Penjaga Negeri
Oleh: Temu Sutrisno Kepak sayap elang mulai melemah, mengitari langit negeri yang luka. Tajinya digergaji, keberaniannya dibungkam, sementara manusia kehilangan budi dan nurani. Keserakahan tumbuh di setiap sudut, api dalam diri dipadamkan perlahan, dan pekerti ditinggalkan seperti debu di jalanan. Elang itu belum mati. Di tengah dingin yang membeku, di bawah pijar gunung yang membiru, matanya tetap menyala tajam. Ia melihat negeri yang nyaris runtuh, melihat rakyat kecil dipaksa diam, melihat keadilan diinjak oleh mereka yang mabuk kuasa di atas singgasana. Lalu suara itu datang—berat, bergemuruh, menggetarkan bumi dan langit. Suara yang membangunkan jiwa-jiwa sunyi, menggerakkan barisan semut hitam yang memanggul harapan dan keberanian. Mereka melangkah tanpa takut, menghunus pedang keadilan untuk menjaga tanah yang hampir kehilangan arah. Wahai penguasa yang meludahi pranata, yang memusuhi budaya dan memberangus akal budi, berhentilah sebelum semu...