Cinta di Antara Angkara

Oleh: Temu Sutrisno/Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah 




Sejak kecil, Dewi Dursala atau biasa disebut Dursilawati, selalu merasa dirinya berbeda. Ia adalah satu-satunya perempuan di antara seratus Kurawa yang memenuhi istana Hastinapura dengan suara keras dan langkah-langkah penuh keangkuhan. Seratus laki-laki, seratus jiwa yang dibesarkan dalam api kebencian dan ambisi. Namun Dursala tumbuh dengan hati lembut, penuh kasih seperti ibunya, Dewi Gendari.

Ia sering duduk di taman istana, memandangi kolam teratai yang tenang memantulkan langit sore. “Ibu,” tanyanya suatu hari, “mengapa Kakak-kakakku begitu mudah marah? Mengapa mereka senang bertengkar dengan para Pandawa?”

Dewi Gendari tersenyum kecil, menatap ke arah suara anaknya dengan mata yang tak lagi melihat dunia. “Karena, mereka belajar dari dunia yang keras, bukan dari hati yang lembut. Mereka diajari untuk menang, bukan untuk memahami, Nak."

Nama pamannya, Sangkuni, menjadi bayangan yang selalu menutupi masa kecil Dursala. Pamannya itu sering datang dengan ucapan manis yang membakar dada kakak-kakaknya. “Pandawa itu pencuri takhta,” katanya. “Mereka ingin merebut yang seharusnya milik kalian.”

Dursala tidak mengerti kebencian itu. Ia mengenal para Pandawa sebagai sosok-sosok bijaksana, terutama Subadra, istri Arjuna, yang dulu kerap mengajarinya menulis dan menenun. Namun siapa yang mau mendengar suara seorang perempuan di antara seratus saudara lelaki?

Waktu berlalu. Dursala tumbuh menjadi gadis yang cantik dan anggun. Setiap geraknya memancarkan kehalusan yang menyejukkan, berbeda dari suara keras di balairung istana yang dipenuhi pertikaian dan ambisi. Namun kecantikan dan kelembutannya justru menjadi alat politik bagi keluarganya.

Pernah suatu ketika, saat Duryudana bersiap menantang Pandawa dalam permainan dadu, Dursala memberanikan diri untuk bicara.
“Kakanda,” ujarnya lirih di hadapan semua saudara yang berkumpul, “apa gunanya menang dengan tipu daya kalau kehilangan rasa hormat?”

Duryudana menatapnya dingin. “Kau perempuan, Dursala. Tak usah ikut bicara urusan para ksatria. Dunia ini bukan tempat untuk kata lembut dan air mata.”

Ucapan itu menyayat hati Dursala. Ia menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh. Dalam diam ia tahu, perang batin antara kebaikan dan keserakahan sudah dimenangkan oleh kegelapan.

Saat beranjak dewasa, Dursala mendapat kabar yang mengguncang hatinya. Ia akan dinikahkan dengan Raja Sindhu, Jayadrata. Penguasa yang gagah, ambisius, dan dikenal keras. Mereka menikah bukan karena cinta, tetapi karena siasat politik Duryudana, kakak sulungnya.

“Ini penting untuk kekuatan Hastinapura,” kata Duryudana dengan nada tak terbantahkan. “Jayadrata dan kerajaannya akan menjadi sekutu dalam perang besar nanti. Dengan aliansi ini, dunia akan tunduk pada Kurawa.”

Raja Destarastra, ayah mereka, hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tahu bahwa kehendaknya tak lagi berdaya di hadapan anak sulung yang keras kepala. Sementara Gendari, sang ibu, hanya bisa memeluk putrinya yang menunduk diam, menahan tangis yang tak semestinya keluar di hadapan banyak mata.

“Ibu…” suara Dursala lirih. “Apakah aku harus menikah dengan lelaki yang tak aku cintai?”

Dewi Gendari mengelus kepala anaknya lembut. “Anakku, kita lahir di dunia yang menakar perempuan dari siapa yang ia nikahi, bukan dari siapa dirinya. Ibu tahu hatimu terluka. Tapi jadilah kuat, seperti embun yang tetap jernih meski jatuh di tanah berdebu.”

Kata-kata itu menenangkan, namun tak menghapus perih yang mencengkeram dada Dursala. Ia tahu nasibnya bukan miliknya sendiri. Ia hanya bagian dari bidak permainan besar yang dimainkan oleh para lelaki di istana.

Hari pernikahan itu tiba dengan kemegahan yang memantulkan kesedihan. Dursala duduk di atas singgasana pelaminan, mengenakan kain sutra berwarna keemasan, wajahnya tertunduk di balik tabir bunga. Jayadrata menatapnya dengan senyum kemenangan, bukan kasih. Ia tahu pernikahan ini bukan sekadar ikatan hati, tetapi perjanjian politik.

Dursala berpamitan kepada ibunya dengan hati yang berat. “Aku takut, Ibu,” bisiknya.

