Hamba Allah di Konferensi HMI
Oleh: Temu Sutrisno
Pada Konferensi HMI Cabang Palu tahun 2000, ada yang unik dari forum laporan pertanggungjawaban pengurus periode 1999-2000.
Setelah Ketua Umum Sudirman Zuhdi membacakan pengantar pertanggungjawaban, giliran saya selaku Sekretaris Umum meneruskan laporan secara detail program dan kegiatan. Sampai di sini, konferensi yang dilaksanakan di Aula Ali Bungasawa Kampus Lama Untad Jl. Setiabudi masih adem.
Tiba-tiba saat laporan keuangan dibacakan Bendahara Umum Bun Yamin, situasi berubah. Iqbal dari Komisariat Pertanian Untad protes. Dalam laporan, terlalu banyak tertulis sumber dana organisasi dari "Hamba Allah". Protes Iqbal diperkuat Taufik Bidullah dari Komisariat Ekonomi dan Arman Salimin dari FKIP.
Menurut saya, protes dan pertanyaan itu wajar dalam konteks berorganisasi. Tidak ada yang keliru. Selain alasan transparansi, sikap kritis itu bagian dari kecintaan pada HMI.
Sudirman Zuhdi menatap Bun Yamin sambil tersenyum.
Bun Yamin yang pendiam namun teliti dalam administrasi awalnya tidak bereaksi. Full senyum. Atas nama transparansi, "Hamba Allah" minta dibuka. Diskusi makin hangat, karena Kohati ramai-ramai memberikan dukungan pada Bun Yamin untuk tidak membuka nama orang-orang yang berderma, namun tidak mau disebut namanya.
Di tengah situasi itu, Bun Yamin mengklarifikasi semua pertanyaan dengan kalimat pendek: "Kita semua adalah hamba Allah. Bagi yang banyak membantu HMI semoga bernilai ibadah. Bagi teman-teman yang belum membantu kebutuhan cabang, semoga ke depan bisa membantu. Sehingga kita semua tercatat sebagai hamba Allah."
Jlebb. Semua diam.
Saya sempat merenung, sambil meneliti satu persatu nama penderma. Tidak ada namaku. Saya tersenyum sendiri. "Saya tidak tahu, apakah saya termasuk hamba Allah atau yang disuruh Bun Yamin menjadi hamba Allah di periode berikutnya."
Ah.. sudahlah. Saya sadar diri belum sepenuhnya menjadi hamba Allah yang baik.
Di akhir laporan pertanggungjawaban semua tertawa, berangkulan, dan menerima LPJ yang disampaikan Ketua Umum Sudirman Zuhdi tanpa catatan.
Itulah indahnya ber-HMI. Rasa persaudaraan dan kekeluargaan jauh lebih tinggi dari sekadar laporan kegiatan himpunan. Bahkan seorang bendahara umum yang terkenal pendiam, bisa memaksa kita menertawakan diri sendiri dan bertanya, "Benarkah diri ini benar-benar telah menjadi hamba Allah?"
Pertanyaan mendasar yang dilemparkan lewat gurauan bernuansa spiritual dari Bun Yamin itu sebetulnya menembus jantung dari cita-cita perjuangan HMI. Menjadi hamba Allah bukan sekadar predikat administratif atau sekadar sebutan anonim di lembar laporan keuangan. Hamba Allah adalah identitas eksistensial tertinggi seorang manusia—titik lebur antara kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta dan keberanian untuk mendedikasikan potensi diri bagi kemanusiaan.
Dalam bingkai Cita Kader HMI, profil hamba Allah ini menemukan wujud sempurnanya pada karakter insan Ulul Albab. Sosok pemikir sekaligus pengabdi yang digambarkan dalam Al-Qur'an sebagai mereka yang terus-menerus mengingat Allah (dzikir) dalam setiap keadaan, seraya menggunakan ketajaman akalnya (fikir) untuk membedah realitas alam dan dinamika sosial.
Peristiwa sederhana di Aula Ali Bungasawa puluhan tahun silam itu memberi kita cermin jernih tentang bagaimana karakter Ulul Albab memanifestasikan diri dalam dinamika berorganisasi.
Menjadi hamba Allah versi Ulul Albab berarti membebaskan setiap niat dari rasa ingin diakui. Ketika seorang kader memberi—baik dalam bentuk pikiran, tenaga, maupun materi—ia tidak sedang bertransaksi dengan panggung tepuk tangan atau kehormatan struktur. Pilihan untuk tetap anonim sebagai "Hamba Allah" menggambarkan puncak kematangan spiritual: tangan kanan memberi, tanpa perlu tangan kiri mencatatnya dalam prasasti kesombongan.
Sosok Bun Yamin memperlihatkan bagaimana logika Ulul Albab bekerja meredam ketegangan. Ia tidak merespons dialektika yang memanas dengan ego, melainkan dengan kejernihan nurani (hikmah). Kalimat singkatnya menyadarkan forum bahwa transparansi terbaik bukan sekadar membuka angka dan nama, melainkan membongkar kesadaran kritis setiap individu tentang sejauh mana kontribusi nyata mereka bagi rumah bersama bernama HMI.
Insan Ulul Albab bukanlah intelektual yang menara gading, bukan pula pengabdi yang buta arah. Karakter ini menuntut kader HMI untuk mengawinkan kedalaman ilmu pengetahuan dengan ketundukan jiwa. Menjadi hamba Allah berarti sadar bahwa ilmu yang tinggi, retorika yang memukau, dan posisi strategis di organisasi hanyalah alat untuk mengabdi, bukan tujuan untuk menyombongkan diri.
Dialektika di arena Konferensi Cabang tahun 2000 itu, menjadi pengingat yang terus bergema. HMI tidak sekadar melatih kita menjadi aktivis yang piawai bersilat kata di mimbar-mimbar persidangan, tetapi menggembleng kita untuk tumbuh menjadi manusia utuh sebagai hamba Allah. Manusia yang bergerak atas dasar keimanan, berpikir dengan kedalaman ilmu, dan berbuat demi kemaslahatan umat.
Di hadapan sejarah dan Sang Pencipta, gelar akademis, jabatan organisasi, atau reputasi sosial akan pudar. Yang tersisa dan kelak dipertanyakan hanyalah satu hal mendasar: sudahkah kita benar-benar layak mencatatkan diri sebagai hamba Allah yang berkarakter Ulul Albab?***
(Sekretaris Umum HMI Cabang Palu Periode 1999 - 2000)
.jpg)
Ayo mas, bukukan pengalaman berHMI yang unik-unik....
BalasHapus