Postingan

Tahiyat; Dialog Cinta di Sidratul Muntaha

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno ​ Pernahkah Anda membayangkan sebuah pertemuan paling eksklusif sepanjang sejarah alam semesta? Sebuah undangan VVIP yang hanya diberikan kepada satu orang, di tempat yang bahkan malaikat Jibril pun tidak diizinkan melangkah lebih jauh? Itulah peristiwa Mikraj, saat Nabi Muhammad SAW menghadap Allah SWT di Sidratul Muntaha. ​Secara logika manusia, saat seseorang mencapai puncak kesuksesan atau berada di hadapan "Sang Raja Seluruh Alam" dalam suasana yang begitu intim, cenderung akan fokus pada dirinya sendiri. Ia mungkin akan meminta kemuliaan untuk pribadinya atau kenyamanan bagi dirinya. Namun, di sinilah letak keindahan spiritual Nabi SAW. Beliau adalah pribadi yang paling tidak egois. Sosok yang sangat peduli dan mencintai umatnya.  ​ Dialog yang Agung Diriwayatkan banyak ulama dalam beragam kitab, ​ketika sampai di hadapan Allah, Nabi Muhammad SAW menghaturkan penghormatan yang luar biasa indah.  ​ " At-tahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth tho...

Bersyukurlah Menjadi Hamba

Gambar
 ​Oleh: Temu Sutrisno ​   Seringkali kita merasa beban hidup ini begitu berat, seolah-olah seluruh galaksi sedang menindih pundak kita yang mungil ini. Kita mengeluh soal cicilan, soal pasangan yang kurang peka, hingga soal koneksi internet yang putus-nyambung seperti hubungan remaja labil. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan berpikir , "Untung saya ini cuma hamba ” ? ​Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Sang Arsitek Agung alam semesta, sebenarnya memberikan kita jabatan yang paling keren sekaligus paling santai di seluruh kosmos, yaitu jabatan Hamba. Tapi dasar manusia, kita seringkali merasa lebih "bos" daripada Sang Maha Besar. ​​Perlu kesadaran spiritual yang lumayan tinggi dan sedikit selera humor , untuk menyadari bahwa tidak semua makhluk punya "privilese" menjadi hamba. Bayangkan menjadi batu. Tugasnya hanya diam, kena panas, kena hujan, dan sesekali ditendang anak kecil. Tidak ada dinamika spiritualnya. ​Dalam sejarah "rekrutmen...

Metamorfosis Iblis; dari Makhluk Menjadi Sifat

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   ​Dalam narasi penciptaan, Iblis bukanlah sosok yang datang dari ruang hampa ketaatan. Ia adalah "sang pakar" ibadah, makhluk yang konon pernah menghuni barisan terdepan para malaikat. Namun, sejarah mencatatnya sebagai kegagalan teologis terbesar sepanjang masa. Bukan karena ia berhenti memercayai Tuhan, melainkan karena ia gagal memahami bahwa cinta kepada Sang Khalik tidak bisa dipisahkan dari penghormatan terhadap makhluk-Nya. ​Iblis adalah representasi dari sebuah tragedi spiritual . S osok yang terpeleset di puncak pendakiannya sendiri dan jatuh ke dalam jurang keingkaran yang berbalut jubah ketauhidan. ​​Tragedi ini bermula ketika Allah memerintahkan Iblis untuk bersujud (sebagai bentuk penghormatan, bukan penyembahan) kepada Adam. Di sini Iblis melakukan sebuah "kesalahan logika" yang fatal. I blis memaknai tauhid secara kaku dan buta. Dalam nalar Iblis, ketertundukan hanya boleh diberikan kepada Allah semata. Ia merasa menjadi ...

