Jurnalisme Profetik dan Tantangan Era Digital

Oleh: Temu Sutrisno

Dalam lanskap sejarah peradaban, fungsi warta selalu memegang posisi sentral. Jika ditarik benang merah secara mendalam, peran seorang wartawan sesungguhnya memiliki garis artikulasi yang beririsan dengan tugas kenabian. Keduanya adalah pembawa berita (bearer of news), penyambung lidah atas fakta, dan pengabarkan kebenaran kepada khalayak luas. Perbedaannya terletak pada basis ontologis sumber informasi.

Risalah kenabian bersumber mutlak dari wahyu Ilahi, sedangkan karya jurnalistik bersumber dari penelusuran fakta melalui kerja-kerja liputan empiris di lapangan.

Namun, esensi moral yang mengikat keduanya berada dalam frekuensi yang sama. Dalam tradisi keislaman, idealisme kepemimpinan dan penyampaian pesan kenabian ditopang oleh empat pilar utama, yakni Siddiq (jujur/benar), Amanah (dapat dipercaya/bertanggung jawab), Tabligh (menyampaikan tanpa mengurangi atau menambah), dan Fathanah (cerdas/bijaksana).

Jika ditransformasikan ke dalam ruang redaksi, empat sifat kenabian ini adalah kompas etik utama insan pers. Siddiq mewujud pada komitmen menyampaikan kebenaran secara akurat tanpa manipulasi. Kejujuran fakta adalah hukum tertinggi jurnalisme yang tidak boleh ditawar oleh kepentingan ideologis maupun finansial.

Amanah berarti dapat dipercaya. Pers memegang mandat kepercayaan dari publik. Pers atau Wartawan bertindak sebagai pengawal moral yang menjaga integritas karya jurnalistiknya agar bebas dari benturan kepentingan. Amanah terefleksi dari integritas menjaga kepentingan publik di atas kepentingan personal.

Tabligh dimaknai sebagai penyampai informasi yang bersikap transparan dalam menyebarkan berita yang menjadi hak publik. Sementara Fathanah menjadi daya kritis jurnalis dalam membedakan fakta dan propaganda, sekaligus mendidik khalayak agar menjadi lebih cerdas secara intelektual maupun sosial.

Badai Ekosistem Digital

Sayangnya, idealisme Jurnalisme Profetik ini kini berada di tengah pusaran krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Era digital telah mendemokratisasi ruang publik, tetapi pada saat yang sama melahirkan rimba informasi yang chaos. Algoritma media sosial menggeser parameter informasi. Kebenaran fakta bukan lagi menjadi pijakan utama, melainkan atribusi sensasi, keviralan, dan keterlibatan (engagement).

Kondisi ini memicu menjamurnya hoaks, fitnah, disinformasi, dan ujaran kebencian. Ruang publik kita mengalami fragmentasi ekstrem akibat hadirnya echo chamber (ruang gema) dan filter bubble, tempat di mana orang hanya ingin mendengarkan apa yang ingin mereka percayai. Lebih jauh, era ini melahirkan kultur sosial yang destruktif, seperti judgmental culture (kemudahan menghakimi tanpa klarifikasi) serta cancel culture (pengucilan sosial secara massal berbasis emosi komunal).

Secara teoritis, disrupsi ini dapat dibaca melalui Agenda-Setting Theory yang digagas oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw. Jika dulu pers memiliki kekuasaan tunggal menentukan isu apa yang penting bagi publik (gatekeeping), kini fungsi tersebut terdegradasi. Media sosial mengambil alih agenda-setting, di mana emosi massa sering kali mendikte isu nasional. Jurnalisme yang tergesa-gesa kerap terjebak pada clickbait demi bertahan secara ekonomi, mengorbankan fungsi Fathanah dan Siddiq demi mengejar lalu lintas pengunjung.

Dari kacamata sosio-teknologis, fenomena ini berkelindan erat dengan konsep Network Society dari Manuel Castells. Dalam masyarakat jejaring, informasi bergerak secara horizontal dan terdesentralisasi. Sayangnya, tanpa adanya penyaring etik yang kuat, jejaring ini menjadi lahan subur bagi berkembangnya "Post-Truth" (pasca-kebenaran), sebuah era ketika fakta objektif kalah pengaruh dibandingkan imbauan emosional dan keyakinan personal.

Reaktualisasi Etika Profetik

Menghadapi kehancuran lanskap informasi ini, Jurnalisme Profetik tidak boleh sekadar menjadi utopia atau wacana normatif di ruang kelas. Konsep ini harus diposisikan sebagai kerangka kerja operasional sekaligus banteng pertahanan pers.

Pertama, penguatan fungsi Siddiq dan Amanah melalui verifikasi ketat. Di tengah serbuan hoaks, jurnalisme tidak boleh kalah cepat oleh rumor, melainkan harus menang dalam hal ketepatan. Teori Responsibility of Journalism menekankan bahwa kebebasan pers yang sejati selalu melekat dengan tanggung jawab sosial. Verifikasi adalah benteng terakhir yang membedakan jurnalisme dari sekadar unggahan media sosial.

Kedua, aktualisasi nilai Tabligh sebagai alat resolusi konflik dan rekayasa sosial yang positif. Jurnalisme profetik tidak hanya menyampaikan berita (to inform), tetapi juga menyembuhkan luka sosial (to heal). Ketika media sosial mendorong cancel culture dan persekusi digital, jurnalisme harus hadir membawakan narasi yang jernih, berimbang (cover both sides), serta memulihkan martabat manusia yang dihakimi secara sepihak oleh penghakiman massa.

Ketiga, penajaman aspek Fathanah dalam pembentukan wacana publik. Pers dituntut tidak sekadar melaporkan "apa yang terjadi", tetapi mampu memberikan pemaknaan mendalam (depth reporting) dan edukasi kritis. Jurnalis yang fathanah mampu melihat struktur masalah di balik sebuah gejala sosial, sehingga publik tidak terseret dalam polarisasi yang dangkal.

Menjaga Marwah di Tengah Badai

Mengadopsi semangat kenabian dalam jurnalisme, bukan berarti mengubah media menjadi mimbar khotbah religius. Jurnalisme Profetik adalah sebuah kesadaran etik, bahwa setiap kata yang ditulis, setiap foto yang diunggah, video yang diupload, dan setiap judul yang ditayangkan memiliki konsekuensi moral bagi peradaban.

Pers tidak boleh menyerah pada diktat algoritma atau tuntutan pasar yang merusak nilai kebenaran. Jika nabi bertugas membawa umat manusia dari kegelapan menuju cahaya (minadh-dhulumaati ilan-nuur), maka jurnalisme profetik bertugas membawa masyarakat keluar dari kegelapan disinformasi dan kesesatan penalaran menuju terang benderangnya kebenaran fakta.

Tantangan era digital memang berat. Namun pers yang memegang teguh karakter Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah tidak akan pernah kehilangan relevansi. Di tengah riuhnya kebisingan digital, publik akan selalu merindukan suara yang jujur, jernih, dan menenangkan. Sebuah suara yang lahir dari ruh Jurnalisme Profetik.

Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Semoga teladan nabi mewarnai kehidupan dan aktivitas kita sehari-hari. ***



Penulis adalah Wartawan Mercusuar-Trimedia Grup, Sekretaris PWI Sulteng

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam