Postingan

Pitutur Luhur: Melik Nggendong Lali

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno (Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah) Dalam perjalanan hidup orang Jawa, banyak sekali ungkapan yang mengandung nasihat mendalam. Salah satu yang cukup dikenal adalah Melik Nggendong Lali. Ungkapan ini memang sudah jarang terdengar di zaman sekarang, tetapi bukan berarti maknanya hilang. Justru di tengah kehidupan modern yang serba cepat, falsafah ini terasa semakin penting untuk diingat kembali. Secara harfiah, kata melik berarti keinginan yang sangat kuat untuk memiliki sesuatu. Keinginan itu bukan sekadar ingin, tetapi sudah mengarah pada rasa tamak dan tidak mau melepaskan. Kata nggendong berarti membawa atau memikul dengan erat, seolah-olah sesuatu itu sudah menyatu dengan diri. Sedangkan lali berarti lupa. Jika tiga kata ini disatukan, maknanya menjadi sebuah peringatan: ketika manusia terlalu besar hasratnya untuk memiliki sesuatu dan terus “menggendong” keinginan itu, maka ia bisa kehilangan kejernihan pikiran dan akhirnya lupa pa...

Pers Sehat di Tengah Gelombang Digital

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Hari Pers Nasional (HPN) 2026 mengusung tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat.” Tema ini bukan sekadar slogan seremonial, melainkan cermin kegelisahan sekaligus harapan terhadap wajah jurnalisme Indonesia di tengah pusaran era digital dan multi-platform media sosial. Di satu sisi, teknologi membuka ruang demokratisasi informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, juga menghadirkan tantangan serius bagi eksistensi pers sebagai pilar keempat demokrasi. Lanskap informasi hari ini berubah sangat cepat. Media sosial menjelma menjadi ruang publik baru, tempat setiap orang dapat memproduksi dan menyebarkan informasi tanpa mekanisme verifikasi. Batas antara karya jurnalistik dan opini pribadi kian kabur. Algoritma lebih menentukan ketimbang kaidah etik. Akibatnya, disinformasi, hoaks, dan ujaran kebencian mudah mengalahkan produk jurnalistik yang disusun dengan kerja profesional. Dalam situasi seperti itu, pers arus utama menghadapi tekanan g...

Lagi-lagi Suap

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melakukan operasi tangkap tangan (OTT). Berita itu seperti ulangan lama yang diputar tanpa jeda. Oknum di Bea Cukai, kepala daerah, hingga hakim digelandang dengan rompi oranye. Kasusnya tetap sama, korupsi. Modusnya pun nyaris tak berubah, suap. Publik kembali menghela napas panjang antara marah, jenuh, dan merasa tak berdaya. Setiap OTT selalu diiringi keheranan semu. Mengapa praktik busuk ini seolah tak pernah jera? Padahal negara telah memiliki perangkat hukum yang tebal, lembaga pengawas berlapis, serta hukuman yang diklaim memberi efek jera. Namun korupsi seperti air yang selalu menemukan celah di batuan sekeras apa pun. Merembes perlahan, merusak dari dalam, lalu menjelma menjadi kebiasaan. Meminjam pemikiran Laurence Friedman tentang sistem hukum, persoalan ini memang tidak bisa dilihat semata dari norma tertulis. Friedman menyebut tiga unsur, yakni struktur hukum, substansi hukum, dan budaya hukum. Indonesia mungki...

Adil Sejak dari Pikiran

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Pada penutupan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Kabupaten Morowali, 4 Februari 2026 lalu, Wakil Direktur Lembaga UKW Persatuan Wartawan Indonesia (LUKW PWI) Mas Eko Pamuji menyampaikan pesan yang terasa sederhana, tetapi sangat mendasar. Mas Eko Pamuji mengingatkan agar wartawan selalu bersikap profesional dalam menjalankan kerja jurnalistik. Profesional, kata beliau, bukan hanya soal mampu menulis berita dengan rapi atau cepat mengirim laporan, melainkan dimulai dari hal yang paling hulu: pikiran yang bersih dari iktikad buruk. Pesan itu menancap kuat. Sebab sering kali persoalan dalam pemberitaan bukan terletak pada teknik menulis, melainkan pada niat di balik tulisan. Berita yang tampak rapi bisa saja menyesatkan jika sejak awal disusun dengan maksud menjatuhkan seseorang, melindungi kepentingan tertentu, atau sekadar mengejar sensasi. Karena itulah, Mas Eko menekankan pentingnya adil sejak dari pikiran. "Saat keluar rumah, wartawan tidak boleh ada dalam pik...