Ketika Kebencian Mengalahkan Keahlian

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno D i era ketika setiap orang dapat menjadi penyiar, penulis, analis, bahkan "pakar" dalam sekejap, kita menyaksikan gejala yang mengkhawatirkan, kebencian yang dibungkus dengan keahlian. Memanfaatkan beragam platform media, kebencian tidak lagi hadir dalam bentuk teriakan kasar atau makian vulgar. Namun tampil rapi, sistematis, dengan bahasa yang terukur dan diksi yang terdengar ilmiah. Di permukaan, tampak seperti kritik yang sah atau analisis yang tajam. Namun di dalamnya, bersemayam dendam, amarah, dan prasangka. Fenomena ini terasa mengemuka dalam dua tahun terakhir. Jika sebelumnya kepakaran perlahan tergerus oleh disrupsi informasi digital—ketika opini pribadi kerap diperlakukan setara dengan riset akademik—kini wajah kepakaran bahkan melantai di dasar intelektualitas karena kebencian. Gelar akademik, pengalaman profesional, atau reputasi publik dijadikan tameng untuk menyampaikan narasi yang sesungguhnya didorong oleh kekecewaan, ambisi yang gagal, a...

Panggilan Presiden pun tak Berarti

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Sabtu pagi itu langit cerah seperti baru saja mandi tobat. Libur kerja membuat Tonakodi melangkah ringan menuju kediaman Kyai, gurunya dalam mengarungi kehidupan. Rumah sederhana di pojok pesantren itu berdiri teduh di pinggir kampung, dikelilingi pohon mangga yang seolah ikut mengangguk-angguk mendengar angin berzikir. Ramadan tinggal menghitung hari. Sejak subuh, hati Tonakodi seperti rebana yang ditabuh perlahan, bergetar lembut namun penuh irama. Ia datang bersama dua sahabatnya, Om Uchen dan Om Uly. Tiga sekawan ini sering dianggap “jamaah khusus” oleh warga, karena ke mana-mana selalu bersama, seperti huruf mim yang tak mau berpisah dari basmalah. Sampai di kediaman sang Kyai, Tonakodi tampak sumringah. Senyumnya merekah bak delima matang, nyaris membuat Om Uchen berbisik, “Ini orang baru dapat THR duluan atau bagaimana?” Kyai menyambut mereka dengan senyum tipis yang sarat makna. Wajahnya teduh, matanya jernih seperti sumur yang tak pernah kering. “Apa gerang...

Bersih Hati dan Peduli

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Jumat pagi itu langit menggantung mendung seperti kain abu-abu yang belum sempat dijemur matahari. Di lantai dua kantor profesi yang menghadap jalan utama, angin berembus dari taman tanpa kembang, membawa asap knalpot bercampur wangi kopi hitam. Di atas meja, beberapa bungkus nasi kuning terbuka, uapnya menari perlahan seperti doa yang belum selesai dilangitkan. Tonakodi duduk santai di kursi rotan. Wajahnya tenang, matanya teduh. Ia memegang cangkir kopi dengan dua tangan, seolah sedang memeluk sebuah pemikiran. Di kursi lainnya, Om Uchen, Om Uly, Ami, Haji Agus, dan Ustaz Ishaq berkumpul. Mereka menunggu waktu salat Jumat, membiarkan pagi berjalan tanpa tergesa. “Langit mendung begini,” kata Om Uchen sambil menyuap nasi kuning, “cocok untuk orang yang banyak dosa. Suasananya meratap syahdu, seperti syair tobat a la Rumi.” Om Uly tertawa pendek. “Kalau begitu, Komiu yang paling cocok, Om Uchen. Dari tadi mukamu paling khusyuk, seperti melantunkan doa hajat.” Tawa k...

Batas Pernyataan Advokat di Luar Persidangan

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno     Era digital membawa perubahan besar dalam cara advokat berkomunikasi dengan publik. Jika dahulu pendapat hukum advokat lebih banyak terdengar di ruang persidangan, kini ruang itu meluas ke podcast, talk show, hingga beragam platform media sosial. Fenomena ini pada satu sisi positif karena masyarakat memperoleh edukasi hukum secara lebih terbuka. Namun di sisi lain, muncul persoalan serius ketika advokat, atas nama pembelaan klien, melontarkan pernyataan yang bernada menuduh pihak lain sebelum adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Kita kerap mendengar pernyataan seperti, “ Saya yakin si A 99,9 persen pasti bersalah. si A telah melakukan tindak pidana ini dan itu ,” atau bahkan ungkapan hiperbolis lain yang bernada menghakimi. Pernyataan semacam itu, entah disadari atau sekadar kepleset lidah, berpotensi melanggar asas praduga tak bersalah dan dapat menyeret advokat pada persoalan hukum baru berupa dugaan pencemaran nama bai...