Tragedi Cinta Drupadi

Oleh: Temu Sutrisno



Desau angin pagi di Amarta membawa aroma wangi bunga cendana yang berpadu dengan harumnya minyak kenanga dari bilik-bilik istana. Di sebuah beranda marmar putih yang menghadap langsung ke taman bunga seroja, Dewi Drupadi duduk termenung. Suara gemerincing gelang emas di pergelangan tangan dan kakinya seolah menjadi penanda detik-detik waktu yang mengalir tenang, bagaikan air Sungai Gangga di musim semi.

Di hadapannya, Prabu Puntadewa—suami tercinta yang bergelar Dharmawangsa, tengah merapikan lembaran daun lontar berisi kitab-kitab filsafat kuno. Tatapan mata Puntadewa teduh, memancarkan kejujuran dan ketenangan jiwa yang kerap membuat siapa pun merasa dilindungi.

"Kaukah itu, Kekasihku?" bisik Puntadewa lembut tanpa mengalihkan pandangan sepenuhnya, seolah kehadiran Drupadi telah menyatu dengan udara yang ia hirup.

Drupadi tersenyum, melangkah mendekat lalu melabuhkan duduk di samping sang suami. Jemarinya yang lentik meraih bahu suaminya, memijatnya perlahan dengan penuh kelembutan. "Pikiran Kanjeng Prabu tampak begitu jauh. Apakah urusan negara di Indraprastha masih menyita seluruh malam-malam Baginda?"

Puntadewa meletakkan pena bulunya, lalu menggenggam tangan Drupadi dengan erat. Kehangatan itu nyata, sebuah bukti bahwa cinta mereka lahir dari sebuah peristiwa agung: sayembara memanah di Kerajaan Pancala, di mana panah Arjuna berhasil meruntuhkan target tertinggi, namun takdir suci justru mempertemukan Drupadi dengan keagungan budi Puntadewa.

"Amarta makmur, Drupadi. Rakyat kita hidup sejahtera, lumbung pangan tidak pernah kosong, dan keadilan dijunjung tinggi. Namun, terkadang hatiku berbisik, betapa sempurnanya dunia ini jika kebahagiaan kita abadi tanpa bayang-bayang waktu," ucap Puntadewa dengan nada yang menyiratkan kerinduan filosofis.

Drupadi menggeleng pelan, rambutnya yang hitam legam terurai indah, memantulkan cahaya pelita keemasan. "Kebahagiaan bukan tentang berapa lama ia tinggal, Kanjeng Prabu, melainkan bagaimana kita memaknainya bersama. Selama Pendawa bersatu, selama engkau di sisiku, dan selama tawa kecil Pancawala menghiasi koridor istana, Drupadi adalah wanita paling beruntung di triloka."

Pencapaian itu terasa sempurna. Mereka membangun sebuah imperium dari hutan belantara, mengubahnya menjadi kota berlapis emas bernama Indraprastha, tempat di mana kebenaran ditegakkan. Namun, roda semesta senantiasa berputar. Di balik kemegahan istana, benih-benih kebinasaan telah disemai oleh rasa dengki yang membara di Hastinapura.


oo0oo 


Beberapa tahun kemudian, angin senja yang menenangkan itu berubah menjadi badai topan yang meremukkan segalanya. Balairung agung Hastinapura tampak megah, namun atmosfer di dalamnya dingin mencekam. Di tengah ruangan, sebuah meja judi dadu telah ditegakkan.

Puntadewa, seorang raja yang terkenal bijaksana dan tidak pernah berdusta, terjebak dalam kelemahan batin yang fatal: ia tidak kuasa menolak tantangan permainan dadu dari sang Paman, Sangkuni, yang didukung penuh oleh Duryudana.

Satu demi satu, taruhan melayang. Kerajaan Indraprastha yang megah berpindah tangan. Harta benda, gajah perang, kereta kencana, hingga para prajurit musnah dalam lemparan mata dadu yang dikendalikan sihir kelicikan. Dalam keputusasaan yang meracuni akal sehat, Puntadewa mempertaruhkan saudara-saudaranya—Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa—hingga akhirnya ia mempertaruhkan dirinya sendiri.

Dan puncak dari kegilaan itu tiba: Puntadewa mempertaruhkan sang permaisuri agung, Dewi Drupadi.

"Drupadi...!" teriak suara-suara sumbang dari kubu Kurawa.


oo0oo 


Pintu balairung terbuka secara paksa. Dursasana, dengan seringai buas dan amarah yang meluap-luap, melangkah masuk menyeret Drupadi. Kain kemben sutra merah yang dikenakan Drupadi terseret di atas lantai marmer yang dingin. Rambut panjangnya yang biasanya tersanggul rapi dengan hiasan permata kini berantakan, menutupi sebagian wajahnya yang memerah karena amarah dan rasa terhina.

"Lepaskan aku, keparat! Kalian telah kehilangan kehormatan!" bentak Drupadi, suaranya menggelegar memecah keheningan balairung, membuat para sesepuh seperti Bisma dan Drona menundukkan kepala dalam rasa bersalah yang mendalam.

