64 Tahun Mercusuar Memandu Arah Sulawesi Tengah

Oleh: Temu Sutrisno

 

Tidak banyak media lokal mampu bertahan di tengah disrupsi digital. Apalagi jika mengusung platform cetak. Tapi tidak dengan Mercusuar. Di belantara media online, Mercusuar mampu bertahan dan tampil mencerdaskan, memandu arah, dan mewarnai sejarah Sulawesi Tengah.

Hukum sejarah seperti ingin menegaskan, bahwa Mercusuar bukan saja mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Namun Mercusuar juga seperti mutiara, semakin dalam samudera semakin mahal nilainya. Semakin berumur, semakin dicari para kolektor. Dan tentu saja, membuat penasaran generasi terkini.

Jejak Sejarah dan Ruang Diplomasi

Mercusuar tidak bisa dilepaskan dari perjuangan pembentukan Sulawesi Tengah sebagai provinsi, yang merupakan bagian penting dari dinamika politik Indonesia pascakemerdekaan. Pada masa itu, wilayah Sulawesi Tengah masih berada dalam struktur administratif yang bergabung dengan Sulawesi Utara. Kondisi ini melahirkan ketimpangan pembangunan serta keterbatasan representasi politik bagi masyarakat di wilayah tengah pulau Sulawesi. Dalam situasi demikian, muncul kesadaran kolektif untuk memperjuangkan otonomi daerah yang lebih luas.

Rusdy Toana berada di garis depan perjuangan tersebut. Ia bukan hanya menjadi peserta dalam arus gerakan, tetapi juga salah satu penggerak utamanya. Dengan kemampuan komunikasi yang kuat dan jaringan sosial yang luas di poros Palu-Jogjakarta-Jakarta, Rusdy Toana terlibat aktif dalam upaya diplomasi, konsolidasi masyarakat, serta advokasi politik di tingkat regional dan nasional. Perjuangan ini tidak mudah; membutuhkan kesabaran, strategi, dan keberanian dalam menghadapi berbagai kepentingan yang saling berkelindan.

Namun, yang membedakan Rusdy Toana dari banyak tokoh lain adalah kemampuannya memanfaatkan media sebagai alat perjuangan. Pada 1 September 1962, Rusdy Toana mendirikan Harian Mercusuar, yang berawal dari publikasi sederhana bernama Suara Rakyat. Dari sinilah gagasan, kritik, dan aspirasi masyarakat Sulawesi Tengah disuarakan secara lebih terstruktur dan luas.

Kehadiran Harian Mercusuar bukan sekadar untuk menyampaikan berita. Mercusuar menjadi instrumen strategis dalam membangun kesadaran publik. Dalam konteks perjuangan pembentukan provinsi, koran ini memainkan peran sebagai medium artikulasi kepentingan daerah. Tulisan-tulisan yang dimuat di dalamnya tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga persuasif dan ideologis. Melalui Mercusuar, Rusdy Toana mengedukasi masyarakat tentang pentingnya otonomi daerah, sekaligus menekan pemerintah pusat agar memberikan perhatian terhadap aspirasi tersebut.

Pers dalam hal ini berfungsi sebagai kekuatan sosial-politik. Dalam banyak kesempatan, Harian Mercusuar menjadi ruang diskusi publik yang terbuka, tempat bertemunya gagasan dari berbagai kalangan. Di tengah keterbatasan teknologi komunikasi pada masa itu, surat kabar menjadi alat yang sangat efektif untuk membangun opini publik. Rusdy Toana memahami betul kekuatan ini, dan ia memanfaatkannya secara maksimal.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Harian Mercusuar adalah “corong perjuangan” bagi Sulawesi Tengah. Rusdy Toana dan Mercusuar mengawal proses panjang menuju terbentuknya provinsi, mulai dari tahap perintisan, konsolidasi, hingga realisasi. Bahkan setelah provinsi ini resmi berdiri, Mercusuar tetap memainkan peran penting sebagai pengawas pembangunan daerah. Mercusuar menjadi media yang kritis terhadap kebijakan pemerintah, sekaligus konstruktif dalam menawarkan solusi.

Menjaga Marwah di Era Disrupsi

Melangkah hingga usia 64 tahun, Mercusuar membuktikan bahwa daya tahan media tidak sekadar ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan seberapa kuat ketaatan pada nilai dasar jurnalistik. Di era ketika arus informasi bergerak liar tanpa filter, keberadaan media konvensional yang memegang teguh akurasi dan etika menjadi sangat krusial.

Mercusuar tidak pernah kehilangan arah dalam menavigasi bahtera informasi di Sulawesi Tengah. Di tengah riuh rendah media sosial yang acapkali menjebak pembaca dalam sensasionalisme dan berita bohong (hoaks), koran ini konsisten menjadi rujukan jernih bagi publik dan pemangku kebijakan.

Transformasi digital tidak disikapi Mercusuar sebagai ancaman yang mematikan, melainkan sebagai ruang baru untuk memperluas jangkauan. Melalui konvergensi media—menggabungkan kekuatan cetak dan platform digital—Mercusuar menyapa generasi muda tanpa kehilangan jiwa utamanya. Nilai historis yang dibawanya sejak 1962 justru menjadi benteng moral yang membedakannya dari media serba instan masa kini.

Monumen Hidup

Sejarah pergerakan daerah ini melekat erat pada tinta yang ditorehkan oleh Mercusuar. Kehadirannya hingga enam dekade lebih menegaskan bahwa Mercusuar adalah penjaga ingatan kolektif masyarakat Sulawesi Tengah. Tanpa pers yang merekam perjalanan zaman, jejak perjuangan para pendiri daerah akan memudar tergerus waktu.

Bagi generasi hari ini dan masa depan, Mercusuar bukan hanya lembaran kertas tua berbau tinta, melainkan monumen hidup. Media ini membuktikan bahwa pers lokal mampu menjadi pilar demokrasi yang tangguh, berdiri tegak di tengah badai perubahan zamannya.

Selama cahaya mercusuar itu tetap menyala, arah pembangunan Sulawesi Tengah akan senantiasa memiliki pemandu yang setia menjaga kejujuran, memperjuangkan keadilan, dan mencerdaskan kehidupan publik.

Selamat HUT Mercusuar, terus tampil profesional, berintegritas, dan jangan pernah lelah memandu arah sejarah. ***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam