Pitutur Luhur: Anak Polah Bapa Kepradhah

 Oleh: Temu Sutrisno, Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah


​Kasih sayang orang tua adalah manifestasi cinta yang paling murni di dunia. Dalam falsafah Jawa, kasih tersebut sering digambarkan bagaikan samudera yang tak bertepi atau sinar mentari yang tak pernah lelah menembus pekatnya awan. Ia ada tanpa diminta, dan bertahan tanpa syarat. Namun, dalam perjalanan hidup manusia, dinamika antara orang tua dan anak seringkali menjadi ujian moral yang berat.

​Leluhur masyarakat Jawa telah merangkum kebijaksanaan hidup ini ke dalam rangkaian pitutur luhur. Sebuah nasihat bijak yang tetap relevan melintasi zaman, ruang, dan status sosial. Melalui pitutur luhur, kita diajak merenung tentang tanggung jawab, kehormatan, dan hutang budi yang tak akan pernah lunas.

​Nasihat pertama yang sering kita dengar adalah Abot telak karo anak. Secara harfiah, "telak" merujuk pada kerongkongan atau urusan perut (kebutuhan dasar). Maknanya sangat dalam: seorang orang tua, khususnya Ibu, akan selalu mengutamakan kebutuhan anak di atas kepentingan pribadinya sendiri.

​Demi melihat anaknya kenyang, orang tua rela menahan lapar. Demi melihat anaknya bersekolah, mereka rela berbaju sederhana dan menunda segala keperluan. Saat semua orang terlelap dalam dekapan malam, orang tua rela bangun dan menengadahkan tangan pada Tuhan, berdoa untuk anak-anaknya. Ini adalah bentuk pengabdian total yang menunjukkan bahwa bagi orang tua, kesejahteraan, kebaikan, dan kesuksesan anak di atas segalanya. Rasa sayang ini bersifat satu arah dan tanpa pamrih, menciptakan sebuah fondasi emosional yang seharusnya menjadi pengingat bagi setiap anak tentang dari mana mereka berasal.

​Bayang-Bayang Perilaku

​Namun, kasih sayang yang tanpa batas ini membawa konsekuensi sosial yang besar. Di sinilah muncul pitutur Anak polah bapa kepradhah. Kalimat ini mengandung peringatan keras sekaligus realitas sosial yang tak terelakkan.​

Secara etimologis, polah berarti bertingkah, berbuat ulah, atau berperilaku menyimpang.

Kepradhah berarti ikut terkena getahnya, ikut menanggung malu, atau harus ikut bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan.

​Setiap tindakan yang dilakukan oleh seorang anak, baik atau buruk, secara otomatis akan menarik nama orang tuanya ke permukaan. Ketika seorang anak melakukan kesalahan atau melanggar norma hukum dan sosial, bukan hanya anak tersebut yang menanggung sanksi, melainkan orang tuanya pun turut memikul beban moral. Masyarakat akan bertanya, "Anak siapa itu?" atau "Bagaimana orang tuanya mendidik?"

​Inilah beban kasih sayang. Karena ikatan darah yang tak terputus, orang tua seringkali menjadi pihak yang paling terluka dan paling repot ketika anak "berulah". Mereka harus menanggung malu, meminta maaf atas kesalahan yang tidak mereka lakukan, hingga menanggung kerugian materiil demi menyelamatkan masa depan sang anak.

​Mikul Dhuwur, Mendhem Jero

​Menyadari besarnya beban yang dipikul orang tua melalui Anak polah bapa kepradhah, maka leluhur Jawa menitipkan kewajiban mulia bagi setiap anak, yaitu Mikul dhuwur, mendhem jero.

​Ini adalah standar moral tertinggi dalam hubungan anak dan orang tua. ​Mikul dhuwur, berarti menjunjung tinggi. Seorang anak wajib mengangkat derajat, nama baik, dan kehormatan orang tua setinggi-tingginya melalui prestasi dan akhlak yang mulia.

Sementara mendhem jero berarti menanam dalam-dalam. Seorang anak wajib menutupi, merahasikan, dan mengubur segala aib atau keburukan orang tuanya.

​Prinsip ini mengajarkan kita bahwa menghormati orang tua tidak hanya dilakukan saat mereka masih ada, tetapi juga dengan menjaga warisan nama baik mereka. Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk orang tua kita. Namun, tugas seorang anak bukanlah menghakimi masa lalu atau kekurangan orang tuanya, melainkan menjadi penutup celah kekurangan tersebut dengan kebaikan-kebaikan baru.

​Refleksi Budaya

​Di tengah gempuran zaman modern yang cenderung individualistis, pitutur luhur ini menjadi pengingat bahwa kita tidak hidup sendirian. Kebebasan seorang anak untuk "berulah" dibatasi oleh kehormatan orang tuanya.

​Memahami Anak polah bapa kepradhah adalah langkah awal menuju kedewasaan spiritual, sebuah kesadaran bahwa menjaga perilaku kita adalah cara paling nyata untuk menyayangi orang tua.

​Mari merenung sejenak. Sudahkah tindakan kita hari ini mikul dhuwur orang tua, atau justru memaksa mereka untuk kepradhah menanggung malu? Pilihan ada di tangan kita. Apapun pilihannya, konsekuensinya akan selalu mengetuk pintu rumah orang tua kita. Yakinlah, semua orang tua akan selalu membuka pintu, mengulurkan tangan, dan memeluk anak-anaknya dengan penuh keridhaan. Sesungguhnya ridha orang tua adalah ridha Tuhan. Wallahu'alam bishawab. ***


Tana Kaili, 11 Maret 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Dewi Themis Menangis

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam