Postingan

Adil Sejak dari Pikiran

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Pada penutupan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Kabupaten Morowali, 4 Februari 2026 lalu, Wakil Direktur Lembaga UKW Persatuan Wartawan Indonesia (LUKW PWI) Mas Eko Pamuji menyampaikan pesan yang terasa sederhana, tetapi sangat mendasar. Mas Eko Pamuji mengingatkan agar wartawan selalu bersikap profesional dalam menjalankan kerja jurnalistik. Profesional, kata beliau, bukan hanya soal mampu menulis berita dengan rapi atau cepat mengirim laporan, melainkan dimulai dari hal yang paling hulu: pikiran yang bersih dari iktikad buruk. Pesan itu menancap kuat. Sebab sering kali persoalan dalam pemberitaan bukan terletak pada teknik menulis, melainkan pada niat di balik tulisan. Berita yang tampak rapi bisa saja menyesatkan jika sejak awal disusun dengan maksud menjatuhkan seseorang, melindungi kepentingan tertentu, atau sekadar mengejar sensasi. Karena itulah, Mas Eko menekankan pentingnya adil sejak dari pikiran. "Saat keluar rumah, wartawan tidak boleh ada dalam pik...

Tidak Sadar Diri

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno (Gambar hanya pemanis) Sabtu pagi di taman pinggir lapangan depan kantor wali kota selalu seperti halaman buku yang terbuka pelan. Udara masih basah oleh embun, suara sepatu olahraga bersahut-sahutan, dan aroma kopling -kopi keliling, mengepul dari termos Mangge Rahman, bercampur wangi kue buroncong yang baru diangkat dari cetakan. Di bangku panjang atau tepatnya undakan turab beton bawah pohon ketapang, lima orang duduk melingkar seperti majelis kecil tanpa undangan resmi. Tonakodi berada di tengah, tenang, bersahaja, dengan tatapan seperti orang yang baru selesai berdamai dengan dirinya sendiri. Kaosnya nyaris tidak berkeringat, karena hanya berjalan santai setengah putaran lapangan. Om Uchen menyeruput kopi, lalu berdecak. “Pahit betul kopi ini, sepahit utang negara.” Om Uly tertawa. “Kalau manis, bukan kopi namanya. Itu janji kampanye Om.” Semua tertawa renyah mendengarnya. Tonakodi tersenyum tipis. Suaranya lembut seperti air dituangkan ke gelas kaca. “Kopi mem...

Mewaspadai Alarm Karhutla Avolua

Gambar
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, bukan sekadar peristiwa kebakaran biasa. Ini adalah alarm keras bagi semua pihak—pemerintah, aparat, dan terutama masyarakat—tentang rapuhnya kesiapsiagaan kita menghadapi ancaman kebakaran di tengah ketidakpastian cuaca di Sulteng. Di antara mendung dan hujan tak menentu, sering cuaca berubah panas secara ekstrem. Api yang hingga kini belum sepenuhnya padam, bahkan telah mendekati permukiman warga, masjid, dan sekolah, menunjukkan betapa cepatnya kebakaran dapat berubah menjadi bencana kemanusiaan. Jarak titik api yang hanya sekira 200 meter dari rumah warga, seharusnya cukup untuk membuat kita semua waspada dan tidak menganggap enteng persoalan ini. Upaya pemadaman yang dilakukan oleh petugas gabungan bersama masyarakat patut diapresiasi. Namun, kejadian ini juga mengungkap fakta penting: pencegahan masih jauh lebih lemah dibandingkan penanganan. Padahal, pemerintah kec...

Qalbun Syakir

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Ahad pagi itu kebun Haji Agus seperti halaman surga kecil. Langit cerah meski diselimuti mendung tipis, angin membawa bau tanah basah sisa hujan semalam. Di bawah pondok bambu yang menghadap petak jagung, Tonakodi duduk bersila ditemani Om Uchen, Om Uly, Ustaz Ishaq, dan sang tuan kebun sendiri. Di tengah mereka mengepul kopi hitam, jagung rebus yang merekah kuning, serta ubi yang masih hangat. “Nikmat itu sederhana,” kata Haji Agus sambil menuang kopi ke cangkir. “Tak perlu mahal untuk merasa kaya.” Tonakodi mengangguk. Di tengah hiruk-pikuk tekanan gaya hidup modern, sering manusia lupa pada sumber kebahagiaan yang paling dekat, hati yang selalu bersyukur. Rahasia hidup bahagia ternyata terletak pada  Qalbun Syakir , hati yang mampu melihat nikmat sekecil apa pun sebagai anugerah besar. Konsep itulah yang ia yakini sebagai fondasi utama meraih keseimbangan dunia akhirat yang kokoh dan menenangkan jiwa. Obrolan pagi itu mengalir pelan seperti air parit di tepi ...

