28 Tahun Reformasi: Asa Perubahan yang Dibajak
Oleh: Temu Sutrisno Sebagai eks mahasiswa yang menyaksikan langsung gelombang besar Reformasi 1998, setiap 21 Mei selalu menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada sesak, ada kecewa, sekaligus ada kerinduan pada semangat zaman ketika ribuan mahasiswa turun ke jalan dengan keyakinan bahwa Indonesia sedang menuju perubahan besar. Saat itu, reformasi bukan sekadar slogan. Reformasi adalah harapan. Ada keyakinan bahwa setelah runtuhnya rezim otoriter, bangsa ini akan memasuki era yang lebih adil, lebih bersih, dan lebih demokratis. Namun, setelah hampir tiga dekade berlalu, pertanyaan yang muncul adalah ke mana arah perubahan itu pergi? Mengapa cita-cita besar yang dulu diperjuangkan dengan darah, air mata, dan nyawa, kini terasa seperti menjauh? Reformasi yang diharapkan menjadi tonggak pembebasan rakyat dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), justru tampak seperti dibajak oleh kekuatan-kekuatan yang lebih lihai memainkan sistem. Narasi bahwa reformasi telah dibajak bukan...