Postingan

Ramadan: Menipiskan Hijab, Menemukan Melodi Ilahi

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​Ramadan bukan sekadar perpindahan jam makan atau menahan dahaga di bawah terik matahari. Bagi jiwa yang rindu, Ramadan adalah sebuah perjalanan pulang. Ramadan adalah undangan khusus dari Sang Khalik agar makhluk-Nya menanggalkan sejenak "pakaian dunia" yang berat dan kumal, untuk kemudian masuk ke dalam ruang sunyi di mana hanya ada hamba dan Tuhannya. ​Di dalam tradisi sufistik, Ramadan dipandang sebagai proses menipiskan hijab (penghalang). Selama ini, hijab yang menghalangi kita melihat "Wajah" Allah bukanlah jarak yang jauh, melainkan tebalnya ego, tumpukan nafsu, dan keterikatan kita pada selain-Nya. Ramadan hadir untuk mengikis itu semua. ​Maulana Rumi sering menggambarkan manusia sebagai sebuah seruling bambu. Agar seruling dapat mengeluarkan nada yang indah dan menyentuh sukma, bagian dalamnya harus kosong. Jika seruling itu penuh dengan tanah atau sumbatan, ia hanya akan menjadi sepotong kayu yang bisu. ​Begitu pula dengan diri kita. P...

Ramadan, Ketakwaan, dan Kesalehan Sosial

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Setiap tahun, kedatangan bulan Ramadan disambut dengan gegap gempita ritualistik. Masjid-masjid penuh, pasar takjil menjamur, dan diskursus mengenai tata cara puasa memenuhi ruang publik. Namun, seringkali kita terjebak pada dimensi lahiriah semata, menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga magrib, tanpa menyentuh substansi terdalam dari takwa. Padahal, Ramadan sejatinya adalah sebuah kawah candradimuka untuk membentuk manajemen nafsu yang bermuara pada kesalehan sosial. ​ Melampaui Ritualisme Simbolis ​Secara teologis, tujuan akhir puasa adalah menjadi pribadi yang bertakwa (la’allakum tattaqun). Namun, takwa sering kali disempitkan maknanya sebatas hubungan vertikal antara hamba dan Sang Pencipta. Kita sering melihat fenomena kontradiktif, seseorang yang rajin berpuasa dan salat tarawih, namun di siang hari tetap melakukan praktik pungli, menyebarkan hoaks, atau bersikap eksklusif terhadap tetangga yang berbeda keyakinan. ​Di sinilah letak tantangannya. Ramadan s...

Tahiyat; Dialog Cinta di Sidratul Muntaha

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​ Pernahkah Anda membayangkan sebuah pertemuan paling eksklusif sepanjang sejarah alam semesta? Sebuah undangan VVIP yang hanya diberikan kepada satu orang, di tempat yang bahkan malaikat Jibril pun tidak diizinkan melangkah lebih jauh? Itulah peristiwa Mikraj, saat Nabi Muhammad SAW menghadap Allah SWT di Sidratul Muntaha. ​Secara logika manusia, saat seseorang mencapai puncak kesuksesan atau berada di hadapan "Sang Raja Seluruh Alam" dalam suasana yang begitu intim, cenderung akan fokus pada dirinya sendiri. Ia mungkin akan meminta kemuliaan untuk pribadinya atau kenyamanan bagi dirinya. Namun, di sinilah letak keindahan spiritual Nabi SAW. Beliau adalah pribadi yang paling tidak egois. Sosok yang sangat peduli dan mencintai umatnya.  ​ Dialog yang Agung Diriwayatkan banyak ulama dalam beragam kitab, ​ketika sampai di hadapan Allah, Nabi Muhammad SAW menghaturkan penghormatan yang luar biasa indah.  ​ " At-tahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth tho...