Di hadapan para raja, pendeta, dan para kesatria agung Hastinapura, Dursasana berdiri dengan pongah. Drupadi dipaksa berlutut. Penghinaan terbesar dalam sejarah peradaban wiracarita umat manusia pun dimulai. Dursasana menarik ujung kain kemben Drupadi, berniat menelanjanginya di hadapan umum demi meruntuhkan martabat kaum Pandawa secara total.

Drupadi memejamkan mata. Harga dirinya diinjak-injak. Para suami yang selama ini melindunginya duduk tertunduk lemas, terikat oleh sumpah dharma yang keliru. Dalam detik-detik keputusasaan yang paling gelap, Drupadi mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, menyerahkan jiwa raga sepenuhnya kepada Sang Pencipta semesta.

"Wahai Kresna! Wahai Pemelihara Alam! Jika dharma benar-benar ada di muka bumi ini, jika kesucian seorang wanita memiliki kekuatan di hadapanmu, maka lindungilah aku!" teriaknya dalam keheningan batin yang membakar.

Keajaiban terjadi. Kain yang ditarik oleh Dursasana terus memanjang tanpa henti. Gulungan kain merah itu berputar memenuhi udara balairung, menimbun Dursasana dalam tumpukan kain hingga ia kelelahan dan jatuh tersungkur. Para Kurawa terperanjat ketakutan.

Namun, meskipun raga Drupadi selamat dari ketelanjangan, luka di jiwanya telah menganga lebar, bernanah dan membakar sekujur batinnya. Di hadapan para pembesar Kurawa, dengan air mata yang menetes bukan karena kelemahan melainkan kemarahan yang menyala-nyala, Drupadi menguraikan rambutnya yang panjang. Ia mengangkat sumpah keramat di hadapan para dewa:

"Dengar, wahai kalian para pengecut Kurawa! Rambutku ini tidak akan pernah disanggul kembali, sebelum aku mencuci dan membasuhnya dengan darah segar yang memancar langsung dari dada Dursasana!"

Sumpah itu mengguncang langit Hastinapura. Hari itu, takdir telah menuliskan garis darah yang harus dibayar oleh seluruh kerajaan.


oo0oo 


Sesuai dengan perjanjian perjudian yang kalah, Pandawa dan Drupadi harus menjalani masa pengasingan selama dua belas tahun di hutan belantara yang sunyi dan angker, serta satu tahun dalam penyamaran tanpa boleh dikenali.

Bagi seorang wanita yang terbiasa hidup di istana berhias permata, tidur di atas dipan berbalut bulu angsa, dan dilayani oleh ratusan pelayan setia, Hutan Kamyaka dan Dwaita adalah ujian fisik yang teramat berat. Kakinya yang lembut harus berjalan menapaki duri-durian hutan, kerikil tajam, dan tanah berlumpur. Pakaian kebesarannya digantikan oleh kulit kayu yang kasar.

Namun, penderitaan fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kepedihan melihat suami yang dicintainya hidup dalam duka dan penyesalan mendalam. Puntadewa seringkali termenung menatap bintang-bintang malam, menyalahkan dirinya sendiri atas nasib yang menimpa istri tercintanya. Drupadi, dengan ketegaran jiwa yang luar biasa, justru seringkali menjadi tiang penyangga bagi suami dan saudara-saudaranya. Ia memungut buah-buahan hutan, memasaknya dengan kayu bakar seadanya, dan menyiapkan hidangan untuk Nakula, Sahadewa, Arjuna atau Bima setelah mereka berburu.

Penderitaan itu berlanjut pada tahun ketiga belas. Sesuai syarat, mereka harus menyamar. Drupadi memilih menyamar sebagai Sairandri, seorang pelayan wanita di istana Kerajaan Wirata yang dipimpin oleh Prabu Matsyapati. Di tempat baru ini pun, kecantikan Drupadi yang luar biasa menjadi kutukan. Ia kembali mengalami pelecehan keji, kali ini dari Kicaka, panglima perang sekaligus adik ipar raja Wirata, yang berniat memaksanya menyerahkan diri.

Malam itu, di dalam kamar pelayan yang sunyi, Drupadi menangis dalam dekapannya sendiri. Ia tidak lagi menangisi nasibnya, melainkan bertanya-tanya di dalam hati: Di manakah keadilan para dewa? Mengapa jalan dharma harus dilalui dengan darah dan kehinaan yang bertubi-tubi?


oo0oo 


Namun, kesabaran itu akhirnya menemui batasnya. Ketika Perang Baratayuda akhirnya pecah di Padang Kurusetra, Drupadi berdiri di tepi medan pertempuran, menyaksikan debu mengepul tinggi, diiringi suara sangkakala dan jeritan ribuan prajurit yang meregang nyawa.

