Postingan

Gagal Total, Janji Politik, dan Realitas Kekuasaan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Setiap kali masa jabatan seorang pemimpin publik berakhir atau mendekati momen politik tertentu, riak penilaian masyarakat selalu membuncah ke permukaan. Narasi yang berkembang kerap kali terjebak dalam dikotomi yang sangat ekstrem: disanjung sebagai sosok yang berhasil mutlak, atau dihujat sebagai pimpinan yang “gagal total”. Bineritas penilaian ini tidak hanya menyederhanakan kompleksitas tata kelola pemerintahan, tetapi juga mereduksi dinamika kepemimpinan politik itu sendiri. Hakikatnya, hampir tidak ada pemimpin yang gagal secara menyeluruh atau gagal total. Namun pemimpin yang belum atau tidak berhasil menjalankan keseluruhan program dan janji politiknya secara paripurna. Secara teoretis, ruang kepemimpinan publik selalu bertautan dengan apa yang disebut oleh Niccolò Machiavelli sebagai interaksi antara fortuna (keberuntungan atau dinamika eksternal) dan virtu (kemampuan individual seorang pemimpin). Seorang kepala daerah atau kepala negara mungkin datang deng...

Jeritan Ibu Pertiwi

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Lihatlah ke bawah, wahai tuan puan yang bertakhta! Dengarkan gemertak gigi rakyat yang menahan lapar dahaga! Di balik bilik reot yang hampir gulita, Anak-anak bangsa mengeja mimpi di tanah yang gersang. Mereka mengais sisa nasib di ceceran sampah, Menatap masa depan yang kabur disapu duka sejarah. Di mana mata kalian, wahai penguasa? Kalian sibuk bersulang di atas penderitaan jua! Keluarga memamerkan kemewahan tanpa jeda, Membungkus raga dengan sutra bertabur mutiara, Menari-nari jumawa di bilik ruang maya, Seolah negeri ini hanyalah milik kalian semata! Darah rakyat kalian peras menjadi cincin permata, Keringat kaum buruh kalian tukar dengan kendaraan mewah, Air mata petani kalian jadikan istana megah! Apakah nurani telah mati tertutup harta? Hingga tak lagi mampu membedakan empati dan dosa! Jabatan itu amanah, bukan karpet merah untuk berfoya-foya! Bukan tiket emas untuk memanjakan sanak saudara! Ketika kemiskinan mencekik leher rakyat yang setia, Kalian justru te...

Makna Merdeka

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Rindang daun ketapang kencana di sudut lapangan upacara memayungi lima orang yang merayakan kemerdekaan dengan caranya sendiri. Terik matahari Agustus mulai menyengat, tetapi angin sepoi-sepoi membawa ketenangan. Di sana, Tonakodi duduk, mengamati barisan anak-anak sekolah yang rapi berbalut seragam merah-putih dan biru-putih. Di sebelah kirinya, Om Uchen mengelus lututnya yang dibalut perban, sisa oleh-oleh kecelakaan tunggal dua minggu lalu. Di sampingnya, Om Uly menyandarkan kaki kanannya yang membengkak akibat infeksi ringan ke sebatang kayu kecil, wajahnya tetap memancarkan senyum hangat. Meski langkah mereka pincang, semangat menyambut detik-detik proklamasi tak melumpuhkan niat mereka untuk hadir. "Wah, kalau begini caranya, lututku ini ikut merdeka dari rasa sakit kalau melihat dagangan Mas Ragil laris," celoteh Om Uchen terkekeh, memecah kekakuan. Tangannya menunjuk gerobak sepeda motor milik Ragil, penjual sempol keliling yang sibuk menata tusuka...

Menanam Bunga Bangkai

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Rabu sore, udara Palu pelan-pelan mendingin setelah sepanjang siang matahari membakar bumi. Angin tipis berembus santun, mengantarkan Tonakodi dan Om Uchen menyusuri teras rumah Om Uly. Langkah Om Uchen agak tertatih; lututnya belum pulih benar akibat kecelakaan tunggal tempo hari. Namun, senyum dan kelakar tak pernah absen dari wajahnya. "Sakit lutut ketemu sakit kaki, ini namanya reuni tulang rapuh, Kopi!" bisik Om Uchen sambil terkekeh pelan. Tonakodi hanya tersenyum tipis, menepuk bahu sahabatnya itu dengan kelembutan yang menenangkan. Di dalam, Om Uly duduk bersandar di kursi kayu dengan kaki kanan diganjal bantal, tampak bengkak dan memerah. Wajahnya yang biasanya teduh menyimpan sisa rasa nyeri, namun matanya tetap memancarkan keramahan dan kehangatan yang luar biasa saat menyambut kedatangan mereka.  Di ruangan itu, ternyata sudah ada Ami, seorang pemuda santun nan kritis, serta Ryan, remaja Gen Z yang selalu ingin tahu. "Ehh, mari masuk, mari...

