Postingan

Kedudukan Peraturan Dewan Pers dalam Hukum di Indonesia

Gambar
  Oleh : Temu Sutrisno   Perdebatan mengenai kedudukan hukum Peraturan Dewan Pers sesungguhnya bukan hal baru. Sebagian kalangan mempertanyakan bagaimana mungkin sebuah lembaga yang bukan pembentuk peraturan perundang-undangan dapat mengeluarkan aturan yang memiliki daya ikat. Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi jawabannya menyentuh aspek mendasar mengenai kemerdekaan pers, hak asasi manusia, dan konsep negara hukum demokratis yang dianut Indonesia. Dalam praktiknya, berbagai peraturan Dewan Pers, termasuk yang mengatur Kode Etik Jurnalistik, Standar Kompetensi Wartawan, maupun pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW), pernah menjadi objek gugatan hukum. Namun, berbagai putusan pengadilan, mulai dari Pengadilan Negeri hingga Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi, pada prinsipnya mengakui keberadaan dan legitimasi aturan-aturan tersebut. Pengakuan ini tidak lahir tanpa dasar, melainkan bertumpu pada sistem pers Indonesia yang menganut prinsip self-regulation atau swa...

Mengkritik dengan Data, Bukan Prasangka

Gambar
  Oleh : Temu Sutrisno Sebagai anak kampung dari kawasan transmigrasi, saya masih ingat betul bagaimana situasi pendidikan pada tahun 1990-an. Saat itu, bisa melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi merupakan sebuah kesyukuran besar. Tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama. Beasiswa sangat terbatas, informasi sulit diakses, dan banyak anak cerdas harus mengubur cita-citanya karena keterbatasan ekonomi. Keadaan hari ini tentu belum sempurna. Namun, jika dibandingkan dengan masa lalu, akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu telah jauh berkembang. Pemerintah memiliki Program Indonesia Pintar (PIP), Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, beasiswa LPDP, hingga berbagai skema bantuan pendidikan lainnya yang menjangkau jutaan peserta didik. Karena itu, saya merasa miris ketika mendengar ada orang yang mengaku tokoh masyarakat atau mahasiswa mengkritik pemerintah dengan narasi bahwa negara tidak memedulikan pendidikan dan hanya mementingkan Program Makan Bergizi Gratis...

Mahasiswa dan Budaya Dialog Multiperspektif

Gambar
Oleh : Temu Sutrisno Anggap saja ini nostalgia. Sebelum tahun 2000-an mahasiswa sangat akrab dengan tradisi diskusi, seminar, bedah buku, dan berbagai forum intelektual lainnya. Aktivitas semacam itu bukan sekadar pelengkap kehidupan kampus, melainkan bagian dari keseharian mahasiswa. Saya bersama teman-teman saat itu selalu mencari ruang diskusi. Jika tidak ada kegiatan yang tersedia, kami mengadakannya sendiri. Hari Sabtu bisa dihabiskan berjam-jam di perpustakaan daerah untuk membaca referensi, menyusun bahan, lalu mendiskusikan gagasan dengan penuh semangat. Dalam forum-forum tersebut hampir tidak ada istilah “pokoknya”. Setiap pendapat harus memiliki dasar argumentasi. Perbedaan pandangan dianggap sebagai kekayaan intelektual, bukan ancaman. Tidak ada menang atau kalah, tidak ada yang merasa paling pintar atau bodoh. Semua saling belajar dan memperkaya wawasan. Ironisnya, ketika informasi justru melimpah di era digital, tradisi intelektual semacam itu tampak semakin berkurang. Dis...