Tidak Sadar Diri

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno (Gambar hanya pemanis) Sabtu pagi di taman pinggir lapangan depan kantor wali kota selalu seperti halaman buku yang terbuka pelan. Udara masih basah oleh embun, suara sepatu olahraga bersahut-sahutan, dan aroma kopling -kopi keliling, mengepul dari termos Mangge Rahman, bercampur wangi kue buroncong yang baru diangkat dari cetakan. Di bangku panjang atau tepatnya undakan turab beton bawah pohon ketapang, lima orang duduk melingkar seperti majelis kecil tanpa undangan resmi. Tonakodi berada di tengah, tenang, bersahaja, dengan tatapan seperti orang yang baru selesai berdamai dengan dirinya sendiri. Kaosnya nyaris tidak berkeringat, karena hanya berjalan santai setengah putaran lapangan. Om Uchen menyeruput kopi, lalu berdecak. “Pahit betul kopi ini, sepahit utang negara.” Om Uly tertawa. “Kalau manis, bukan kopi namanya. Itu janji kampanye Om.” Semua tertawa renyah mendengarnya. Tonakodi tersenyum tipis. Suaranya lembut seperti air dituangkan ke gelas kaca. “Kopi mem...

Mewaspadai Alarm Karhutla Avolua

Gambar
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, bukan sekadar peristiwa kebakaran biasa. Ini adalah alarm keras bagi semua pihak—pemerintah, aparat, dan terutama masyarakat—tentang rapuhnya kesiapsiagaan kita menghadapi ancaman kebakaran di tengah ketidakpastian cuaca di Sulteng. Di antara mendung dan hujan tak menentu, sering cuaca berubah panas secara ekstrem. Api yang hingga kini belum sepenuhnya padam, bahkan telah mendekati permukiman warga, masjid, dan sekolah, menunjukkan betapa cepatnya kebakaran dapat berubah menjadi bencana kemanusiaan. Jarak titik api yang hanya sekira 200 meter dari rumah warga, seharusnya cukup untuk membuat kita semua waspada dan tidak menganggap enteng persoalan ini. Upaya pemadaman yang dilakukan oleh petugas gabungan bersama masyarakat patut diapresiasi. Namun, kejadian ini juga mengungkap fakta penting: pencegahan masih jauh lebih lemah dibandingkan penanganan. Padahal, pemerintah kec...

Qalbun Syakir

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Ahad pagi itu kebun Haji Agus seperti halaman surga kecil. Langit cerah meski diselimuti mendung tipis, angin membawa bau tanah basah sisa hujan semalam. Di bawah pondok bambu yang menghadap petak jagung, Tonakodi duduk bersila ditemani Om Uchen, Om Uly, Ustaz Ishaq, dan sang tuan kebun sendiri. Di tengah mereka mengepul kopi hitam, jagung rebus yang merekah kuning, serta ubi yang masih hangat. “Nikmat itu sederhana,” kata Haji Agus sambil menuang kopi ke cangkir. “Tak perlu mahal untuk merasa kaya.” Tonakodi mengangguk. Di tengah hiruk-pikuk tekanan gaya hidup modern, sering manusia lupa pada sumber kebahagiaan yang paling dekat, hati yang selalu bersyukur. Rahasia hidup bahagia ternyata terletak pada  Qalbun Syakir , hati yang mampu melihat nikmat sekecil apa pun sebagai anugerah besar. Konsep itulah yang ia yakini sebagai fondasi utama meraih keseimbangan dunia akhirat yang kokoh dan menenangkan jiwa. Obrolan pagi itu mengalir pelan seperti air parit di tepi ...