Derita dalam Merdeka

Oleh: Temu Sutrisno 


Merah-putih berkibar anggun di puncak retorika,

Ditiup angin podium yang riuh oleh pekatnya selebrasi merdeka.

Tepat di bawah bayang-bayang tiang yang menjulang tinggi,

Perut-perut lapar merangkak di atas tanah yang dirampas dalam sepi.

Merdeka, sebuah kata yang terlampau mahal harganya,

Jika kedaulatan hanya dikuasai oleh mereka yang memegang takhta.


***


Ijazah kusam terlipat rapi di balik dada yang gemetar,

Antrean pemuda mengetuk gerbang baja yang tak kunjung terhampar.

Pabrik-pabrik berdiri bagai benteng asing di atas negeri,

Memeras keringat murahan, menukar masa depan dengan ilusi.

Di sini, kemiskinan bukan suratan nasib abadi,

Melainkan dampak kekuasaan membiarkan rakyat kecil terkulai. 


***


Gubuk-gubuk sederhana menatap menara kaca di jantung kota,

Keadilan sosial terperangkap dalam bingkai emas berdebu jelaga.

Sekolah menjelma komoditas, rumah sakit menjadi penjagal harapan;

Si miskin dilarang sakit, anak-anak diceraikan dari panggung impian.

Pancasila dihafalkan dalam upacara, namun dilupakan dalam kebijakan,

Menjadikan hak-hak dasar sekadar angka transaksi kuasa.


***


Kami tidak berdiri di sini membawa mangkuk belas kasihan,

Kami datang menagih janji konstitusi yang terabaikan.

Beri kami jalan kebangkitan, bukan racun bantuan sosial;

Beri kami tangga yang setara, agar tak terus menjadi tumbal.

Merdeka yang sejati bukanlah panggung sandiwara tahunan,

Tetapi ketika perut rakyat kenyang, impian setiap anak terkabulkan, hukum adil, dan kemanusiaan diabadikan. 



Tana Kaili, 8 Agustus 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam