Pitutur Luhur: Aja Seneng Gawe Wirang
Oleh: Temu Sutrisno, Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah
Di era jari seringkali bergerak lebih cepat daripada nurani, wajah kebudayaan kita tengah mengalami pergeseran yang cukup mencemaskan. Layar gawai yang semula diciptakan untuk mendekatkan yang jauh, kini tak jarang menjadi panggung terbuka untuk menghakimi, memfitnah, hingga menelanjangi privasi sesama. Fenomena cyberbullying, penghakiman massal (cancel culture), hingga aksi doxing seolah menjadi menu harian dalam jagat digital kita. Dalam riuhnya keriuhan virtual tersebut, kita seakan lupa pada sebuah rem pakem dari kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun, aja seneng gawe wirang.Secara harfiah, aja seneng gawe wirang berarti "jangan gemar membuat malu" atau "jangan senang mempermalukan orang lain". Dalam kosmos budaya Jawa, ajaran ini bukan sekadar etika pergaulan receh, melainkan pilar utama dalam menjaga harmoni sosial dan martabat kemanusiaan.
Filosofi dan Transformasi Wirang di Era Digital
Bagi masyarakat Jawa, kehormatan atau ajining diri adalah segalanya. Seseorang mungkin bisa menerima kehilangan materi, namun kehilangan muka (wirang) adalah luka batin yang sangat dalam. Ketika kita sengaja mempermalukan orang lain, kita sebenarnya sedang menyerang eksistensi kemanusiaannya.
Pitutur ini mengajarkan bahwa kepuasan di atas penderitaan orang lain, terutama saat melihat orang lain jatuh atau dipermalukan-adalah bentuk penyakit spiritual. Dalam konteks tradisional, mempermalukan orang lain di depan umum dianggap sebagai tindakan nracak atau melampaui batas norma kesantunan. Hal ini karena budaya Jawa sangat mengedepankan prinsip empan papan (menempatkan diri sesuai situasi) dan tepa slira (tenggang rasa).
Dahulu, tindakan mempermalukan orang mungkin terbatas pada rasan-rasan di sudut pasar atau sindiran di pertemuan warga. Namun hari ini, teknologi informasi telah memberikan "senjata pemusnah massal" bagi karakter seseorang. Beberapa perilaku digital yang sering terjadi antara lain:
Pertama, cyberbullying dan judgmentalism. Hanya dengan satu komentar pedas atau unggahan yang menyudutkan, seseorang bisa mengalami depresi hebat. Budaya menghakimi tanpa tabayyun (klarifikasi) menjadi sangat subur.
Kedua, Doxing. Doxing merupakan perbuatan mengungkap data pribadi untuk memicu persekusi digital adalah bentuk modern dari gawe wirang yang sangat berbahaya, dan ketiga viralitas negatif. Seringkali, demi mengejar engagement atau jumlah pengikut, seseorang tega mengeksploitasi aib atau kesalahan orang lain tanpa memikirkan dampak jangka panjang bagi korban.
Budaya digital yang anonim seringkali membuat orang merasa bebas dari konsekuensi sosial. Padahal, jejak digital bersifat abadi. Sekali wirang itu ditanamkan di internet, ia akan terus menghantui korbannya selamanya. Di sinilah pitutur aja seneng gawe wirang menemukan urgensi barunya sebagai kompas etika digital.
Menutup Aib, Membuka Pintu Perbaikan
Kebalikan dari gawe wirang adalah prinsip mikul dhuwur mendhem jero. Meski biasanya digunakan dalam konteks menghormati orang tua atau pemimpin, semangatnya tetap sama: menjunjung tinggi kebaikan dan mengubur dalam-dalam segala kekurangan atau aib.
Mengapa kita dilarang mempermalukan orang lain?
Pertama, efek bumerang. Budaya Jawa meyakini hukum tabur-tuai. Siapa yang gemar menanam rasa malu pada orang lain, suatu saat akan memanen rasa malu yang lebih besar.M
Kedua, menjaga harmoni sosial. Masyarakat yang gemar saling mempermalukan akan menjadi masyarakat yang penuh kebencian, kecurigaan, dan disintegrasi.
Ketiga, ruang untuk instropeksi diri dan bertobat. Dengan tidak mempermalukan seseorang atas kesalahannya, kita memberikan ruang bagi orang tersebut untuk memperbaiki diri tanpa harus merasa kehilangan harga diri sepenuhnya.
Pengingat Keadaban
Menginternalisasi pitutur aja seneng gawe wirang di masa kini bukan berarti kita harus diam terhadap kejahatan atau ketidakadilan. Namun, ada garis tegas antara kritik yang membangun dengan penghinaan yang mempermalukan. Kritik fokus pada perbuatan atau sistem, sementara gawe wirang fokus pada penyerangan karakter dan penghancuran martabat personal.
Kita perlu mengedukasi diri sendiri dan generasi mendatang bahwa "kekuatan" di media sosial bukan terletak pada seberapa berani kita menjatuhkan orang lain, melainkan seberapa bijak kita menggunakan jempol untuk menebar empati. Literasi digital bukan hanya soal teknis mengoperasikan aplikasi, tapi soal bagaimana membawa nilai-nilai luhur kemanusiaan ke dalam ruang hampa udara bernama internet.
Aja seneng gawe wirang adalah pengingat bahwa di balik akun-akun anonim dan profil digital yang kita lihat di layar, ada manusia yang memiliki perasaan, keluarga, dan kehormatan. Menjaga lisan (dan tulisan) agar tidak melukai hati orang lain adalah bentuk tertinggi dari keberadaban.
Dalam dunia yang semakin bising dengan caci maki, mari kita kembali ke akar budaya kita yang teduh. Biarlah kebenaran tetap disampaikan, namun jangan sampai penyampaiannya bertujuan untuk merendahkan. Sebab, dengan menjaga martabat orang lain, sesungguhnya kita sedang menjaga martabat diri kita sendiri.
Ingatlah, bahwa Ajining diri ana ing lathi, ajining raga ana ing busana. (Harga diri seseorang terletak pada ucapannya, kehormatan raga terletak pada pakaiannya). Wallahu'alam bishawab. ***
Tana Kaili, 11 Maret 2026

Komentar
Posting Komentar