Siapalah Saya

Oleh: Temu Sutrisno 




Matahari siang membakar aspal kota tanpa ampun. Di tengah deru mesin kendaraan dan hawa panas yang menyengat, Tonakodi mengendarai sepeda motor bututnya dengan tenang. Helmnya yang kusam dan jaket kain yang mulai memudar warnanya menjadi saksi bisu perjalanan panjang yang sabar. Ia tidak terburu-buru, seolah waktu tak pernah sanggup mengejarnya.

Motor tua itu akhirnya berhenti di halaman sebuah kantor. Tonakodi melangkah masuk ke ruangan kantor yang sejuk, dikepung hembusan angin AC yang dingin bertolak belakang dengan sengatan udara di luar. Di dalam ruangan bersuhu dingin itu, Ami dan Rahmat tengah bergelut dengan layar komputer masing-masing.

"Assalamu’alaikum," tegur Tonakodi lembut.

Ami dan Rahmat serentak menoleh. Ami, pemuda yang dikenal santun dan kritis, langsung berdiri mengulas senyum hangat. Di sebelahnya, Rahmat, anak muda khas Gen-Z yang selalu menyimpan segudang pertanyaan, ikut beranjak.

"Wa’alaikumussalam!" sambut Ami dan Rahmat bergantian. Mereka maju, menjabat tangan Tonakodi.

Usai bersalaman, tanpa canggung sedikit pun, Tonakodi mendudukkan tubuhnya di lantai ubin yang dingin. Ia meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal setelah mengarungi panasnya jalanan.

Ami dan Rahmat terperanjat. Keduanya saling pandang dengan raut wajah serba salah.

"Tonakodi, jangan di bawah. Mari duduk di kursi," bisik Ami tidak enak hati sambil menarik sebuah kursi yang empuk.

Tonakodi terkekeh pelan, melambaikan tangannya santai. "Saya ini siapa? Santai saja. Ini cuma kase lurus kaki. Biar tidak asam urat. Sedikit pegal, terlalu lama menekuk di motor."

"Tapi tidak enak dilihat orang," timpal Ami lagi, dahinya berkerut. 

Dari segi umur, Tonakodi jauh lebih tua. "Masa duduk di lantai, kami duduk di atas?"

Tonakodi menatap Ami dengan pandangan yang teduh, sebening mata air di pegunungan. "Sudahlah, saya ini hanya cucu Adam yang jauh dari ketaatan nenek moyang manusia itu. Tidak perlu sungkan, hanya soal tempat duduk. Lesehan atau di kursi, tidak mengurangi martabat kita. Jangan jadikan kursi ukuran seperti orang politik. Pada rebutan kursi."

Rahmat menyela, dahinya yang muda berkerut kritis. "Tapi kan Tonakodi lebih senior dari kami. Secara etika dan adat, yang lebih tua harus berada di tempat yang lebih tinggi."

"Umur tidak menentukan derajat ketakwaan dan kemanusiaan kita," sahut Tonakodi perlahan. 

"Lihat iblis dan malaikat. Mereka lebih senior dari Adam. Toh mereka dituntut untuk menghormati Adam."

Rahmat tertegun. Kalimat itu menembus kepalanya seperti kilatan petir yang jernih. Ami pun ikut terdiam, tersentak oleh sudut pandang yang tak pernah terpikirkan olehnya.

Rahmat lalu ikut meluncur dari kursinya, duduk bersedekap di lantai tepat di hadapan Tonakodi. Ami yang tak ingin berdiri sendirian, akhirnya menyusul duduk di ubin dingin itu.

"Kenapa iblis yang lebih senior dan diciptakan dari api justru jatuh, Tonakodi? Bukankah secara logika dia wajar merasa lebih unggul?" tanya Rahmat, naluri kritis anak mudanya terpancing.

Tonakodi tersenyum tipis, merapikan letak kopiahnya. "Karena iblis memandang dengan mata lahiriah, bukan dengan mata hati. Dia hanya melihat tanah pada diri Adam, tapi lupa bahwa di dalam tanah itu ada tiupan ruh dari Yang Maha Kuasa. Ketika kita menilai manusia dari jabatan, umur, atau kursi yang didudukinya, kita sedang mengulangi cara pandang iblis. Kita terjebak pada bungkus, bukan isi."

Ami menopang dagunya, menyimak dengan khusyuk. "Jadi, kursi di atas itu hanya bungkus, le?"

"Kursi, meja, gedung ber-AC ini, bahkan baju yang kita pakai, semua hanya properti panggung," jawab Tonakodi dengan nada suara yang begitu lembut, menyerupai bisikan angin sore. "Di mata Bumi, yang duduk di kursi emas dan yang lesehan di lantai sama-sama menumpuk tanah. Nanti, saat panggung digulung, kita semua akan kembali ditimbun oleh tanah yang sama. Lalu, apa yang mau disombongkan dari sebuah posisi?"

