Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

Fenomena Jokowi: Semakin Dibenci, Semakin Melenting Tinggi

Gambar
  Oleh : Temu Sutrisno Beragam cara, berbagai upaya dari bisik-bisik halus, fitnah, hingga perang besar telah dilakukan Duryudana bersaudara bersama koalisinya untuk menghancurkan Puntadewa yang kalem seperti tak bertenaga. Namun hasil akhirnya justru berbalik arah. Pandawa memenangkan perang sekaligus merebut hati rakyat Hastinapura. Ilustrasi dunia pewayangan itu tidak jauh berbeda dengan praktik politik modern. Dalam banyak kasus, serangan politik yang bertubi-tubi justru memperkuat figur yang diserang. Semakin besar tekanan yang diterima, semakin besar pula simpati yang tumbuh dari para pendukungnya. Fenomena ini bukan sekadar cerita politik lokal, melainkan pola yang berulang dalam berbagai negara. Di Indonesia, gejala tersebut dapat dibaca melalui sosok Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi. Setelah lebih dari satu dekade menjadi sasaran kritik, serangan politik, hoaks, hingga berbagai upaya delegitimasi, Jokowi justru tetap tampil sebagai salah satu tokoh paling berpenga...

Menghidupkan Kembali Pancasila

Gambar
Pancasila adalah fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang telah menyatukan Indonesia sejak awal kemerdekaan. Namun, di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi informasi, serta perubahan sosial yang begitu cepat, nilai-nilai Pancasila sering kali hanya hadir sebagai slogan, hafalan, atau seremoni formal. Pancasila dibacakan saat upacara bendera, diteriakkan dalam berbagai kegiatan resmi, bahkan dijadikan salam kebangsaan oleh para pejabat. Ironisnya, tidak sedikit perilaku yang justru bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Karena itu, revitalisasi pengamalan menjadi kebutuhan mendesak, di hari lahir Pancasila 1 Juni. Revitalisasi bukan sekadar mengingat kembali lima sila yang menjadi dasar negara, melainkan menghidupkan dan memberdayakan nilai-nilai luhur tersebut agar benar-benar menjadi pedoman dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Pancasila harus hadir dalam kehidupan nyata, bukan hanya dalam pidato dan dokumen resmi. Langkah pertama ya...

Alam Mulai Menggugat

Gambar
Alam tidak pernah menggelar demonstrasi, tidak membawa spanduk, tidak berpidato di depan kantor pemerintahan, dan tidak mengajukan gugatan ke pengadilan. Namun ketika air meluap ke jalan, rumah warga terendam, dan pusat pemerintahan lumpuh oleh banjir, sesungguhnya alam sedang menyampaikan protes yang paling keras dan butuh perhatian semua kalangan. Banjir Morowali adalah surat gugatan itu. Pada Mei 2026, hujan deras selama sekitar tiga jam menyebabkan banjir dadakan di dua desa di Bungku Tengah. Menarik sekaligus mengkhawatirkan. Genangan tidak hanya terjadi di titik-titik yang selama ini dikenal rawan, tetapi juga menjangkau wilayah yang sebelumnya relatif aman. Bahkan diperlukan pembongkaran drainase dan saluran air yang tersumbat sampah, untuk mempercepat aliran air. Namun peristiwa itu bukan kejadian tunggal. Bukan sekadar sampah dan tingginya curah hujan. Morowali memiliki catatan panjang tentang banjir. Tahun 2008, sedikitnya 14 desa terdampak banjir besar. Pada 2013, banjir mel...

Islam Kontekstual dan Kurban Presiden

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Sebagai orang awam dalam beragama, saya cenderung mengikuti pandangan para kiai, ulama, dan cendekiawan yang memiliki otoritas keilmuan, tanpa meninggalkan rasionalitas. Dalam memahami Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad SAW, saya menyadari keterbatasan ilmu yang saya miliki. Karena itu, saya merasa lebih aman berhujah dengan pendapat para ulama yang memiliki sanad keilmuan yang jelas, sekaligus mampu menjelaskan relevansi ajaran Islam terhadap persoalan zaman. Sikap tersebut saya gunakan ketika memandang polemik kurban Presiden yang dibiayai melalui anggaran negara. Sebagian pihak mempertanyakan keabsahannya karena kurban dipahami sebagai ibadah individual yang harus bersumber dari harta pribadi. Namun, jika ditelaah melalui perspektif fikih siyasah dan kemaslahatan publik, persoalan ini memiliki dimensi yang lebih luas. Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah disebutkan bahwa Rasulullah SAW menyembelih dua ekor domba kibasy bertanduk pada Hari Raya Idul Adh...

Korban Perasaan

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno Sore habis salat ashar, langit di ujung jembatan memerah seperti bara yang ditaburi abu. Angin dari sungai berembus pelan, menggoyang spanduk kopi sachet yang tergantung miring di emperan warung bundaran. Di sana, seperti biasa, beberapa lelaki duduk melingkar di bangku kayu panjang sambil menikmati kopi hitam dan pisang goreng yang mulai mengkerut kedinginan. Om Uchen paling ribut sore itu. Tawanya pecah bahkan sebelum ceritanya selesai. “Sekarang ini,” katanya sambil menyeruput kopi, “orang belum tentu kurban sapi, tapi sudah duluan jadi korban perasaan.” Ryan terkekeh. Ia yang paling muda setelah Ami selalu senang memancing suasana. “Salah sedikit di media sosial, langsung ngamuk. Padahal sapi belum disembelih, hati sudah berdarah-darah.” Ami tersenyum tipis. Anak muda itu duduk paling pinggir sambil memainkan gawainya. “Biasanya yang ribut memang lawan politik,” katanya hati-hati. “Atau mereka yang tidak kebagian momentum.” Om Uly langsung menyambar. “Atau...

Doa untuk Negeri

Gambar
Oleh : Temu Sutrisno Tuhan… malam ini kami menyalakan sunyi, di antara napas bumi yang letih menanggung bunyi. Kami datang dengan hati gemetar,dengan mata basah,membawa nama-nama yang patah di jalan sejarah. Duhai Ilahi, Jauhkan negeri ini dari hati yang kehilangan nurani, dari tangan yang menadah janji lalu menumpahkan dusta setiap hari. Embunkan kasih pada tanah yang retak nan pedih, pada laut yang menangis lirih, pada hutan yang ditebang tanpa rasa sedih. Tuhan… kami mendengar tangis ibu di dapur yang kehilangan asap, kami mendengar langkah buruh yang pulang dengan punggung gelap. Kami saksikan cangkul petani yang tak lagi terpakai, sampan nelayan tersangkut jaring sendiri,  ilalang tercerabut dari padang gembala sepi. Tuhan, kami mengetuk langit-Mu dengan doa yang berulang-ulang, seperti gamelan angin di pegunungan, seperti kidung tua dalam bayang-bayang. Jadikan pemimpin negeri selembut hujan di sejuk pagi, bukan badai yang mencabik janji, bukan petir yang membakar budi. Kami ...

Berkurban Bukan Mengorbankan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Ibrahim menerima perintah Tuhan dengan ketaatan  Ismail menjawab dengan keteguhan Hajar mencontohkan kesabaran Tiga nama, satu pelajaran Kini zaman berubah haluan Makna kurban dipenuhi kekeliruan Banyak orang fasih mengucap ketakwaan Tetapi gemar menukar nurani dengan kepentingan Mimbar dipenuhi nasihat kebajikan Ruang rapat dipenuhi persekongkolan Pidato menjanjikan kemakmuran Tetapi anggaran menjadi bancakan Atas nama pembangunan Sawah berubah jadi timbunan Hutan kehilangan pepohonan Sungai menelan pencemaran Atas nama investasi dan pertumbuhan Rakyat diminta memahami keadaan Mereka diminta rela berkorban Meski tidak menikmati keuntungan Yang kaya mendapat kemudahan Yang kecil menerima beban Yang kuat memperoleh perlindungan Yang lemah menjadi tumbal kebijakan Pejabat mengorbankan rakyat demi mempertahankan kedudukan Pemimpin mengeksploitasi yang miskin untuk memperpanjang kekuasaan  Pemburu rente menyingkirkan yang papa untuk mempertebal kekayaan  A...

Berhaji Setiap Hari

Gambar
  Oleh : Temu Sutrisno  Haji bukan usai di tanah suci, bukan selesai setelah kembali pulang, koper ditutup, zamzam dibagi, gelar disandang lalu dikenang, haji adalah jalan mengabdi, sepanjang hayat terus terbentang. Di miqat menata hati, melepas bangga yang sering menjulang, ihram mengajar arti sejati, bahwa manusia setara dipandang, tak ada kaya tak ada tinggi, semua hamba di hadapan Tuhan. Ka'bah berdiri di tengah bumi, menjadi arah seluruh pandangan, tawaf mengajar hidup berbunyi, mengelilingi pusat ketuhanan, jangan harta menjadi kendali, jangan kuasa jadi tujuan. Safa dan Marwah saksi abadi, jejak Hajar penuh keteguhan, sa'i mengajar mencari rezeki, dengan ikhtiar dan pengharapan, bila rezeki belum berpundi, jangan berpangku dalam keluhan. Arafah luas membentang sunyi, tempat manusia menimbang zaman, wukuf mengajak mengenal diri, menghitung salah dan kebaikan, berapa banyak memberi arti, berapa sering lupa amanah Tuhan. Di Mina batu mulai terpilih, menuju jumrah untuk dil...

Memaknai Iduladha di Era Digital

Gambar
Oleh : Temu Sutrisno Iduladha merupakan salah satu momentum spiritual terbesar dalam Islam. Hari raya ini tidak hanya identik dengan penyembelihan hewan kurban, tetapi juga menjadi pengingat tentang nilai keikhlasan, pengorbanan, ketaatan, dan kasih sayang dalam kehidupan manusia. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus diwujudkan melalui pengorbanan yang tulus, sementara hubungan antara orang tua dan anak dibangun di atas fondasi kasih sayang dan kepercayaan. Perluasan Makna Kurban Di era digital saat ini, makna Iduladha mengalami perluasan konteks. Jika dahulu pengorbanan lebih banyak dimaknai dalam bentuk fisik dan material, kini masyarakat dihadapkan pada tantangan baru yang lahir dari perkembangan teknologi informasi. Media sosial, platform digital, dan kemudahan akses komunikasi telah mengubah cara manusia berinteraksi, berbagi, bahkan mengekspresikan ibadah. Dalam ruang digital yang serba terbuka, salah satu bentuk pengorbanan yang rel...