Bersyukurlah Menjadi Hamba

Gambar
 ​Oleh: Temu Sutrisno ​   Seringkali kita merasa beban hidup ini begitu berat, seolah-olah seluruh galaksi sedang menindih pundak kita yang mungil ini. Kita mengeluh soal cicilan, soal pasangan yang kurang peka, hingga soal koneksi internet yang putus-nyambung seperti hubungan remaja labil. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan berpikir , "Untung saya ini cuma hamba ” ? ​Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Sang Arsitek Agung alam semesta, sebenarnya memberikan kita jabatan yang paling keren sekaligus paling santai di seluruh kosmos, yaitu jabatan Hamba. Tapi dasar manusia, kita seringkali merasa lebih "bos" daripada Sang Maha Besar. ​​Perlu kesadaran spiritual yang lumayan tinggi dan sedikit selera humor , untuk menyadari bahwa tidak semua makhluk punya "privilese" menjadi hamba. Bayangkan menjadi batu. Tugasnya hanya diam, kena panas, kena hujan, dan sesekali ditendang anak kecil. Tidak ada dinamika spiritualnya. ​Dalam sejarah "rekrutmen...

Metamorfosis Iblis; dari Makhluk Menjadi Sifat

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   ​Dalam narasi penciptaan, Iblis bukanlah sosok yang datang dari ruang hampa ketaatan. Ia adalah "sang pakar" ibadah, makhluk yang konon pernah menghuni barisan terdepan para malaikat. Namun, sejarah mencatatnya sebagai kegagalan teologis terbesar sepanjang masa. Bukan karena ia berhenti memercayai Tuhan, melainkan karena ia gagal memahami bahwa cinta kepada Sang Khalik tidak bisa dipisahkan dari penghormatan terhadap makhluk-Nya. ​Iblis adalah representasi dari sebuah tragedi spiritual . S osok yang terpeleset di puncak pendakiannya sendiri dan jatuh ke dalam jurang keingkaran yang berbalut jubah ketauhidan. ​​Tragedi ini bermula ketika Allah memerintahkan Iblis untuk bersujud (sebagai bentuk penghormatan, bukan penyembahan) kepada Adam. Di sini Iblis melakukan sebuah "kesalahan logika" yang fatal. I blis memaknai tauhid secara kaku dan buta. Dalam nalar Iblis, ketertundukan hanya boleh diberikan kepada Allah semata. Ia merasa menjadi ...

Ketika Kebencian Mengalahkan Keahlian

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno D i era ketika setiap orang dapat menjadi penyiar, penulis, analis, bahkan "pakar" dalam sekejap, kita menyaksikan gejala yang mengkhawatirkan, kebencian yang dibungkus dengan keahlian. Memanfaatkan beragam platform media, kebencian tidak lagi hadir dalam bentuk teriakan kasar atau makian vulgar. Namun tampil rapi, sistematis, dengan bahasa yang terukur dan diksi yang terdengar ilmiah. Di permukaan, tampak seperti kritik yang sah atau analisis yang tajam. Namun di dalamnya, bersemayam dendam, amarah, dan prasangka. Fenomena ini terasa mengemuka dalam dua tahun terakhir. Jika sebelumnya kepakaran perlahan tergerus oleh disrupsi informasi digital—ketika opini pribadi kerap diperlakukan setara dengan riset akademik—kini wajah kepakaran bahkan melantai di dasar intelektualitas karena kebencian. Gelar akademik, pengalaman profesional, atau reputasi publik dijadikan tameng untuk menyampaikan narasi yang sesungguhnya didorong oleh kekecewaan, ambisi yang gagal, a...

Panggilan Presiden pun tak Berarti

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Sabtu pagi itu langit cerah seperti baru saja mandi tobat. Libur kerja membuat Tonakodi melangkah ringan menuju kediaman Kyai, gurunya dalam mengarungi kehidupan. Rumah sederhana di pojok pesantren itu berdiri teduh di pinggir kampung, dikelilingi pohon mangga yang seolah ikut mengangguk-angguk mendengar angin berzikir. Ramadan tinggal menghitung hari. Sejak subuh, hati Tonakodi seperti rebana yang ditabuh perlahan, bergetar lembut namun penuh irama. Ia datang bersama dua sahabatnya, Om Uchen dan Om Uly. Tiga sekawan ini sering dianggap “jamaah khusus” oleh warga, karena ke mana-mana selalu bersama, seperti huruf mim yang tak mau berpisah dari basmalah. Sampai di kediaman sang Kyai, Tonakodi tampak sumringah. Senyumnya merekah bak delima matang, nyaris membuat Om Uchen berbisik, “Ini orang baru dapat THR duluan atau bagaimana?” Kyai menyambut mereka dengan senyum tipis yang sarat makna. Wajahnya teduh, matanya jernih seperti sumur yang tak pernah kering. “Apa gerang...