Nikel Morowali dan Bayang-Bayang Nauru

Gambar
Di balik deru mesin pengolah nikel yang beroperasi tanpa henti dan jutaan ton produk hilirisasi yang dikapalkan dari pesisir Sulawesi Tengah, sebuah kejanggalan birokrasi mendadak memantik kegaduhan nasional. Melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 157.K/KU.01/MEM.S/2026, pemerintah menetapkan daftar daerah penghasil dan daerah pengolah sumber daya alam mineral dan batubara (minerba).  Anehnya, Kabupaten Morowali dan Morowali Utara, dua jantung kawasan hilirisasi dan pemilik smelter nikel terbesar di Indonesia, justru absen dari daftar resmi daerah pengolah nasional. Absennya Morowali dalam cetak biru fiskal terbaru ini bukan sekadar kekeliruan administratif sepele. Ini adalah paradoks mendasar yang berpotensi merampas hak alokasi Dana Bagi Hasil (DBH) minerba senilai triliunan rupiah dari daerah yang setiap hari menanggung beban ekologis, kerusakan infrastruktur, dan tekanan sosial akibat industrialisasi pertambangan. Akar persoalannya bertumpu pada ego sektoral dan dualisme data: ke...

Derita dalam Merdeka

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Merah-putih berkibar anggun di puncak retorika, Ditiup angin podium yang riuh oleh pekatnya selebrasi merdeka. Tepat di bawah bayang-bayang tiang yang menjulang tinggi, Perut-perut lapar merangkak di atas tanah yang dirampas dalam sepi. Merdeka, sebuah kata yang terlampau mahal harganya, Jika kedaulatan hanya dikuasai oleh mereka yang memegang takhta. *** Ijazah kusam terlipat rapi di balik dada yang gemetar, Antrean pemuda mengetuk gerbang baja yang tak kunjung terhampar. Pabrik-pabrik berdiri bagai benteng asing di atas negeri, Memeras keringat murahan, menukar masa depan dengan ilusi. Di sini, kemiskinan bukan suratan nasib abadi, Melainkan dampak kekuasaan membiarkan rakyat kecil terkulai.  *** Gubuk-gubuk sederhana menatap menara kaca di jantung kota, Keadilan sosial terperangkap dalam bingkai emas berdebu jelaga. Sekolah menjelma komoditas, rumah sakit menjadi penjagal harapan; Si miskin dilarang sakit, anak-anak diceraikan dari panggung impian. Panc...

Siapalah Saya

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Matahari siang membakar aspal kota tanpa ampun. Di tengah deru mesin kendaraan dan hawa panas yang menyengat, Tonakodi mengendarai sepeda motor bututnya dengan tenang. Helmnya yang kusam dan jaket kain yang mulai memudar warnanya menjadi saksi bisu perjalanan panjang yang sabar. Ia tidak terburu-buru, seolah waktu tak pernah sanggup mengejarnya. Motor tua itu akhirnya berhenti di halaman sebuah kantor. Tonakodi melangkah masuk ke ruangan kantor yang sejuk, dikepung hembusan angin AC yang dingin bertolak belakang dengan sengatan udara di luar. Di dalam ruangan bersuhu dingin itu, Ami dan Rahmat tengah bergelut dengan layar komputer masing-masing. "Assalamu’alaikum," tegur Tonakodi lembut. Ami dan Rahmat serentak menoleh. Ami, pemuda yang dikenal santun dan kritis, langsung berdiri mengulas senyum hangat. Di sebelahnya, Rahmat, anak muda khas Gen-Z yang selalu menyimpan segudang pertanyaan, ikut beranjak. "Wa’alaikumussalam!" sambut Ami dan Rahmat...