Doa Orang Tua
Oleh: Temu Sutrisno Sabtu pagi di Palu selalu punya cara sendiri untuk merayu penghuninya agar melambat. Matahari naik dengan malu-malu, menyebarkan kehangatan yang pas di kulit, sementara angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah yang kering. Di sou-sou, gazebo kayu sederhana milik Om Uly, asap kopi hitam mengepul tipis, menari-nari di antara tawa yang pecah sesekali. Suasana Idulfitri memang belum sepenuhnya berlalu. Stoples berisi kue dan kacang bawang masih bertengger manis di meja kayu. Tonakodi, yang sejak tadi lebih banyak menyimak, menyesap kopinya pelan. Wajahnya yang tenang memancarkan wibawa yang lembut. Ia meletakkan cangkirnya, lalu menatap satu per satu sahabatnya. "Tadi malam, aku bermimpi," ucap Tonakodi pelan. Suaranya yang rendah seketika membuat riuh di gazebo itu mereda. "Aku bertemu almarhum Bapak. Di mimpi itu, aku merasa kembali jadi remaja, masih pakai celana pendek, duduk di bawah pohon mangga depan rumah." Ami, anak muda yang biasanya kr...