Duka Asmara di Bukit Kiskenda
Oleh: Temu Sutrisno
Di bawah naungan pohon-pohon besar yang memeluk tebing Gua Kiskenda, Dewi Tara duduk terpaku. Angin hutan bertiup membawa aroma tanah basah, namun tidak mampu menyejukkan hatinya yang terbakar api kerinduan sekaligus ketakutan. Di hadapannya, sebongkah batu raksasa menutup rapat mulut gua. Di balik batu itulah, separuh jiwanya terperangkap. Bukan oleh batu, melainkan oleh takdir yang kejam.
Tara mencintai Sugriwa. Cinta mereka bukanlah cinta yang lahir dari mandat kerajaan atau perjodohan para dewa. Cinta itu tumbuh dari ketulusan. Sugriwa adalah kelembutan di tengah kerasnya dunia wanara. Tatapan matanya selalu menenangkan Tara, dan pelukannya adalah satu-satunya tempat di mana Tara merasa aman.
Namun, kedamaian itu hancur ketika raksasa Lembusura datang membawa petaka. Subali, sang kakak yang memiliki kesaktian tiada tanding, mengejar raksasa itu masuk ke dalam gua. Sugriwa setia menjaga di luar, memegang janji sehidup semati. Tara ingat betul bagaimana malam itu Sugriwa kembali ke istana dengan tubuh bergetar dan air mata yang menderu.
"Kakang Subali telah gugur, Tara," bisik Sugriwa malam itu, suaranya pecah. "Darah merah bercampur putih mengalir dari gua. Aku harus menutupnya agar dunia selamat. Aku telah kehilangan kakakku..."
Tara memeluk Sugriwa erat. Dalam duka yang mendalam, kerajaan Kiskenda tak boleh kehilangan pemimpin. Atas desakan para tetua, Sugriwa naik takhta, dan Tara bersanding di sisinya sebagai ratu. Dalam pelukan Sugriwa yang penuh duka, Tara menemukan sisa-sisa kebahagiaan. Mereka saling menguatkan, berjanji untuk menyembuhkan luka bersama.
Nahas, kebahagiaan itu hanya seumur jagung.
Suatu sore yang jingga, bumi Kiskenda berguncang. Batu raksasa penutup gua hancur berkeping-keping. Dari balik debu yang mengepul, muncul sesosok bayangan dengan aura amarah yang pekat. Subali belum mati.
Amarah Subali membutakan segalanya. Ia tidak mendengar penjelasan, tidak melihat air mata adiknya. Di matanya, Sugriwa adalah pengkhianat yang sengaja menguburnya hidup-hidup demi takhta dan wanita.
Tara menjerit histeris ketika melihat Sugriwa dihajar tanpa ampun oleh kakaknya sendiri. Tubuh lemah Sugriwa dilemparkan ke tanah, darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
"Cukup, Kakang Subali! Hentikan!" teriak Tara, mencoba berlari menahan gada Subali, namun para pengawal menahannya.
"Kau, adikku yang lancung! Kau rebut takhtaku, dan kau sentuh wanitaku!" raung Subali. Dengan satu sentuhan kasar, Subali menarik lengan Tara, merenggutnya dari sisi Sugriwa.
Sugriwa yang babak belur, dengan sisa-sisa tenaganya, menatap Tara. Tatapan mata yang penuh cinta itu kini bercampur dengan keputusasaan yang teramat dalam.
Malam itu, di kamar istana yang megah namun terasa bagai penjara, Sugriwa datang secara sembunyi-sembunyi sebelum ia benar-benar diusir jauh ke dalam hutan. Melalui celah jendela, tangan mereka sempat saling menggenggam erat, menyalurkan rumpang jiwa yang terkoyak.
"Sugriwa... maafkan aku. Aku gagal melindungimu, aku gagal menjaga cinta kita," desis Tara, air matanya tumpah ruah membasahi punggung tangan Sugriwa yang penuh luka lebam.
Sugriwa menggeleng pelan, senyumnya getir di tengah deru napas yang sesak. "Jangan berkata begitu, Tara. Kau tidak bersalah. Takdir memang kejam pada kita. Biarlah raga ini diusir dan menderita di Gunung Ryamuka, tetapi ketahuilah, sukmaku tidak pernah meninggalkan sisi hatimu. Bertahanlah di sini demi keselamatan Kiskenda... sampai nanti semesta mempertemukan kita kembali."
"Aku tidak sanggup hidup tanpa kelembutanmu, Kakang..." lirih Tara terisak.
"Kau harus kuat, kekasihku. Simpan namaku dalam diam, sebab cinta kita abadi walau dunia merobeknya."
Sebelum bayangan prajurit mendekat, Sugriwa melepas genggaman mereka dengan berat hati, melompat ke dalam gelap malam dan menghilang di balik lebatnya pepohonan.
Hari berganti hari, dan hidup Tara di bawah bayang-bayang Subali berjalan bagaikan mimpi buruk yang panjang. Subali menguasainya secara raga, namun tidak pernah mampu menyentuh kesucian hatinya.
Suatu senja, di taman sari istana yang sepi, Subali berdiri tepat di hadapan Tara. Tatapan sang penguasa Kiskenda itu memancarkan kekecewaan yang mendalam, menuntut jawaban atas dinginnya sikap sang ratu.
"Kenapa, Tara?" suara Subali berat, bergemuruh menahan amarah dan cemburu yang tak kunjung padam. "Aku telah merebutmu kembali, aku memberikan seluruh kemegahan dunia ini di kakimu. Tapi mengapa matamu selalu kosong? Mengapa jiwamu tetap terbang kepada si pengecut Sugriwa?"
Tara mendongak, menatap mata lelaki yang telah menghancurkan hidupnya itu tanpa rasa takut. Rasa sakit yang dipendamnya selama berbulan-bulan akhirnya meledak menjadi keberanian.
"Karena kemegahan ini palsu, Kakang Subali!" jawab Tara tegas, suaranya bergetar menahan tangis. "Kau mungkin bisa merebut ragaku dengan kekuatan dan kuasamu. Kau bisa memaksa istana ini tunduk padamu. Tapi cinta tidak bisa dibeli dengan takhta, dan kesetiaan tidak bisa dipaksa dengan ancaman."
Subali mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu mendengar kejujuran yang menusuk ulu hatinya.
"Sugriwa telah mencuri milikku!" bentak Subali.
"Tidak!" teriak Tara menyela, air matanya tumpah menderu. "Sugriwa tidak mencuri apa pun! Dialah yang merawat hatiku yang rapuh saat kau terkubur di dalam gua. Yang kau miliki sekarang hanyalah sangkar kosong, Kakang. Hatiku telah pergi bersama Sugriwa ke hutan rimba."
Mendengar pengakuan itu, Subali tertegun sesaat. Ada nyeri yang tiba-tiba menghunjam dadanya. Bukan karena amarah, melainkan kesadaran pahit bahwa ia telah kalah dalam pertempuran paling sunyi: memenangkan cinta sejati seorang wanita.
Sejak hari itu, kehidupan Tara berubah menjadi neraka yang megah. Ia menjadi ratu bagi Subali, namun jiwanya telah mati. Setiap kali Subali menyentuhnya, Tara hanya bisa memejamkan mata, membayangkan kelembutan Sugriwa yang kini bertahan hidup dalam penderitaan di Gunung Ryamuka.
Setiap malam, Tara berdiri di balkon istana, menatap langit malam yang kelam. Air matanya jatuh menyentuh dinginnya lantai batu.
“Sugriwa,” bisik Tara dalam hati, membiarkan angin malam membawa suaranya. “Biar tubuhku terikat di sini, demi kedamaian Kiskenda. Namun ketahuilah, cintaku tidak pernah bergeser satu jengkal pun dari sisimu. Aku akan menunggumu, meski takdir harus menjemput kita dalam bentuk yang paling tragis.”
Di atas batu Kiskenda, cinta mereka terpisah oleh dinding kesalahpahaman dan kekuasaan. Sebuah cinta yang suci, yang terpaksa bertumpah darah dan menyisakan duka abadi di hati seorang Dewi Tara.***

Komentar
Posting Komentar