Postingan

Perang AS-Iran, Media Sosial, dan Etika Digital

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​Layar ponsel kini telah menjadi jendela sekaligus medan tempur baru. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) bersama sekutunya, Israel, melawan Iran tidak lagi hanya terjadi di pangkalan militer atau selat-selat strategis, melainkan tumpah ruah di beranda informasi platform media sosial. Mulai dari X (dahulu Twitter), Instagram, FB, hingga TikTok, narasi perang berseliweran tanpa henti, menciptakan kebisingan digital yang sering kali menumpulkan nalar dan rasa kemanusiaan. ​Fenomena ini membawa kita pada satu pertanyaan krusial: Di manakah letak etika digital kita ketika konflik bersenjata pecah? Antara Realitas dan Fabrikasi AI Ruang informasi tidak lagi hadir secara objektif. Apa yang muncul di lini masa kita sangat bergantung pada preferensi pribadi, riwayat pencarian, dan interaksi sebelumnya. Mereka yang bersimpati pada perjuangan Iran akan disuguhi narasi perlawanan terhadap imperialisme AS serta kekejaman dan kesewenang-wenangan Zionisme Israel. Se...

Mempercepat Ketahanan Energi

Gambar
Eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama ketegangan yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Israel, dan Iran, bukan lagi sekadar berita mancanegara dan urusan masing-masing negara. Perang yang berkecamuk, berdampak pada kondisi global.  Bagi Indonesia, gejolak di Selat Hormuz adalah ancaman langsung terhadap denyut nadi industri nasional dan ekonomi masyarakat. Dalam konteks urgensi inilah, kita harus melihat instruksi Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk mempercepat pembangunan tangki penyimpanan minyak (oil storage) sebagai langkah survival yang krusial. ​Rencana pembangunan fasilitas penyimpanan di 18 wilayah, dari Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung (Bali), Bima, Ende, Makassar, Donggala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara, Fakfak, dengan nilai investasi mencapai Rp72 triliun merupakan pengakuan jujur atas kerentanan kita selama ini. Indonesia, sebagai negara dengan konsums...

Antisipasi Kelangkaan BBM

Gambar
Mendung geopolitik di kawasan Teluk bukan lagi sekadar berita mancanegara yang jauh dari pelupuk mata. Ketegangan antara blok Israel-Amerika Serikat melawan Iran telah membawa dunia ke ambang ketidakpastian fatal. Iran bukan hanya membalas serangan Israel-Amerika dengan rudal, tapi juga perang ekonomi dengan menutup Selat Hormuz.  Bagi Indonesia, riak di Selat Hormuz adalah alarm keras bagi ketahanan energi nasional. Pasalnya, urusan bahan bakar minyak (BBM) bukan sekadar angka di SPBU, melainkan urat nadi yang menentukan hidup-matinya stabilitas ekonomi, sosial, dan politik kita. ​Data menunjukkan potret yang cukup mencemaskan. Pada tahun 2026 ini, konsumsi BBM nasional telah menyentuh angka kurang lebih 1,6 juta barel per hari (bph). Ironisnya, kemampuan produksi minyak mentah (lifting) dalam negeri hanya mampu menyumbang sekitar 605.000 bph. Artinya, ada lubang menganga sebesar satu juta barel yang harus ditutup melalui impor. Dengan ketergantungan impor yang melonjak hingga ham...

Was-was Ekonomi Global

Gambar
Infografis: Antara Dunia kembali menahan napas. Eskalasi konflik bersenjata antara Israel dan Iran yang pecah pada Sabtu (28/2/2026) bukan sekadar riak geopolitik biasa. Ini adalah alarm keras bagi stabilitas global yang kini berada di titik nadir. Ketika mesin perang mulai menderu di Timur Tengah, dampaknya tidak berhenti pada dentuman rudal di medan tempur, melainkan merambat cepat ke dapur-dapur warga di seluruh belahan bumi melalui ancaman kelumpuhan ekonomi. ​Fokus perhatian kini tertuju pada satu titik sempit namun mematikan: Selat Hormuz. Jalur yang secara geografis menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia ini adalah "nadi leher" bagi perdagangan energi dunia. Data mencatat bahwa sepanjang 2025, sekitar 14 juta barel minyak per hari—sepertiga dari total ekspor minyak mentah dunia, bergantung pada kelancaran arus di selat ini. Belum lagi 20 persen pasokan gas alam cair (LNG) global yang mayoritas berasal dari Qatar. ​Bayangkan jika "keran" ini ditutup....

Puasa Digital: Bebas dari Budak Notifikasi

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​Bulan Ramadan sering kali kita maknai sebagai madrasah spiritual. Di dalamnya, kita dilatih untuk menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, di era transformasi digital yang begitu masif, tantangan ibadah puasa tidak lagi sekadar urusan perut dan tenggorokan. Ada medan tempur baru yang jauh lebih sulit dikendalikan karena berada dalam genggaman tangan kita setiap saat: layar ponsel. ​Puasa pada hakikatnya adalah imsak, yang berarti menahan diri. Jika dulu musuh utama dalam menahan diri adalah aroma makanan yang menggoda atau emosi yang meledak di dunia nyata, kini musuh itu bertransformasi menjadi barisan kalimat provokatif di kolom komentar dan banjir informasi negatif yang tak berkesudahan. Menata hati di bulan Ramadan kini berarti juga menata jari dalam memanfaatkan teknologi digital. ​ Perisai di Balik Layar ​Di tengah riuhnya interaksi digital, kita sering menjumpai fenomena yang dikenal sebagai keyboard warriors atau pendekar pa...

Evaluasi Program MBG

Gambar
​Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejatinya diproyeksikan sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045 kini tengah diuji konsistensinya. Alih-alih menjadi berkah di bulan suci, pelaksanaan MBG selama Ramadan justru memicu gelombang protes. Persoalan klasik muncul ke permukaan: kualitas menu yang dianggap jauh dari standar gizi dan ketidaksesuaian antara realitas piring makan dengan anggaran besar yang digelontorkan. ​Kita harus jujur mengakui bahwa sebuah kebijakan publik skala masif memang rentan terhadap kendala teknis. Namun, ketika menyangkut urusan perut dan masa depan anak bangsa, toleransi terhadap kesalahan harus ditekan hingga ke titik nol. Menu yang tidak bergizi bukan sekadar masalah salah masak, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. ​Sayangnya, di tengah karut-marut teknis ini, para aktor politik mulai "berselancar" mencari panggung. Sangat disayangkan melihat program yang bersifat kemanusiaan dan inves...

Setop Perang demi Kemanusiaan

Gambar
​ Dunia kembali terbangun dalam dekapan horor yang mencekam. Eskalasi konflik di Timur Tengah telah mencapai titik nadir yang paling mengkhawatirkan sejak pecahnya ketegangan AS-Israel melawan Iran. Serangan udara yang menargetkan jantung pemerintahan dan instalasi pertahanan di Teheran, yang kemudian dibalas dengan hujan rudal ke berbagai pangkalan militer di penjuru Teluk, bukan lagi sekadar gertakan geopolitik. Ini adalah lonceng kematian bagi stabilitas global. ​Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama  Ali Shamkani, penasihat utama dan menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Iran, dikabarkan gugur dalam serangan tersebut.  Kantor resmi berita Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA), juga melaporkan Panglima Teringgi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mohammad Pakpour, turut tewas dalam serangan yang sama. Gugurnya ketiga pemimpin Iran seolah menjadi bahan bakar baru bagi api yang sudah membara.  Di satu sisi, ada sorak-sorai kemenangan yang menggaung dar...