Pitutur Luhur: Ati-ati Lathi Isa Gawe Laraning Ati

Oleh: Temu Sutrisno, Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo


​Dalam khazanah kearifan masyarakat Jawa, kata-kata bukanlah sekadar bunyi yang keluar dari rongga mulut. Ia adalah representasi dari kedalaman jiwa, cerminan watak, sekaligus penentu martabat seseorang. Salah satu pusaka nilai yang tetap relevan melintasi zaman adalah pitutur luhur: Ati-ati lathi isa gawe laraning ati.

​Secara harfiah, pitutur ini mengingatkan kita untuk berhati-hati dengan lidah (lathi), karena lidah memiliki kekuatan luar biasa untuk melukai perasaan (ati) orang lain. Di balik kesederhanaan kalimatnya, tersimpan filosofi mendalam tentang etika berkomunikasi, pengendalian diri, dan tanggung jawab sosial yang kini mulai terkikis oleh riuhnya jagat digital.

Lathi: Pedang Tanpa Bilah

​Masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi konsep “Ajining diri ana ing lathi” (Harga diri seseorang terletak pada lidahnya atau ucapannya). Dalam perspektif ini, ucapan adalah tolok ukur utama kualitas kemanusiaan. 

​Mengapa lidah dipandang begitu berbahaya? Peribahasa "lidah tak bertulang" menggambarkan sifat ucapan yang sangat fleksibel namun tajam. Sebuah luka fisik akibat sayatan pedang mungkin akan mengering dan sembuh dalam hitungan hari, meninggalkan bekas yang bisa memudar. Namun, luka yang disebabkan oleh ucapan yang merendahkan, fitnah, atau caci maki sering kali menetap di relung hati yang paling dalam, bahkan hingga puluhan tahun.

​Dalam budaya Jawa, menjaga lisan bukan hanya soal menghindari kata kasar, melainkan juga menjaga unggah-ungguh (tata krama). Memilih kata yang tepat sesuai dengan siapa kita berbicara adalah bentuk penghormatan terhadap kemanusiaan orang lain. Ketika seseorang gagal menjaga lathinya, ia tidak hanya menyakiti orang lain, tetapi sebenarnya sedang menjatuhkan martabatnya sendiri ke titik terendah.

Transformasi Lathi di Era Digital

​Zaman berganti, cara manusia berkomunikasi pun mengalami revolusi. Jika dulu lathi dimaknai sebagai suara yang keluar dari mulut dalam pertemuan tatap muka, kini definisi "lidah" telah meluas hingga ke ujung jari. Di era media sosial, ketikan di kolom komentar, status di platform digital, maupun pesan singkat adalah wujud baru dari lathi.

​Sayangnya, pergeseran media ini sering kali membuat orang kehilangan kendali diri. Muncul fenomena "keberanian di balik layar" (online disinhibition effect), di mana seseorang merasa bebas mencaci, memfitnah, atau merundung orang lain karena tidak berhadapan langsung. Padahal, dampak psikologis yang dihasilkan tetap sama, laraning ati.

​Sakitnya hati akibat komentar jahat di media sosial tidak berkurang hanya karena berbentuk tulisan. Justru, jejak digital yang sulit dihapus membuat luka tersebut bisa terbuka berkali-kali setiap kali dibaca kembali.

​Fitnah digital atau cyberbullying adalah bukti nyata betapa pitutur ati-ati lathi kini harus dimaknai sebagai ati-ati jempolmu. Satu unggahan yang penuh kebencian dapat menghancurkan reputasi seseorang yang dibangun bertahun-tahun dalam hitungan detik. Di sinilah relevansi kearifan Jawa menjadi sangat krusial sebagai rem darurat di tengah kencangnya arus informasi.

Mengasah Rasa sebelum Berucap

​Inti dari pitutur ini adalah ajakan untuk mengasah rasa atau kepekaan empati. Sebelum sebuah kalimat dilepaskan baik lewat lisan maupun ketikan, sebaiknya kita melakukan refleksi batin dengan bertanya pada diri sendiri apakah ini benar? Apakah ini bukan hoaks dan fitnah? Apakah ini perlu? ​Apakah ini menyakiti? Jika aku di posisi dia, bagaimana rasanya?

​Masyarakat Jawa mengenal prinsip tepa selira (tenggang rasa). Jika kita merasa sakit hati saat dihina, maka janganlah menghina orang lain. Kesadaran ini adalah benteng pertahanan terakhir agar hubungan sosial tetap harmonis. Di tengah masyarakat yang semakin terpolarisasi, kemampuan untuk menahan diri dari keinginan mencela adalah bentuk kecerdasan emosional yang tinggi.

​Pitutur Ati-ati lathi isa gawe laraning ati bukan sekadar larangan untuk berbicara kasar, melainkan sebuah undangan untuk menjadi manusia yang lebih bijaksana. Keindahan hidup bermasyarakat tercipta ketika setiap individu mampu menimbang beratnya kata-kata sebelum dilepaskan ke ruang publik.

​Menjaga lisan adalah investasi kedamaian. Dengan menjaga ucapan, kita tidak hanya melindungi orang lain dari rasa sakit hati, tetapi juga menjaga kesucian hati kita sendiri dari racun kebencian. Di dunia yang semakin bising dengan caci maki, mari kita kembalikan fungsi lidah sebagai jembatan silaturahmi, bukan sebagai pedang yang memutus tali persaudaraan.

​Sebab, kata-kata yang baik adalah warisan yang jauh lebih berharga daripada harta benda. Sebagaimana pepatah mengatakan, "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama." Baik buruk nama kita, bergantung pada perbuatan, termasuk lisan kita kala berkata-kata. 

Pastikan kata-kata yang kita tinggalkan adalah kata yang menyejukkan, bukan yang meninggalkan luka. Kata-kata akan menjadikan nama anak manusia abadi sepanjang masa. Kita dapat memilih kata-kata yang bermanfaat atau yang mendatangkan mudharat. Wallahu'alam bishawab. ***



Tana Kaili, 12 Maret 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Dewi Themis Menangis

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam