Mematikan Kamera Tuhan
Oleh: Temu Sutrisno Mentari Ahad pagi baru saja merambat di atas pucuk-pucuk pohon trembesi yang menaungi Taman Kota. Angin sisa subuh berhembus pelan, membawa kesegaran sisa embun yang belum sepenuhnya menguap. Suasana taman mulai diramaikan oleh warga yang selesai berolahraga. Ada yang berswafoto, meluruskan kaki di atas rumput, hingga berburu kuliner pagi. Di bawah rindangnya pohon mahoni terbesar di sudut taman, Tonakodi duduk bersila dengan tenang. Wajahnya yang teduh selalu memancarkan kedamaian, bak telaga jernih yang tak pernah terganggu oleh ripples angin. Di sampingnya, Om Uchen sedang sibuk menyapu keringat di lehernya menggunakan handuk kecil sambil sesekali memegangi perutnya yang agak buncit. Tak jauh dari mereka, Om Uly datang membawa empat gelas plastik kopi hitam yang baru dibelinya dari paman Kopling—kopi keliling dengan sepeda motor modifikasi. "Nah, ini dia! Suplemen terbaik setelah berpura-pura lari tiga putaran!" seru Om Uly dengan senyum hangatnya yang...