Belajar dari Kerusuhan Agustus 1953

 Oleh: Temu Sutrisno

 

Jumat pagi, matahari di langit Kota Palu redup. Angin semilir lebih bersahabat. Tidak menggendong udara panas seperti biasanya. Ombak kecil di teluk berpagar pegunungan yang mulai botak di sana-sini digaruk penambang, berkejaran seperti anak-anak yang telat masuk sekolah. 

Berjarak seratus tombak dari pantai, di lantai dua kantor perkumpulan profesi yang cat temboknya mengelupas dimakan usia, Tonakodi duduk sambil meniup kopi panasnya pelan-pelan.

“Pelan-pelan minumnya le,” kata Om Uchen sambil nyengir. “Kopi panas itu kalau diseruput sembarang, bisa bikin lidah demonstrasi.”

Tonakodi terkekeh. “Iye, Om. Lidah saya sudah cukup sering demo gara-gara kopi murahan.”

Di meja sebelah, ada Om Uli yang sibuk mengaduk kopi tiga banding satu, Ami yang duduk sambil buka ponsel tapi matanya sesekali menatap taman di luar. Haji Agus yang datang belakangan, langsung duduk tanpa banyak omong. Seperti biasa, Jumat pagi memang waktu paling cocok buat ngobrol berat tapi dibungkus santai.

“Kita bersyukur Jumat di sini tenang begini,” kata Om Uli, “kalau di tempat lain bisa ribut satu negeri.”

Ami mengangkat kepala. “Iran itu, Om. Sejak akhir tahun lalu, ribut terus. Demo di mana-mana. Katanya ekonomi susah, rakyat capek.”

Tonakodi manggut-manggut. “Demo itu biasa. Rakyat lapar, suara naik. Tapi yang bikin tambah panas, ada campur tangan asing.”

Haji Agus yang sejak tadi diam, menyeruput kopi sekali, lalu bicara pelan. “Nah, itu yang harus hati-hati.”

“Sejarah sering berulang, dengan wajah dan baju baru,” sambung Tonakodi.

Om Uchen menyandarkan punggung. “Sejarah apa, Tonakodi?”

“Kerusuhan Agustus 1953,” jawab Tonakodi singkat.

Haji Agus mengernyit. “1953? So lama sekali itu le.”

“Jauh tahunnya, dekat polanya,” kata Tonakodi. “Dulu di Iran juga. Perdana Menterinya Muhammad Mossadegh.”

Ami menutup ponsel. “Saya pernah dengar. Soal minyak, kan?”

“Iye,” kata Tonakodi. “Minyak. Dari dulu sampai sekarang, kalau sudah soal minyak, orang luar bisa jadi saudara, bisa juga jadi setan.”

Om Uli terkekeh. “Berat betul bahasa ta.”                      

Tonakodi tersenyum tipis. “Saya coba bahasa pasar saja. Jadi begini. Setelah Iran merdeka, minyaknya itu dikuasai orang Inggris. Rakyat Iran cuma dapat bau knalpotnya. Untungnya lari ke Eropa.”

Haji Agus menghela napas. “Mirip-mirip kita juga dulu.”

“Mossadegh ini nasionalismenya tinggi. Orang bilang kepala batu kalau berhadapan dengan barat,” lanjut Tonakodi. “Dia bilang, minyak itu hak rakyat. Bukan hak asing. Maka dia nasionalisasi. Undang-undang disahkan, Inggris langsung naik darah.”

“Nasionalisasi,” Om Uchen mengulang sambil mengangguk. “Kalau di kampung, itu sama dengan bilang ini kebun saya, jangan kau panen lagi.”

“Nah,” kata Tonakodi. “Tapi yang punya mesin dan pasar marah besar. Inggris embargo, aset dibekukan. Iran ditekan habis-habisan.”

Ami menyela, “Terus Amerika masuk?”

“Masuk pelan-pelan,” jawab Tonakodi. “Katanya mau bantu stabilitas. Padahal ada kepentingan. Mereka takut, kalau Iran bisa nasionalisasi minyak, negara lain ikut. Bisa ambruk perusahaan minyak Barat.”

Haji Agus menyeruput kopi, rasanya pahit. “Jadi kerusuhan itu…?”

“Itu dia,” kata Tonakodi. “Agustus 1953, Teheran ribut. Demo, bentrok, chaos. Kelihatannya murni rakyat marah. Tapi di belakang, CIA dan MI6 main.”

Om Uli bersiul pelan. “Berarti rakyatnya dijadikan figuran?”

“Kurang lebih,” kata Tonakodi. “Mossadegh digulingkan, dituduh diktator. Nasionalisasi selesai. Minyak balik ke asing. Mossadegh masuk tahanan.”

Taman di samping kantor terasa gersang, setelah pemerintah kota membabat habis bunga. Bola-bola batu diam tak bergerak, tidak tahu kalau manusia di atas sedang membicarakan badai sejarah.

Haji Agus menggaruk kepala. “Jadi sekarang, kalau Iran ribut lagi, mereka curiga hal yang sama terulang? Ada campur tangan asing dalam demo soal ekonomi?”

“Iye,” jawab Ami. “Pemerintah Iran bilang ada hasutan asing. Amerika dan Israel dituding sebagai biangnya.”

Om Uchen tertawa kecil. “Kalau orang pernah ditipu, wajar jadi curiga.”

Om Uli menyela,“Makanya judul pelajaran Iran hari ini, belajar dari kerusuhan 1953. Bukan berarti semua demo itu salah. Tapi tidak semua kerusuhan itu kadang murni.”

Tonakodi menatap kopi yang hampir habis. “Kadang rakyat cuma ingin hidup layak. Tapi kepentingan besar bikin suara kecil jadi alat.”

 “Seperti kopi ini. Kalau cuma gula sama air, tidak ada yang berebut. Tapi kalau ditambah merek mahal, orang bisa berkelahi.”

Om Uli dan Haji Agus tertawa.

Ami tersenyum, lalu berkata pelan, “Pelajarannya, jangan cepat percaya kalau ribut itu murni suara rakyat. Bisa jadi ada tangan tak kelihatan.”

Angin dari arah Jembatan I berembus sedikit lebih kencang. Jam di dinding kantor berdetak pelan. Waktu salat Jumat hampir tiba.

Tonakodi berdiri, merapikan kursi. “Saya bukan orang pintar. Tapi dari cerita ini, saya belajar satu hal. Kalau negara tidak pegang kendali atas kekayaannya, orang luar bisa pegang kendali atas nasibnya. Semoga Iran bisa bertahan dan tidak terulang kasus Saddam Hossein di Irak dan Muamar Khadafi di Libya, atau mungkin Maduro di Venezuela.”

Haji Agus tersenyum lebar. “Itu sudah cukup jadi kesimpulan orang waras.”

Mereka turun dari lantai , satu per satu. Taman tetap sunyi, kopi sudah habis, tapi obrolan Jumat pagi itu tinggal di kepala Tonakodi. Seperti angin kecil, pelan tapi terus mengingatkan. Sejarah bisa jauh, tapi pelajarannya selalu dekat.***

 

Tana Kaili, 16 Januari 2026

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam