Gagal Total, Janji Politik, dan Realitas Kekuasaan
Oleh: Temu Sutrisno Setiap kali masa jabatan seorang pemimpin publik berakhir atau mendekati momen politik tertentu, riak penilaian masyarakat selalu membuncah ke permukaan. Narasi yang berkembang kerap kali terjebak dalam dikotomi yang sangat ekstrem: disanjung sebagai sosok yang berhasil mutlak, atau dihujat sebagai pimpinan yang “gagal total”. Bineritas penilaian ini tidak hanya menyederhanakan kompleksitas tata kelola pemerintahan, tetapi juga mereduksi dinamika kepemimpinan politik itu sendiri. Hakikatnya, hampir tidak ada pemimpin yang gagal secara menyeluruh atau gagal total. Namun pemimpin yang belum atau tidak berhasil menjalankan keseluruhan program dan janji politiknya secara paripurna. Secara teoretis, ruang kepemimpinan publik selalu bertautan dengan apa yang disebut oleh Niccolò Machiavelli sebagai interaksi antara fortuna (keberuntungan atau dinamika eksternal) dan virtu (kemampuan individual seorang pemimpin). Seorang kepala daerah atau kepala negara mungkin datang deng...