Tragedi Cinta Sukrasana
Oleh: Temu Sutrisno
Kabut tipis masih membungkus lereng Pertapan Jatipitur tatkala surya pagi menyingsing di ufuk timur. Angin dingin berhembus perlahan, menggoyangkan dedaunan jati yang gugur berserakan. Di halaman pertapan yang tenang itu, berdiri seorang pemuda berparas tampan luar biasa. Wajahnya bagaikan rembulan bersinar terang, dadanya bidang, dan tatapan matanya menembus celah-celah bukit dengan penuh tekad dan ambisi yang membara. Dialah Bambang Sumantri, putra Resi Suwandagni.
Namun, di balik keindahan paras Sumantri, ada sosok lain yang merayap keluar dari balik rindangnya pohon beringin tua. Sosok itu kerdil, bertubuh bongkok dengan kulit gelap bersisik kasar, bernapas tersengal-sengal, dan memiliki wajah raksasa kecil yang menakutkan. Dialah Sukrasana, adik kandung Sumantri. Sungguh sebuah suratan takdir yang ganjil. Dari rahim dan darah yang sama, lahir dua insan yang bagaikan langit dan bumi. Yang satu bak dewa dari kahyangan, sementara yang lain bak makhluk dari kegelapan jurang.
Tetapi, jiwa Sukrasana tidak serupa dengan wujud lahiriahnya. Di balik dada kerdil itu, bersemayam hati yang teramat putih, suci, dan penuh kasih kasih yang murni tanpa henti untuk kakaknya, Sumantri.
"Kakang Sumantri..." bisik Sukrasana halus. Suaranya serak dan agak parau, namun sarat dengan kehangatan. Ia melangkah mendekat sembari membawa seikat buah-buahan segar yang baru saja dipetiknya dari hutan. "Kakang hendak pergi ke mana? Mengapa busur panah dan tabung anak panah sudah melingkar di punggungmu?"
Sumantri membalikkan badan. Ditatapnya sang adik dengan sorot mata yang rumit, campuran antara iba, canggung, dan sedikit rasa risih yang tersembunyi jauh di lubuk hatinya.
"Adikku, Sukrasana," jawab Sumantri halus, menepuk bahu adiknya yang kasar. "Kakang telah memutuskan untuk pergi meninggalkan Pertapan Jatipitur. Kakang hendak mengabdikan diri ke Kerajaan Maespati, mengabdi kepada Prabu Arjuna Sasrabahu. Kakang ingin menjadi ksatria utama, mengukir nama agung di panggung dunia."
Mata Sukrasana yang membulat besar mendadak redup. "Mengapa harus pergi jauh, Kakang? Apakah hidup kita di sini, bersama Bapa Resi, tidak cukup membahagiakan? Di sini aku bisa selalu menemanimu, memetikkan buah untukmu, dan mendengarkan cerita-ceritamu."
Sumantri tersenyum tipis, sebuah senyuman yang didorong oleh ambisi yang membakar dadanya. "Dunia luar teramat luas, Sukrasana. Takdir seorang ksatria bukanlah melapuk di lereng gunung. Aku harus membuktikan kesaktianku dan meraih kehormatan tertinggi."
"Kalau begitu, ajaklah aku, Kakang! Ke mana pun Kakang pergi, biarkan Sukrasana ikut. Aku tidak butuh gelar, tidak butuh keharuman nama. Aku hanya ingin berada di dekatmu, melindungimu jika Kakang berada dalam bahaya," pinta Sukrasana dengan mata berbinar-binar penuh harapan.
Sumantri menghela napas panjang. Ia membayangkan dirinya berjalan membusungkan dada di garis depan istana Maespati, lalu membayangkan Sukrasana berjalan mengikutinya di belakang. Rasa kerdil di hatinya. Rasa malu yang tak terucapkan, mulai menyelinap.
