Napas Cinta Kamaratih-Kamajaya
Oleh: Temu Sutrisno
Asap dupa wangi membubung tinggi di Kahyangan Cakrakembang, namun suasananya tak lagi sama. Hening yang mencekam menyelimuti taman surgawi itu. Di tengah altar batu, hanya tersisa dua gundukan abu halus yang masih hangat.
Beberapa saat lalu, api kemarahan dari mata ketiga Dewa Siwa telah menghanguskan wujud fisik Kamajaya. Sang dewa cinta gugur demi menjalankan tugas suci membangkitkan Siwa dari meditasi panjangnya, demi menyelamatkan alam semesta dari kekacauan. Namun, ia tidak pergi sendirian. Dewi Ratih atau Kamaratih, dengan senyum ketulusan yang tak pudar di bibirnya, telah melompat dengan sukarela ke dalam kobaran api yang sama. Baginya, surga seluas apa pun adalah neraka yang paling dingin jika harus dijalani tanpa keberadaan suami terkasih, Kamajaya.
Para dewa tertunduk lesu di balairung agung. Penyesalan mendalam menggelayuti hati mereka.
"Wahai Siwa yang Maha Agung," ratap Batara Indra, mewakili kesedihan seluruh penghuni kahyangan. "Cinta telah musnah dari jagat raya. Tanpa Kamajaya dan Ratih, dunia akan menjadi gersang. Takkan ada lagi kasih sayang, takkan ada lagi kehangatan pernikahan, dan bumi akan kehilangan denyut kehidupannya. Ampunilah mereka, hidupkanlah kembali raga sepasang kekasih suci itu."
Dewa Siwa membuka matanya perlahan. Tatapannya yang tajam kini melunak, dipenuhi keharuan yang teramat sangat atas kesetiaan Ratih yang melampaui batas hidup dan mati, serta pengorbanan Kamajaya yang tulus. Namun, hukum abadi semesta tidak bisa begitu saja diputar balik. Apa yang telah hancur lebur menjadi abu oleh kesucian api kosmis tidak dapat lagi dibentuk kembali menjadi daging dan darah yang fana.
"Aku tidak bisa mengembalikan raga mereka ke dunia fana maupun ke singgasana kahyangan," sabda Dewa Siwa, suaranya menggelegar lembut, meresap ke dalam keheningan. "Namun, cinta sejati tidak pernah terbuat dari materi yang rapuh. Cinta adalah rasa, adalah getaran, dan rasa tidak akan pernah bisa mati dibakar oleh api."
Siwa mengangkat tangannya ke udara. Angin surgawi bertiup pelan, mengangkat gundukan abu Kamajaya dan Ratih ke angkasa. Keajaiban agung pun terjadi. Abu itu tidak tercerai-berai diterpa angin, melainkan bersinar keemasan, saling berpilin, dan membentuk dua siluet cahaya yang amat indah. Kebersamaan mereka kini melampaui batas fisik. Mereka menjelma menjadi Anangga—wujud suci yang tak kasatmata namun abadi.
Kamajaya dan Ratih, dalam wujud cahaya spiritual mereka yang gemerlapan, membungkuk hormat kepada Dewa Siwa, lalu saling bertatapan dalam keheningan jiwa. Tanpa sepatah kata pun terucap, mereka tahu bahwa takdir baru mereka jauh lebih mulia daripada sekadar berdiam di singgasana surgawi.
"Pergilah ke bumi," perintah Siwa dengan penuh restu. "Menyatulah dan hiduplah di sana, menjadi denyut nadi bagi setiap makhluk yang bernapas."
Kedua roh suci itu turun bagaikan bintang jatuh yang membelah malam, menembus lapisan awan menuju marcapada. Roh Kamajaya melesat cepat, memecah diri menjadi jutaan percikan cahaya berkilau, lalu meresap dengan lembut ke dalam dada setiap lelaki di bumi. Roh itu membawa keteguhan prinsip, keberanian untuk melindungi, dan kekaguman yang tulus akan keindahan budi.
