BBM Subsidi Bersembunyi dalam PETI
Oleh: Temu Sutrisno
Ahad pagi di Kota Palu selalu punya cara sendiri untuk menenangkan kepala. Matahari muncul ramah, tidak galak seperti hari kerja. Awan tipis berarak pelan, seolah ikut olahraga ringan. Di taman kota, orang-orang berjalan santai, ada yang jogging setengah niat, ada pula yang sekadar pamer sepatu baru.
Tonakodi mengakhiri jalan paginya di bangku taman yang paling dekat dengan gerobak kopi. Kaosnya basah keringat, tapi wajahnya cerah. Mungkin karena olahraga, mungkin karena aroma kopi yang sudah memanggil sejak dari jauh.
“Ahad tanpa kopi itu ibarat sandal jepit tanpa karet,” gumamnya sambil duduk.
Tak lama, Om Uchen dan Om Uli datang menyusul. Om Uchen membawa botol air minum besar, isinya entah air putih atau sisa teh kemarin. Om Uli, seperti biasa, datang dengan senyum dan kaca mata khasnya. Ami, yang sejak tadi duduk di sisi lain taman sambil olahraga ringan, ikut bergabung dengan membawa empat cangkir kopi dari gerobak.
“Nah, ini baru lengkap,” kata Ami. “Olahraga sudah, kopi menyusul. Tinggal gosipnya.”
“Bukan gosip,” Om Uchen cepat-cepat meluruskan. “Diskusi rakyat kecil. Biar kedengaran intelek dikit.”
Mereka tertawa. Tonakodi menyeruput kopinya perlahan. “Kopi pagi itu enaknya bukan karena pahitnya, tapi karena temannya.”
“Setuju,” sahut Om Uli. “Kalau pahit sendirian itu namanya nasib.”
Percakapan ringan itu kemudian berbelok ketika Om Uchen menunjuk koran yang tergeletak di bangku. Judulnya besar: Tambang Ilegal Kembali Merebak.
“Ini lagi, ini lagi,” Om Uchen menggeleng. “Tambang ilegal, PETI, tapi yang bikin saya heran, kok alat beratnya tidak pernah kehabisan solar?”
Ami menyipitkan mata. “Mungkin minum air kelapa.”
Tonakodi terkekeh. “Kalau ekskavator minum air kelapa, petani kelapa sudah jadi konglomerat, dong. Hehehe.”
Om Uli menghela napas. “Yang lucu, kita rakyat kecil mau isi solar subsidi antre panjang. Sementara di gunung, mesin-mesin itu bunyinya tidak pernah serak.”
“Makanya judulnya pas,” kata Tonakodi sambil mengetuk koran. “BBM subsidi bersembunyi dalam PETI.”
“Bersembunyi tapi ketahuan,” Om Uchen menimpali. “Cuma ya itu, pura-pura tidak lihat.”
"Tahu, tapi pura-pura tidak tahu. Mungkin mereka-mereka yang pura-pura tidak tahu, itu pemainnya atau setidaknya ikut menikmati permainan. Hehehe...gaya lama, celana tua."
Ami menyeruput kopinya, lalu berkata pelan, “Subsidi itu niatnya baik. Untuk nelayan kecil, petani, ojek, rakyat yang betul-betul butuh. Tapi kalau salah alamat, niat baik jadi dosa berjamaah.”
Tonakodi mengangguk. “Solar subsidi itu seperti kursi taman ini. Dibuat untuk umum. Tapi kalau ada satu orang bawa pulang ke rumah, yang lain berdiri sampai kambuh asam urat.”
Om Uli tertawa kecil. “Perumpamaan Tonakodi berat. Tapi kena.”
Obrolan makin serius, meski tetap dibungkus tawa. Om Uchen mulai berapi-api. “Negara rugi, masyarakat susah. Solar langka, harga naik. Nelayan melaut bingung, petani tidak bisa olah sawah. Tapi alat berat di tambang ilegal tetap bekerja siang malam.”
“Katanya,” sambung Ami, “itu pelanggaran berat. Bisa enam tahun penjara, denda puluhan miliar.”
Om Uli mengangguk cepat. “Iya, saya dengar itu. Undang-undang sudah jelas. Tapi hukum itu seperti payung. Ada yang kehujanan, ada yang tetap kering.”
Tonakodi tersenyum pahit. “Masalahnya bukan kurang aturan. Kita kebanyakan aturan, tapi kurang keteladanan.”
Angin pagi berhembus pelan, daun-daun bergerak seirama. Sejenak mereka diam, menikmati suasana taman yang kontras dengan cerita gelap tentang tambang ilegal.
“Aneh ya,” kata Om Uchen akhirnya. “BBM subsidi itu niatnya untuk orang kecil, tapi justru orang kecil yang paling susah dapat.”
Ami mengangguk. “Yang kecil selalu jadi korban. Dari dulu sampai sekarang, Om.”
Tonakodi meletakkan cangkir kopinya. “Makanya, kita ini perlu sadar. Jangan ikut-ikutan menyalahgunakan. Sekecil apa pun. Karena kejahatan besar itu sering berawal dari pembiaran kecil.”
“Wah, Tonakodi mulai ceramah. Hehehehe,” Om Uli menggoda.
“Hahahaha..Bukan ceramah,” Tonakodi tertawa. “Ini nasihat kopi pagi. Gratis, tapi pahit di ujung.”
Mereka tertawa lagi. Om Uchen mengangkat cangkirnya. “Saya cuma berharap, pengawasan itu betul-betul jalan. Satgas, aparat, semua serius. Biar subsidi tidak salah kamar.”
“Harusnya masyarakat juga berani bilang tidak, Om,” tambah Ami. “Kalau tahu ada penyimpangan, jangan diam. Diam itu kadang ikut bersalah.”
Tonakodi mengangguk pelan. “Kita ini mungkin tidak bisa menghentikan tambang ilegal sendirian. Tapi kita bisa mulai dari diri sendiri. Tidak ikut merambah, menadah, dan tidak ikut membenarkan.”
Om Uli menatap langit yang cerah. “Kalau rakyat kecil terus jujur, semoga yang besar malu.”
“Kalau tidak malu?” tanya Om Uchen.
“Ya,” Om Uli tersenyum miring, “Mungkin saja mereka tidak mengerti kenapa Tuhan menciptakan kemaluan. Di situ ada batas iman dan mengumbar mengingkari petunjuk Tuhan. Setidaknya kita tidak ikut kotor, mandi solar dan merusak lingkungan.”
Matahari makin naik. Taman kota mulai ramai oleh keluarga dan anak-anak. Percakapan mereka pun mulai menurun nadanya, kembali ringan.
“Sudah, sebelum kopi berubah jadi pidato,” kata Ami sambil berdiri. “Kita pulang. Ahad masih panjang.”
Tonakodi ikut berdiri. “Benar. Perjuangan melawan ketidakadilan itu maraton, bukan sprint.”
Mereka melangkah pergi, meninggalkan bangku taman dan cangkir kopi kosong. Di balik tawa sederhana rakyat kecil itu, tersimpan harapan besar agar subsidi kembali ke tuannya, hukum berdiri tegak, dan negeri ini suatu hari benar-benar adil. Bukan seperti keadilan dalam pidato para pejabat dan kolaboratornya yang memanipulasi suara rakyat.***
Tana Kaili, 18 Januari 2026

Komentar
Posting Komentar