Ketika Kebencian Jadi Cuan
Oleh: Temu Sutrisno
Istirahat siang
hari Senin di Kota Palu selalu punya rasa khas. Panas yang ditahan awan, seperti niat hujan yang masih ragu. Di lantai dua kantor perkumpulan, sebuah bangunan dengan kipas
angin yang bunyinya mirip doa panjang, Tonakodi
duduk santai sambil memegang cangkir kopi hitam. Di depannya tersaji pisang
emas yang menguning cerah dan dua bungkus kacang sangrai yang aromanya bisa membatalkan
niat puasa sunnah.
Om Uchen duduk di
kursi rotan panjang, Om Uli
sibuk mengupas pisang dengan gaya seolah sedang memimpin ritual adat. Sementara Ami dan Ryan
bercengkerama ringan sambil sesekali melirik ponsel. Mereka
membincang hasil 3-2 Barcelona vs Real Madrid memperebutkan Piala Super Spanyol.
Suasana
santai, ngopi, dan obrolan ke sana ke mari dengan beragam tema, khas jam istirahat yang
sebenarnya lebih mirip jam tafakur massal.
“Tonakodi,” kata Om Uchen sambil
menyeruput kopi, “komiu tahu
tidak, sekarang kebencian itu bisa jadi cuan?”
Tonakodi mengangkat
alis. “Maksudmu, benci tapi dibayar?”
“Iya,” sahut Ryan
cepat, matanya masih tertuju pada layar ponsel. “Lihat ini. Standup comedian,
influencer, komentator dadakan. Isinya nyinyir, kritik pedas, satire yang bikin
orang panas. View naik, like deras, iklan masuk. Cuan masuk.”
Ami terkekeh. “Dulu
orang benci-bencian cuma dapat capek hati. Sekarang dapat transfer.”
Om Uli mengangguk
pelan. “Zaman memang aneh. Dulu kalau marah, orang disuruh duduk,
disuruh wudu lalu
slat menenangkan hati.
Sekarang disuruh live, diundang podcast, talkshow.”
Tonakodi tersenyum
kecil. Ia memandangi pisang emas di tangannya, seolah buah itu sedang memberi
wejangan. “Orang tua kita, leluhur bangsa ini,” katanya pelan, “menitip
pesan, segala yang
berlebihan itu tanda kita jauh dari pusat
spiritual. Termasuk
kebencian.”
“Ah, komiu ini, Tonakodi,” Om Uchen menepuk meja. “pesan
leluhur itu terlalu sufistik
untuk zaman algoritma
seperti sekarang.”
Mereka tertawa.
Kipas angin berdecit setuju.
Ryan menggeser
ponselnya ke tengah. “Tapi serius, coba komiu lihat komentar-komentar ini. Orang saling hujat, saling hina.
Tapi si pembuat konten tinggal duduk, ngopi, dapat uang.”
Tonakodi menyesap
kopinya, lalu berkata, “Agama melarang kebencian. Menggunjing itu seperti memakan
daging saudara sendiri. Bayangkan, Om Uli, kau makan kacang sangrai ini, tapi
rasanya seperti daging Om Uchen.”
Om Uchen pura-pura
mual. “Astaghfirullah. Jangan begitu le,
Tonakodi. Selera saya
langsung turun.”
Ami tertawa
terbahak. “Itu analogi yang kejam tapi lucu.”
“Lucu boleh,” jawab
Tonakodi, “asal tidak meninggalkan luka.”
Om Uli mengangguk serius.
“Hukum juga melarang. Sekarang KUHP baru dan UU ITE sudah jelas. Penghinaan, pencemaran nama baik,
bisa berujung bui. Dari cuan ke tahanan, jaraknya cuma satu unggahan.”
Ryan menghela
napas. “Iya, tapi orang merasa aman di balik layar. Seolah-olah bukan
sebuah kesalahan membenci dan menggunjing orang lain.”
Kalimat itu membuat
semua terdiam sejenak, lalu tertawa kecil.
Tonakodi tersenyum
bijak. “Etika itu tujuannya memanusiakan manusia. Kritik boleh, satire boleh,
tawa boleh. Tapi kalau martabat manusia kita injak, kita bukan lagi mengkritik. Kita sedang kehilangan arah menuju
Tuhan.”
Ami memutar kacang
sangrai. “Tapi bagaimana dengan standup comedy? Bukankah kritik sosial sering
dibungkus humor?”
“Benar,” jawab
Tonakodi. “Humor itu seperti garam. Sedikit membuat hidup sedap. Kebanyakan
membuat darah tinggi. Standup yang baik menertawakan keadaan, bukan menguliti dan
menertawakan orang.”
Om Uchen mengangkat
jari. “Jadi, kalau aku bikin konten marah-marah tapi niatnya dakwah?”
Tonakodi tertawa.
“Niat baik dengan cara buruk itu seperti wudu pakai air kopi. Niatnya bersih,
hasilnya lengket.”
Semua kembali
tertawa. Mendung di luar jendela makin pekat, tapi hujan tak kunjung turun.
Ryan menatap Tonakodi
serius. “Jadi menurutmu, uang dari kebencian itu bagaimana?”
Tonakodi terdiam
sejenak. Ia menaruh cangkir kopinya, lalu berkata pelan, “Uang itu netral. Tapi
jalan mendapatkannya menentukan apakah ia berkah atau tidak. Uang dari
kebencian itu seperti air laut. Banyak,
tapi makin diminum makin haus. Di hadapan Tuhan, yang ditanya bukan jumlahnya,
tapi asal-usulnya.”
Om Uli mengangguk
khusyuk. “Saya pernah dengar dari ustaz, rezeki itu bukan cuma yang
masuk ke dompet, tapi yang membuat hati tenang.”
Ami tersenyum
lembut. “Berarti, cuan yang bikin resah itu tanda bahaya.”
Tonakodi
mengangguk. “Sadarlah. Tuhan ada di balik semua ciptaan manusia, termasuk
manusia yang kita hina di kolom komentar. Jika kita
tertawa dengan kehormatan
dan dipenuhi cinta, itu ibadah. Jika
kita menertawakan dengan kebencian, itu jebakan dosa.”
Kipas angin kembali
berdecit, seolah mengamini.
Hujan akhirnya
turun tipis, membasahi Palu dengan suara lembut. Di lantai dua kantor
perkumpulan itu, mereka kembali menyeruput kopi, memakan pisang emas, dan
kacang sangrai. Tak ada yang membuka ponsel untuk nyinyir. Untuk sesaat,
kebencian gagal dimonetisasi, dan tawa pun kembali ke fitrahnya, ringan, hangat, dan tak melukai
siapa pun.***
Tana Kaili, 12 Januari 2026

Komentar
Posting Komentar