Postingan

Puspa Kurusetra

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Angin malam di perkemahan Pasukan Pandawa berhembus perlahan, membawa aroma wangi bunga kenanga yang menyelinap di antara kemah-kemah prajurit. Namun, di sudut taman keputren yang sunyi, keheningan itu terasa berat dan menyesakkan. Di bawah temaram cahaya bulan purnama, dua insan duduk berdampingan di atas sebuah batu pipih beralaskan rumput lembut. Raden Bambang Irawan, pemuda berwajah tampan dengan sorot mata setajam elang dan senyuman yang selalu mampu menenangkan badai di hati, menggenggam jemari seorang wanita. Wanita itu adalah Dewi Titisari, putri tercinta dari Sang Prabu Kresna dari Dwarawati. Wajah Titisari tertunduk lesu, air mata hangatnya menetes perlahan membasahi punggung tangan Irawan yang ia genggam erat-erat. "Apakah harus selarut ini perbincangan kita, Kangmas?" suara Titisari bergetar, sarat akan ketakutan yang telah berhari-hari menggelayuti benaknya. "Hatiku terasa gundah. Setiap kali angin berhembus dari arah tegal Kurusetra, a...

Lagi-lagi MK Menjadi Positive Legislator

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Publik hukum baru saja menyaksikan ketukan palu Mahkamah Konstitusi (MK) melalui Putusan Nomor 280/PUU-XXIV/2026 yang dibacakan pada 29 Oktober 2026. Dalam amar putusannya, MK secara radikal memangkas tenggat waktu pencabutan Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) oleh pejabat pemerintah—dari yang semula 60 hari kerja sebagaimana diatur dalam Pasal 116 Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara (UU PTUN), menjadi hanya 14 hari kerja. Bagi pencari keadilan yang kerap menjadi korban pembangkangan negara (state disobedience) akibat birokrat mengulur-ulur eksekusi putusan PTUN, putusan ini tentu menjadi angin segar. Namun dari kacamata hukum tata negara, langkah ini kembali mempertegas tren yang kian mengkhawatirkan, yakni bergesernya peran MK secara agresif dari lembaga negative legislator (penghapus norma) menjadi positive legislator (pembentuk norma baru). Fenomena ini memicu pertanyaan krusial: apakah MK sedang menegakkan keadilan, atau justru perlahan merampas k...

Olahraga, Nasionalisme, dan Kuasa Simbolik: Mengurai Badai Geopolitik Kylian Mbappe di Tiongkok

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Di bumi Nusantara, kita mengenal dua peribahasa yang memiliki makna serupa. Pertama, "Mulutmu Harimaumu". Peribahasa ini bermakna, bahwa perkataan yang keluar dari mulut diibaratkan seperti harimau yang siap menerkam atau berbalik membahayakan diri sendiri jika tidak dijaga. Kedua, "Karena Mulut Badan Binasa". Para leluhur bangsa ini menitip pesan budaya, kita menjadi celaka, hancur, atau mendapat masalah besar akibat tidak pandai menjaga perkataan. Kedua peribahasa ini semakin menemukan relevansinya, di tengah kehidupan digital yang tidak tersekat batas-batas teritorial-kebangsaan. Ketika sebuah gestur atau ucapan kasual dari panggung hiburan global melintasi batas-batas teritorial dan kebudayaan, retakan geopolitik sering kali terbuka secara tak terduga. Sebuah candaan ringan dari bintang sepak bola Real Madrid dan tim nasional Prancis, Kylian Mbappe, berubah menjadi badai diplomatik, boikot ekonomi, dan ketegangan politik kebudayaan yang masif...