Reformasi 98 dan Gerakan 2026

Gambar
Oleh : Temu Sutrisno Tahun 1998 menjadi salah satu titik balik paling penting dalam sejarah Indonesia modern. Gelombang demonstrasi mahasiswa yang berlangsung di berbagai kota berhasil mendorong berakhirnya pemerintahan Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun. Saya termasuk salah satu penyaksi dari gerakan besar tersebut. Di kampus-kampus, mahasiswa menjadi motor perubahan. Jalanan dipenuhi suara tuntutan reformasi, sementara masyarakat yang dilanda krisis ekonomi memberikan dukungan moral terhadap perjuangan itu. Kini, hampir tiga dekade kemudian, kembali muncul wacana tentang “Reformasi Jilid Dua”. Mahasiswa turun ke jalan menyuarakan kritik terhadap berbagai persoalan bangsa, mulai dari korupsi, ketimpangan ekonomi, hingga berbagai kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat. Namun, sebagai orang yang menyaksikan langsung dinamika tahun 1998, saya melihat bahwa kondisi Indonesia saat ini sangat berbeda dengan keadaan ketika reformasi pertama lahir. Kondisi 1998 dan 202...

Hijrah yang Menyatukan Bangsa

Gambar
  Oleh : Temu Sutrisno Tahun Baru 1 Muharam 1448 Hijriah bukan sekadar penanda pergantian kalender bagi umat Islam. Momentum ini membawa pesan mendalam tentang perubahan, pembaruan, dan keberanian meninggalkan kebiasaan lama menuju keadaan yang lebih baik. Semangat hijrah yang diwariskan Nabi Muhammad SAW sejatinya tidak hanya relevan bagi kehidupan individu, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi perjalanan bangsa Indonesia di tengah berbagai tantangan yang dihadapi saat ini. Indonesia sedang berada dalam situasi yang membutuhkan energi perubahan sekaligus energi persatuan. Perekonomian nasional masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global, mulai dari gejolak geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, hingga fluktuasi harga komoditas. Di sisi lain, praktik korupsi masih terus ditemukan dan menggerogoti kepercayaan publik. Tidak kalah mengkhawatirkan, rasa kekeluargaan nasional juga menghadapi ujian akibat polarisasi sosial, pertentangan politik, serta mengerasnya perdebatan...

Hijrah untuk Kemajuan Bangsa

Gambar
Tahun Baru 1 Muharam 1448 Hijriah bukan sekadar penanda pergantian kalender bagi umat Islam. Tahun baru membawa pesan mendalam tentang perubahan, pembaruan, dan keberanian meninggalkan kebiasaan lama menuju keadaan yang lebih baik. Semangat hijrah yang diwariskan Nabi Muhammad SAW sejatinya tidak hanya relevan bagi kehidupan individu, tetapi juga penting dijadikan inspirasi bagi perjalanan bangsa Indonesia di tengah berbagai tantangan yang dihadapi saat ini. Indonesia sedang berada dalam situasi yang membutuhkan energi perubahan. Perekonomian nasional masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global, mulai dari gejolak geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, hingga fluktuasi harga komoditas. Di saat yang sama, praktik korupsi masih terus ditemukan, menggerogoti kepercayaan publik dan menghambat pembangunan. Tidak kalah mengkhawatirkan, rasa kekeluargaan nasional juga menghadapi ujian akibat polarisasi sosial dan mengerasnya perdebatan di ruang digital. Bahkan tidak sedikit yang ter...

Pilihan Kata, Isi Kepala, dan Etika

Gambar
Oleh : Temu Sutrisno Era kebebasan bersuara yang dinikmati masyarakat saat ini sesungguhnya memberikan ruang yang luas bagi setiap orang untuk menyampaikan gagasan, kritik, maupun pandangannya terhadap berbagai persoalan. Namun di balik kebebasan tersebut, ada satu hal yang sering terlupakan, yakni tanggung jawab moral dalam menggunakan bahasa. Fenomena yang cukup memprihatinkan adalah munculnya banyak figur yang ditokohkan masyarakat atau bahkan mengaku sebagai tokoh publik, tetapi justru gemar menggunakan kata-kata kasar, merendahkan, mencaci, dan menghina pihak lain. Perilaku semacam ini dapat dengan mudah ditemukan di berbagai platform media sosial, kanal video, hingga forum diskusi publik. Alih-alih menghadirkan argumentasi yang mencerahkan, sebagian orang justru lebih memilih menyerang pribadi lawan bicara dengan bahasa yang buruk. Padahal, pilihan kata atau diksi merupakan cerminan langsung dari isi kepala seseorang. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga jendela y...