"Tidak bisa, Adikku," kata Sumantri tegas namun berusaha lembut. "Perjalanan ini penuh mara bahaya dan tak cocok untukmu. Tinggallah di pertapan ini, dampingilah Bapa Resi."
Sebelum Sukrasana sempat memohon lebih lanjut, Sumantri telah membulatkan tekad. Dengan langkah seribu, ia melompat dan melayang mengudara, meninggalkan pertapan dan adiknya yang berdiri tercengang. Sukrasana menjerit memanggil nama kakaknya, menangis sesenggukan hingga air matanya membasahi tanah kering Jatipitur. Namun Sumantri terus melangkah tanpa menoleh kembali.
oo0oo
Di Istana Maespati, Bambang Sumantri menunjukkan kesaktiannya yang luar biasa. Ia berhasil memenangkan sayembara memboyong Dewi Citrawati, putri jelita dari Kerajaan Magada, untuk Prabu Arjuna Sasrabahu. Namun, kesombongan sempat menyusup ke jiwa Sumantri. Merasa berkuasa atas puluhan raja taklukan yang dikalahkannya, Sumantri bertindak gegabah dengan menantang Prabu Arjuna Sasrabahu untuk bertanding sebelum menyerahkan Dewi Citrawati.
Ujian itu berakhir dengan kekalahan telak bagi Sumantri. Prabu Arjuna Sasrabahu murka dan bertiwikrama menjadi raksasa sebesar gunung. Di hadapan kesaktian sang raja yang merupakan titisan Batara Wisnu, Sumantri bersimpuh berlutut, memohon ampun dan menyerahkan seluruh jiwa dan raganya.
Prabu Arjuna Sasrabahu yang bijaksana mengampuni nyawa Sumantri, namun memberikan satu syarat amat berat untuk menebus dosanya:
"Sumantri! Jika engkau benar-benar ingin menjadi patih dan ksatria utama Maespati, serta mengantar Dewi Citrawati ke istana ini, kerjakanlah satu hal. Pindahkan Taman Sriwedari dari Kahyangan Untarasegara ke pelataran Istana Maespati dalam waktu satu malam! Jika engkau gagal, lehermu akan menjadi taruhan pedangku!"
Sumantri menyanggupi syarat itu dengan hati hancur. Ia berjalan gontai meninggalkan istana menuju pinggiran kota. Di sebuah padang rumput yang sunyi di bawah naungan malam, Sumantri duduk bersimpuh. Air mata menetes di pipinya yang tampan.
"Dewa Agung... betapa bodohnya aku," ratap Sumantri. "Pindahkan Taman Sriwedari? Taman kahyangan yang indah itu? Manusia mana yang sanggup memindahkan kayangan ke bumi hanya dalam waktu semalam? Esok hari, kepalaku akan dipenggal di hadapan Prabu Arjuna Sasrabahu. Ambisiku tuntas sudah dalam kehinaan..."
Ratapan itu terputus tatkala berhembus angin berbau harum tanah dan dedaunan. Dari balik semak-semak, terdengar suara langkah kaki bergoyang yang sangat ia kenal.
"Kakang Sumantri... Mengapa Kakang menangis?"
Sumantri terperanjat. Dari kegelapan malam, muncullah sosok kerdil itu. Sukrasana! Bajang buruk rupa itu telah menempuh perjalanan ratusan mil, menyeberangi sungai deras dan menembus hutan belantara hanya demi mencari jejak kakaknya.
"Sukrasana? Bagaimana bisa engkau ada di sini?" tanya Sumantri terperangah.
"Aku merindukanmu, Kakang," ujar Sukrasana polos sambil mengusap air mata di pipi kakaknya dengan tangannya yang kasar. "Sejak Kakang pergi, aku tak bisa tidur. Aku menyusuri jejak angin yang membawa aromamu. Mengapa Kakang bersedih di tempat dingin ini? Ceritakanlah pada adikmu."
Dalam keputusasaan yang teramat sangat, Sumantri menumpahkan seluruh beban dadanya. Ia menceritakan perintah Prabu Arjuna Sasrabahu untuk memindahkan Taman Sriwedari. Tugas mustahil, yang akan mengakhiri hidupnya esok pagi.
Mendengar hal itu, mata Sukrasana berbinar. Wajahnya yang buruk rupa memancarkan kehangatan yang tak terhingga.
"Hanya itu, Kakang? Hanya memindahkan Taman Sriwedari?" tanya Sukrasana tersenyum lebar hingga memperlihatkan taring-taring kecilnya.
"Hanya itu katamu?!" sahut Sumantri agak terkejut. "Sukrasana, itu tugas para dewa! Mana mungkin manusia bisa mengerjakannya?"
"Kakang jangan bersedih lagi," kata Sukrasana mantap. "Aku bisa memindahkannya untukmu. Dulu Bapa Resi memberiku Aji Canda Birawa dan ajian penjelajah dimensi. Aku bisa meminta bantuan para janma halus dan dewa pelindung untuk memboyong Taman Sriwedari ke tempat ini. Tapi..."
Sukrasana menghentikan kalimatnya dan menatap dalam-dalam ke mata kakaknya.
"Tapi apa, Sukrasana? Sebutkan apa yang kau inginkan! Emas, permata, atau kedudukan?" seru Sumantri penuh harap.
Sukrasana menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak butuh emas, aku tidak butuh intan permata, dan aku tidak ingin jadi pejabat. Sukrasana hanya minta satu hal, Kakang: Setelah taman ini kupindahkan, izinkan aku selalu tinggal bersamamu di Maespati. Jangan usir aku lagi. Biarkan aku tidur di kolong bangkumu, biarkan aku berjalan di belakangmu. Aku hanya ingin bersamamu, Kakangku sayang."
Hati Sumantri berdesir hebat. Rasa haru dan bersalah sempat menyentuh kalbunya. Tanpa berpikir panjang, ia memeluk adiknya. "Ya! Janji, Sukrasana! Aku berjanji! Jika engkau berhasil memindahkan Taman Sriwedari, engkau boleh tinggal bersamaku selamanya di Maespati!"
oo0oo
Malam kian larut, mencapai puncaknya di saat jagat raya tertidur lelap. Sukrasana berdiri di tengah padang luas yang membisu. Ia melepaskan segenap kesaktian batinnya. Berdiri di atas satu kaki, ia bersedakap, memusatkan seluruh cipta, rasa, dan karsanya kepada Sang Hyang Tunggal.
Dari tubuh kerdil itu, memancar sinar keemasan yang teramat silau. Angin berhembus kencang bagai badai. Langit malam bergulung-gulung, dan gemuruh dahsyat menggetarkan bumi Maespati. Ribuan makhluk halus dan bathara turun membantu sukma Sukrasana yang suci.
Dengan kekuatan gaib yang tak tertandingi, Sukrasana menarik bentangan Taman Sriwedari dari Kahyangan Untarasegara. Bunga-bunga parijata yang berbau harum semerbak, telaga yang berair jernih bagaikan kaca, balai-balai emas berukir indah, serta pepohonan surga melayang menembus angkasa dan mendarat secara perlahan tanpa cacat sedikit pun di pelataran Kerajaan Maespati.
Ketika fajar menyingsing, warga Maespati dan Prabu Arjuna Sasrabahu terbangun dalam ketakjuban yang tiada tara. Sebuah keajaiban maha dahsyat telah terjadi. Di tengah-tengah kota, telah berdiri Istana Taman Sriwedari yang begitu indah, membawa aroma surga yang menenteramkan setiap jiwa yang menghirupnya.
Prabu Arjuna Sasrabahu terpana. Ia memenuhi janjinya: Bambang Sumantri diangkat menjadi Patih Agung Maespati dengan gelar Patih Suwanda. Seluruh rakyat bersorak-sorai mengelu-elukan nama Sumantri. Dewi Citrawati memandangnya penuh kagum dan cinta. Sumantri telah mencapai puncak kejayaan, kehormatan, dan impian terbesarnya sebagai seorang ksatria.
oo0oo
Di dalam Istana Taman Sriwedari yang baru dipindahkan, Dewi Citrawati bersama putri-putri istana bersuka ria menikmati keindahan taman surga itu. Mereka memetik bunga-bunga ajaib dan mandi di telaga yang bening.
Sumantri berjalan dengan pakaian kepatihan yang serba emas, diiringi para prajurit. Dadanya membusung penuh kebanggaan. Namun, kebahagiaan itu mendadak luluh pasak saat terdengar teriakan histeris dari balik semak bunga parijata.
"Awas! Ada raksasa! Ada monster kerdil!"
"Tolong! Ada raksasa buruk rupa yang mengotori taman ini!"
Para putri istana lari berhamburan ketakutan. Dewi Citrawati menjerit dan berlindung di balik tubuh Sumantri.
Sumantri menyibak semak-semak bunga. Betapa terkejut dan panas dadanya saat melihat siapa yang sedang duduk santai di tepi telaga sambil memakan buah-buahan. Dialah Sukrasana. Wajahnya yang lugu tersenyum kegirangan saat melihat kakaknya datang.
"Kakang Sumantri!" panggil Sukrasana gembira, melambaikan tangannya yang kotor. "Lihat, tamannya sudah ada di sini! Bagus sekali, kan? Sekarang kita bisa tinggal bersama di sini, Kakang!"
Seketika itu juga, serasa ada sambaran petir di dada Sumantri. Wajah tampannya memerah bukan karena bahagia, melainkan karena rasa malu yang membakar ego dan gengsinya. Ia melihat lirikan heran dan jijik dari para prajurit dan putri istana.
Bagaimana mungkin seorang Patih Suwanda yang gagah, tampan, dan dipuja seluruh negeri, memiliki adik sesosok raksasa kerdil yang buruk rupa dan menjijikkan? Pikirnya bergemuruh. Jika Prabu Arjuna Sasrabahu dan Dewi Citrawati tahu bahwa taman ini dipindahkan oleh raksasa bajang ini, runtuhlah seluruh kehormatanku! Wibawaku akan sirna!
Sumantri menyuruh para prajurit dan putri istana menjauh. Ia lalu melangkah mendekati Sukrasana dengan wajah dingin bagai es.
"Sukrasana! Apa yang kau lakukan di sini?!" bentak Sumantri dengan suara berbisik namun tajam.
"Kakang... aku menyanggupi janjimu," jawab Sukrasana heran melihat ketegangan wajah kakaknya. "Taman sudah berpindah. Aku hanya ingin ikut bersamamu, seperti janjimu kemarin malam."
"Pergi kau dari sini, Sukrasana!" usir Sumantri tanpa belas kasihan. "Tempat ini adalah istana raja! Tempat ksatria dan putri-putri cantik! Kehadiranmu yang buruk rupa hanya mengotori taman ini dan memalukan namaku! Pergilah kembali ke Pertapan Jatipitur!"
Sukrasana menggelengkan kepalanya polos, air mata mulai menggenang di matanya yang besar. "Tidak, Kakang... Aku tidak peduli dengan istana atau raja. Aku tidak butuh kemewahan ini. Aku hanya ingin bersamamu. Izinkan aku bersembunyi di sudut tergelap taman ini, asal aku bisa melihatmu setiap hari. Jangan usir aku, Kakang..."
Sukrasana melangkah mendekat, hendak memeluk kaki kakaknya. Namun Sumantri yang dikuasai rasa cemas dan malu luar biasa melangkah mundur. Ia mendorong adiknya hingga terjatuh.
"Pergi! Jangan mendekat!" teriak Sumantri.
Sukrasana bangkit kembali, tetap melangkah maju dengan kasih sayang yang tak tergoyahkan. "Kakang... aku adilmu... aku menyayangimu..."
oo0oo
Didesak oleh rasa panik karena takut kehadiran adiknya diketahui lebih banyak orang, Sumantri mencabut busur panahnya dari punggung. Ia menarik sebatang anak panah bernama Pusaka Senjata Wijayadanu, lalu merentangkannya tepat ke dada Sukrasana.
Niat Sumantri sebenarnya bukan untuk membunuh. Ia hanya ingin menakut-nakuti adiknya agar raksasa kerdil itu lari ketakutan meninggalkan istana.
"Berhenti, Sukrasana! Jangan melangkah satu tapak pun lagi! Jika kau tetap mendekat, panah ini akan menembus dadamu!" ancam Sumantri dengan suara gemetar.
Namun, Sukrasana tidak takut pada senjata tajam. Yang ia takuti hanyalah kehilangan kasih sayang kakaknya. Sukrasana terus melangkah dengan dada terbuka, matanya menatap Sumantri penuh ketulusan dan kerinduan.
"Kakang... lepaskanlah panah itu jika memang itu membuatmu bahagia. Jika matiku bisa membuatmu menjadi patih yang terhormat, aku ikhlas," bisik Sukrasana pelan, terus berjalan mendekati ujung anak panah.
Melihat adiknya tidak kunjung takut dan justru makin mendekat, jemari Sumantri yang memegang tali busur mendadak gemetar hebat. Terjadi kecamuk batin luar biasa di dalam dirinya antara rasa sayang yang tersisa dan gengsi ambisinya yang buta.
Dan di titik itulah, tragedi terburuk dalam sejarah manusia terjadi.
Keringat dingin membasahi jemari Sumantri. Tali busur yang ditarik kencang itu licin. Tergelincir!
Zzzzzzttt!
Anak panah Wijayadanu lepas dari jemari Sumantri tanpa bisa ditahan!
Anak panah itu meluncur deras menembus udara, menancap tepat di tengah dada Sukrasana.
Cles!
Darah segar berwarna merah pekat menyembur membasahi rumput hijau Taman Sriwedari. Sukrasana terhuyung ke belakang, lalu roboh bersimbah darah.
"Sukrasanaaaa!" jerit Sumantri histeris.
Busur panah di tangannya jatuh terlepas. Sumantri berlari berlutut merangkul tubuh kerdil adiknya yang sekarat. Seluruh rasa gengsi, kedudukan, dan ambisinya mendadak runtuh tak berbekas, digantikan oleh gelombang penyesalan yang membakar jiwanya hingga lumat.
"Adikku! Sukrasana! Maafkan Kakang! Maafkan aku! Aku tidak bermaksud menembakmu! Sukrasana, bukalah matamu!" tangis Sumantri pecah, memeluk erat tubuh adiknya yang mulai dingin. Ia mencoba mencabut anak panah itu dan menahan darah yang terus mengalir, namun sia-sia.
Di saat-saat terakhir nyawanya melayang, tidak ada raut kemarahan, dendam, atau benci pada wajah Sukrasana. Raksasa kerdil itu perlahan membuka matanya. Sebuah senyuman manis, senyuman paling tulus dan suci terukir di bibirnya yang bersimbah darah.
Dengan sisa kemampuannya, tangan Sukrasana yang kasar mengusap pipi Sumantri yang dibasahi air mata.
"Jangan menangis, Kakang Sumantri..." bisik Sukrasana amat halus, suaranya bagaikan hembusan angin sore. "Aku tidak marah padamu. Aku tahu Kakang sangat mencintaiku..."
"Maafkan Kakang, Adikku... Maafkan Kakang yang buta ini..." ratap Sumantri sesenggukan.
"Kakang... sukma Sukrasana akan pergi dulu mendahuluimu ke alam nirwana. Aku akan menunggu Kakang di pintu surga," ujar Sukrasana pelan. Matanya mulai meredup, namun suaranya membawa wawasan gaib dari alam kelak. "Namun ketahuilah, Kakang... kita tidak akan terpisahkan selamanya. Kelak, saat Kakang bertempur dalam perang besar menghadapi Raksasa Prabu Rahwana dari Alengka, aku akan datang menjemputmu. Taring Rahwana akan menjadi perantara bagi sukmaku untuk menyatu kembali dengan sukmamu..."
Setelah mengucapkan kalimat terakhir itu, nafas Sukrasana berhenti. Tubuhnya meluruh dan perlahan-lahan berubah menjadi puspa lenga—asap harum yang membumbung tinggi melayang ke angkasa menuju Kahyangan.
Sumantri terduduk sendirian di atas rumput yang bersimbah darah, mencengkeram tanah dengan kedua tangannya. Jeritan histerisnya menggema di seluruh sudut Taman Sriwedari, namun tak ada air mata yang mampu mengembalikan nyawa sang adik tercinta.
oo0oo
Tahun-tahun berlalu di Kerajaan Maespati. Bambang Sumantri yang kini dikenal sebagai Patih Suwanda, mencapai puncak kejayaan yang tiada banding. Ia dipuja sebagai pahlawan, dipuji sebagai ksatria paling setia, dan disegani oleh kawan maupun lawan.
Namun, di balik baju zirah emas dan mahkota kehormatannya, Patih Suwanda adalah seorang pria yang mati di dalam. Tidak ada satu hari pun berlalu tanpa bayang-bayang Sukrasana hadir dalam mimpinya. Setiap kali ia melihat bunga-bunga di Taman Sriwedari, ia melihat senyuman adiknya yang gugur. Setiap kali ia memegang busur panahnya, tangannya akan gemetar mengingat malam berdarah itu.
Kehormatan dan pangkat tinggi yang diraihnya ternyata menjadi sangkar emas yang dingin dan menyiksa. Ia telah mengorbankan cinta paling murni di dunia demi tepuk tangan manusia yang fana.
Hingga akhirnya, takdir yang dijanjikan itu tiba.
Prabu Rahwana dari Alengka menyerbu Kerajaan Maespati bersama jutaan prajurit raksasanya untuk merebut Dewi Citrawati. Patih Suwanda memimpin pasukan Maespati melaju ke medan perang dengan keberanian yang teramat sangat. Di medan Alengka yang membara, Suwanda bertempur bagaikan singa terluka, menghempaskan ribuan musuh.
Namun, Suwanda tidak bertempur untuk mencari kemenangan. Ia bertempur untuk mencari penebusan dosa.
Di puncak pertempuran, Patih Suwanda berhadapan langsung dengan Prabu Rahwana yang sakti dan terhindar dari kematian karena memiliki Aji Pancasona. Pertarungan dahsyat terjadi hingga senjata-senjata Suwanda hancur luluh. Ketika Suwanda terdesak dan tak berdaya, Rahwana yang murka menerjang dan menggigit leher Patih Suwanda dengan taringnya yang tajam.
Di saat taring Rahwana merobek lehernya dan darah hangat mengucur deras, Patih Suwanda tidak merasakan kesakitan. Malah, sebuah kedamaian yang luar biasa merayapi jiwanya.
Di tengah remang-remang pandangannya yang mulai gelap, Suwanda melihat secercah cahaya keemasan turun dari langit. Di dalam cahaya itu, berdiri sosok kerdil yang sangat ia rindukan, mengulurkan tangannya sambil tersenyum hangat.
"Sukrasana..." bisik Suwanda di hembusan napas terakhirnya.
Sukma Sukrasana menyambut sukma kakaknya. Melalui perantara taring Rahwana, janji masa lalu itu terwujud. Kedua saudara yang sempat terpisahkan oleh kerdilnya ego dan ambisi keduniawian itu kini menyatu kembali dalam keabadian, terbang bersama menuju Nirwana. Tempat tidak ada lagi perbedaan paras, tidak ada gengsi, dan tidak ada ambisi, selain cinta sejati dan kasih sayang yang tulus.***
.jpg)
Komentar
Posting Komentar