. Terik matahari Agustus mulai menyengat, tetapi angin sepoi-sepoi membawa ketenangan. Di sana, Tonakodi duduk, mengamati barisan anak-anak sekolah yang rapi berbalut seragam merah-putih dan biru-putih. Di sebelah kirinya, Om Uchen mengelus lututnya yang dibalut perban, sisa oleh-oleh kecelakaan tunggal dua minggu lalu. Di sampingnya, Om Uly menyandarkan kaki kanannya yang membengkak akibat infeksi ringan ke sebatang kayu kecil, wajahnya tetap memancarkan senyum hangat. Meski langkah mereka pincang, semangat menyambut detik-detik proklamasi tak melumpuhkan niat mereka untuk hadir. "Wah, kalau begini caranya, lututku ini ikut merdeka dari rasa sakit kalau melihat dagangan Mas Ragil laris," celoteh Om Uchen terkekeh, memecah kekakuan. Tangannya menunjuk gerobak sepeda motor milik Ragil, penjual sempol keliling yang sibuk menata tusuka...