Di saat yang sama, roh Dewi Ratih terbang melayang dengan anggun, menebarkan keharuman yang menyerupai bunga-bunga surgawi, lalu meresap ke dalam sanubari setiap wanita di bumi. Rohnya membawa kelembutan jiwa, kesetiaan yang kokoh karang, dan pancaran pesona yang meneduhkan setiap pandangan.
Namun, sebelum mereka memecah diri ke dalam jiwa umat manusia, jauh sebelum malam di kahyangan itu merenggut raga mereka, kisah cinta ini berakar dari sebuah penantian panjang di hamparan taman bunga kahyangan.
Kala itu, Kamajaya duduk di atas batu pualam putih, memandangkan matanya keufuk senja surgawi. Langkah kaki yang ringan namun selalu berhasil membuat dadanya bergemuruh menghentikan lamunannya. Ratih datang membawa nampan berisi nektar bunga mandura, tersenyum dengan binar mata yang mampu meredakan segala lelah seorang dewa penguasa cinta.
"Kau melamun lagi, Kangmas," suara Ratih berbisik lembut, merdu bagaikan gemercik air sungai di lembah kahyangan. "Apakah tugas merajut kasih para dewa di kahyangan membuatmu lelah?"
Kamajaya menoleh, menyambut senyum itu dengan kehangatan yang sama. Ia merengkuh jemari Ratih, merasakan kelembutan yang selalu menjadi rumah baginya.
"Aku tidak lelah merajut cinta, Ratih," jawab Kamajaya dengan suara serak-serak basah penuh kedalaman. "Tetapi aku sering merenung. Manusia di marcapada sana sering kali salah mengartikan cinta. Mereka mengira cinta adalah kepemilikan, padahal cinta sejati adalah kesiapan untuk kehilangan diri demi kebahagiaan yang dicintai."
Ratih menatap suaminya lekat-lekat, membiarkan angin sore kahyangan mempermainkan helaian rambut hitamnya. "Jika suatu saat nanti, takdir menuntut kita pada perpisahan yang paling sunyi, apakah kau akan tetap mencintaiku dengan cara yang sama, Kangmas?"
Kamajaya mengeratkan genggaman tangannya, seolah ingin menyatukan tulang belulang mereka. "Ratihku, cinta kita bukan milik waktu. Sekalipun raga kita hancur menjadi debu, jiwamu dan jiwaku telah disimpul oleh keabadian. Aku adalah napasmu, dan kau adalah degup di dadaku. Kita tidak akan pernah benar-benar terpisah."
Janji itu kini diuji oleh semesta. Malam turun di bumi, membawa keajaiban dari percikan roh yang baru saja turun dari kahyangan. Di sebuah beranda rumah kayu di tepi desa, seorang pemuda yang sedang dilanda gundah gulana tiba-tiba merasakan dadanya berdesir hangat tatkala matanya beradu pandang dengan seorang gadis penjaga lentera. Di sisi lain, sang gadis merasakan getaran ketulusan yang mendalam dan menenangkan di lubuk hatinya. Tanpa perlu banyak bicara, mereka saling tersenyum, menyadari ada sesuatu yang magis, suci, dan purba yang mengikat jiwa mereka berdua.
Kamajaya dan Kamaratih atih tidak lagi memiliki istana megah di langit. Mereka kini tinggal di dalam detak jantung setiap manusia. Setiap kali ada dua insan yang saling mencintai dengan tulus tanpa pamrih, setiap kali ada kesetiaan yang diuji oleh badai cobaan namun tetap bertahan, dan setiap kali ada keharmonisan yang tercipta dalam sebuah pelukan hangat, di sanalah Kamajaya dan Ratih hidup kembali secara nyata.
Mereka telah terbakar oleh api kemarahan Siwa, namun cinta mereka justru menemukan jalan yang paling mulia untuk hidup beribu tahun lamanya—abadi, bersemayam selamanya dalam setiap napas Cinta, kasih sayang umat manusia.***

Komentar
Posting Komentar