Legal tapi Ilegal
Oleh: Temu Sutrisno
Sabtu sore itu matahari sudah malas menyengat. Angin laut Pantai Talise datang perlahan, membawa aroma asin yang bercampur harum kopi hitam dan jagung yang lagi dipanggang di tungku kecil.
Di bawah pohon ketapang, dego-dego kayu tua jadi saksi obrolan orang-orang yang hidupnya 'seakan-akan' merdeka dari beban dunia.
Tonakodi duduk paling ujung, kakinya selonjor. Di depannya, kopi hitam sudah agak dingin, tapi tetap diseruput. Katanya, kopi dingin bikin pikiran lebih jujur.
“Eh, Tonakodi,” kata Om Uchen sambil menikmati jagung bakar, “Komiu tahu le, kabar dari gunung sana dengar-dengar ramai lagi. Katanya soal tambang ilegal.”
Tonakodi tersenyum miring. “Kalau gunung sudah ramai, biasanya laut ikut keruh, Om.”
Om Uli yang dari tadi diam, langsung nimbrung. “Keruh itu bukan cuma air, tapi juga urusan izin-izin. Banyak yang tidak jelas. Ada yang ilegal terang-terangan, ada juga yang legal tapi kelakuannya kayak maling ayam.”
Ami menuang kopi ke gelas Yamin. “Sudah minum dulu. Kalau bicara tambang, nanti cepat panas.”
Yamin tertawa. “Tenang, Mi. Kita kan cuma rakyat kecil. Panas kita paling sampai telinga.”
Agung yang paling muda, duduk sambil main HP, sesekali angkat kepala. “Om, ilegal itu sebenarnya yang bagaimana sih? Saya dengar ada yang bilang ‘Ini legal, ada izinnya.’ Tapi katanya tetap ilegal.”
Tonakodi menghela napas. “Nah, itu yang bikin kepala pusing, Gung. Ilegal itu bukan cuma soal tidak punya kertas. Kadang kertasnya ada, tapi hatinya buram.”
Mereka tertawa kecil. Jagung bakar tambahan mulai matang, baunya makin menggoda.
Om Uchen mulai cerita, gaya orang tua yang suka mengulang. “Dulu, kalau tambang ilegal itu jelas. Masuk hutan, gali, angkut, jual. Tidak ada izin, tidak setor apa-apa. Negara cuma kebagian debu.”
“Sekarang?” tanya Agung.
“Sekarang,” lanjut Om Uchen, “lebih pintar. Ada yang pakai dokumen terbang. Kertasnya terbang dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Batunya atau emasnya dari gunung A, izinnya dari gunung B.”
Yamin nyeletuk, “Ibarat orang naik motor pakai SIM orang lain.”
Semua tertawa.
Tonakodi mengangguk. “Betul. Itu modus lama tapi masih laku. Apalagi kalau aparat tutup mata. Tambang ilegal bisa berubah jadi legal cuma karena selembar kertas.”
Ami mengernyit. “Kasihan gunung, kasihan sungai. Merkuri dibuang sembarangan. Ikan mati, manusia ikut makan racunnya.”
Om Uli menimpali, suaranya berat. “Itu kalau PETI. Tambang tanpa izin. Mereka masuk kawasan terlarang, hutan lindung, bahkan taman nasional. Gali dulu, urusan besok belakangan.”
Agung geleng-geleng. “Tapi yang punya izin juga ada yang rusak, kan?”
Tonakodi tersenyum pahit. “Nah, itu yang namanya legal tapi ilegal.”
“Legal tapi ilegal?” Yamin mengulang sambil menggaruk kepala. “Kayak orang mencuri, tapi pamit sama tuan rumah?”
Ledakan tawa pecah.
“Kurang lebih begitu,” kata Tonakodi sambil tertawa. “Izinnya ada, tapi praktiknya menipu. Misalnya, izin aktif tapi tidak menambang. Eh, ternyata izinnya dijual ke orang lain buat nampung hasil tambang ilegal. Ada juga pemilik izin beroperasi, tapi kontraktor di dalam bukan berkualifikasi perusahaan tambang.”
Om Uchen mengangguk cepat. “Atau perusahaan setor jaminan reklamasi. Negara senang terima uang. Padahal dia tidak punya izin kawasan hutan. Tapi karena uang masuk, seolah-olah sah. Bisa juga menambang keluar dari area IUP. Itu modus ilegal juga.”
Ami menghela napas panjang. “Uang memang bisa bikin mata rabun.”
Om Uli menambahkan, “Belum lagi urusan pemerasan. Ada oknum aparat datang, bilang ‘Kalau mau aman, ya tahu sendirilah.’ Akhirnya suap jalan. Tambang legal diperas, tambang ilegal dilindungi.”
Agung mendengus. “Berarti sama saja, Om. Siapa yang kuat duit, dia aman.”
Tonakodi menatap Agung lama. “Tidak selalu. Tapi sering begitu. Hukum itu tajam ke bawah, tumpul ke atas, kalau penjaganya lupa diri. Hukum bisa tegak kalau aturan, aparat, dan masyarakat atau budaya hukum berjalan dengan sehat. Kalau masih ada yang pat gulipat, aturan yang benderang pun pasti jadi gelap, hehehe.”
Suasana mendadak agak hening. Angin menggoyang daun ketapang, bunyinya seperti bisik-bisik.
Yamin memecah keheningan. “Jadi, kita ini mau marah atau mau apa? Marah juga capek.”
Tonakodi tersenyum, menyesap kopi yang tertinggal di dasar cangkir. “Kita boleh marah, Tuwei. Tapi jangan lupa waras. Rakyat kecil seperti kita, tidak boleh bodoh.”
“Bodoh bagaimana?” tanya Agung.
“Bodoh itu,” jawab Tonakodi pelan, “kalau kita tahu salah tapi pura-pura benar. Atau tahu rusak tapi bilang ‘Yang penting saya kebagian.’”
Ami mengangguk setuju. “Nasihat ibu saya, rezeki yang bikin sungai kering, tidak akan membuat rumah basah.”
Om Uchen tertawa kecil. “Itu pepatah baru atau lama?”
“Lama, Om. Cuma sering kita lupa,” jawab Ami.
Om Uli menatap gelas kopinya. “Tambang itu soal perut, tapi juga soal masa depan. Kalau gunung habis, anak cucu makan apa? Cerita saja?”
Agung menyimpan HP-nya. “Saya jadi mikir. Kalau kerja, jangan sampai ikut-ikutan yang kotor.”
Tonakodi menepuk bahu Agung. “Itu sudah langkah awal. Dunia ini memang tidak selalu adil. Tapi kita bisa memilih tidak ikut menambah kotor.”
Yamin berdiri, meregangkan badan. “Kalau begitu, mari tambah kopi saja. Biar pahitnya tidak cuma di cerita.”
Semua tertawa.
Sore makin tua. Langit Talise berubah jingga, lalu perlahan gelap. Di bawah pohon ketapang, obrolan rakyat kecil itu mungkin tidak mengubah kebijakan, tapi setidaknya menjaga nurani tetap menyala.
Tonakodi menutup sore itu dengan kalimat pelan, tapi mantap.
“Ilegal itu bukan cuma soal izin. Ilegal itu soal akal yang dibengkokkan. Legal itu bukan jaminan bersih, kalau hati masih licik.”
Angin laut membawa kata-kata itu pergi, entah ke mana. Tapi di dego-dego sederhana itu, semua tahu bahwa nasihat kecil kadang lebih kuat dari pidato panjang.***
Tana Kaili, 17 Januari 2026

Komentar
Posting Komentar