Hati yang Jujur
Oleh: Temu Sutrisno Jumat pagi itu turun dengan lembut. Hujan rintik menyentuh seng-seng tua di sebuah warung kopi kecil di pinggir masjid. Aroma tanah basah bercampur dengan harum kopi yang baru diseduh. Di sudut warkop sederhana itu, empat orang duduk mengitari meja kayu yang sudah sedikit mengelupas catnya. Tonakodi menggenggam cangkir teh hangat. Uapnya naik perlahan, seolah mengikuti ritme napasnya yang tenang. Wajahnya teduh, matanya dalam, seperti menyimpan banyak perjalanan batin. Di sebelahnya, Om Uchen sudah menyeruput kopi hitamnya dengan gaya santai, sementara Om Uly dan Ustaz Ishaq menikmati kopi susu ditemani sepiring nasi kuning yang masih hangat. “Ah, beginilah hidup yang nikmat,” kata Om Uchen sambil tersenyum lebar. “Hujan rintik, kopi hitam, utang belum jatuh tempo.” Om Uly terkekeh kecil. “Kalau utangnya sudah jatuh tempo, hujan pun terasa seperti tagihan.” Semua tertawa pelan. Tonakodi tersenyum tipis, seolah mendengarkan sesuatu yang lebih dalam dar...