“Jangan takut, Nak,” jawab Gendari dengan suara gemetar. “Kadang cinta datang setelah kepasrahan. Tapi jika tidak juga, jadilah cahaya, meski di rumah yang penuh bayangan.”

Tahun-tahun berlalu. Dursala berusaha menjalani perannya sebagai permaisuri kerajaan Sindhu. Jayadrata, suaminya, sibuk membangun kekuasaan dan memperluas pengaruhnya. Ia jarang berbicara lembut, apalagi mendengarkan. Namun Dursala tetap setia, karena baginya kesetiaan adalah bentuk tertinggi dari kekuatan seorang perempuan.

Namun hatinya semakin gundah ketika ia mendengar kabar tentang pertikaian besar yang akan segera pecah antara Kurawa dan Pandawa. Ia tahu, perang itu akan menelan banyak nyawa, termasuk suaminya.

Dursala memohon kepada Jayadrata agar tidak ikut berperang.
“Suamiku,” katanya dengan nada lembut namun tegas, “biarlah mereka menyelesaikan dendam mereka sendiri. Tak perlu kau ikut dalam pertumpahan darah.”

Jayadrata menatapnya tajam. “Kau bicara seperti Pandawa. Lupa kau siapa saudaramu?”

Dursala menunduk. Air matanya jatuh diam-diam. Ia tidak menjawab, karena tahu setiap kata hanya akan menjadi percikan api di dada seorang raja yang haus kejayaan.

Perang Baratayudha pun pecah. Gemuruhnya mengguncang bumi, menggulung langit Kurukshetra dengan debu dan darah. Jayadrata berdiri di pihak Kurawa, berperang demi Duryudana, demi aliansi, demi harga diri yang tak seberapa.

Dursala hanya bisa menunggu kabar di istana Sindhu, berdoa di setiap malam agar perang segera usai. Tapi doa seorang perempuan jarang mengubah keputusan para ksatria. Hingga pada suatu senja, utusan datang membawa kabar bahwa Jayadrata tewas di tangan Arjuna, dalam balas dendam atas kematian Abimanyu.

Dunia Dursala runtuh seketika. Ia tak hanya kehilangan suami, tapi juga harapan bahwa perang akan membawa kebanggaan bagi keluarganya. Ia tahu kini, semua yang dilakukan Duryudana hanyalah kesia-siaan yang berujung kehancuran.

Ia pulang ke Hastinapura setelah perang usai, hanya untuk menemukan istana yang sepi, penuh kabut duka. Seratus Kurawa, kakak-kakaknya, telah gugur. Dewi Gendari menyambutnya dengan pelukan tanpa kata, sementara Destarastra duduk diam dalam gelap dan penyesalan.

“Ibu,” bisik Dursala, “mengapa takdir perempuan selalu ditentukan oleh perang yang tak mereka mulai?”

Gendari meneteskan air mata. “Karena dunia belum tahu bagaimana menghargai kelembutan, Nak. Tapi percayalah, dari setiap kehancuran, selalu lahir kesadaran.”

"Ibu, mengapa dunia ini tak memberi ruang bagi kelembutan?”

Dewi Gendari mengelus kepala putrinya. “Karena dunia masih belajar, Nak. Belum semua memahami cinta. Tugasmu bukan menaklukkan dunia, tapi menjaga agar hatimu tidak ikut menjadi gelap.”

Dursala akhirnya memilih meninggalkan istana. Ia berjalan menuju hutan, membawa kain putih peninggalan ibunya. Di tempat sunyi itu, ia hidup sederhana, menanam bunga dan memberi makan burung-burung liar.

Anak-anak desa sering datang menemuinya, mendengarkan kisahnya tentang cinta, perang, dan kehilangan.

“Siapa yang menang dalam perang besar itu, Bibi?” tanya seorang anak kecil suatu sore.

Dursala tersenyum, memandangi bunga mawar yang tumbuh di depannya. “Tak ada yang menang, Nak. Karena yang kalah adalah cinta, dan yang tersisa hanyalah penyesalan.”

Setiap kali ada perpecahan, mereka mengingat pesan perempuan lembut itu, “Kekuatan sejati bukan di tangan yang menggenggam senjata, melainkan di hati yang mau memaafkan.”

Ia lalu menunduk, membelai kelopak mawar. “Lihatlah, Nak. Bunga ini tumbuh di antara duri, tapi tetap mekar tanpa dendam. Jadilah seperti itu, lembut tapi kuat, pasrah tapi bermakna.”

Ketika malam tiba, angin membawa wangi bunga mawar liar ke seluruh penjuru hutan. Orang-orang percaya, itu adalah napas Dursala, bunga yang mekar di antara seratus duri. Perempuan yang mengajarkan dunia arti ketulusan di tengah gelapnya ambisi.***


Tana Kaili, 7 November 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dewi Themis Menangis

Kedudukan DPRD Menurut UU Nomor 23 Tahun 2014