Postingan

BBM Subsidi Bersembunyi dalam PETI

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Ahad pagi di Kota Palu selalu punya cara sendiri untuk menenangkan kepala. Matahari muncul ramah, tidak galak seperti hari kerja. Awan tipis berarak pelan, seolah ikut olahraga ringan. Di taman kota, orang-orang berjalan santai, ada yang jogging setengah niat, ada pula yang sekadar pamer sepatu baru. Tonakodi mengakhiri jalan paginya di bangku taman yang paling dekat dengan gerobak kopi. Kaosnya basah keringat, tapi wajahnya cerah. Mungkin karena olahraga, mungkin karena aroma kopi yang sudah memanggil sejak dari jauh. “Ahad tanpa kopi itu ibarat sandal jepit tanpa karet,” gumamnya sambil duduk. Tak lama, Om Uchen dan Om Uli datang menyusul. Om Uchen membawa botol air minum besar, isinya entah air putih atau sisa teh kemarin. Om Uli, seperti biasa, datang dengan senyum dan kaca mata khasnya. Ami, yang sejak tadi duduk di sisi lain taman sambil olahraga ringan, ikut bergabung dengan membawa empat cangkir kopi dari gerobak. “Nah, ini baru lengkap,” kata Ami. “Olahraga...

Legal tapi Ilegal

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Sabtu sore itu matahari sudah malas menyengat. Angin laut Pantai Talise datang perlahan, membawa aroma asin yang bercampur harum kopi hitam dan jagung yang lagi dipanggang di tungku kecil.  Di bawah pohon ketapang, dego-dego kayu tua jadi saksi obrolan orang-orang yang hidupnya 'seakan-akan' merdeka dari beban dunia. Tonakodi duduk paling ujung, kakinya selonjor. Di depannya, kopi hitam sudah agak dingin, tapi tetap diseruput. Katanya, kopi dingin bikin pikiran lebih jujur. “Eh, Tonakodi,” kata Om Uchen sambil menikmati jagung bakar, “Komiu tahu le, kabar dari gunung sana dengar-dengar ramai lagi. Katanya soal tambang ilegal.” Tonakodi tersenyum miring. “Kalau gunung sudah ramai, biasanya laut ikut keruh, Om.” Om Uli yang dari tadi diam, langsung nimbrung. “Keruh itu bukan cuma air, tapi juga urusan izin-izin. Banyak yang tidak jelas. Ada yang ilegal terang-terangan, ada juga yang legal tapi kelakuannya kayak maling ayam.” Ami menuang kopi ke gelas Yamin. “S...

Perang Bayangan di Balik Secangkir Kopi

Gambar
 Oleh: Temu Sutrisno Sabtu pagi itu cerah, langit di utara Kota Palu tampak biru pucat dengan awan tipis yang berarak malas. Angin dari arah laut menyelinap ke sela-sela daun kelapa dan pohon kakao di kebun milik Haji Agus. Di sudut kebun, sebuah sou-sou sederhana berdiri. Bertiang kayu, beratap rumbia, lantainya dari papan yang sudah mulai kusam dimakan usia. Tonakodi duduk bersila di atas tikar pandan. Di depannya, secangkir kopi hitam mengepul, ditemani ubi dan jagung rebus yang masih hangat. Aroma tanah pagi bercampur wangi kopi menciptakan suasana yang membuat pikiran terasa ringan, meski topik obrolan pagi itu justru berat. “Kalau begini rasanya dunia aman-aman saja,” kata Om Uchen sambil meniup kopi. “Padahal di luar sana, perang sudah jalan, cuma tak kelihatan.” Om Uli tertawa kecil. “Itu yang sekarang disebut perang bayangan, Tuaka. Tak pakai suara meriam, tapi dampaknya bisa bikin negara goyah.” Tonakodi mengangguk pelan. Sejak tadi ia lebih banyak mendengar. Pagi-pagi be...

Belajar dari Kerusuhan Agustus 1953

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno   Jumat pagi, matahari di langit Kota Palu redup. Angin semilir lebih bersahabat. Tidak menggendong udara panas seperti biasanya. Ombak kecil di teluk berpagar pegunungan yang mulai botak di sana-sini digaruk penambang, berkejaran seperti anak-anak yang telat masuk sekolah.  Berjarak seratus tombak dari pantai, di lantai dua kantor perkumpulan profesi yang cat temboknya mengelupas dimakan usia, Tonakodi duduk sambil meniup kopi panasnya pelan-pelan. “Pelan -pelan minumnya le ,” kata Om Uchen sambil nyengir. “Kopi panas itu kalau diseruput sembarang, bisa bikin lidah demonstrasi.” Tonakodi terkekeh. “Iye, Om. Lidah saya sudah cukup sering demo gara-gara kopi murahan.” Di meja sebelah , ada Om Uli yang sibuk mengaduk kopi tiga banding satu, Ami yang duduk sambil buka ponsel tapi matanya sesekali menatap taman di luar. Haji Agus yang datang belakangan, langsung duduk tanpa banyak omong. Seperti biasa, Jumat pagi memang waktu paling cocok buat ...

Body Shaming dalam Lawakan: antara Hiburan, Etika, dan Hukum

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Lawakan atau komedi merupakan bagian dari kebudayaan manusia yang berfungsi sebagai sarana hiburan, kritik sosial, hingga pelepas ketegangan. Sejak era komedi klasik hingga pertunjukan stand-up modern, humor selalu berkembang mengikuti konteks sosial zamannya. Namun, tidak semua bentuk humor dapat diterima tanpa batas. Salah satu bentuk lawakan yang belakangan menuai perdebatan serius adalah humor yang menjadikan fisik seseorang seperti bentuk tubuh, warna kulit, penampilan wajah, atau karakteristik fisik lainnya sebagai bahan ejekan. Praktik ini kerap disebut sebagai body shaming dalam konteks komedi. Pada masa lalu, lawakan berbasis fisik sering kali dianggap wajar, bahkan menjadi ciri khas sejumlah pelawak. Akan tetapi, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu etika, martabat manusia, dan kesehatan mental membuat praktik tersebut dipertanyakan kembali. Tulisan ini membahas body shaming dalam lawakan dari tiga perspektif utama: hiburan, etika, dan huk...

Ketika Kebencian Jadi Cuan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno     Istirahat siang hari Senin di Kota Palu selalu punya rasa khas. Panas yang ditahan awan, seperti niat hujan yang masih ragu. Di lantai dua kantor perkumpulan , sebuah bangunan dengan kipas angin yang bunyinya mirip doa panjang , Tonakodi duduk santai sambil memegang cangkir kopi hitam. Di depannya tersaji pisang emas yang menguning cerah dan dua bungkus   kacang sangrai yang aromanya bisa membatalkan niat puasa sunnah. Om Uchen duduk di kursi rotan panjang, Om Uli sibuk mengupas pisang dengan gaya seolah sedang memimpin ritual adat . S ementara Ami dan Ryan bercengkerama ringan sambil sesekali melirik ponsel. Mereka membincang hasil 3-2 Barcelona vs Real Madrid memperebutkan Piala Super Spanyol. Suasana santai, ngopi, dan obrolan ke sana ke mari dengan beragam tema , khas jam istirahat yang sebenarnya lebih mirip jam tafakur massal. “Ton akodi ,” kata Om Uchen sambil menyeruput kopi, “ k omiu  tahu tidak, sekarang kebencian itu bis...