Penjaga Negeri

Oleh: Temu Sutrisno


 

Kepak sayap elang mulai melemah, mengitari langit negeri yang luka.

Tajinya digergaji, keberaniannya dibungkam,
sementara manusia kehilangan budi dan nurani.

Keserakahan tumbuh di setiap sudut,
api dalam diri dipadamkan perlahan,
dan pekerti ditinggalkan seperti debu di jalanan.

Elang itu belum mati.
Di tengah dingin yang membeku,
di bawah pijar gunung yang membiru,
matanya tetap menyala tajam.


Ia melihat negeri yang nyaris runtuh,
melihat rakyat kecil dipaksa diam,
melihat keadilan diinjak oleh mereka
yang mabuk kuasa di atas singgasana.

Lalu suara itu datang—berat, bergemuruh,
menggetarkan bumi dan langit.
Suara yang membangunkan jiwa-jiwa sunyi,
menggerakkan barisan semut hitam
yang memanggul harapan dan keberanian.

Mereka melangkah tanpa takut,
menghunus pedang keadilan
untuk menjaga tanah yang hampir kehilangan arah.

Wahai penguasa yang meludahi pranata,
yang memusuhi budaya dan memberangus akal budi,
berhentilah sebelum semuanya terlambat.
Rakyat yang kau anggap kecil
dapat berubah menjadi gelombang perlawanan.

Ketika elang terakhir mengepakkan sayapnya,
negeri ini akan bangkit—
diselamatkan oleh keberanian,
oleh nurani,
oleh mereka yang tetap setia menjaga Indonesia. ***


 

Tana Kaili, 10 April 2021

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam