Postingan

Nikel Morowali dan Bayang-Bayang Nauru

Gambar
Di balik deru mesin pengolah nikel yang beroperasi tanpa henti dan jutaan ton produk hilirisasi yang dikapalkan dari pesisir Sulawesi Tengah, sebuah kejanggalan birokrasi mendadak memantik kegaduhan nasional. Melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 157.K/KU.01/MEM.S/2026, pemerintah menetapkan daftar daerah penghasil dan daerah pengolah sumber daya alam mineral dan batubara (minerba).  Anehnya, Kabupaten Morowali dan Morowali Utara, dua jantung kawasan hilirisasi dan pemilik smelter nikel terbesar di Indonesia, justru absen dari daftar resmi daerah pengolah nasional. Absennya Morowali dalam cetak biru fiskal terbaru ini bukan sekadar kekeliruan administratif sepele. Ini adalah paradoks mendasar yang berpotensi merampas hak alokasi Dana Bagi Hasil (DBH) minerba senilai triliunan rupiah dari daerah yang setiap hari menanggung beban ekologis, kerusakan infrastruktur, dan tekanan sosial akibat industrialisasi pertambangan. Akar persoalannya bertumpu pada ego sektoral dan dualisme data: ke...

Derita dalam Merdeka

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Merah-putih berkibar anggun di puncak retorika, Ditiup angin podium yang riuh oleh pekatnya selebrasi merdeka. Tepat di bawah bayang-bayang tiang yang menjulang tinggi, Perut-perut lapar merangkak di atas tanah yang dirampas dalam sepi. Merdeka, sebuah kata yang terlampau mahal harganya, Jika kedaulatan hanya dikuasai oleh mereka yang memegang takhta. *** Ijazah kusam terlipat rapi di balik dada yang gemetar, Antrean pemuda mengetuk gerbang baja yang tak kunjung terhampar. Pabrik-pabrik berdiri bagai benteng asing di atas negeri, Memeras keringat murahan, menukar masa depan dengan ilusi. Di sini, kemiskinan bukan suratan nasib abadi, Melainkan dampak kekuasaan membiarkan rakyat kecil terkulai.  *** Gubuk-gubuk sederhana menatap menara kaca di jantung kota, Keadilan sosial terperangkap dalam bingkai emas berdebu jelaga. Sekolah menjelma komoditas, rumah sakit menjadi penjagal harapan; Si miskin dilarang sakit, anak-anak diceraikan dari panggung impian. Panc...

Siapalah Saya

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Matahari siang membakar aspal kota tanpa ampun. Di tengah deru mesin kendaraan dan hawa panas yang menyengat, Tonakodi mengendarai sepeda motor bututnya dengan tenang. Helmnya yang kusam dan jaket kain yang mulai memudar warnanya menjadi saksi bisu perjalanan panjang yang sabar. Ia tidak terburu-buru, seolah waktu tak pernah sanggup mengejarnya. Motor tua itu akhirnya berhenti di halaman sebuah kantor. Tonakodi melangkah masuk ke ruangan kantor yang sejuk, dikepung hembusan angin AC yang dingin bertolak belakang dengan sengatan udara di luar. Di dalam ruangan bersuhu dingin itu, Ami dan Rahmat tengah bergelut dengan layar komputer masing-masing. "Assalamu’alaikum," tegur Tonakodi lembut. Ami dan Rahmat serentak menoleh. Ami, pemuda yang dikenal santun dan kritis, langsung berdiri mengulas senyum hangat. Di sebelahnya, Rahmat, anak muda khas Gen-Z yang selalu menyimpan segudang pertanyaan, ikut beranjak. "Wa’alaikumussalam!" sambut Ami dan Rahmat...

