Perang Bayangan di Balik Secangkir Kopi

 Oleh: Temu Sutrisno



Sabtu pagi itu cerah, langit di utara Kota Palu tampak biru pucat dengan awan tipis yang berarak malas. Angin dari arah laut menyelinap ke sela-sela daun kelapa dan pohon kakao di kebun milik Haji Agus. Di sudut kebun, sebuah sou-sou sederhana berdiri. Bertiang kayu, beratap rumbia, lantainya dari papan yang sudah mulai kusam dimakan usia.

Tonakodi duduk bersila di atas tikar pandan. Di depannya, secangkir kopi hitam mengepul, ditemani ubi dan jagung rebus yang masih hangat. Aroma tanah pagi bercampur wangi kopi menciptakan suasana yang membuat pikiran terasa ringan, meski topik obrolan pagi itu justru berat.

“Kalau begini rasanya dunia aman-aman saja,” kata Om Uchen sambil meniup kopi. “Padahal di luar sana, perang sudah jalan, cuma tak kelihatan.”

Om Uli tertawa kecil. “Itu yang sekarang disebut perang bayangan, Tuaka. Tak pakai suara meriam, tapi dampaknya bisa bikin negara goyah.”

Tonakodi mengangguk pelan. Sejak tadi ia lebih banyak mendengar. Pagi-pagi begini, pikirannya biasanya jernih. Ia suka mengamati bagaimana orang-orang yang senior di sekitarnya membaca dunia, tak sekadar lewat layar ponsel, tapi lewat pengalaman hidup.

Haji Agus, pemilik kebun, duduk bersandar di tiang sou-sou. Sarungnya dilipat rapi, kopiah putih bertengger tenang di kepala. Matanya jeli mengawasi puluhan kambingnya yang merumput. “Kalian dengar kabar Iran?” tanya Haji Agus akhirnya.

Yamin, yang sejak tadi sibuk mengupas jagung, mengangkat kepala. “Soal demo-demo itu, Ji?”

“Bukan sekadar demo,” sahut Haji Agus. “Itu sudah masuk permainan negara besar.”

Om Uli menyesap kopi lalu berkata, “Lagi-lagi Amerika. Trump balik berkuasa, tekanan maksimum jalan lagi. Sanksi ekonomi, kapal perang dikirim, operasi siber jalan. Tapi di depan kamera, bahasanya tetap demokrasi dan HAM. Puuiihh…kacau.”

Tonakodi ikut menimpali, “Rakyat Iran protes karena ekonomi hancur. Nilai Rial jatuh, harga kebutuhan naik. Tapi apakah itu murni dari dalam? Atau sudah disulut dari luar?”

Om Uchen terkekeh. “Itu pertanyaan klasik. Di mana ada penderitaan rakyat, di situ negara besar datang bawa korek api.”

Angin berembus sedikit lebih kencang. Daun-daun berdesir seperti ikut menyimak.

Haji Agus mengangguk pelan. “Iran melihat ini sebagai intervensi. Kampanye daring, tokoh diaspora, bahkan Mossad ikut nimbrung. Ini bukan sekadar unjuk rasa. Sudah ada pembakaran fasilitas militer, serangan ke aparat.”

“Makanya Iran tak segan-segan eksekusi mata-mata,” kata Om Uli lirih. 

“Itu sebuah pesan tegas. Perang ini sudah masuk rumah mereka.”

Yamin menghela napas. “Tapi korban sipil juga jatuh. Dunia internasional ribut soal itu. Berimba Tonakodi le.”

Tonakodi menatap kebun yang hijau. “Di situlah narasi dimainkan. Barat angkat isu kemanusiaan. Iran bilang itu alasan untuk destabilisasi.”

Om Uchen mengangguk setuju. “Amerika pintar. Menekan tanpa mengaku perang. Kirim kapal induk, lakukan operasi siber, mainkan informasi. Kalau Iran jatuh dari dalam, mereka tinggal masuk seakan-akan sebagai penyelamat.”

Haji Agus tersenyum tipis. “Israel juga tak mau di depan. Mereka tunggu AS mulai, baru ikut. Mossad kerja senyap, spionase, sabotase, dukung oposisi.”

“Selalu seperti itu,” tambah Om Uli. “Dari dulu mereka main spionase, sabotase ilmuwan, fasilitas nuklir. Sekarang ini cuma bab lanjutan, dari perseteruan mereka sejak putus hubungan diplomatik pascarevolusi Iran.”

Tonakodi teringat sesuatu. “Presiden Iran bilang tekanan asing justru bikin rakyat mereka makin solid. Sejarah Revolusi 1979 jadi pelajaran. Mereka alergi intervensi.”

“Khamenei juga meyakinkan,” sambung Yamin, “‘Amerika akan bernasib seperti Shah dulu. Ini kode keras le.”

Haji Agus kembali menuang kopi di cangkir. “Kalau sudah begitu, diplomasi tinggal formalitas. Parlemen Iran sudah ancam, kalau diserang, semua basis AS dan Israel jadi sasaran.”

Suasana sejenak hening. Hanya suara embik kambing, burung, dan gesekan daun bernyanyi dalam simpony damai.

Tonakodi memecah diam. “Saya jadi berpikir, di zaman sekarang, kedaulatan itu rapuh. Bukan cuma dijebol tank, tapi oleh data, informasi, ekonomi, dan narasi.”

Om Uchen tersenyum. “Betul. Protes bisa jadi senjata. Demokrasi bisa jadi bungkus intervensi.”

Om Uli menambahkan, “Dalam pertarungan politik global, rakyat biasa sering kali cuma jadi pion. Di Iran, di mana pun.”

Haji Agus menyeruput kopi terakhirnya. “Makanya kita perlu belajar membaca dunia dengan jernih. Tak menelan mentah-mentah semua informasi. Siapapun yang duduk di tampuk kekuasaan, bukan saja tidak boleh menggadaikan kedaulatan, tapi juga haram menutup mata pada penderitaan rakyat.”

Tonakodi menatap cangkirnya yang hampir kosong. “Perang bayangan itu licin. Tak kelihatan darahnya, tapi bisa meruntuhkan negara.”

Yamin berdiri, menepuk-nepuk celananya. “Syukurlah pagi ini kita masih bisa ngopi, makan ubi, dan bicara. Tapi di luar sana, dunia sedang ditarik ke arah yang tak pasti.”

Angin kembali berhembus lembut. Matahari naik perlahan, menghangatkan kebun Haji Agus. Di sou-sou kecil itu, obrolan sederhana telah menjelajah konflik global, dan menyisakan kesadaran bahwa di balik secangkir kopi, dunia bisa saja sedang terbakar, tanpa suara.***


Tana Kaili, 16 Januari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam