Cermin Jiwa Cinta Nala Gareng

Oleh: Temu Sutrisno


Cinta kasih adalah peraturan jiwa dua anak manusia. Pasangan adalah cermin jiwa dari pasangannya.

Hari itu, Dusun Karangtumaritis tidak seperti biasanya. Gamelan bertalu-talu membawakan gending Kebo Giro yang rancak. Suasana sangat ramai. Janur kuning melengkung di depan rumah Kyai Semar Badranaya. Hari ini adalah hari bersejarah bagi anak tertua Semar: Nala Gareng resmi meminang Dewi Sariwati, putri cantik jelita dari Kerajaan Salarengka.

Di dalam kamar pengantin, Gareng sedang mematut diri di depan cermin. Ia memandangi bayangannya dengan gugup. Kakinya yang pincang gemetar, tangannya yang cèko (bengkok) sibuk merapikan kain jarik, dan matanya yang juling mencoba fokus melihat rangkaian bunga melati yang mengalung di lehernya.

"Duh, Gusti... apa aku sudah pantas bersanding dengan putri raja?" bisik Gareng cemas. Wajahnya yang biasanya penuh canda, kini tegang dan berkeringat dingin.

Pintu tiba-tiba terbuka. Petruk masuk sambil membawa nampan berisi wedang jahe, disusul Bagong yang mulutnya sudah penuh mengunyah jenang dodol.

"Kang Gareng! Wah, gagah tenan kowe hari ini! Kalau matamu tidak juling, aku pasti mengira kamu ini Raden Arjuna," goda Petruk sambil tertawa terbahak-bahak.

"Hus! Jangan mengejek, Truk. Aku ini sedang jantungan. Bagaimana kalau nanti saat berjalan ke pelaminan aku tersandung karena kakiku yang pincang ini? Bagaimana kalau para tamu menertawakanku?" keluh Gareng, duduk lemas di tepi ranjang.

Bagong menelan dodolnya, lalu menepuk pundak kakaknya keras-keras sampai Gareng tersedak. "Kang, sadar! Dewi Sariwati itu memilihmu bukan karena kakimu lurus atau matamu fokus. Dia jatuh cinta karena hatimu yang tulus dan kesetiaanmu. Lagipula, kalau kamu jatuh, ada aku yang siap menangkap... wedang jahemu agar tidak tumpah!"

Gareng hanya bisa mengelus dada mendengar candaan adik-adiknya. Namun, perkataan Bagong ada benarnya. Pernikahan ini bukan sekadar pamer ketampanan, melainkan penyatuan dua hati yang saling menerima kekurangan.

Saat yang dinanti pun tiba. Upacara panggih atau pertemuan pengantin pria dan wanita, dimulai. Dengan langkah yang perlahan dan pincang namun pasti, Gareng berjalan dipandu oleh Kyai Semar. Di ujung sana, Dewi Sariwati berjalan anggun mendekat. Sang putri tampak luar biasa anggun dengan sanggul klasiknya dan kebaya beludru hitam. Tidak ada sedikit pun raut kekecewaan di wajah Sariwati. Sebaliknya, senyum tulus merekah dari bibirnya saat memandang Gareng.

Mereka berhadapan. Prosesi lempar sirih dilakukan. Ketika sirih yang dilempar Gareng mengenai dada Sariwati, dan sirih Sariwati mengenai paha Gareng, sorak-sorai penonton pecah.

Saat Gareng menginjak telur sebagai simbol pengabdian, Dewi Sariwati dengan penuh rasa hormat berlutut. Menggunakan air bunga setaman, tangan lembut sang putri membasuh kaki pincang Gareng dengan penuh kasih sayang. Air mata Gareng hampir menetes melihat ketulusan istrinya. Ia kemudian membantu Sariwati berdiri, menggandeng tangan istrinya dengan tangannya yang cèko.

Di pelaminan, Kyai Semar tersenut lebar hingga matanya yang sembap semakin menyipit. "Gareng, anakku," ucap Semar dengan suara beratnya yang meneduhkan. "Cacat fisikmu adalah pengingat agar manusia tidak berjalan dengan kesombongan di bumi. Hari ini, Sariwati melengkapimu. Jagalah dia dengan ketulusan hati yang selama ini kamu miliki."

Malam harinya, pesta rakyat jelata itu berlangsung meriah. Petruk dan Bagong naik ke panggung, berjoget heboh menghibur para tamu undangan dari berbagai kerajaan. Gareng duduk di pelaminan, menggenggam erat tangan Dewi Sariwati. Ia tidak lagi merasa minder atau malu. Di mata Sariwati, Gareng adalah ksatria paling tampan di jagat raya, dan di mata Gareng, Sariwati adalah berkah terindah dalam hidupnya. Karangtumaritis malam itu penuh dengan tawa, cinta, dan kebahagiaan yang abadi.

Bulan merambat pelan menembus celah ventilasi kayu di rumah kecil mereka. Pesta meriah telah usai. Keriuhan gending Kebo Giro serta seloroh Petruk dan Bagong perlahan berganti sunyi malam yang teduh. Di dalam kamar tidur yang sederhana namun bertabur harum sisa kembang melati, Gareng dan Dewi Sariwati kini hanya berdua.

Gareng duduk di tepi ranjang bambu. Watak ringkih dan cemasnya kembali mengusik hati sewaktu membuka ikatan melati di lehernya. Ia memandangi tangannya yang cèko, lalu melirik kakinya yang pendek sebelah. Rasa tidak percaya diri kembali merayap pelan.

Sariwati yang baru saja meletakkan tusuk konde di depan cermin, berjalan mendekat. Gaun kebesaran putri rajanya telah berganti kain lurik yang bersahaja, namun keanggunannya tak berkurang sedikit pun.

"Kang Gareng..." panggil Sariwati lembut, duduk menggeser mendekatinya. "Mengapa wajahmu kelihatan murung seperti menanggung beban seluruh Karangtumaritis?"

Gareng menghela napas panjang, lalu tersenyum getir sembari memicingkan matanya yang juling. "Duh, Yayi... Aku hanya sedang heran. Sampai detik ini aku merasa sedang bermimpi. Di luar sana, ribuan ksatria tampan berkuda putih antre memohon senyummu. Tapi kenapa kamu justru mau dipersunting oleh Punakawan pincang bersuara serak begini?"

Sariwati tertawa kecil. Suara tawa yang halus seperti denting klinthingan emas. Tangan lembutnya meraih jemari Gareng yang cèko, menggenggamnya erat tanpa canggung sedikit pun.

"Kang, kalau aku mencari ketampanan, aku cukup memandang bayangan bulan di telaga. Tapi bulan itu dingin dan jauh," ujar Sariwati matanya menatap dalam-dalam pada Gareng. "Aku menikah bukan dengan bentuk fisikmu, tapi dengan jiwamu. Bukankah wujudmu yang seperti ini menyimpan ajaran luhur dari Ramanda Semar?"

Gareng mengerutkan dahi, pura-pura berpikir keras meski hatinya berbunga-bunga. "Luhur bagaimana, Yayi? Wong kelesotan saja aku sering kalah cepat sama Bagong."

"Kang Gareng ini memang suka merendah," sahut Sariwati sembari mencubit pelan pipi Gareng. "Kaki pincangmu melambangkan kehati-hatian agar tidak tergesa-gesa dalam melangkah. Tangan cèko-mu mengajarkan kita untuk tidak serakah mengambil milik orang lain. Dan matamu yang juling..." Sariwati menahan tawa sejenak, "...selalu mengingatkanmu agar tidak gampang tergiur oleh kilau keindahan dunia yang menipu."

Gareng terkekeh serak. "Wah, pintar sekali istriku ini menutupi kekuranganku. Tapi kalau soal mata juling ini, ada susahnya juga, Yayi."

"Susah bagaimana, Kang?"

"Tadi saat di pelaminan, aku berniat melirikmu yang cantik jelita. Tapi gara-gara mata juling ini, yang kulirik justru perutnya Bagong yang meloncat-loncat waktu joget. Merusak pemandangan indah saja!" celetuk Gareng disambut tawa berderai dari Sariwati.

Sariwati menyandarkan kepalanya di bahu Gareng yang miring. Bau harum minyak kelapa murni dan bunga melati membelai indra penciuman Gareng. Rintangan dan cacat tubuhnya mendadak menguap, tergantikan rasa hangat yang membuncah di dada.

"Kang," bisik Sariwati halus. "Cermin di meja rias itu hanya sanggup memantulkan rupa luar yang kelak akan keriput dimakan usia. Tapi kamu adalah cermin jiwaku. Di dalam hatimu yang jujur dan tulus, aku melihat diriku yang seutuhnya. Diriku yang dicintai tanpa syarat."

Gareng meremas lembut genggaman tangan istrinya. Ia memeluk bahu Sariwati dengan penuh perlindungan dan rasa syukur yang mendalam.

"Maka janji saya pada Gusti Kang Maha Agung, Yayi," bisik Gareng penuh kesungguhan. "Selama kakiku yang pincang ini masih bisa menapak bumi Karangtumaritis, aku tidak akan pernah membiarkan langkahmu merasa sendiri. Bila mataku yang juling tak sanggup melihat lurus, ketulusan hatikulah yang akan selalu menuntun jalan kita."

Sariwati mengangguk tenang, meresapi setiap kata yang terucap dari bibir suaminya. Tidak ada lagi keraguan di antara mereka, hanya ada cinta murni yang saling melengkapi dan menyempurnakan. Di kamar sederhana itu, dua jiwa telah menemukan cermin sejatinya. Tempat di mana kekurangan tak lagi menjadi celah, melainkan ruang bagi kasih sayang untuk bertumbuh abadi.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam

PWI, Jurnalisme Kebangsaan, dan Label Londo Ireng