Hari-hari pertempuran berjalan sangat panjang dan melelahkan. Hingga pada suatu senja di akhir perang, ketika darah telah membasahi setiap jengkal tanah Kurusetra, Bima datang menemuinya dengan napas tersengal-sengal. Di tangannya, terselip darah segar.

Bima memenuhi janjinya. Ia telah merobek dada Dursasana di tengah kancah pertempuran. Dengan tangan yang bergetar penuh emosi, Drupadi mengambil darah hangat itu dan membasuh serta mengguyur rambutnya yang selama tiga belas tahun sengaja dibiarkan terurai kusut. Sumpah telah dibayar lunas. Dendam telah ditebus.

Namun, kemenangan Pandawa ternyata bukanlah akhir dari penderitaan, melainkan awal dari kehampaan yang paling sunyi.

Malam merayap lambat di perkemahan Pandawa yang sunyi. Perang telah usai. Kurawa telah binasa, dan Puntadewa telah dinobatkan sebagai Raja Hastinapura yang baru. Drupadi duduk di tepi pembaringan putranya, Pancawala, yang tertidur lelap setelah melalui hari-hari yang menegangkan. Bocah lelaki itu adalah sisa-sisa kebahagiaan terakhir yang dimiliki Drupadi, cinta sejati yang menghubungkan hatinya dengan Puntadewa di tengah badai penderitaan.

Drupadi merapikan selimut Pancawala, mengecup kening anaknya dengan penuh kasih sayang. "Tidurlah, anakku," bisiknya pelan. "Perang telah usai. Besok kita akan pulang ke istana yang damai."

Namun, takdir memiliki rencana lain yang jauh lebih kejam.

Di kegelapan malam yang pekat, ketika para prajurit Pandawa terlelap dalam kelelahan setelah merayakan kemenangan, Aswatama, putra Drona yang menyimpan dendam kesumat atas kematian ayahnya, menyusup masuk ke perkemahan. Dengan mata memerah karena amarah dan pedang berlumuran racun di tangannya, Aswatama melakukan pembantaian berdarah dingin. Ia menebas siapa saja yang ditemuinya di dalam tenda-tenda agung.


oo0oo 


Ketika matahari pagi menyingsing di atas Padang Kurusetra, fajar tidak membawa kehangatan, melainkan jerit tangis histeris yang merobek langit.

Drupadi berlari kencang menuju tenda utama. Di sana, di atas hamparan permadani yang kini berubah warna menjadi merah pekat oleh darah, terbujur kaku tubuh-tubuh tak bernyawa dari para kesatria muda penerus bangsa. Dan di tengah-tengah mereka, terbaring Pancawala, dengan luka tebasan fatal di dadanya.

Drupadi terjatuh. Kakinya lemas kehilangan tenaga. Ia merangkak mendekati jasad anaknya, memeluk tubuh yang mulai mendingin itu erat-erat ke dadanya, seolah ia bisa meniupkan kembali napas kehidupan ke dalam raga sang buah hati.

"Pancawala... bangun, Nak... Ibu di sini..." teriak Drupadi, suaranya parau, pecah menjadi tangisan histeris yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.

Puntadewa datang terhuyung-huyung. Sang raja agung yang baru saja menduduki singgasana tertinggi Hastinapura itu kini jatuh berlutut di samping istrinya. Ia memandang jasad anaknya, lalu menatap wajah Drupadi yang pucat pasi tanpa air mata lagi. Tangis Puntadewa tertahan di tenggorokan, menjelma menjadi sesak yang membunuh jiwanya perlahan-lahan.

Kemenangan telah diraih. Mahkota emas telah melingkar di kepala Puntadewa. Namun, apa arti sebuah kerajaan yang megah di atas hamparan abu dan air mata? Istana Hastinapura berdiri megah, tetapi ia kosong dari tawa anak-anak, kosong dari kehangatan keluarga, dan penuh dengan hantu-hantu masa lalu yang berbisik di setiap sudut koridornya.


oo0oo 


Drupadi berdiri di balkon istana bertahun-tahun kemudian, menatap jauh ke arah ufuk barat tempat matahari perlahan tenggelam. Rambutnya kini telah kembali disanggul rapi, namun di balik gelungan itu, tersimpan kisah tentang seorang wanita yang jiwanya telah lama mati di medan duka.

Ia tidak lagi mencari kebahagiaan duniawi. Yang ia tahu, hidupnya adalah sebuah persembahan panjang bagi dharma yang kejam. Hingga pada akhirnya, ketika rambut mereka telah memutih dan kulit mereka mengeriput dimakan usia, Drupadi bersama Puntadewa dan semua Pandawa menanggalkan seluruh jubah kekuasaan. Mereka memilih berjalan kaki menapaki lereng terjal pegunungan dan lebatnya hutan, menjalani laku hidup brahmama. Sebuah perjalanan suci terakhir menuju keabadian, membawa serta seluruh luka, cinta, dan tragedi yang takkan pernah terlupakan oleh semesta, hingga suksma meninggalkan raga kembali ke nirwana. ***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam

PWI, Jurnalisme Kebangsaan, dan Label Londo Ireng