Cinta Jenaka

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno Langit Karang Kadempel malam itu tampak sumringah. Angin berembus pelan, membawa aroma wangi bunga kemuning yang bercampur dengan bau gosong singkong bakar di dapur Ki Semar Badranaya. Di pojok gubuk bambu, tiga bersaudara, Gareng yang cacad kaki dan matanya melirik tajam, Petruk yang berbadan jangkung layaknya tiang listrik bambu, serta Bagong si bungsu bertubuh bulat mirip gentong, sedang berkumpul melingkar. Namun, suasana malam itu tidak seperti biasanya. Bagong tidak sedang melawak atau tidur mendengkur. Ia mondar-mandir sambil memeluk bantal guling belel, wajahnya yang bulat dan matanya yang teleng tampak kusut masai. Sesekali ia menarik napas panjang hingga perut buncitnya mendesak kain surjan merah yang sudah kekecilan. "Heh, Gong! Kalau bolak-balik terus kayak setrikaan gitu, lantai bambu ini bisa jebol, lho," ejek Petruk sambil mencungkil sela-sela kukunya dengan ujung kapaknya. "Ada angin apa? Kesambit jin di perempatan kah, atau habis ut...

Tragedi Cinta Sukrasana

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Kabut tipis masih membungkus lereng Pertapan Jatipitur tatkala surya pagi menyingsing di ufuk timur. Angin dingin berhembus perlahan, menggoyangkan dedaunan jati yang gugur berserakan. Di halaman pertapan yang tenang itu, berdiri seorang pemuda berparas tampan luar biasa. Wajahnya bagaikan rembulan bersinar terang, dadanya bidang, dan tatapan matanya menembus celah-celah bukit dengan penuh tekad dan ambisi yang membara. Dialah Bambang Sumantri, putra Resi Suwandagni. Namun, di balik keindahan paras Sumantri, ada sosok lain yang merayap keluar dari balik rindangnya pohon beringin tua. Sosok itu kerdil, bertubuh bongkok dengan kulit gelap bersisik kasar, bernapas tersengal-sengal, dan memiliki wajah raksasa kecil yang menakutkan. Dialah Sukrasana, adik kandung Sumantri. Sungguh sebuah suratan takdir yang ganjil. Dari rahim dan darah yang sama, lahir dua insan yang bagaikan langit dan bumi. Yang satu bak dewa dari kahyangan, sementara yang lain bak makhluk dari kegelap...

Menyelamatkan Pers dari Jeratan Churnalisme

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Pers sering diagungkan sebagai pilar keempat demokrasi. Di atas pundaknya, masyarakat menggantungkan harapan akan lahirnya pengawasan yang objektif, independen, dan kritis terhadap pemegang kekuasaan, baik pemerintah maupun korporasi. Namun, jika kita mencermati lanskap media massa hari ini, ada pergeseran memprihatinkan yang pelan-pelan menggerogoti marwah tersebut. Pers yang idealnya bertindak sebagai watchdog (anjing pengawas) kini kian melunak, bahkan terkadang lebih nyaman melakoni peran sebagai lapdog (anjing pangkuan) kekuasaan dan pemilik modal. Tiga fenomena utama yang menjadi kompor pemantik merosotnya independensi ini adalah maraknya jurnalisme rilis, jurnalisme pujian, dan jurnalisme partisan. Ketiganya bukan sekadar pelanggaran etika ringan, melainkan penyakit struktural yang mengikis fungsi kontrol sosial media, membelah publik, dan meruntuhkan kepercayaan terhadap pers. Churnalisme dan Pendangkalan Berita Istilah churnalisme pertama kali...

Sindrom Keledai dan Ilusi Penegakan Hukum Karhutla

Gambar
Pepatah lama sering menyebut bahwa keledai tidak akan terperosok pada lubang yang sama untuk kedua kalinya. Namun, peribahasa tersebut tampaknya kehilangan relevansinya jika dihadapkan pada realitas tata kelola lingkungan di Indonesia. Setiap kali musim kemarau tiba—sebuah siklus alam yang terprediksi dengan presisi nyaris sempurna—negeri ini kembali berkalang kabut asap. Ritual tahunan ini bukan lagi sekadar bencana ekologis, melainkan monumen abadi atas kegagalan sistemik yang dipelihara oleh ketidakseriusan kolektif. Kita, dengan segala klaim kemajuan peradaban, kerap bertindak jauh lebih naif dibanding keledai: dengan sukarela melompat ke dalam lubang kerugian yang sama dari tahun ke tahun. Data resmi yang dipaparkan Kapolri Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto dalam Sidang Kabinet Paripurna pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mempertegas ironi ini. Sepanjang periode 2024 hingga 2026, akumulasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia telah merangsek hingga menyentuh angka fa...