Bahaya Doomscrolling: Kecanduan Konten Negatif

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus menggulir berita negatif tentang konflik, krisis, ketidakadilan, dan kebencian. Tanpa jeda, tanpa batas, dan sering kali tanpa tujuan yang jelas selain ingin tahu lebih banyak. Alih-alih tercerahkan, pikiran justru dibanjiri kecemasan, kemarahan, kebencian, dan rasa tidak berdaya. Fenomena ini menjadi salah satu tantangan serius dalam etika digital kontemporer, terutama karena terjadi secara masif dan sering kali tidak disadari oleh penggunanya. Pada awalnya, doomscrolling tampak seperti aktivitas wajar. Membaca berita untuk mengikuti perkembangan dunia. Namun, perbedaannya terletak pada intensitas dan dampaknya. Doomscrolling tidak berhenti ketika informasi telah cukup, melainkan terus berlanjut meskipun emosi pengguna sudah terkuras. Ada dorongan kompulsif untuk terus menggulir, seolah-olah dengan membaca lebih banyak informasi buruk, seseorang bisa menemukan kejelasan atau kendali. Padahal yang terjadi justru sebalikn...

Gen Campur Tangan AS: Paradoks Thomas Jefferson

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno   Banyak individu di berbagai belahan dunia merasa geram terhadap keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam urusan negara lain. Negara yang kerap mengklaim diri sebagai benteng demokrasi, pelindung hak asasi manusia (HAM), dan penjaga kedaulatan global justru sering tampil sebagai aktor dominan yang mencampuri, menekan, bahkan menggulingkan pemerintahan negara lain. Dari Amerika Latin, Timur Tengah, hingga Asia, jejak intervensi AS kerap meninggalkan luka sosial, konflik berkepanjangan, dan ketidakstabilan politik. Bagi AS, kepentingan nasional sering kali ditempatkan jauh di atas prinsip kedaulatan negara lain . B ahkan di atas nilai HAM yang mereka gaungkan sendiri. Fenomena ini bukanlah anomali modern semata. Ini memiliki akar sejarah yang panjang, tertanam sejak kelahiran Amerika Serikat. Sejak memproklamasikan kemerdekaannya dari Inggris pada 1776, AS telah memikul paradoks antara idealisme kebebasan dan praktik kekuasaan. Bahkan, diskriminasi ra...

Keyboard Warrior; “Budaya Marah-marah" di Media Sosial

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno/Sekretaris PWI Sulawesi Tengah  Pernah menemukan unggahan di media sosial yang isinya penuh kebencian, kemarahan, caci-maki, dan cercaan? Tanpa angin, tanpa hujan, tiba-tiba unggahan semacam itu melintas di beranda kita. Kadang ditujukan pada tokoh publik, kadang pada kelompok tertentu, bahkan tak jarang menyerang individu yang sama sekali tidak kita kenal. Kita mungkin heran, sekaligus lelah. Fenomena inilah yang belakangan dikenal sebagai keyboard warrior , orang-orang yang menjadikan papan ketik sebagai senjata untuk melampiaskan amarah di ruang digital. Fenomena marah-marah di media sosial sejatinya bukan hal baru, namun intensitas dan skalanya meningkat seiring dengan masifnya penggunaan platform digital. Media sosial memberi ruang ekspresi yang luas, cepat, dan nyaris tanpa batas. Dalam kondisi tertentu, ruang ini berubah menjadi arena pelampiasan emosi negatif. Kemarahan, kekecewaan, rasa tidak adil, hingga luka batin yang tidak terselesaikan menemukan ja...