Memfitnah Binatang

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Sore itu Om Uchen dan sahabat selalu punya cara sendiri untuk melunakkan waktu. Di sou-sou, pondok kayu di samping rumah Om Uly, angin senja berhembus perlahan, membawa aroma tanah basah dan desir daun mangga. Langit mulai menyerap warna keemasan, menandakan Maghrib tak lama lagi bertandang. Di atas meja kayu yang melengkung dimakan usia, tersaji piring berisi pisang goreng iris tipis yang renyah. Di sebelahnya, semangkuk dabu-dabu dengan irisan cabai rawit, tomat merah, dan bawang merah menyebarkan aroma segar—terlebih setelah disiram minyak kampung hangat, minyak kelapa murni buatan tangan yang gurihnya tiada tara. "Nah, ini baru hidup!" celetuk Om Uchen sambil mencelupkan pisang gorengnya tebal-tebal ke dalam dabu-dabu. "Pisang goreng tipis, dabu-dabu minyak kelapa asli, tambah kopi hitam. Kurang apa lagi? Tinggal menunggu nasib baik jatuh dari langit!" Om Uly tertawa kecil, matanya menyipit hangat di balik kacamata tulisnya. "Kau ini, Ch...

Kembalikan Senyum Ibu Pertiwi

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Tercurah air mata ibu pertiwi Remuk redam negeri Hancur karena anak sendiri Korupsi seperti wabah tiada henti Rakus harta membutakan mata Janji manis tinggal cerita Rakyat kecil makin menderita Tenggelam dalam jerat duka Sumpah pengabdian cuma hiasan Di balik jas penuh kemewahan Mereka merampas tanpa kasihan Menjual keadilan demi jabatan Hukum terkadang tumpul di atas Bisa dibeli dengan emas Sementara jelata terjerat cemas Melihat kebenaran kian tertindas Kemana nurani para pemimpin? Harapan rakyat kini terasing  Mengais rezeki bak menjaring angin Melihat penguasa berpesta bersanding dingin Lahan subur berganti nestapa Jerit kelaparan di mana-mana Harta negara habis disapa Oleh jemari bermulut bisa Tidakkah terpikir masa depan? Anak cucu menanggung beban Di tanah kaya bernasib malang Karena keserakahan yang tak berpalang Namun asa tak boleh padam Meski jeritan menjurang dalam Kini saatnya nurani membakar kelam Menolak tunduk pada gelap malam Bangkitlah wa...

Seri Jurnalistik: Pengelolaan Media Siber

Gambar
Di tengah gempuran tren digital, integrasi antara Search Engine Optimization (SEO), analisis statistik algoritma, dan regulasi pers menjadi kunci utama memonetisasi media siber tanpa mengorbankan kualitas jurnalisme. Saat ini, pembaruan algoritma seperti Google Core Update dan platform media sosial sangat memprioritaskan orisinalitas, reputasi, serta kepatuhan hukum. Lantas, bagaimana pengelola media siber menyelaraskan ketiganya? Berikut adalah panduan taktis untuk membangun media siber yang berintegritas sekaligus menguntungkan. 1. Optimalisasi SEO Berbasis E-E-A-T Algoritma mesin pencari kini mengandalkan prinsip E-E-A-T untuk menentukan peringkat artikel berita. E-E-A-T dalam konteks media siber dan mesin pencari adalah singkatan dari Experience (Pengalaman), Expertise (Keahlian), Authoritativeness (Otoritas), dan Trustworthiness (Kepercayaan). Ini adalah kerangka pedoman kualitas yang dipakai oleh Google untuk menilai apakah sebuah konten atau situs media menyajikan informas...

Lebih Baik dari Kemarin

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno   Senin siang itu, lantai dua kantor asosiasi profesi rasanya tidak berbeda jauh dengan dalam oven yang sedang dipanaskan. Di luar jendela, terik matahari kota membara tanpa ampun, memanggang jalanan hingga aspal seolah meleleh. Kipas angin berputar dengan bunyi berderit memelas, sementara unit AC tua di sudut ruangan menjerit payah, menyemburkan angin hangat yang tak sanggup melawan gelombang hawa panas. Namun, lima orang yang duduk di sofa tua itu tampak menikmati momen. Cangkir-cangkir berisi kopi hitam pekat mengepulkan aroma khas yang menenangkan, menembus hawa yang kurang bersahabat dalam ruangan. "Kenapa ya, makin ke sini rasanya makin capek mengejar orang lain?" Ryan membuka perbincangan, memecah kesunyian. Pandangannya yang resah masih tertuju pada layar ponsel yang menampilkan linimasa media sosial kawan lamanya. "Lihat, teman angkatanku sudah buka cabang usaha ketiga. Yang satu lagi baru beli rumah di kawasan elite. Sedangkan saya...