"Tapi," sela Rahmat lagi, "di zaman sekarang, kalau kita tidak memperjuangkan posisi atau 'kursi', kita dianggap tidak berprestasi. Dunia Gen-Z kami ini penuh persaingan. Kalau tidak naik, kita tertinggal."

Tonakodi menatap Rahmat dengan penuh kasih sayang, layaknya seorang ayah memandang anaknya yang sedang kebingungan membaca peta.

"Mengejar manfaat itu kewajiban, Mat. Tapi mengejar kedudukan hanya untuk merasa lebih tinggi dari orang lain adalah jebakan ilusi. Banyak orang sibuk mencari kursi yang tinggi agar dipandang besar oleh orang lain. Padahal, makin tinggi kau duduk di atas bangunan ilusi, makin kecil kau terlihat dari bawah, dan makin sakit saat kau jatuh."

Tonakodi mengelus ubin dingin di bawahnya. "Lantai ini mengajarkan kita tentang tawadhu, kerendahan hati. Bumi ini selalu berada di bawah, diinjak-injak oleh jutaan kaki manusia yang sombong, ditumpahi sampah dan polusi. Tapi lihat, dari bumi yang di bawah inilah tumbuh buah-buahan, keluar air bersih, dan menjadi tempat berpijak semua kehidupan. Yang di bawah justru yang menopang yang di atas."

Ami menghela napas panjang, meresapi setiap kata yang meluncur tanpa beban dari bibir Tonakodi. "Berarti, ketenangan itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan dinginnya ruang AC atau empuknya kursi ya, Tonakodi?"

"Ketenangan itu ada di dalam dada yang bersih dari keinginan untuk menguasai," jawab Tonakodi lurus. "Kalian di sini kedinginan oleh AC, tapi apakah hati kalian dingin dari kegelisahan? Saya naik motor tua di bawah terik matahari, panas di luar, tapi di dalam sini..." Tonakodi menunjuk dadanya sendiri sambil tersenyum mekar, "...rasanya seperti ternaungi di bawah pohon rindang."

Rahmat tertunduk. Ia teringat betapa banyak  Gen-Z sepantarannya sering  mengeluh tentang hal-hal sepele, tentang tenggat waktu kerja, tentang pengakuan di media sosial, dan tentang posisi karier yang belum seberapa. Generasi hari ini ingin yang serba instan, menyenangkan, dan enggan menantang risiko.

Di hadapannya, Tonakodi bersahaja dengan motor bututnya justru memiliki kemerdekaan jiwa yang sangat luas.

"Lantas, bagaimana caranya agar kita tidak terikat pada 'kursi-kursi' dunia itu, Tonakodi?" tanya Rahmat lirih, kali ini tanpa nada mendebat, melainkan murni meminta petunjuk.

"Duduki kursimu, tapi jangan biarkan kursimu menduduki hatimu," tutur Tonakodi. "Jika kau jadi pemimpin, jadikan kursimu sebagai sajadah tempatmu melayani manusia, bukan singgasana untuk minta penghormatan. Kalau kau diturunkan dari kursi itu, hatimu tidak akan patah, sebab engkau tahu diri sejatimu tidak pernah bertambah atau berkurang hanya karena sebuah tempat duduk."

Hening sejenak menguasai ruangan itu. Dengung AC kantor terdengar samar-samar, kalah oleh kedalaman makna yang baru saja mengendap di dalam jiwa kedua pemuda itu.

Tonakodi kemudian perlahan menekuk kakinya, lalu berdiri dengan gerakan yang anggun meski tubuhnya sudah dimakan usia. Ia menepuk-nepuk celananya yang agak berdebu.

"Nah, kaki saya sudah tidak kaku lagi," kata Tonakodi merusak keheningan dengan tawa renyah yang jujur. "Terima kasih sudah menemani lesehan."

Ami dan Rahmat bergegas ikut berdiri.

Tonakodi melangkah menuju pintu keluar. Di luar, matahari siang masih memancarkan panasnya yang terik. Namun bagi Ami dan Rahmat, sosok sederhana yang berjalan menuju motor bututnya itu membawa kesejukan yang jauh lebih dingin dan menentramkan daripada AC mana pun di dunia.

 Tonakodi berlalu.

"Eh...Ka Ami, macam so lupa tadi, te ada air minum untuk Tonakodi," seru Rahmat.

"Hehehe. Aman ji itu. Tonakodi tidak pusing dengan urusan seperti itu. Nanti lain waktu kita traktir dia ngopi," kata Ami.***



Tana Kaili, 5 Agustus 2926

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam