Makna Merdeka

Oleh: Temu Sutrisno


Rindang daun ketapang kencana di sudut lapangan upacara memayungi lima orang yang merayakan kemerdekaan dengan caranya sendiri. Terik matahari Agustus mulai menyengat, tetapi angin sepoi-sepoi membawa ketenangan. Di sana, Tonakodi duduk, mengamati barisan anak-anak sekolah yang rapi berbalut seragam merah-putih dan biru-putih.

Di sebelah kirinya, Om Uchen mengelus lututnya yang dibalut perban, sisa oleh-oleh kecelakaan tunggal dua minggu lalu. Di sampingnya, Om Uly menyandarkan kaki kanannya yang membengkak akibat infeksi ringan ke sebatang kayu kecil, wajahnya tetap memancarkan senyum hangat. Meski langkah mereka pincang, semangat menyambut detik-detik proklamasi tak melumpuhkan niat mereka untuk hadir.

"Wah, kalau begini caranya, lututku ini ikut merdeka dari rasa sakit kalau melihat dagangan Mas Ragil laris," celoteh Om Uchen terkekeh, memecah kekakuan. Tangannya menunjuk gerobak sepeda motor milik Ragil, penjual sempol keliling yang sibuk menata tusukan adonan gorengnya.

Ragil menyapu keringat di dahi dengan lengan bajunya. Wajahnya polos, memancarkan harapan seorang rakyat kecil. "Aamiin, Om Uchen. Hari ini rame sekali. Semoga habis semua, buat bayar cicilan kontrakan sama beli beras. Bagi saya, merdeka itu sederhana, Om. Perut kenyang, tidak dikejar-kejar utang, dan harga sembako tidak mencekik. Kalau besok dapur masih bisa ngebul tanpa bingung cari pinjaman, itu baru namanya merdeka."

Di sisi lain gerobak, berdiri Fatah bersama cucinya. Pria tua gagah itu mengenakan veteran lengkap dengan legiun bintang jasa yang menyemat di dadanya. Bahunya tegak, matanya menatap tajam ke arah tiang bendera di tengah lapangan.

"Merdeka bukan cuma urusan isi perut, Nak Ragil," potong Fatah dengan suara serak namun penuh ketegasan patriotik. "Dulu kami mengucurkan darah dan air mata agar bangsa ini tidak lagi ditiup dan diinjak-injak bangsa asing. Merdeka adalah ketika kedaulatan tanah air ini berdiri tegak, ketika kita tidak lagi menjadi hamba di negeri sendiri, terbebas dari kezaliman dan penindasan!"

Om Uly tersenyum ramah, mengangguk penuh rasa hormat pada Fatah, lalu menepuk pelan pundak Ragil. "Bapak Fatah benar, tapi Mas Ragil juga tidak salah. Keadilan sosial dan kemudahan hidup bagi rakyat kecil adalah buah yang harus dipetik dari pohon kemerdekaan yang dibayar mahal oleh para pahlawan."

Tonakodi yang sejak tadi menyimak dengan jemari mengelus tasbih kayu di pangkuannya, akhirnya angkat bicara. Suaranya lembut, bagai gemercik air jernih yang menyejukkan.

"Semua yang disampaikan Pak Fatah dan Mas Ragil adalah kebenaran pada maqamnya masing-masing," ucap Tonakodi perlahan. "Namun, mari kita renungkan lebih dalam. Apakah seseorang benar-benar merdeka jika perutnya kenyang dan negaranya berdaulat, tetapi hatinya masih dipenjara oleh nafsu?"

Keempat orang di bawah pohon ketapang itu mendadak hening, menyimak petuah Tonakodi.

"Dalam pandangan sufistik," lanjut Tonakodi dengan tatapan menembus jauh ke hamparan langit biru, "kemerdekaan sejati atau al-hurriyah adalah ketika jiwa terbebas dari belenggu hawa nafsu duniawi. Jika hati kita masih diperbudak oleh ambisi harta, dahaga akan tahta, dan rasa haus akan pujian manusia, maka sejatinya kita masih terjajah. Orang yang paling tertawan adalah orang yang hatinya terikat pada selain Sang Pencipta."

Om Uchen meringis, bukan karena nyeri di lututnya, melainkan tersentil oleh kata-kata itu. "Berarti, walau kaki saya terikat gips, kalau hati saya tidak mengeluh dan pasrah, saya sudah merdeka ya, Tonakodi?"

"Tepat, Om Uchen," Tonakodi tersenyum tipis. "Kemerdekaan batin adalah qana'ah, merasa cukup dan ridha dengan apa yang dibagikan oleh Allah SWT. Ketika kita lepas dari ketergantungan pada materi, tidak ada lagi rasa takut kehilangan, tidak ada lagi kecemasan pada esok hari. Sebab kita tahu, milik siapa dunia dan seisinya ini."

Merdeka bagi saya tukas Om Uly, saat negeri ini menguasai kekayaan bumi sendiri, saat tidak ada pejabat korupsi, hukum tegak berkeadilan, dan semua orang terbebas dari kepalsuan informasi. Lebih dari itu, kita bisa ngopi kapan saja dengan rasa aman dan menyampaikan pendapat tanpa rasa takut. 

"Merdeka harus dirasakan semua orang. Termasuk anak-anak bisa sekolah dengan murah dan kita semua mendapat pelayanan kesehatan terjangkau dan berkualitas. Semua anak bangsa mendapatkan kesempatan yang sama untuk berusaha. Tidak perlu jadi tenaga kerja di luar negeri. Hehehehe," sela Om Uchen.

Fatah mendengarkan dengan khidmat. Semangat berapi-apinya mereda, berganti dengan renungan mendalam.

"Benar. Semua yang kalian sampaikan, itulah yang kami perjuangan. Negara berdaulat, rakyat hidup bermartabat. Semua anak bangsa dapat bekerja dan beribadah dengan tenang. Keadilan sosial menjadi etalase negeri, dan persatuan kuat dalam keberagaman. Kami ingin Indonesia menjadi rumah besar yang aman dan ramah untuk seluruh warganya," ujar Fatah.

"Secara universal dalam tauhid yang murni," sambung Tonakodi lagi, "Islam mengajarkan bahwa merdeka adalah memindahkan ketaatan dan penghambaan dari sesama makhluk menuju aturan Allah SWT semata. Ketika seorang manusia hanya menundukkan kepalanya kepada Allah, maka ia serta-merta bebas dari perbudakan manusia lain, bebas dari ketakutan, dan bebas dari kebodohan. Penghambaan sejati kepada Sang Pencipta justru adalah puncak kemerdekaan manusia yang paling hakiki," imbuh Tonakodi.

Sangkakala upacara terdengar membahana dari jauh. Barisan peserta mulai merapat. Fatah segera menuju tenda yang disiapkan untuk para veteran pejuang bangsa. Di bawah naungan pohon ketapang kencana, kelima jiwa itu menemukan benang merah dari setiap sudut pandang mereka.

Dari kepulan asap minyak sempol Ragil, ketegasan jiwa veteran Fatah, tawa humoris Om Uchen di tengah rasa sakit, keramahan Om Uly, hingga kedalaman kebijaksanaan Tonakodi, kemerdekaan menjelma menjadi sebuah utopia yang utuh: terpenuhinya hajat hidup di bumi, tergenggamnya kedaulatan bangsa, dan terbebasnya jiwa menuju Sang Maha Pencipta.***


Tana Kaili, 17 Agustus 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam