Menjinakkan Bom Waktu di Rahim Poboya
![]() |
| Gambar: Ilustrasi |
MERCUSUAR-Kota Palu sedang mempertaruhkan masa depannya di atas tumpukan material emas yang berbalut racun. Kawasan Poboya hingga Vatutela, yang seharusnya menjadi benteng ekologis bagi ibu kota Sulawesi Tengah ini, kini telah berubah menjadi episentrum ancaman Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Jika tidak segera ditangani dengan keberanian politik dan ketegasan hukum, aktivitas pertambangan emas di sana, baik yang berizin apalagi yang ilegal (PETI), akan menjadi warisan maut bagi generasi mendatang.
Kita tidak bisa lagi menutup mata terhadap kenyataan bahwa penggunaan merkuri (Hg) dan sianida (CN) dalam proses pengolahan emas telah melampaui ambang batas kewajaran. Penggunaan zat kimia ini dalam metode perendaman terbuka adalah praktik yang tidak hanya merusak alam, tetapi juga merupakan bentuk agresi terhadap kesehatan publik.
Merkuri adalah racun yang licin dan persisten. Ia tidak hilang begitu saja; ia masuk ke dalam pori-pori tanah, menguap ke udara yang kita hirup, dan yang paling berbahaya, merembes ke dalam cadangan air tanah. Bagi warga Palu, ini bukan sekadar isu lingkungan yang jauh di sana. Ini adalah ancaman nyata terhadap sistem saraf, risiko cacat lahir, hingga kerusakan organ kronis yang bisa menghantui hingga puluhan tahun ke depan.
Statistik menunjukkan angka yang mengerikan. Lebih 300 ribu jiwa penduduk Kota Palu kini berada dalam bayang-bayang polusi B3. Kota ini secara topografis dikelilingi pegunungan dan memiliki ketergantungan tinggi pada aliran air dari hulu. Ketika kawasan Poboya dan Vatutela dicemari oleh limbah sisa pengolahan emas, maka secara otomatis seluruh ekosistem di bawahnya ikut terinfeksi. Logikanya sederhana: air yang tercemar di hulu akan mengalir ke sumur dan sumber mata air warga, masuk ke dalam rantai makanan, dan berakhir di meja makan kita.
Potensi kegagalan ekologis dan bencana sangat besar. Selain polusi kimia, aktivitas tambang yang tidak terkendali telah melucuti perlindungan alamiah lahan. Tanah yang dikupas tanpa rehabilitasi kehilangan kesuburannya dan daya ikatnya terhadap air. Akibatnya, risiko bencana geologis seperti tanah longsor menjadi ancaman laten, terutama saat curah hujan tinggi mengguyur wilayah perbukitan tersebut.
Pertambangan ilegal (PETI) sering kali beroperasi tanpa standar keamanan lingkungan yang jelas. Mereka mengambil keuntungan jangka pendek dengan meninggalkan beban jangka panjang berupa kerusakan lahan yang nyaris mustahil untuk dipulihkan secara instan.
Persoalan Poboya-Vatutela adalah ujian bagi wibawa negara. Selama ini, upaya penertiban terkesan bersifat sporadis dan hangat-hangat tahi ayam. Begitu pengawasan melonggar, aktivitas ilegal kembali menggeliat. Ada kesan bahwa hukum tumpul di hadapan emas, namun tajam hanya pada narasi di atas kertas.
Kita sedang menghadapi "bom waktu" kesehatan masyarakat yang skalanya bisa menyamai tragedi Minamata jika pembiaran ini terus berlanjut.
Salus Populi Suprema Lex Esto — Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Prinsip ini harus menjadi kompas bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemerintah Kota Palu dalam bertindak. Negara tidak boleh kalah dengan aktor perusak lingkungan.
Negara harus hadir bukan hanya dengan tindakan represif melalui aparat penegak hukum, tetapi juga dengan solusi komprehensif. Pemerintah harus melakukan tiga hal mendesak.
Pertama,melakukan audit lingkungan secara menyeluruh terhadap seluruh aktivitas tambang di wilayah tersebut.
Kedua, menindak tegas aktor-aktor intelektual dan pendana di balik pertambangan ilegal tanpa pandang bulu. Jangan ada permainan antara aparat dan terduga pelaku.
Ketiga, lakukan restorasi dan remediasi lahan yang sudah tercemar agar dampak racun tidak meluas ke wilayah pemukiman.
Emas mungkin memberikan kemakmuran bagi segelintir orang, tetapi pencemaran B3 memberikan penderitaan bagi semua orang. Tidak ada nilai ekonomi yang sebanding dengan nyawa dan kesehatan lebih 300 ribu warga Kota Palu. Pemerintah tidak boleh lagi ragu. Memilih untuk diam atau bertindak setengah hati sama saja dengan membiarkan warga meminum racun setiap hari. Saatnya memadamkan sumbu bom waktu itu sekarang, sebelum ledakan krisis kesehatan meluluhlantakkan masa depan Kota Palu. TMU

Komentar
Posting Komentar