BBM Subsidi Bersembunyi dalam PETI
Oleh: Temu Sutrisno Ahad pagi di Kota Palu selalu punya cara sendiri untuk menenangkan kepala. Matahari muncul ramah, tidak galak seperti hari kerja. Awan tipis berarak pelan, seolah ikut olahraga ringan. Di taman kota, orang-orang berjalan santai, ada yang jogging setengah niat, ada pula yang sekadar pamer sepatu baru. Tonakodi mengakhiri jalan paginya di bangku taman yang paling dekat dengan gerobak kopi. Kaosnya basah keringat, tapi wajahnya cerah. Mungkin karena olahraga, mungkin karena aroma kopi yang sudah memanggil sejak dari jauh. “Ahad tanpa kopi itu ibarat sandal jepit tanpa karet,” gumamnya sambil duduk. Tak lama, Om Uchen dan Om Uli datang menyusul. Om Uchen membawa botol air minum besar, isinya entah air putih atau sisa teh kemarin. Om Uli, seperti biasa, datang dengan senyum dan kaca mata khasnya. Ami, yang sejak tadi duduk di sisi lain taman sambil olahraga ringan, ikut bergabung dengan membawa empat cangkir kopi dari gerobak. “Nah, ini baru lengkap,” kata Ami. “Olahraga...